
"Lalu buat apa? Tumben-tumbenan?" tanya Tania lagi.
"Emang nggak boleh ya sekali-kali kami traktir cewek spesialnya sahabat?" Tanya Salma.
Tania kini terdiam mendengar. Napasnya terasa sesak mengira-ngira kata sahabat yang diucapkan oleh Salma merujuk kepada siapa. "O ... jadi karena dia, kalian mau traktir aku?" pikir Tania dalam hati. "Ya boleh aja sih," ucapnya mengingat orang yang ada gelagat ikut campur urusan pribadinya adalah dosennya.
"Tan, apa tidak apa-apa kedua teman kamu ini mendengar apa yang akan kita bicarakan ini?" ungkap Salma bertanya.
Tania yang sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan dosennya itupun menjawab "Enggak apa-apa kok, Bu. Mereka itu shohib Tania."
"Oke deh. Jii, kamu yang ngomong dong," pinta Salma.
"Jii? Emangnya Pak Ustadz Amar sudah pergi haji?" beo Tania.
"Zauji, Tan. Dia pun panggil aku Zaujati," ungkap Salma.
"Kalian satu angkatan kan? Pasti sama pasangan dulunya panggil nama tanpa embel-embel," cibir Tania.
"Sok tahu kamu, Tan!" sergah Amar.
"Dulu kami panggil ayah bunda kok," kekeh Salma teringat cerita pacarannya anak SD yang dulu sempat viral.
"Heleh," cibir Tania lagi.
"Udah deh, Tan. Enggak usah mengalihkan pembicaraan," pungkas Amar.
"Ya udah langsung saja!" ucap Tania yang kini berubah sikap menjadi judes. Atmosfirnya bakalan ada yang menyalahkan dia nih.
"Beberapa bulan ini kami berdua dan teman-teman yang lain kehilangan jejak Ozan, Tan?" ungkap Salma.
Tania seketika menautkan kedua alisnya heran. Memangnya apa hubungan Tania dengan hilangnya bujang lapuk satu itu. "Terus hubungannya sama saya apa, Bu?" tanyanya.
"Fauzan frustrasi karena penolakan kamu, Tan. Dia sangat mencintai kamu," ucap Salma lagi.
"Kalau di dalam ajaran Islam boleh poliandri sih pasti aku akan menikahi dia," kekeh Tania.
"Yang serius, Tan," ujar Amar mengingatkan.
"Tania serius lah, Pak," ucap Tania. "Apa kalian tidak berfikir kalau saya mungkin bukan jodoh buat Mas Fauzan. Mungkin di belahan dunia yang lain ada wanita yang masih menunggu kedatangannya. Tolong jangan buat posisi saya terjepit dong. Saya tidak berfikiran untuk menjadi seorang janda dua kali dalam waktu satu tahun. Kalaupun saya memang harus bercerai saya juga tidak berfikir untuk menikah lagi secepatnya. Saya hanya ingin fokus mengurus anak-anak dan menyelesaikan kuliah," tambahnya panjang lebar.
"Saya mengerti, Tan. Tapi tolong jangan tolak dia. Kasih kesempatan dia untuk membantu kamu. Jangan putuskan pertemanan dengan dia," ucap Amar memohon.
"Baiklah, akan Tania pikirkan," sahut Tania.
"Terima kasih, Tan," ucap Salma.
Di balik dinding itu seseorang tengah mendengar perbincangan mereka karena pintu ruangan tidak ditutup.
"Mas Bos, kok tidak ikut gabung sama Pak Bos dan Bu Bos?" tegur salah seorang pelayan yang hendak masuk ke dalam ruangan untuk mengantar pesanan.
"Eh, Fifi. Enggaklah, Pak Bos sedang ada tamu lain," sahut Fauzan.
"Oh begitu. Permisi ya, Mas Bos, kami masuk duluan," pamit Fifi masuk ke dalam ruangan yang ditempati oleh Tania, Salma dan yang lainnya diikuti oleh empat orang pelayan lainnya mengantar makanan yang mereka pesan.
"Silakan, saya juga mau pergi ada urusan lain," ucap Fauzan lalu pergi meninggalkan tempat itu. "Tolong jangan bilang ke mereka kalau saya ke sini," pintanya sebelum pergi. Lelaki berusia 27 tahun itu beranjak pergi tanpa mendengar jawaban dari para pelayan. Para pelayan masuk ke dalam ruangan dan meletakkan makanan dan minuman di atas meja.
"Eh, Tania sampai lupa. Bu Salma dan Pak Amar sudah pesan makanan?" tanya Tania kepada kedua orang pasangan dosen.
"Sudah kok, Tan," sahut Salma tersenyum simpul. "Silakan dinikmati," lanjutnya mempersilakan.
Mereka pun menikmati kuliner sesuai yang dipesan.
"Nad, kamu makannya banyak, tapi kok tubuh kamu masih kayak kutilang darat gitu? Pasti kalau makan enggak baca bismillah jadi makanan kamu berbagi sama syaiton," celetuk Tania.
"Enak aja seorang Nadia makan enggak baca bismillah, itu mah pitnah. Bodi ramping kayak gini tuh karena olah raga tahu," sanggah Nadia.
__ADS_1
"Hahaha, kapan kamu sempat olah raga?" cibir Tania.
"Eh eh eh, belum tahu dia kalau seorang Nanad melakukan olah raga hampir tiap malam," sindir Nadia dengan wajah serius.
"Hahaha olah raga? Kayak sempat aja," beo Tania meremehkan.
"Hus ssttt ... makan! Jangan bicara saat lagi makan," kali ini tumben tumbennya si Prima bersikap lebih dewasa dari mereka berdua.
Amar dan Salma hanya menanggapi interaksi anak didiknya dengan mengulum senyum. Ternyata setelah dekat dengan mereka pribadi yang asyik. Sebelumnya Salma mengira mereka bertiga itu gadis-gadis yang fanatik terhadap pertemanan mereka bertiga dan tidak menerima personil yang lain masuk ke dalam lingkup. Dari sikap mereka dapat Salma simpulkan bahwa mereka welcome terhadap orang lain.
"Habiskan makannya, bicara nanti saja kalau udah kenyang. Kalau kurang tambah ya. Hari ini saya yang traktir," ucap Salma menengahi obrolan mereka.
"Wah, makasih, Bu. Saya nanti nambah," timpal Tania.
"Iya, sama-sama. Silakan dilanjutkan makannya," sahut Salma. "Sebenarnya sih aku enggak suka dipanggil 'Bu' saat diluar kampus, tetapi karena memang usiaku jauh di atas kalian ya terserah kalian lah," ungkap Salma yang mengganti saya dengan kata aku untuk menunjuk dirinya.
"Terus Bu Salma mau dipanggil apa? Kak Salma? Atau Mbak Salma aja? Tania malah takut keceplosan pas di kelas lagi bahas materi kuliah, eh tiba-tiba panggil Mbak Dosen, hahaha ..." kekeh Tania.
"Senyamannya kalian saja deh manggilnya," sahut Salma.
Tania masih menikmati makanan yang dipesannya hingga ponselnya yang ia letakkan di atas meja bergetar.
"Mama Dewi telepon tuh, Tan. Angkat gih," ucap Prima.
Tania menelan apa yang ada di dalam mulutnya kemudian meneguk minuman pesanannya. "Kurang air putih nih," ucapnya.
Tania menekan dan menggeser icon warna hijau di layar ponselnya lalu mendekatkan ke telinga.
"Assalamu'alaikum, Ma. Ada apa?" sapa Tania.
"Wa'alaikumussalam, Sayang. Kamu di mana sekarang? Bisa jemput adik kamu di asrama enggak? Soalnya Pak Joko enggak bisa jemput, dia harus mengantar Papa ke Sukabumi," ucap Dewi di sambungan telepon.
"Adikku siapa yang Mama maksud? Bukannya Aghni biasanya lebih suka pulang sendiri?" cecar Tania.
"Bukan Aghni, Sayang, tetapi Farhan. Dia bilang hari ini mau pulang," ralat Dewi.
"Bisa kan, Tania Sayang?" tanya Dewi lagi memastikan.
"Bisa Ma, tapi nanti jam tigaan ya. Soalnya Tania sekarang lagi kumpul-kumpul sama para dosen dan teman-teman sekelas," ucap Tania. Prima sampai menyemburkan minumannya ke muka Nadia mendengarnya alasan Tania tersebut.
"Kamu apa-apaan sih, Pim? Jorok ih!" seru Nadia kesal.
"Habisnya tadi Nanad bilang--"
Belum selesai Prima menjawab, sudah dipotong oleh Tania. "Ssshuuttt, diam dulu kenapa sih kalian? Orang Tania lagi terima telepon juga," bentak Tania dengan jari telunjuk tegak menyentuh hidung dan bibir mengerucut.
"Halo, Sayang," seru Dewi karena mendengar suara ribut-ribut.
"Eh iya, Ma."
"Bisa kan kamu jemput Farhan di asrama?" tanya Dewi lagi.
"Bisa, bisa banget kok Ma," jawab Tania mantap.
"Ya udah, makasih ya Sayang. Maaf Mama udah ganggu acara kamu " ucap Dewi.
"Ah, Mama ini kayak sama siapa saja," seringai Tania.
"Ya udah itu saja, Mama tutup ya. Lanjutin lagi gih acara kamu, wassalamu'alaikum," ucap Dewi mengakhiri panggilannya.
"Wa'alaikumussalam, Ma," sahut Tania.
"Kamu kok bohong sih Tan sama mama kamu?" tanya Prima protes.
"Bohong gimana?" sergah Tania.
__ADS_1
"Lha tadi kamu bilang kalau kamu lagi kumpul-kumpul sama para dosen dan teman-teman sekelas kamu," jelas Prima.
"Yang bohong bagian mana ya? Aku kan emang lagi kumpul sama para dosen dan teman-teman sekelas," ungkap Tania heran.
"Dosennya cuma dua doang, Tan," jelas Prima lagi.
"Terus? Aku mesti jelasin ke Mama gitu kalau dosennya cuma dua? Dan teman-temannya cuma dua juga? Kamu dan Nanad? Justru aku sebut "para itu karena dosennya lebih dari satu dan teman-teman juga karena temannya lebih dari satu. Kamu ini gitu aja dibahas sih, Pim kayak enggak ada bahasan lain saja," pungkas Tania kesal.
"Maaf," ucap Prima.
"Maafnya tar aja pas hari raya," ucap Tania.
"Mamamu nyuruh apa, Tan?" tanya Nadia menengahi.
"Aku disuruh jemput Farhan di asrama, aku jawab iya jam tiga," jelas Tania.
"Farhan itu siapanya kamu, Tan?" tanya Amar.
"Adik saya, Pak," jawab Tania.
"Kamu masih punya adik yang masih sekolah ternyata, Tan," simpul Salma.
"Iya, Bu, adik saya dua, satu beda ayah, satunya beda ibu," ungkap Tania.
"Habisin makanannya dulu gih, Tan. sekarang udah jam 2. Perjalanan ke sana kan memakan waktu selama satu jaman," ucap Nadia.
Setelah menghabiskan makanannya mereka bertiga pamit kepada kedua dosennya. Nadia kali ini yang menyetir mobil. Mereka langsung menuju ke lokasi pondok pesantren terpadu tempat Farhan menuntut ilmu.
Satu jam kemudian Tania dan kedua temannya sampai di lokasi. Mereka langsung menuju ke kediaman pengasuh pondok pesantren. Mereka bertiga keluar dari mobil dan melangkah menuju ke sebuah rumah yang mereka yakini adalah rumah pak kyai.
"Suit suit, ada cewek-cewek cakep woy," terdengar suitan dari salah seorang santri kepada temannya.
"Shtt, enggak sopan kalian ini," teman lainnya memperingatkan.
Tania dan kedua temannya dipersilahkan masuk oleh seorang santri abdi ndalem. Ia menitipkan bingkisan yang tadi ia beli saat di perjalanan mampir di sebuah minimarket kepada santri tersebut. Tidak lama kemudian sepasang pria dan wanita paruh baya yang Tania yakin adalah Pak Kyai dan Bu Nyai muncul dari dalam dan duduk bersanding di sebuah kursi sofa panjang. Tania, Nadia dan Prima menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda memberi salam lalu mencium punggung tangan Bu Nyai secara bergantian.
"Assalamu'alaikum, Pak Kyai, Bu Nyai. Saya Tania kakak dari santri yang bernama Farhan. Kedatangan saya ke sini untuk menjemput Farhan pulang," ungkap Tania.
"Wa'alaikumussalam, panggil Abah dan Umi saja nak Tania," pinta Pak Kyai. "Kamu yang kakaknya Farhan. Lalu adik berdua ini?" tanya Pak Kyai.
"Eh kenalkan ini Nadia dan Prima teman saya, Abah, Umi," sahut Tania memperkenalkan kedua temannya.
"Farhannya sedang dipanggilkan, silakan ditunggu ya," ucap Pak Kyai.
"Terima kasih, Abah," ucap Tania.
"Kalian sudah menikah semua?" tanya Umi ikut mengobrol.
"Saya dan Nadia sudah menikah Umi, Prima segera menyusul. Dia mau jadi adik iparnya Nadia," jelas Tania.
"Wah, senang ya teman dekat jadi ipar," ucap Umi tersenyum. "Umi kira masih singgel semua, kebetulan anak Umi semua laki-laki yang dua sudah laku, tinggal satu yang belum laku," imbuhnya terkekeh.
"Astaghfirullah, Umi. Anak sendiri dibilang enggak laku-laku," Abah memukul lengan Umi ikut terkekeh. Seluruh orang yang ada di ruang tamu ikut terkekeh.
"Bercanda, Abah. Dari pada obrolan kalian kaku. Eh, nak Tania ini lagi hamil ya? Sudah berapa bulan? Udah besar kayaknya" tanya Umi.
"Jalan tujuh, Umi. Ini anak ke dua," sahut Tania.
"Apa? Yang kedua? Ibu kira kalian masih kuliah," beo Umi.
"Kami memang masih kuliah, Umi. Menikah itu cuma sampingan," kekeh Nadia ikut nimbrung.
.
.
__ADS_1
TBC