
Setelah pertengkaran tadi malam. Pagi ini mereka semua kembali ke hidup yang seperti biasanya. Sikap sibuk tetapi tak membuat suasana ramai ini akan selalu menjadi citra damai di Villa ini.
Bahkan. Sekarang semua pelayan terlihat bergegas mengerjakan pekerjaan mereka sebelum Masternya turun dan membuat nyawa mereka kembali terancam.
Sedangkan Stella. Ia hanya duduk diam di dekat jendela yang biasa Xavier duduki. Tak ada yang berani menegur kecuali Efika yang berusaha membujuknya untuk tak disini.
"Stella! Master bisa membunuhmu jika kau berani menyentuh barang-barangnya."
"Lalu aku harus dimana? Lagi pula pemandangan dari sini lumayan bagus." jawab Stella tetap pada pendiriannya. Ia tak mau di atur-atur seenak jidat mulus Xavier. Siapa suruh menjadikannya tawanan di dalam sangkar emas ini.
Melihat tingkah nekat Stella semakin berani. Efika benar-benar tak tahu lagi harus mengatakan apa. Ia tak mau nantinya mereka akan kena imbas akan kelakuan bejat Stella.
"Ini tempat biasa Master bersantai. Dia akan marah besar melihatmu menduduki Sofanya."
"Suutt! Diamlah." gumam Stella menaikan kakinya di atas meja kaca yang biasa menampung cangkir Teh Xavier. Bahkan, cangkir itu sudah di siapkan tapi Stella sengaja meletakan kakinya di atas sana.
Sangat berani dan begitu tak perduli nyawanya.
"Stella! Kau jangan membuat kami dalam masalah besar."
"Memangnya apa yang bisa dia lakukan selain melukaiku?!" tanya Stella dengan intonasi mencemo'oh. Pria seperti Xavier harus di paksa untuk membebaskannya jika tidak ia tak akan membuat hidup pria itu tenang.
Melihat Stella yang masih kekeh dan tak mau bergerak. Akhirnya Efika pergi untuk memanggil Kakek Le-Yang karna ini tak bisa ia tangani.
Pria tua itu tampak mengatur para penjaga yang terlihat mengangguki ucapan dari wajah tuanya.
"Aku minta jangan ada yang mengungkit peristiwa semalam. Kalian tahu sendiri Master tak suka dengan itu."
"Kami mengerti."
Jawab mereka yang segera diam. Kakek Le-Yang memilih kembali ke dalam Villa tetapi ia terhenti kala Efika tampak menunggunya.
"Ada apa?"
"Dia lagi-lagi membuat masalah untuk kita." gumam Efika melirik ke arah tangga atas. Kakek Le-Yang terdiam. Ia sungguh heran kenapa Stella masih hidup sampai sekarang bahkan wanita itu tak berubah sama sekali seperti korban-korban sebelumnya.
"Jika seperti ini terus. Keamanan kita akan terganggu, kita juga manusia normal yang bertahan di tengah ancaman Master."
"Selagi Master mendapat yang dia inginkan. Dia pasti tak akan mengusik kalian." ucap Kakek Le-Yang menenagkan Efika yang takut dengan keadaan ini.
"Tapi.."
"Aku akan bicara dengannya."
Efika mengangguk mengikuti Kakek Le-Yang ke tangga atas untuk menemui Stella. Sesampainya di sana posisi wanita itu masih sama.
Bahkan. Cangkir Teh Xavier sudah tampak kepinggir dan nyaris jatuh. Apa wanita ini memang bukan manusia?
"Bisa turunkan kakimu?"
Stella menoleh menatap Kakek Le-Yang. Ia hanya diam kembali menatap ke luar jendela tanpa mengubah apapun dari posisinya.
Melihat itu Kakek Le-Yang segera mendekat dengan niatan yang cukup baik.
"Nona! Bisa turunkan kakimu?"
"Tidak."
__ADS_1
Jawab Stella tegas dan datar. Ia terlihat begitu kekeh dengan apa yang dia lakukan padahal itu mengundang bahaya bagi orang lain.
"Kau tahu. Pemberontakanmu ini akan membuat semua orang disini akan mati."
"Kenapa?" tanya Stella segera menurunkan kakinya. Ia mengadah menatap Kakek Le-Yang dengan pandangan penuh tanya.
"Kenapa kalian begitu takut padanya? Aku tahu dia itu agak kelainan dan.."
"Master tak kelainan." sela Kekek Le-Yang tegas membuat Stella terbungkam. Ia ingin semua orang menjawab pertanyaannya dan mempermudah segalanya.
"Lalu apa? Katakan padaku."
"Kau bertanya saja sendiri. Kami tak berani mengungkit hal pribadi dari Master."
"Cih. aku pikir dia itu jelmaan iblis." umpat Stella sangat kesal. Tak ada yang mau menjelaskan padanya bahkan mereka terkesan menghindar.
Kakek Le-Yang sangat berharap Stella mengerti posisi mereka. Ia tak mau ada Korban dari orang-orang Villa.
"Nona! Jika kau ingin tiada jangan mengajak orang lain, mohon kasihani kami yang ada disini."
"Hm. Aku akan mempertimbangkannya jika kalian mau memberitahuku."
"Tapi.."
Kakek Le-Yang terhenti bicara kala ruangan ini terasa sesak. Ia saling pandang dengan Efika yang mengangguk segera melangkah mundur dengan kepala tertunduk.
Dahi Stella menyeringit melihat sikap aneh ini hingga matanya menangkap sosok kelam seseorang yang sudah berdiri di pertengahan tangga dengan Zion yang menatap tajam ke arahnya.
"Aku akan mengurusnya."
Xavier membiarkan Zion turun mendekati Stella yang kembali menaikan kakinya ke atas meja membuat mereka semua syok dengan respon Stella.
"Turunkan kakimu!!"
"Kalau aku tidak mau?" tanya Stella menaikan alisnya sinis. Sungguh Zion naik darah melihat semua ini.
"Kau memang ingin mati." geram Zion segera menarik lengan Stella yang semalam bengkak membuat wanita itu terpekik.
"Lepaass!!!"
"Ikut aku!"
Zion menarik Stella untuk pergi ke keluar dari ruangan ini tetapi Stella dengan sekuat tenaga mengigit lengan Zion yang langsung melepas cengkalannya.
Mereka semua diam seakan menjadi patung melihat semua ini. Wajah Zion sudah merah padam menatap geram Stella yang mengusap lengannya.
"Kaaauu..."
"Apaa?? Kau merasakan sakit? Berarti kau masih manusia." jawab Stella membuat Zion diam beralih menatap Xavier yang turun ke bawah dengan tatapan netra elang Gray ini masih dingin.
"Master! Aku akan mengurusnya."
"Pergilah!" titah Xavier masih belum melepas pandangan dari Stella yang terlihat juga memandangnya dengan begitu benci. Amarah itu juga ada di dalam batinnya sekarang.
Tak ada bantahan sama sekali. Mereka pergi meninggalkan ruangan ini. Sekarang, hanya tinggal mereka berdua yang saling berhadapan.
"Kau pikir aku takut padamu. Ha?" geram Stella mendekat ke arah Xavier yang hanya diam dengan tubuh kekar nan tinggi memaksa Stella untuk mengadah.
__ADS_1
Kedua tangan Xavier masih masuk kedalam kedua sisi saku celananya dengan tatapan dingin menyimpan berbagai makna.
"Kau menindas semua orang yang kau anggap LEMAH."
Xavier tetap diam kala telunjuk lentik Stella menunjuk tepat di wajahnya. Tatapan yang begitu berani dan wajah yang tak gentar. Ia merasa jika Stella masih menyimpan sebuah misteri.
"Lepaskan semua orang yang ada disini. Kau membuat hidup mereka kacau dengan tinggal disini."
"Kau sungguh berfikir begitu?" tanya Xavier menikmati raut geram Stella yang memelototinya . Mata yang begitu indah dan sangat mewah.
Jarak mereka hanya sejengkal dengan mata saling bertaut seakan saling mengintimidasi.
Namun. Semakin Xavier menatap ke dalam netra biru ini maka ia seakan tertarik jauh dan tiba-tiba saja nafasnya sangat sesak hingga ia segera memutus kontak mata.
"Kenapa dadaku terasa sakit?"
Batin Xavier mengendalikan raut wajahnya tetap tak bergurat apapun. Stella juga segera mengalihkan pandangan karna ia akui Xavier memang sangat tampan.
"Kau itu siapa?" tanya Stella tetapi tak ada jawaban dari Xavier yang melihat bayangan Stella dari pantulan kaca jendela.
Ia belum bisa mematahkan teka-teki dari wanita ini. Bahkan, bisa-bisanya dia tak menjadi mahluk bawahannya.
"Kau punya mulutkan? Atau benar kau itu bisuu??" maki Stella mendorong bahu kekar Xavier tetapi ia yang tertolak mundur. Pertahanan pria ini benar-benar tak bisa ia robohkan.
"Kau bisa tidak menjawabku?!! Aku ingin keluar dari sinii!!"bentak Stella sampai akhirnya Xavier berbalik langsung mencekiknya.
Hal itu membuat Stella memberontak memukul lengan kekar ini.
"Penyamaran apalagi yang kau lakukan?" geram Xavier dengan mata berubah merah membuat Stella terbelalak hebat dengan wajah memucat.
"K..kau.."
Kekuatan cengkraman Xavier benar-benar membuat retakan di tulang tengkuk Stella yang tampak menggeleng kuat karna susah bernafas. Hal ini tentu membuat Xavier heran kenapa wanita ini tak melawan dengan kekuatan aslinya.
"L..ep..a.."
Spontan Xavier melepaskan cekikikan membiarkan Stella luruh tergeletak di lantai. Ia seakan kesurupan mengambil nafas begitu rakus untuk mengisi kembali rongga paru-parunya yang kosong.
Wajahnya kembali merah tetapi bekas cekikan Xavier tadi terlihat benar-benar merah dan membiru. Bahkan, Stella merasa tulang tengkuknya patah dan telinganya berdengung.
"M..mommy.." erang Stella merasa sangat sakit. Dadanya juga nyeri dan sulit bergerak.
Bukannya membantu. Xavier memilih pergi dengan tanda tanya besar di benaknya. Apa Stella tengah memainkan peran? Sungguh ia sulit mengetahui siapa sebenarnya wanita ini.
Tak berselang lama Xavier pergi. Efika dan Kekek Le-Yang langsung tiba dengan tatapan terkejutnya melihat Stella sudah tak sadarkan diri di lantai dingin ini.
"Dia sangat keras kepala. Sudah ku bilang jangan menentang. Master!"
"Cepat angkat dia ke kamar atas."
Efika mengangguk. Namun, ia terperanjat melihat luka di leher Stella dan ini benar-benar menyakitkan. Masternya terlalu kejam pada gadis muda ini.
"Jangan berfikir yang macam-macam. kita tak bisa membantunya."
Efika mengangguk membopong Stella untuk kembali ke kamar atas. Ia cemas wanita ini tak akan selamat jika terlambat sedikit saja.
Vote and Like Sayang..
__ADS_1