
Tania masih bingung untuk menjawab tentang ajakan Edos untuk pulang kampung, "Kalau kita pulang kampung, kuliah aku gimana, Yank?" tanyanya lagi.
"Cuma dua Minggu, kamu libur kan?" jawab Edos kemudian bertanya.
Edos masih saja memainkan dua benda runcing di depan matanya, dan sekali-sekali nampak menciumi perut Tania.
"Iya, dua Minggu," jawab Tania. "Udah kering rambut kamu, Yank. Aku mandi dulu ya!" Tania pamit untuk mandi.
"Mau aku mandiin? Mumpung aku belum ganti baju." Edos menawarkan diri dengan tersenyum jahil.
Tania membulatkan matanya. "Enggak ah, aku bisa mandi sendiri kok," jawab Tania.
Tania cepat-cepat menyambar handuk kimono ya dan berlari menuju ke kamar mandi, dia takut kalau suaminya yang benar-benar akan melakukan apa yang telah diucapkannya, memandikannya. Bisa-bisa acara terapi-terapian yang tadi terulang kembali. Bisa sampai siang sarapan paginya. Edos hanya menahan napas melihat istrinya berlari.
"Apa dia lupa kalau dia sedang hamil," pikirnya.
Ia lalu memakai pakaian yang telah disiapkan oleh istrinya. Edos memeriksa ponselnya. Banyak pesan masuk. Salah satunya dari adik sepupu tirinya alias Bram, ada apa dia menghubungi Edos. Edos segera membuka pesan WhatsApp dari adik sepupu tirinya tersebut.
Bram
[Temui aku nanti siang jam 12 tepat di kafe Mentari,]
Edos langsung membalasnya.
Anda
[Oke, segera share lokasinya.]
Tiga puluh menit kemudian Tania keluar dengan masih mengenakan bathrobe dan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Tania memang tidak suka memakai hair dryer, dia takut rambutnya akan kering dan rusak. Dia duduk di sebelah suaminya. Edos mengalihkan pandangannya memandang istrinya, ia memicingkan matanya.
"Kenapa enggak ganti baju? Kamu mau keluar untuk sarapan pakai kimono seperti ini?" tanya Edos.
"Baju aku masih kotor, yang lain udah nggak ada yang cukup," jawab Tania yang memang semenjak hamil ia belum pernah membeli baju, kecuali yang dibelikan oleh Rayan kemarin.
"Masa, sih?"
Edos tidak percaya, ia bangkit menghampiri lemari pakaian dan membukanya. Benar saja apa yang dikatakan Tania, ia melihat lemari lima pintu itu diisi pakaian Tania dan pakaiannya bahkan masih tersisa ruangan longgar. Baju-baju Tania yang mengisi lemarinya hanya yang dibeli saat ia pindah ke rumah mamanya saja, sedangkan baju lamanya masih berada di rumah Bu Retno.
Edos pun merutuki dirinya. Suami macam apa aku ini? Bahkan di usia pernikahanku yang hampir setengah tahun ini, aku belum pernah memberikan nafkah kepada istriku, sandang, pangan dan papan yang dipakai istriku bahkan pemberian atau milik orang lain.
Edos meraih ponselnya, mencari kontak Rifki.
"Assalamu'alaikum, Mas Rifki," ucap Edos saat panggilannya terhubung.
"Wa'alaikumussalam, Edos. Ada apa?" tanya Rifki di ujung telepon.
"Maaf Mas, ganggu pagi-pagi, Mbak Erika beli baju-baju hamil di mana ya?" tanya Edos.
"Oh, sebentar aku tanya ke orangnya langsung saja," jawab Rifki.
"Oke baiklah," sahut Edos.
"Ada apa, Mas?" tanya Erika pada suaminya.
"Edos tanya, kamu beli baju hamil di mana, Ay?" jawab Rifki.
"Oh, aku beli di toko samping Ardimart. Tapi kalau hari Minggu mungkin tutup," jawab Erika. "Suruh telfon Niken saja, Mas. Mungkin dia punya," imbuhnya. Rifki mengangguk.
"Halo, Edos. Erika bilang dia beli di toko samping Ardimart, tapi kalau hari Minggu katanya tutup. Coba kamu telfon Niken, mungkin dia ada stok," ucap Rifki kembali.
"Oke, Mas Rifki. Makasih ya, wassalamu'alaikum," Edos mengakhiri panggilannya. Ia menghampiri Tania.
__ADS_1
"Sayang, sarapan di kamar saja ya, aku ambilkan. Kalau kamu turun pakai pakaian seperti ini takutnya mata Pak satpam enggak bisa kedip nanti," ucap Edos menaikturunkan kedua alisnya. "Oh iya, Say. Kamu telpon Mbak Niken, minta dikirim baju hamil yang ready stok, nanti aku yang bayar," suruhnya
"Kamu yang telpon donk, Yank. Kalau aku yang minta dikirim mana mau dibayar," tolak Tania.
"Kalau belinya banyak pasti mau dibayar lah, Say. Ya udah, kirimin nomor nya ke nomorku," pintanya sambil berlalu meninggalkan kamar.
Edos turun ke lantai dasar dan langsung melangkah menuju ke dapur untuk mengambil makanan. Saat Edos sedang mengambil makanan, tiba-tiba mama mertuanya menghampiri.
"Ee.., menantu Mama kok mengambil makanan sendiri? Memang Tanianya enggak bisa bangun ya?" tanya Dewi menggoda.
Edos tersenyum mendengar cibiran dari adik papanya tersebut. "Lagi malas naik turun katanya, Bulek. Eh, Mama maksudnya," jawabnya gugup.
"Jangan terlalu diforsir, ingat dia masih hamil muda," Dewi menasehati. Dewi membuatkan segelas susu soya untuk putrinya, dan meletakkan gelas susu soya tersebut di atas nampan tempat Edos menata sarapan untuknya dan Tania.
Edos kembali tersenyum, "Iya, Ma. Edos tahu kok," jawabnya. Edos memicingkan mata melihat segelas susu di nampan. "Memangnya anak Mama sekarang udah doyan susu?" tanyanya.
"Itu susu kedelai, mama sudah beli susu hamil aneka rasa loh padahal, tapi dia tetap tidak mau minum. Kamu paksa saja dia agar meminumnya, ancam bila perlu," suruh Dewi.
Edos malah tertawa, "Mama ini ada-ada saja," ucapnya.
Edos sudah akan mengangkat nampan. Tiba-tiba Siti muncul dari belakang. "Mas Edos masih perlu bantuan Mbak Siti, tidak?" tanyanya.
Edos menoleh, "Eh, Mbak Siti. Tolong cucikan bajunya Tania," pintanya.
"Eh, biasanya Mbak Tania enggak mau dicucikan bajunya, Katanya lama kalau Siti yang ngerjain," ucap Siti kaget karena biasanya Tania selalu mencuci bajunya sendiri. Edos cuma mengedikkan bahunya.
"Sini Mas, biar Mbak Siti bantu bawakan, sekalian mau ambil pakaian kotor sebelum Mbak Niken datang menjemput," ucap Siti menawarkan diri.
Edos kaget mendengar Siti menyebut nama Mbak Niken, kebetulan sekali. "Lho, Mbak Niken mau ke sini?" tanyanya.
"Iya, Mas. Tiap dua Minggu sekali Mbak Siti dan Mas Karim diajak bersih-bersih rumahnya."
"Oo.., ini tolong bawakan, aku mau telpon Mbak Niken sebelum dia sampai di sini," ujar Edos. Edos menyerahkan nampan yang dipegangnya, dan diterima oleh Siti.
"Assalamu'alaikum, Dengan Niken dari Kumala Butik ada yang bisa kami bantu?" ucap Niken saat mengangkat panggilan dari Edos.
"Wa'alaikumussalam, hehe.., ini Edos suami Tania, Mbak. Maaf mengganggu Mbak Niken," sahut Edos.
"Eh, he he. Ada apa ya, Edos?"
"Gini, Mbak Niken. Apa Mbak ada baju atau gamis hamil yang ready stok untuk Tania?" tanya Edos.
"Em, gamis hamil ya? Sepertinya ada beberapa gamis longgar, nanti aku bawakan sambil jemput Mbak Siti," jawab Niken.
"Terimakasih banyak, Mbak."
"Sama-sama, Edos. Sampai nanti ya,"
"Baiklah, Mbak. Assalamu'alaikum,"
Edos memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celananya setelah sebelumnya mengakhiri panggilan. Ia bergegas menyusul ke dalam kamar Tania. Menghampiri Tania yang sudah duduk di sofa menikmati sarapan paginya.
"Nanti jam 10 aku mau keluar untuk urusan pekerjaan dengan Pak Trisno sekretarisnya Papa, kamu mau ikut?" ungkap Edos saat mereka tengah menikmati sarapan paginya.
"Urusan pekerjaan apa? Kamu kerja apa?" tanya Tania menaruh kecurigaan. Jangan-jangan selama 2 bulan tidak ada kabar suaminya ini jadi mafia.
"Aku mewakili perusahaan Papa, PT. Jala Tea. Kita ada penandatanganan kontrak kerjasama dengan perusahaan suplayer kertas untuk packing teh Jala Tea." Edos menjelaskan pekerjaannya.
"Oo, aku mau ikut Mbak Siti saja ke rumah Mbak Niken," tolak Tania.
"Tapi nanti di sana kamu enggak boleh pegang pekerjaan yang berat-berat lho," cegah Edos.
__ADS_1
"Di sana niatnya kan mau bantu-bantu, Yank," sahut Tania.
"Iya, tapi jangan pekerjaan yang berat-berat. Kamu itu suka ceroboh, sudah tahu sedang hamil tapi masih suka lari-lari." Edos mencebik.
Tania cuma bisa nyengir kuda, "Hehe.. lupa," ucapnya.
Tok tok tok
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar. Edos meletakkan piring yang dipegangnya ke atas meja, dan melangkah ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Eh, Mbak Niken. Silahkan masuk, Mbak. Tanianya lagi sarapan," ucap Edos mempersilahkan masuk kepada tamu yang datang. Niken pun melangkah masuk.
"Ee, ibu hamil jam segini baru sarapan. Ini baju-bajunya, dicoba dulu," ucap Niken seraya melangkah, menaruh barang bawaannya di sofa yang kosong.
Tania masih meneruskan makannya sampai habis, setelah itu ia meminum susu soya yang telah dibuat oleh mamanya, mengambil tumpukan lipatan baju yang dibawa oleh Niken untuk dicoba.
"Ini boleh diambil semua kan, Yank?!" tanya Tania pada Edos yang kembali duduk di sampingnya.
"Boleh donk, Say. Apa sih yang enggak buat kamu?" jawab Edos tanda mengiyakan.
Tania masuk ke dalam kamar mandi, karena di dalam kamarnya tidak ada yang namanya walk in closet.
"Tadi Tania bilang mau ikut ke rumah Mbak Niken bersih-bersih, Mbak. Aku ada urusan keluar masalah pekerjaan," ungkap Edos pada Niken.
"Oo, tidak apa-apa biar rame, tapi Tania suka bandel kalau dibilangin, sama kayak kamu," sahut Niken.
"Dia memang gitu, Mbak. Tolong nanti diawasi ya, Mbak. Mas Bram tadi juga ngajak ketemuan nanti siang," ungkap Edos lagi.
Niken kaget mendengarnya, "Hati-hati saja kamu sama dia. Dia itu sekarang terobsesi sama istri kamu, untung Tania selalu mengusirnya kalau ketemu, soalnya dia malah ketakutan, hehe" tutur Niken menasehati.
"In Sya Allah, Mbak. Pasti Mas Rifki juga ada di sana. Mbak Niken yang sabar ya."
"Ingat ya Edos! Kamu tidak boleh emosi dan jangan sampai kamu terpancing untuk menggunakan kekuatan fisik, kasihan Tania kalau harus berpisah dengan kamu lagi," Niken kembali menasehati Edos.
"Siap 86, Bosku," ucap Edos mantap mengangkat tangannya tanda hormat.
Niken hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menghadapi tingkah adik iparnya tersebut. Tania keluar dari kamar mandi menghampiri mereka berdua, ia sudah berganti pakaian dengan salah satu gamis pilihannya.
"Mbak, yang ini enggak muat, aku kembalikan," ucap Tania menyarahkan beberapa gamis pada Niken.
"Iya enggak apa-apa, Tan. Kamu udah siap? Jadi ikut ke rumah Mbak kan?" tanya Niken.
"Jadilah, Mbak. Ini tinggal memakai kerudung doank kok," jawab Tania.
"Mbak tunggu di mobil ya!" Niken bangkit dan melangkah keluar.
"Iya, Mbak," seru Tania menjawab ucapan Niken.
"Mbak, Bajunya gimana bayarnya?" tanya Edos berseru.
Niken menghentikan langkahnya. "Nanti kukirim nomor rekeningnya via WhatsApp ya, Edos," serunya lagi.
.
.
.
TBC
Terimakasih ya udah ngikutin Tania
__ADS_1
Like, komen, vote dan rate 5 adalah sesuatu yang berharga buat author, terimakasih banyak
semoga suka.😍😍😍