
Langit gelap di atas sana masih membayang Mentari yang tampaknya dangat malas muncul di balik permukaan awan gelap. Ia masih saja bersembunyi hingga membuat rona pagi ini terasa sangat sejuk dan tak bisa menginjakan kaki ke tanah yang dibuatnya lembab.
Udara dingin yang masuk ke sela-sela Fentilasi kamar itu sampai membuat sesosok wanita yang telah nyaman di dalam pelukan hangat ini semakin masuk menyusupkan tubuhnya dalam kurungan raga kekar sang belahan hati.
Ia sangat malas membuka matanya bahkan wajah cantik itu semakin terbenam ke dada bidang berotot itu.
"Ehmm... Vee!"
"Hm?"
Xavier masih memejamkan matanya mengusap kepala Stella yang terus menelusup mencari kehangatan darinya.
Keduanya sama-sama tak memakai sehelai benang-pun karna selesai mandi semalam Xavier kembali melakukannya. Padahal Stella sudah memohon agar menyudahi itu karna Baby Ester terus merengek tapi Xavier tetaplah Xavier, ia sama sekali tak menghiraukan rengekan putranya yang hanya mencari gara-gara saja.
"Vee!"
"Hm? Apa?"
Stella perlahan membuka mata sayunya. Tatapan netra biru itu langsung dibenturkan dengan dada bidang kekar Xavier yang membuatnya nyaman membenamkan wajah disini.
Satu tangan Stella perlahan mengusap tonjolan otot seksi ini dengan belaian sangat kagum dan menyukainya. Kala sentuhan Stella semakin menyengat tubuhnya Xavier segera menahan jemari lentik itu di pinggangnya.
"Vee?"
"Jangan membangunkannya jika kau tak mau bertanggung jawab." desis Xavier tanpa membuka matanya sama sekali.
Mendengar itu semrawut merah di pipi Stella seketika muncul. Ia mengadah menatap wajah tampan Xavier yang semakin hari membuatnya jatuh cinta.
"Vee!"
"Hm?"
"Kenapa kau selalu menginginkanku?" tanya Stella penasaran. Padahal alasannya sudah jelas jika Xavier sangat memuja tubuh Stella yang memang benar-benar memuaskan dahaganya.
"Kenapa setiap kita bersama kau selalu ingin dan tak cukup sekali tempur saja?"
"Karna kau seksi!" desis Xavier meremas bagian belakang Stella yang memang sangat ia sukai. Semua bagian tubuh Stella selalu membuatnya melayang dan terus ingin mencoba.
Mendengar itu Stella terdiam. Ia berfikir jika Xavier hanya menginginkan tubuhnya bukan perasaan cinta yang begitu menyiksa.
"Kau mencintaiku atau hanya menyukai tubuhku?"
"Kenapa kau bertanya?"
Gumam Xavier masih santai menanggapinya. Gadis seumuran Stella pantas menanyakan hal ini karna ia masih belum tahu apa-apa soal karakter dan maksud seseorang.
"Vee! Kadang aku bingung. Kau itu mencintaiku atau hanya karna hasrat saja?!"
"Hasrat dan Cinta itu beda tipis. Sayang!" lirih Xavier tertarik membuka mata abu elangnya.
Tatapan keduanya terkunci dalam bahkan Xavier bisa melihat Stella tengah mencari posisinya sekarang. Wanita memang mahluk yang butuh kepastian.
"Maksudnya?"
"Aku tak terlalu paham. Tapi yang jelas, Cinta itu perwujudan hasrat ingin memiliki, melindungi, membahagiakan dan ingin selalu ada. Aku hanya tahu itu." jelas Xavier spontan tak berpikir panjang Satu tangannya yang menjadi bantalan kepala Stella memainkan rambut lurus pendek itu hangat.
__ADS_1
"Kalau kau yang mana?"
"Menurutmu?" tanya Xavier membuat Stella terdiam. Ia berpikir sejenak lalu kembali menatap Xavier yang masih setia menunggu.
"Kau itu campur!"
"Apanya?"
"Kadang kau tiba-tiba bersikap manis, melindungi dan ingin memiliki selalu. Tapi kau juga MENYEBALKAN!" ketus Stella melayangkan kecupan selamat pagi ke rahang tegas Xavier yang hanya menarik seulas senyum datar.
"Dan.."
"Dan?" tanya Xavier benar-benar terlihat berubah sangat jauh dari apa yang terjadi padanya sebelum kedatangan Stella.
"M-E-S-U-M." imbuh Stella mengeja kalimatnya. Hal itu membuat Xavier menelan rasa gemas mencubit hidung mungil Stella yang lagi-lagi kesal karna hidungnya merah.
"Vee!!"
"Hm?"
"Kau.."
Drett..
Ponsel Xavier tiba-tiba berbunyi. Stella yang sudah separuh duduk itu menatap ke arah nakas dimana Xavier meletakan ponselnya semalam.
"Ada yang menelfon!"
"Biarkan saja." acuh Xavier lebih tertarik untuk membelai punggung mulus berlekuk sempurna Stella dengan punggung tangannya. Ia suka melakukan ini karna Stella pasti akan langsung menggeliat.
"Biarkan!"
"Tapi itu menganggu Baby tidur." jawab Stella melihat Baby Ester mulai kembali merengek. Alhasil Stella turun dari ranjang meraih handuk di atas lantai yang sudah dingin untuk membungkus tubuh polosnya yang sedari tadi merayu Xavier.
"Angkat cepat!"
"Baiklah." jawab Xavier menurut mengambil Ponselnya. Ia terdiam kala melihat Nomor yang masuk tanpa nama ini hanya milik seseorang.
"Siapa? Vee!" tanya Stella yang sudah menggendong Baby Ester dengan hati-hati di dadanya. Stella beralih membaringkan Baby Ester ke atas ranjang melepas Bedong yang sudah acak-acakan ini.
Baby Ester tampak terus merengek membuat Stella segera memeriksa Popok Putranya. Nyatanya benda ini sudah penuh membuat si kecilnya gelisah.
"Ouhh. Sudah penuh. Hm?" gumam Stella membersihkannya dengan telaten.
Namun, ia termenggu kala melihat Xavier masih belum mengangkat panggilan yang terus berdering itu.
"Kenapa tak di angkat?"
"Tak penting!" jawab Xavier mematikan Ponselnya. Ia beralih mendekati Stella yang tampak masih diam membisu.
"Vee! Nanti aku ke Perusahaan mu. Apa kau juga nanti kesana?"
"Yah."
"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Stella tak sadar jika Xavier sudah mengambil alih Baby Ester darinya. Xavier dengan caranya sendiri melepas semua baju si kecil ini hingga wajah Tampan belia Baby Ester terus menolak tangan besar Daddynya.
__ADS_1
"Seperti saat kita bertengkar."
"Di Perusahaan juga?"
"Yah. Dan itu bagian terpenting." jawab Xavier memeriksa tubuh mungil Baby Ester. Ia terlihat menimbang-nimbang sesuatu yang pastinya sangat serius.
"Ada apa?"
"Dia harus tumbuh lebih cepat!"
"Jangan mulai lagi!" kesal Stella menepis tangan Xavier yang menggenggam pergelangan kecil Baby Ester yang terlihat merespon ucapan Xavier barusan.
"Dia akan berburu sendiri."
"Jangan aneh-aneh. Vee! Putraku tak boleh kau otak-atik lagi. PAHAM?" tegas Stella membuat raut wajah Baby Ester seketika sendu. Jelas ia sangat menyukai petualangan yang di berikan oleh Daddynya selama ini.
"Dia harus tumbuh dengan wajar. Putraku tak boleh melewatkan masa-masa kecilnya."
"Hm." gumam Xavier tapi jelas matanya dan Baby Ester saling berkoneksi seakan-akan keduanya punya jalan pikiran yang sama.
"Kita akan berburu jika Mommymu sudah tidur."
"Kau bilang apaa??" pekik Stella mendengar ucapan Xavier yang dengan santainya menjentik ringan hidung Stella lalu melangkah gontai ke arah kamar mandi dengan tubuh polos atletis itu.
Baby Ester tak memandang tabiat aneh Daddy nya karna ia sangat menjaga mata sucinya sekarang.
"Dia itu benar-benar. Baby, jangan dengarkan ucapan aneh Daddy mu. Dia itu tengah Mode tak waras." ketus Stella memperingatkan Putranya.
Namun. Stella mulai tertarik pada Ponsel Xavier, ia penasaran siapa yang menelfon tadi sampai Xavier tak mengangkatnya.
Ntah karna memang tak bisa menahan Stella langsung meraih Ponsel Xavier di atas nakas lalu membukanya. Jelas kunci layar Ponsel ini adalah nama Stella hingga wajah cantik itu sampai bersemu.
"Dalam beberapa hal dia punya sisi manis yang sangat kuat." gumam Stella memeriksa panggilan Xavier.
Ia tertegun kala melihat Nomor yang kemaren menelfon nyatanya kembali menghubungi Xavier.
"Pasti wanita ini yang kemaren ke Perusahaan. Dia memang sangat menjilat." geram Stella tak bisa melihat bagaimana Linnea dengan bangganya mengatakan jika Xavier dan dirinya akan menikah. Cih, dalam mimpimu saja.
"Lihat saja. Kau pikir aku tak bisa membalasmu." desis Stella langsung menelfon ke Nomor ini. Ia mempersiapkan suaranya yang agak di buat asing tapi masih dalam mode wanita.
"Sayang! kau.."
"T..Tuan! P..Ponselmu.." lirih Stella membuat suaranya se-hot mungkin sambil menahan geli.
"Patriack!! Apa yang kau lakukan. Ha??"
"T..Tuan. Akhhs.. P..ponsel.."
Baby Ester sampai tersenyum melihat kelakuan Mommynya yang pura-pura menjadi Wanita ranjang Xavier yang terdengar sangat mendayu-dayu.
Jelas hal itu dapat di lihat jelas oleh Xavier yang bersandar ke ambang pintu kamar mandi menyaksikan drama pagi yang di buat Istrinya itu.
"Cih. Selalu liar dan mengigit."
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..