
Flashback on
"Iya Mr. Hiro, selain itu adalagi yang ingin saya ketahui, yaitu tentang Ichiro."
Kalimat Burhan ini seketika membuat Mr. Hiro kaget, namun ia tetap tenang demi mendengar penuturan Burhan selanjutnya. Burhan menceritakan tentang putra pertamanya yang hilang tujuh tahun silam.
Setelah mendengar cerita Burhan tentang putranya, Mr. Hiro mulai bercerita bahwa istrinya tidak dapat melahirkan keturunannya, karena kanker serviks yang di deritanya hingga rahimnya harus diangkat.
Anak-anaknya berjumlah 5 orang termasuk Ichiro yang paling kecil, semua ia ambil dari jalanan dan beberapa panti asuhan.
"Dua tahun yang lalu saya mengambil Ichiro dari panti asuhan di kotamu," tutur Mr. Hiro.
Burhan merasa senang, sepertinya ada titik terang.
"Apa ada sesuatu dari panti yang menunjukkan jati diri tentang Ichiro, Tuan?" tanya Burhan.
"Ada Burhan, tunggu sebentar ya."
Mr. Hiro meminta kepada Sasuke, pelayannya untuk mengambil sebuah box diatas lemari yang ada perpustakaan pribadinya. Sesaat kemudian Sasuke masuk membawakan box yang dimaksud dan meletakkannya di atas meja di depan Burhan.
"Ini box yang dititipkan ibu panti kepada saya, silahkan dibuka."
Mr. Hiro mempersilahkan kepada Burhan untuk membukanya.
Dengan perlahan Burhan membuka box tersebut. Seketika bulir-bulir bening meleleh dari pelupuk matanya tanpa dapat ia bendung. Di kotak tersebut berisi selendang gendongan batik, switer dan topi rajut bertuliskan 'ABIZAR' serta kaus kaki rajut.
"Ichiro itu Abizar anak saya yang hilang, Tuan. lihat ini, topi, jaket dan kaos kaki ini istri saya yang merajutnya sendiri," tutur Burhan parau menahan tangis.
"Alhamdulillah, akhirnya Ichiro bisa menemukan keluarganya," ucap syukur Mr. Hiro.
"Ada satu lagi Tuan, Abizar anak saya mempunyai tanda lahir berwarna coklat di kaki kirinya." Satu kebenaran lagi yang terungkap.
"Mari kita temui Ichiro," ajak Mr. Hiro.
Mereka bangkit meninggalkan ruang makan menuju ke kamar Ichiro.
"Ichiro, Kamu sudah tidur Nak?" seru Mr. Hiro di depan pintu kamar Ichiro.
Tidak mendapat jawaban, Mr. Hiro menggeser untuk membuka pintu, untuk tidak terkunci
Mata Ichiro mengerjap seketika.
"Kakek, Om?" ucap Ichiro parau, Ia baru saja terlelap. "Om mau bobok bareng Ichiro?" tanya Ichiro bingung.
"Om, mau melihat kaki kirimu Nak. Bolehkan?" pinta Burhan menahan gejolak di dadanya.
"Boleh, Om."
Anak kecil berusia 8 tahun itu menyibak selimut tebalnya dan dan membuka kaos kakinya.
Burhan meraih kaki Ichiro. Antara terkejut, haru dan bahagia, Burhan segera merengkuh tubuh putra yang selama ini dirindukannya ke dalam pelukannya. Air matanya tidak dapat di tahan lagi.
"Kamu adalah Abizar anak Papa, Nak. Terimakasih ya Allah, akhirnya Engkau pertemukan aku dengan anakku. Mama pasti bahagia mendengar berita ini."
Abizar masih bingung dengan situasi yang mendadak ini.
__ADS_1
"Mama?" tanya Ichiro bingung. "Ichiro masih punya Mama, Om?" tanyanya lagi.
"Panggil Papa, sayang. Om ini Papa kamu. Kamu masih punya Mama dan Papa," jelas Burhan yang masih nyaman memeluk putranya.
Entah sejak kapan Mr. Hiro pergi meninggalkan kamar Ichiro untuk memberi ruang kepada ayah dan anak yang telah lama berpisah tersebut.
Burhan terlelap sambil memeluk putranya, ia tidak memberi kesempatan kepada Ichiro untuk menjauh darinya secentipun.
Mata Ichiro terbuka karena ingin buang air kecil. Ia mencoba melepas pelukan papanya tetapi hasilnya nihil, Burhan malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Pa," panggil Abizar.
"Kamu enggak boleh pergi kemana-mana," cicit Burhan dengan mata masih terpejam.
Abizar frustasi, jari-jari mungilnya kini memainkan wajah Sang Papa, mencubit hidung dan menusuk-nusuk pipinya.
"Pa," panggil Abizar lagi.
"Tidur, Bizar." tukas Burhan dengan suara serak.
"Tapi Ichiro pengen pipis, Pa." Ichiro merengek.
"Apa?" Mata Burhan langsung terbuka, "Papa antar."
Burhan langsung bangkit dan menggendong putranya ke kamar mandi. Burhan hendak membantu membuka celana Ichiro.
"Chiro bisa sendiri, Pa. Papa keluar, Ichiro malu," sungut Ichiro.
"Kenapa malu, ini kan Papa kamu?" decak Burhan.
"Ichiro sudah besar, Pa. Sudah dikhitan," sahut Ichiro, "Papa keluar atau Chiro pipis di celana nih?" ancamnya.
Rencana study banding selama satu Minggu yang sudah tersusun rapi ternyata gagal total setelah bertemu dengan Abizar alias Ichiro. Burhan sudah tidak sanggup lagi menunggu satu Minggu untuk mempertemukan putra sulungnya dengan mamanya.
Besok pagi-pagi sekali Burhan akan pulang ke rumahnya di Indonesia, kini tidurpun ia tidak melepaskan tubuh putranya barang secuilpun. Study banding bisa kapan-kapan di pabrik teh lokal di daerahnya saja, yang penting ia tidak akan berpisah lagi dengan putranya.
Kira-kira pukul lima pagi waktu Jepang, Burhan beserta putranya sudah siap pulang ke Indonesia. Mereka telah selesai sarapan pagi dan sedang berkumpul di meja makan. Ichiro duduk di pangkuan papanya. Burhan tak henti-hentinya menciumi puncak kepala putra bungsunya tersebut.
"Kalian bisa datang kapan saja, pintu rumah ini masih terbuka lebar untuk kalian," tutur Mr. Hiro.
Mr. Hiro menyodorkan amplop besar berwarna coklat.
"Ini sertifikat rumahku yang di Batang, Sudah kualihkan atas nama Abizar, Kalian boleh menempatinya, tunjukan surat itu pada satpam yang berjaga di sana," tutur Mr. Hiro.
"Terimakasih, Mr. Hiro. Sudah merawat anak saya dengan baik juga sudah membantu perekonomian keluarga kami."
Tak henti-hentinya Burhan berterimakasih kepada Mr. Hiro dan berucap syukur kepada Allah SWT.
Burhan dan Abizar diantar oleh supir Mr. Hiro ke Bandara Kansai Osaka. Kurang lebih 5 jam dalan perjalanan, dari bandara Kansai ke Bandara Ahmad Yani di Semarang.
Sampai di rumah kira-kira pukul tiga sore waktu Indonesia bagian barat. Burhan masuk ke dalam rumah dengan langkah mengendap-endap hendak memberi kejutan terhadap istri tercinta. Ia meminta Abizar untuk menunggu di ruang tamu.
Ia membuka pintu kamar, ternyata istrinya masih tidur sambil menyusui putra bungsunya. Burhan mengambil Azhar dan meletakkan putra bungsunya tersebut ke dalam box bayi.
Burhan kembali mendekati Nurlita, membaringkan tubuhnya menghadap istrinya. Dipandanginya sejenak wajah yang selalu membuatnya rindu, lalu ia mulai ******* bibir ranum istrinya tersebut.
Nurlita yang sedang terlelap seketika tersedak dibuatnya. Dia membuka matanya dan reflek mendorong tubuh suaminya.
__ADS_1
"Uhuk-uhuk, Mas?" pekiknya terbatuk-batuk. "Bilangnya satu minggu, baru kemarin berangkat kok udah pulang?" tanyanya. "Pasti enggak bisa tidur mikirin Lita," tebaknya.
"Mas punya kejutan untukmu. Ayo bangun kita ke depan," ajak Burhan yang kemudian beranjak berdiri dan menyeret kakinya keluar dari kamar.
Dengan malas Nurlita bangkit, ia terlebih dahulu merapikan rambutnya dan mencuci muka, baru menuju ke ruang tamu menghampiri keberadaan suaminya.
Langkahnya terhenti,
"Mas?" panggilnya bingung saat mendapati suaminya bersama dengan seorang anak kecil.
"Sini Sayang, ini Abizar anak kita," tutur Burhan yang sedang duduk di kursi memeluk Abizar.
"Abizar?" tanyanya ragu, tenggorokannya seperti tercekat.
Nurlita masih mematung, ia ingin memeluk anak yang selama ini dirindukannya, tetapi kakinya tiba-tiba tidak bisa digerakkan seperti ada lem a*teco yang merekatkannya, bibirnya kelu, air matanya berderai menyebabkan pandangannya kabur.
brugggh,
Tiba-tiba dia ambruk, ternyata Nurlita pingsan. Burhan yang melihatnya menjadi panik. Ia berlari menghampiri istrinya dan membopongnya ke kamar.
"Bizar, ikut Papa, Nak!" perintahnya.
Tanpa menjawab Abizar pun bangkit mengikuti papanya dari belakang.
Burhan membaringkan tubuh Nurlita di tempat tidur.
"Mendekat sini, Sayang. Peluk Mama!" pinta Burhan lagi pada Abizar.
Burhan meraih minyak kayu putih yang ada di kotak bedak Edos, dan mengoleskan di depan hidung Nurlita juga kedua kakinya.
"Ma, sadar Sayang. Anaknya datang kok malah pingsan sih," ucap Burhan menyadarkan Nurlita. "Kalau enggak bangun juga, aku kembalikan Bizar ke Jepang lagi nih!" ancamnya hanya bercanda yang nyatanya bisa membuat Nurlita tersadar.
Perlahan Nurlita membuka matanya, ia memeluk Abizar yang berbaring disampingnya dan menciumi puncak kepala dan wajahnya berulang kali. Nurlita tidak dapat berucap, dalam hati tak henti-hentinya ia bersyukur, hanya air mata yang terus mengalir dari ujung pelupuk kedua matanya.
Burhan terharu menyaksikan pertemuan ibu dan anaknya yang hampir satu windu terpisah, perutnya lapar tetapi ia tak tega mengusik kedua insan yang sedang melepas rindu tersebut.
Malam harinya Burhan terpaksa tidur beralaskan sebuah tikar yang ada di depan televisi, karena tempat tidur mereka tidak cukup untuk menampung 3 orang.
Esok paginya barulah Burhan memboyong keluarganya untuk tinggal di rumah Mr. Hiro yang sudah dihibahkan untuk Abizar.
Abizar sekolah di kotanya hingga lulus SMA. Saat akan mendaftar kuliah, Mr. Hiro memintanya untuk mendaftar kuliah di Jepang. Mr. Hiro merasa sudah tua dan sudah tidak mampu lagi untuk mengelola perusahaannya. Dia menyerahkan perusahaan tersebut kepada Abizar, karena anak-anak angkatnya yang lain juga sudah memiliki usaha sendiri-sendiri.
Abizar, seorang cucu yang sejak lahir ditolak dan dibuang oleh kakeknya sendiri ternyata mendapatkan ganti seorang kakek yang menyayanginya melebihi keluarganya sendiri.
Flashback off
.
.
.
***Happy reading
Semoga suka
jangan lupa like n komen ya.
__ADS_1
Oh ya, hari ini bertepatan dengan tanggal 14 Robiul Awal, ini adalah anniversary pernikahanku yang ke 10,
tararengkiuuh 😘😘😘***