
Sebuah kamar yang terlihat begitu mewah dengan Interior khas yang Moderen di lengkapi berbagai furniture ruangan. Warna hitam mendominasi tempat ini dimana semuanya tampak begitu dingin dan elegan.
Suasana begitu sunyi seakan membiarkan satu sosok pria yang tengah berbaring di samping kekasih hatinya itu menikmati suasana ini.
Manik graynya tak pernah terpejam sedetik-pun seakan jika ia berkedip wanita ini akan hilang dari pandangannya.
Apa itu Xavier? Yah. Tentu Pria itulah yang sedang masuk dalam Dilema yang selama ini ingin membunuhnya. Ia larut memandangi wajah cantik Stella yang sudah ia bawa ke Apartemen miliknya disini.
"Apa kau baik-baik saja selama ini?" tanya Xavier mengulur jemari kekarnya untuk mengusap pipi mulus Stella yang tak lagi pucat seperti tadi.
Ia menunggu Stella bangun tetapi enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Ia seakan melepas rindu kala kedua mata biru ini terpejam.
Merasakan ada yang membelai lembut wajahnya, Stella jadi menggeliat meringsek masuk ke dalam pelukan hangat dan nyaman Xavier yang terdiam kala tubuhnya di belit oleh satu tangan Stella yang melingkar di pinggangnya.
"Mommy!" gumam Stella mengira ini adalah Nyonya Corlie. Hidung mancungnya menempel ke dada bidang Xavier yang memakai Stelan kerja baru dengan kemeja abu dimana kedua kancing diatasnya ia buka.
Alhasil dada bidang itu tampak seksi dan Stella tak sadar akan hal itu.
Tapi tunggu, bukannya mengelak atau memperbaiki posisi baringan Stella, Xavier justru semakin mengeratkan pelukannya seraya beralih mengusap kepala wanita ini.
"Kau pasti sangat lelah. Aku tahu." batin Xavier juga merasakannya. Karna Bayi yang ada di dalam perut Stella semakin berkembang ikatan batin Xavier perlahan menguat sampai apapun yang Stella alami ia bisa merasakan hal itu.
Kesedihan, tawa dan tangisan yang selama ini Stella pendam juga bisa Xavier kurung dalam dirinya.
"M..Mom!"
Xavier hanya diam. Tetap mengusap kepala Stella bak bayi kecilnya dengan penuh kasih sayang. Ntah kenapa Xavier tak lagi sanggup melukai fisik wanita ini.
Tak lama berselang. Keduanya sama-sama menikmati momen hangat ini sampai Stella mulai sadar kala tangannya meraba punggung kekar Xavier yang berotot.
Dahinya menyeringit karna tak mungkin Nyonya Corlie bisa memiliki tubuh sekekar ini apalagi rasanya begitu aman dan sangat nyaman.
"M.. Mom kau.."
Degg..
Saat mata Stella terbuka ia langsung di hadapkan dengan dada bidang seseorang dan belitan di bahu serta elusan lembut di kepalanya.
"K..kau.."
__ADS_1
"Sudah bangun?" tanya Xavier dengan santai dan lembut menatap Stella yang segera menarik diri ke tepi Ranjang nyaris jatuh tapi untung saja Xavier menahan pinggangnya.
"Kau bisa jatuh."
"K..kenapa? Kenapa aku disini dan.. dan kau.."
Stella tampak gugup memeriksa pakaiannya yang syukurlah masih utuh dan melihat kesekelilingnya. Ini ruangan berbeda lagi dan semuanya begitu rapi dan elegan.
Tanpa banyak bicara lagi Stella segera turun dari ranjang ingin pergi dari sini tapi, sedetik kemudian ia meringis hebat kala perutnya masih sakit.
"A..Asss shiit."
Xavier hanya menatap datar hal itu. Ia segera bangkit dari ranjang lalu mendekati Stella yang sangat keras kepala tapi ini wajar.
"Kau masih belum pulih."
"Pulaang!! Aku ..aku ingin Pulaang!!" tekan Stella meninggikan suaranya. Ia berjongkok memeggangi perut yang terasa sangat nyeri tetapi juga mulai kaku.
"Perutmu masih keram?"
"Lepaass!!" ketus Stella menepis tangan Xavier yang menyentuh kepalanya. Ia berusaha berdiri walau menahan sakit yang amat menyiksa baginya.
Tepat di dekat sofa sana Stella kembali berpeggangan. Jelas hal itu akan terjadi karna Stella masih butuh istirahat.
Tak bisa diam saja disini. Xavier segera mendekat mengambil alih Almamater Stella yang terkejut kembali ingin mengambil benda itu.
"Berikaan!!! berikan padakuu!!!"
Tatapan Xavier berubah dingin mengangkat Almamater ini tinggi ke atas sampai Stella yang hanya sebatas dada bagi Xavier harus menelan kehampaan.
Tatapan Stella berubah sangat marah dan geram tetapi jelas ia ingin menghindar.
"Kau mau apa lagi DARIKU?" tekan Stella sudah muak dan tak mau mengulangi hal yang sama. Mendengar itu raut wajah Xavier tak berubah masih setia dengan wajah datar arogan tapi hatinya sudah meleleh sejak lama.
"Kau tak puas melakukan semua ini padaku?"
"Kembali ke Ranjangmu!"
"Aku ingin pulaang!! berikan ituu!!"
__ADS_1
Stella berusaha meraih Almamaternya dari tangan Xavier yang benar-benar meninggikannya. Stella beberapa kali berjinjit dan melompat kecil meraih benda itu sampai tubuhnya oleng karna kaki yang terpeleset ingin jatuh.
Secepat kilat tangan kekar Xavier langsung meraih pinggang Stella merapat ke arahnya hingga spontan Stella memeggang bahu kokoh Xavier.
Tatapan keduanya kembali bertemu bahkan terkurung satu sama lain. Manik abu Xavier telah berubah sendu dan tenang tak seperti dulu yang hanya ada sebuah keangkuhan dan benteng arogan.
Apa aku hanya bermimpi?
Batin Stella karna tak percaya jika Xavier berubah secepat itu. Dan apa alasannya?! Selama ini ia hanya melihat sebuah ambisi dan hasrat tapi kenapa sekarang lautan abu ini seakan mencoba meraup jiwanya kembali.
Sama dengan Stella yang terkurung dengan perasaan. Xavier justru tenggelam dalam dilema dan kerinduan. Ia seakan berhalusinasi bisa sedekat ini lagi padahal, ia sudah sangat putus asa dan melarikan diri.
"Maaf!" lirih Xavier dengan suara rendah. Raut wajahnya sangat tulus dan menderita. Untuk sesaat saja biarkan aku memelukmu dan mengatakan jangan pernah pergi lagi. Apa bisa?
"Maaf." imbuh Xavier lagi sampai mata Stella berkaca-kaca segera memalingkan wajah dan keluar dari pelukan Xavier.
Tanpa banyak bicara lagi Stella menyambar Almamaternya di tangan Xavier yang sudah turun hampa lalu ia berbalik mengambil Tas Sekolahnya diatas sofa dan segera ingin pergi ke luar Pintu ruangan ini.
Tapi, sebelum itu Stella terhenti dengan mata kabur karna tertutup cairan bening itu. Ia tak akan berbalik karna tentu Stella tak akan tahan melihat raut hampa Xavier yang ntah itu palsu atau asli ia tak tahu.
"Maaf!"
"T..terserah kau ingin memerankan siapapun di hadapanku! Tapi, yah. Aku sudah tahu jika kau punya banyak cara untuk menekan ku." tegas Stella ingin pergi membuka pintu tapi Xavier segera bicara lugas.
"Aku tak ada niatan untuk melukaimu atau anak itu! Percayalah!"
"Benarkah?" tanya Stella hanya melirik Xavier dari ekor matanya. Walau hatinya merasa itu benar tapi Stella tak akan bisa percaya karna ia tak bisa mengerti bagaimana pola pikir Xavier yang berubah-ubah.
Melihat Stella yang masih menepis dan selalu menjauh. Xavier benar-benar gelisah, ia takut kehilangan untuk yang kedua kalinya.
"Aku serius! Aku datang untuk melihatmu apa kau.."
"Apa aku sudah mati atau belum. Begitu?"
Lagi-lagi lidah Xavier keluh dan kaku tak tahu harus melakukan apa. Tangannya ingin sekali menyentuh Stella dan meyakinkan tapi lagi-lagi Stella menolak dan terus tak percaya.
Dengan apa lagi aku harus meyakinkanmu? Aku tak ingin jika sampai Kakekku tahu akan hal ini. Tolong percaya padaku!
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..