
Tania membimbing Bram memasuki lift yang diarahkan ke lantai 10. Keluar dari lift Tania mencari kamar nomor 213, akhirnya ketemu juga jadi agak sedikit lega. Tania memasukkan kartu di slot pintu yang ada tulisan nomor tersebut.
Pintu terbuka, Tania masih membimbing tubuh Bram hingga mencapai ranjang. Namun apa yang terjadi? Bram malah mendorong tubuh Tania dengan kasar hingga terjerembab di atas kasur.
Tania berusaha bangkit namun Bram sekali lagi mendorongnya dengan kasar.
"Bapak mau apa? Sudah malam saya mau pulang, Pak. Suami saya sudah menunggu saya di rumah," pekik Tania.
"Diam, Kamu." Bram merasakan tubuhnya bertambah panas padahal AC di ruangan tersebut sudah dinyalakan dengan temperatur yang sangat rendah, ia seperti dirasuki roh jahat yang mengendalikan tubuhnya, akal sehatnya seakan sirna seketika. Yang ada dalam otaknya saat ini adalah dia hanya ingin menuntaskan suatu hasrat yang menggelora, tubuhnya seperti akan meledak saat ini juga.
Tania berusaha bangkit kembali, "Tolong lepaskan saya, Pak. Saya akan panggilkan Mbak Niken kemari," rengek Tania memohon dan berlari ke arah pintu.
Seketika Bram menarik kembali tangan Tania dan mendorongnya ke atas tempat tidur.
"Diam kataku! Tolong aku, aku bisa mati saat ini juga,"
Tania berusaha melawan dengan mencakar, memukul dan mendorong sekuat tenaga saat tubuh Bram menimpa tubuhnya, namun usahanya tidak membuahkan hasil apapun, ketika tangan dan bibir Bram menyentuh tubuh Tania dengan kasar, Tania hanya bisa menangis, tenaganya seakan sia-sia. Air matanya mengalir deras dari kedua pelupuk matanya.
Tania hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menangis. " Tidak, pak! Jangan!" pekiknya.
Tenaganya mulai melemah. Ia merasakan sesuatu yang teramat sakit melebihi yang ia rasakan semalam bersama suaminya, hingga ia tidak kuat lagi menahan rasa sakit tersebut, dan akhirnya Tania pun pingsan.
Setelah menuntaskan hasratnya, Bram pun limbung, terjatuh dan tertidur karena kelelahan dan mengantuk di samping Tania.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara itu di Ballroom Hotel, suasana masih sangat ramai, meskipun sudah banyak dari para tamu undangan yang telah meninggalkan ruangan tersebut.
Sisi dan Aris menemukan Keberadaan Juragan Burhan dan Abizar. Mereka bergabung satu meja dengan juragan Burhan dan Abizar.
"Pakde, Kakak. Apa kalian melihat Kak Tania?" tanya Sisi pada Juragan Burhan dan Abizar.
"Sudah, tadi dia di sini. Pakde sudah menyuruhnya untuk pulang bareng Pakde. Tapi sampai sekarang kenapa belum kembali juga?" jawab Juragan Burhan sambil mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling. "Bizar, coba kamu telpon dia!" suruhnya pada Abizar.
"Sudah kutelpon dari tadi, Pa. Tapi tidak diangkatnya juga," jawab Abizar kesal.
"Kalau begitu Sisi pulang dulu ya, Pakde. Sisi sudah mengantuk banget," pamit Sisi merengek.
"Ya sudah, pulang sana. Hati-hati nyetirnya, Aris," sahut Juragan Burhan.
"Iya, Pak, Kami pamit," Pamit Aris sambil mencium punggung tangan Juragan Burhan. Sisi juga melakukan hal yang sama.
Abizar keluar dari ballroom hotel ia mencari Tania ke dapur, ke toilet setiap ruangan dilongoknya, tidak menemukan siapa-siapa. Akhirnya kembali lagi ke ballroom menemui papanya.
"Gimana ini, Pa? Sudah hampir jam satu pagi, tapi Tania belum muncul juga. Kita pulang saja atau menginap di sini? Mungkin Tania sudah pulang dan melupakan kita," terka Abizar.
"Ayolah kita pulang saja, kasihan Mama sama Azhar di rumah pasti nungguin kita. Papa juga sudah mengantuk banget," sahut Juragan Burhan.
Juragan Burhan dan Abizar beranjak pergi meninggalkan Ballroom Hotel Merysta untuk langsung pulang ke rumah Ardi.
Flashback on
Niken, sejak keluar dari dalam toilet tadi, ia berjalan menuju basemen parkir hotel dengan maksud untuk mengambil baju yang sengaja ia bawa untuk Tania. Baju tersebut ia taruh dalam sebuah paper bag di samping kursi kemudi.
Setelah sampai di parkiran dan menemukan mobilnya, ia baru ingat kalau ia tidak membawa kuncinya, karena itu memang bukan mobilnya. Itu mobil Bram suaminya, sedangkan mobil milik Niken masih terparkir indah di halaman rumah mertuanya. Niken memukul keningnya sendiri.
"Kenapa aku bisa lupa sih, kalau aku tidak membawa mobil?" gerutu Niken merutuki dirinya sendiri.
Rasa mengantuk dan capek membuat ia lunglai untuk berjalan kembali ke Ballroom, ia duduk untuk beristirahat sejenak di sebuah kursi yang ada di lobi hotel.
Setelah dirasa cukup baginya untuk beristirahat, Niken bangkit dari duduknya dan meneruskan perjalanannya menuju ke Ballroom tempat berlangsungnya pesta.
Niken langsung menuju ke deretan meja paling depan, tempat ia tadi meninggalkan suaminya di sana, tetapi tidak seorangpun yang dikenalnya dijumpainya di sana. Ia hendak menelpon tetapi signal ponselnya jelek, jaringannya E melulu.
Niken berjalan menuju ke arah pintu keluar yang ada di belakang. Sampai di deretan kursi bagian tengah, ia melihat Burhan dan Abizar tengah duduk di sana. Niken mendekatinya.
"Pakde," panggil Niken mendekat.
Juragan Burhan dan Abizar menoleh ke arah sumber suara.
"Apa Pakde melihat Papa, Mama dan Mas Bram?" tanya Niken.
"Tadi sepertinya mereka sudah pulang," jawab Juragan Burhan.
"Kenapa tidak ditelpon saja, Niken?" cetus Abizar.
"Dari tadi aku telfon tapi enggak pernah nyambung, jawabannya di luar jangkauan terus dari tadi," ucap Niken kesal.
__ADS_1
"Coba aktifkan WiFinya, ini di dalam gedung besar dan tinggi yang kedap udara, mana mungkin ada jaringan data sampai ke dalam,"
Niken membuka ponselnya dan mengaktifkan WiFi sesuai anjuran Abizar. Benar saja apa yang dikatakan Abizar, setelah Niken mengaktifkan WiFi, pesan dan notifikasi banyak sekali yang masuk. Niken membuka pesan WhatsApp dari suaminya.
My Hubby
[Sayang, kalau kamu tidak menemukanku di Ballroom, langsung ke kamar nomor 236 saja ya!]
Membaca kata Sayang, seketika hati Niken berbunga-bunga. Ternyata es kutub itu bisa juga bersikap romantis, batin Niken.
"Terimakasih, Abizar. Pakde, Niken pamit ya mau menemui Mas Bram di kamar hotel, mendingan Pakde dan Bizar menginap di hotel ini saja, ini sudah larut malam," pamit dan saran Niken.
"Bizar setuju dengan saran Niken, Pa," sahut Abizar.
"Papa juga setuju, tapi kita tunggu Tania dulu sebentar," timpal Juragan Burhan.
Niken akhirnya meninggalkan Juragan Burhan dan Abizar di ballroom.
Flashback off
Saat ini Niken tengah berada di depan pintu kamar hotel seperti yang disebutkan oleh Bram dalam pesan WhatsApp nya, kamar nomor 236.
Niken mulai mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut berulangkali sambil memanggil nama suaminya.
Tok tok tok
"Mas Bram.. Mas!" panggil Niken.
Pintupun dibuka dari dalam, seorang perempuan yang tidak lain adalan Dewi, ibu mertua Niken muncul dari balik pintu, Niken terkejut melihat siapa yang muncul dari dalam kamar tersebut.
"Mama?" panggil Niken.
"Ada apa, Niken? Kamu belum tidur?" tanya Dewi mengucek-ngucek matanya karena ia baru terlelap.
"Maaf, Ma. Apa Mas Bram ada di dalam?" tanya Niken ragu karena tidak mungkin Bram akan menggunakan kamar yang sama dengan orang tuanya.
"Tidak ada, Bram dari tadi tidak kemari," jawab Dewi.
"Tapi ini benar-benar nomor kamar yang disebutkan Mas Bram dalam pesan WhatsApp nya," timpal Niken masih mencoba mencocokan nomor kamar hotel dengan pesan WhatsApp suaminya.
Niken pun akhirnya menyetujui saran mama mertuanya, Oh iya, Ma. Maaf sudah mengganggu istirahat Mama," ucapnya.
"Mama tutup pintunya ya, Niken," ucap Dewi.
"Iya, Ma. Sekali lagi Niken minta maaf," ucap Niken lagi.
"Enggak apa-apa kok, Sayang," Ucap Dewi kemudian ia menutup pintu. Dewi pun merebahkan kembali tubuhnya di samping suaminya.
Sementara Bram, membuka matanya karena suara dering ponselnya sejak tadi berbunyi mengusik tidurnya. Ia bangkit dari tidurnya mencari keberadaan ponselnya yang berbunyi tersebut.
Suara itu terdengar dari balik Jaz nya yang teronggok di sofa. Bram merogoh saku jaznya dan mengambil ponselnya. Terlihat panggilan dari My Wife di layar ponsel. Ia menggeser ikon warna hijau.
"Halo, Niken. Kamu di mana?" tanya Bram.
"Mas Bram yang dimana? Aku sudah berada di depan kamar nomor 236 sesuai pesan Mas Bram, tapi di sini ternyata kamar Mama dan Papa. Mas di mana?" tanya Niken di ujung telpon.
"Oh, tadi kepalaku pusing sekali, Niken. Mungkin aku salah ketik, sebentar kulihat nomor kamarnya," jawab Bram sambil berjalan ke arah pintu. "Kamar nomor 213, Sayang. Kamu ke sini cepat ya!" suruh Bram.
"Mas Bram, ih. Bikin capek Niken saja dech, Niken udah capek dan ngantuk banget ini," gerutu Niken lalu menutup panggilan teleponnya.
Bram baru menyadari kalau tubuhnya saat ini dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Ia semakin terkejut ketika melihat di ranjang yang ia tiduri tadi tergolek mahluk cantik juga dalam keadaan seperti dirinya.
Bram melempar ponsel yang ia pegang sembarangan, ia segera mengambil pakaiannya yang berserakan dan memakainya sebelum Niken tiba di ruangan tersebut, lalu menutupi tubuh Tania dengan selimut.
Bram terduduk di lantai, mengusap wajahnya dengan kasar dan menunduk. Bayangan ketika ia menggagahi adik tirinya berputar-putar di kepalanya bagai sebuah rol film.
Astaga, apa lagi ini ya Tuhan? Baru saja aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Niken, sekarang hancur luluh sebelum semuanya tercapai.
Kenapa harus dia? Kenapa bukan Niken. Aku tidak sanggup berhadapan dengan Mama ya Allah. Aku tidak sanggup berhadapan dengan mereka. Terlalu banyak orang-orang yang menyayangi gadis itu.
Bram menangis tersedu-sedu sambil merutuki dirinya sendiri. Ia tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya tidak bisa mengakses apapun selain hanya menangis dan menangis, seumur hidup baru kali ini ia menangis.
Sementara di depan kamar, Niken telah sampai tepat di depan pintu. Ia langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuknya. Dengan pelan Niken melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Antara kaget dan bingung, campuraduk, entah bagaimana menggambarkan perasaannya saat ini.
Niken mendapati seorang pria yang terduduk di depan ranjang menangis tersedu-sedu dengan kepala menunduk dan kedua lengannya memeluk kedua lututnya. Keadaan kamar yang berantakan dengan baju yang berserakan, dan di atas ranjang tergolek seorang gadis yang sedang tertidur.
"Mas Bram," panggil Niken pelan.
__ADS_1
Semakin bertambah keterkejutan Niken, manakala melihat siapa yang tertidur di atas ranjang, dan tubuhnya hanya tertutup selimut.
"Apa yang kalian lakukan, Mas?" suara Niken semakin keras.
Bram mendongakkan kepalanya melihat ke arah Niken.
"Niken, aku tidak sengaja melakukannya, Niken," Bram melakukan pembelaan sebelum Niken memberikan tuduhan.
"Jadi susah payah aku Mas suruh kemari hanya untuk ditunjukkan hal ini?" tanya Niken lagi dengan menahan sesak di dadanya, air matanya lolos tak dapat dibendung lagi.
Bram hanya menggelengkan kepalanya tidak mampu berucap apa-apa.
"Lalu apa, Mas? Kenapa harus Tania, dia adik tiri kamu, Mas." Seru Niken masih dengan suara yang keras, tapi tetap saja tidak bisa membangunkan Tania, Tania tetap Diam.
"Mana kunci mobil, Mas?" Pinta Niken menengadahkan tangan.
Bram merogoh saku celananya dan memberikan apa yang Niken minta. "Kamu mau apa Niken?" tanyanya.
Niken setengah berlari keluar dari kamar hotel sambil menangis.
"Niken jangan pergi!" Bram mengejar Niken.
Niken membuka pintu lift dan memencet tombol ke lantai dasar. Sebelum pintu lift tertutup Bram berhasil menyerobot masuk ke dalam lift. Niken masih tidak memperdulikan panggilan suaminya.
"Niken, kamu jangan menyetir dalam keadaan seperti ini! Berbahaya Niken," cegah Bram.
"Apaan sih, Mas? Aku mau ambil baju buat Tania, bajunya tidak bisa dipakai lagi karena kamu buka dengan paksa," sahut Niken.
"Oo, kirain," Bram hanya ber-o ria.
"Mas, kenapa tinggalin Tania sendirian. Kalau dia bangun terus bunuh diri bagaimana?" tanya Niken yang malah menakut-nakuti Bram.
Lift sampai di lantai dasar.
Ting
"Mas enggak usah ikut keluar, langsung balik ke kamar!" titah Niken.
Bram tidak menjawab apa-apa. Niken keluar dari lift lalu menekan alarm, setelah mengetahui dimana letak mobil Bram ia pun mendekati mobil tersebut, membuka pintu depan, mengambil paperbag lalu menutup pintu mobil kembali.
Niken masih saja terus terisak sambil melangkah kembali ke kamar hotel, ia mencoba menghubungi Rifki. lama tak panggilannya diangkat. Akhirnya dengan pandangan kabur Rifki melihat siapa yang menelpon.
Niken? kesambet apa dia malam-malam begini telpon. Batinnya.
"Rifki, kamu dimana?" tanya Niken masih terisak.
"Ini sudah mau pagi, Niken. Ya tidurlah," Jawab Rifki dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Astaghfirullah al'adzim, Rifki. Bisa-bisanya kamu enak-enakan tidur sementara Tania belum pulang," hardik Niken masih terisak.
Riski terbelalak kaget dibuatnya. "Apa? Tania belum pulang. Kenapa kamu menangis, Niken?"
"Cepat, kamu kembali ke hotel!" titah Niken dan langsung memutus panggilannya dan langsung mengirim lokasi terkini.
Sampai kembali ke kamar hotel, Tania masih belum sadarkan diri. Sementara Bram duduk di sofa. Niken dengan pelan mengganti pakaiannya sambil menepuk-nepuk pipinya dengan pelan pula.
"Tania, bangun Sayang!" ucap Niken pelan.
"Mas, ceritakan apa yang terjadi sebenarnya?" pinta Niken lagi setelah melihat Bram agak tenang.
Bram menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.
"Tadi aku mencarimu, saat aku sampai ke deretan meja bagian belakang aku melihat Tania sedang menonton pertunjukan band. Ditangannya memegang segelas jus buah, aku merebutnya dan langsung meminumnya hingga tandas. Beberapa menit kemudian aku merasa kepalaku sangat pusing. Kemudian aku kirim chat WA ke kamu. Aku merasa semakin bertambah menit kepalaku semakin bertambah pusing, tubuhku terasa panas, aku meminta Tania untuk mengantarku ke kamar hotel," ungkap Bram.
.
.
.
TBC
Terimakasih sudah membaca ceritaku
Like n komen jangan lupa ya!
Tararengkiuh πππ
__ADS_1