2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Moment langka


__ADS_3

Bram tengah khusyuk dalam do'a yang dipanjatkan oleh Pak Ustadz, kepalanya menunduk. Di samping ia berdo'a untuk dirinya sendiri, ia juga sertakan harapan kehidupannya di masa mendatang akan bahagia.


Setelah Pak Ustadz selesai membacakan do'a untuk pasangan yang baru saja menikah, Bram kembali meluruskan pandangannya. Ternyata Tania dan Niken sudah tidak ada di tempat duduk mereka semula. Bram mengedarkan pandangannya, namun tidak menemukan keberadaan mereka berdua di ruangan tersebut.


Sementara sebagian para tamu undangan tengah menikmati hidangan yang baru di sajikan, hilir mudik para pelayan membawakan makanan dan minuman, sebagian yang lain nampak tengah memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Niken muncul dari ruang tengah dengan tergopoh-gopoh menghampiri Bram.


"Mas Bram!" panggil Niken yang langsung menggandeng tangan Bram dan menyeretnya ke ruang tengah.


"Ada apa, Niken?" tanya Bram bingung namun tidak mendapat jawaban sepatah katapun dari wanita yang telah dinikahinya.


Hingga Bram sampai di ruang tengah, ia heran melihat mamanya sedang duduk berselonjor, sedang di pangkuannya digunakan sebagai bantal seorang gadis yang sedang meringkuk. Sementara seorang ibu nampak mengoleskan minyak kayu putih, sedangkan yang lain memijit kaki gadis tersebut.


Bram terkejut setelah mengetahui siapa yang tergolek di pangkuan mamanya.


"Tania? Tania kenapa, Ma?" Tanya Bram kepada Dewi.


"Tania tiba-tiba pingsan, Mas Bram," jawab Dewi.


"Kita bawa ke rumah sakit saja, Ma. Biar Bram yang gendong."


Bram segera menggendong Tania ala Bridal style, membawanya menerobos melewati ruang depan dan halaman yang padat dengan orang lalu lalang menuju ke tempat ia memarkirkan mobilnya. Dewi dan Niken membuntutinya.


Tetapi setelah sampai di tempat parkir, ternyata mobilnya berada di tengah-tengah terjepit dan tidak bisa keluar. Niken membukakan pintu mobil agar Bram bisa meletakkan Tania di dalam.


"Bagaimana ini, Ma?" tanya Bram pada Dewi.


"Mas Bram, pakai mobil Tania saja, biar Rayan yang nyetir," usul Dewi.


Dewi menelpon Rayan dengan segera namun tidak diangkat. Akhirnya setelah berulang kali melakukan panggilan diangkat juga.


"Maaf Tante, saya masih di jalan baru dari kantor, apa acaranya sudah selesai?" tanya Rayan lewat sambungan telepon.


"Tania pingsan, Rayan. Tolong cepat kamu kemari!" titah Dewi.


"Pingsan? Oh iya, Baik Tante. Saya segera ke situ," jawab Rayan. Dewi segera memutus panggilannya. Tidak berselang waktu lama, Rayan telah tiba di jalan dekat gang ke rumah Erika, karena tadi saat ditelpon oleh Dewi, Bram memang sudah dekat dengan lokasi tersebut.


"Tante, saya sudah berada di depan gang," ucap Rayan pada Dewi lewat sambungan telepon.


"Mas Bram, Rayan sudah di depan gang," ucap Dewi pada anak tirinya.


Bram langsung mengambil tubuh Tania dari pangkuan Niken, menggendongnya kembali, melangkah terseok-seok menyusuri jalan keluar dari gang. Sampai di depan gang, Rayan sudah menunggu di kursi kemudi mobil yang dikendarainya.


Bram masuk dan duduk di kursi penumpang dengan Tania masih dalam pangkuannya. Niken duduk di samping Bram ikut memangku tubuh Tania, sementara Dewi duduk di samping kursi kemudi. Rayan langsung tancap gas setelah memastikan pintu tertutup dengan rapat.


Sampai di rumah sakit Tania langsung di tangani oleh pihak rumah sakit di ruang UGD. Sementara dua orang yang mengantarnya duduk menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas, dua orang lagi berdiri dengan tegang.


Lima belas menit kemudian seorang perawat keluar dari ruangan. Dewi dan Niken menghampiri perawat tersebut.


"Suami Nona Tania?" tanya perawat.


"Suaminya sedang ada urusan ke luar negeri, Suster. Saya mamanya," terang Dewi.


"Oh, mari silahkan masuk, Nyonya," ajak perawat mempersilahkan Dewi dan Niken untuk masuk.


Dewi dan Niken duduk berhadapan dengan dokter yang baru saja menangani Tania, dia adalah dokter Anisa. "Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" tanya Dewi pada dokter tersebut.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bu. Ini gejala yang biasa terjadi pada ibu hamil, dia hanya kelelahan," jawab dokter Anisa.


"Hamil? Anak saya hamil, Dok?" tanya Dewi tidak percaya.


"Iya, Bu. Usia kandungannya sudah memasuki Minggu ke 5, usahakan agar dia jangan terlalu capek. Ini saya kasih resep vitamin tolong nanti ditebus," jawab dokter Anisa sambil membuat coretan di kertas.


Dokter Anisa menyerahkan coretan tersebut kepada Dewi. "Pasien sudah sadar, dia boleh langsung dibawa pulang," ucapnya.


"Apa dia masih boleh melakukan aktivitas kuliahnya, Dok?" tanya Dewi.


"Boleh, Bu, asal jangan terlalu capek yang bisa menyebabkan stres. Karena itu bisa berpengaruh pada janin yang dikandungnya," jawab dokter Anisa.


"Terimakasih, Dok. Kami permisi," pamit Dewi.


Dewi dan Niken bangkit dari duduk melangkah menghampiri Tania yang terbaring pada brangkar di ruangan tersebut, hanya terhalang korden. Dewi dan Niken menyibak korden, mereka bisa melihat Tania yang sudah duduk bersandar.


"Mama, Mbak Niken, kenapa Tania ada di sini? Bukannya tadi kita di rumah Mbak Erika?" tanya Tania pada Mama dan kakak iparnya.


"Kamu tadi pingsan, Tan. Hampir saja kamu mengacaukan pernikahan mereka," jawab Niken.


"Masa, sih?" tanya Tania cemberut, menolak dikatakan mengacaukan. "Kenapa Tania bisa pingsan?" tanya Tania lagi.

__ADS_1


Alih-alih menjawab pertanyaan anaknya, Dewi malah memeluk Tania dan menciumi puncak kepalanya membuat Tania bingung.


"Ada cucu Mama di sini," ucap Dewi seraya mengelus-elus perut Tania yang datar.


"Cucu?" tanya Tania belum tahu maksud ucapan sang Mama. Sepersekian detik kemudian wajahnya berubah sumringah. "Apa maksud Mama Tania hamil?" tanyanya girang.


"Iya, Sayang," sahut Dewi.


"Ma, resep obatnya biar Niken yang tebus," pamit Niken.


"Iya, Sayang," sahut Dewi.


Niken keluar dari ruangan membawa secarik kertas resep obat. Beberapa saat kemudian wajah Tania nampak berubah murung.


"Kenapa, Sayang?" tanya Dewi. Dewi mengerti apa yang sedang dipikirkan putrinya. "Tidak usah dipikirkan, suami kamu itu Edos, dia tetap anaknya Edos, Sayang," ucapnya mengelus punggung Tania. Tania masih terdiam.


"Ruangannya mau dipakai orang lain, Sayang. Kita pulang sekarang yuk!" bujuk Dewi. Tania mengangguk.


Dewi melepas pelukannya, Tania beringsut turun dari brangkar, menapakkan kakinya di lantai dengan hati-hati, dia tidak memakai alas kaki karena sepatunya tertinggal di rumah Erika, tidak ada yang kepikiran untuk mengambilkannya.


Tania dan mamanya keluar dari ruangan UGD, di luar ruangan mereka bertemu dengan Bram dan Rayan yang masih setia menunggu kabar tentang Tania. Bram mendekat ke arah Dewi dan Tania, sedang Rayan masih sibuk dengan ponselnya.


"Tania, bagaimana keadaanmu? Kok sudah keluar?" tanya Bram memegang tangan Tania.


Tania mengibaskan tangan Bram, berusaha mengusirnya agar menjauh. "Lepas!" walaupun hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya dan berjalan cepat meninggalkan sang Mama dan kakak tirinya.


"Tania hati-hatilah, tunggu mama, Sayang!" seru Dewi yang mengkhawatirkan Tania.


"Tania tunggu!" Bram berusaha mengejar Tania, dan bertekuk lutut sambil memeluk kakinya di hadapannya. Rayan sampai kaget melihat apa yang dilakukan oleh seorang CEO muda ARD'S Corp. baru tersebut, sungguh sebuah pemandangan yang langka. Kejadian tersebut sontak menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut.


Wah, sungguh pemandangan yang sangat langka, seorang CEO muda ARD'S Corp bertekuk lutut di hadapan seorang gadis bertelanjang kaki. Ini moment yang tidak boleh disia-siakan, gumam Rayan sembari mengambil bidikan dengan kamera ponselnya.


"Maafkan Kakak! Kakak akan bertanggung jawab," ucap dan janji Bram memohon.


"Lepas, Kak!" pinta Tania yang merasa malu sudah menjadi pusat perhatian.


"Kakak enggak akan nglepasin kalau kamu belum maafin kakak," ucap Bram mengajukan syarat.


"Lepasin, Kak! Tania malu," Tania memohon lagi.


"Kakak tetap enggak akan nglepasin kalau kamu belum maafin kakak," sahut Bram bersikukuh.


"Tetap saja kakak juga salah," timpal Bram.


"Tania malu kak, lepasin ih!" Tania memberontak berusaha melepaskan kakinya dari pelukan Bram, namun sudah payah ia mengeluarkan tenaga hanya sia-sia belaka, gerakannya tidak menggeser semilimeterpun jarak dengan Bram.


"Maafin Kakak dulu, baru kulepasin. Kakak mohon, Tania!" Bram masih kekeuh.


"Aku udah maafin kakak sebelum kakak memintanya, tapi aku tidak butuh pertanggungjawaban dari kakak," ucap Tania.


"Beneran?" tanya Bram masih belum percaya.


"Beneran, Kak. Udah lepasin ih, malu dilihat banyak orang," ucap Tania mencebik dan meronta.


Bram melepas pelukannya, "Terimakasih, Tania," ucapnya sambil menciumi kedua punggung tangan Tania. Lalu benar-benar melepasnya.


"Tapi Tania punya syarat," ucap Tania menggantung.


Bram mendongakkan wajahnya. "Apa?" tanyanya.


"Kakak jangan temui aku lagi! Kecuali kita memang tidak sengaja bertemu," tukas Tania.


Tania langsung pergi setelah mengucapkan syaratnya dengan langkah tergesa-gesa. Bram menatap punggung Tania, di wajahnya tersungging lengkungan garis senyum.


Aku akan berusaha untuk tidak sengaja supaya bisa bertemu denganmu, Tan, gumam Bram dalam hati.


"Tania, tunggu Mama, jangan lari-lari!" seru Dewi mengejar langkah Tania. Namun Tania tidak menggubrisnya.


Tania terus melangkah setengah berlari menuju ke area parkir rumah sakit, mencari keberadaan mobilnya terparkir. Setelah menemukannya, Tania mencoba membuka pintunya. Jelas saja tidak bisa terbuka, kan mobilnya dikunci sama Rayan.


Sementara Rayan malah berjalan santai masih sibuk dengan ponselnya.


"Ada apa, Rayan?" tanya seseorang di ujung telpon Rayan.


"Mau minta ijin untuk Tania, Mas. Hari ini dia tidak bisa masuk karena sakit. NIMnya : 0760xxxxx," jawab Rayan.


"Baru satu minggu jadi mahasiswa sudah tidak masuk, hari ini kan ada kuis," protes orang yang ditelepon Rayan yang ternyata Pak Rasya.

__ADS_1


"Namanya juga sakit datangnya kan nggak dijadwal, Mas. Sudahlah, Assalamu'alaikum," Rayan langsung menutup panggilan secara sepihak. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku Jaz yang melekat di tubuhnya.


Rayan bergegas melangkah, ia sudah tertinggal jauh dari Tania. Sampai di tempat ia memarkirkan mobil, Rayan mendapati Tania dengan wajah tersungut-sungut.


"Percuma saja aku jalan sambil lari-lari dengan telanjang kaki, kalau harus nunggu keong racun berjalan," gerutu Tania menahan amarah karena sudah menunggu Rayan kepanasan terkena sengatan matahari tanpa alas kaki.


"Siapa suruh lari-lari? Memangnya lagi ada lomba tujuh belasan? Kamu ini baru siuman, Tan. Enggak usah lari-lari," ucap Rayan membukakan pintu mobil untuk Tania.


Tania langsung masuk ke dalam mobil diikuti Dewi di belakangnya. Rayan juga masuk dan duduk di kursi kemudi. Dewi hanya senyum-senyum melihat perdebatan antara sopir dan majikannya tersebut.


"Ini sudah jam berapa, Mas? Aku sudah telat ada kuis dari Pak Rasya," ucap Tania sudah tidak sabar.


"Aku udah mintakan ijin untuk kamu tidak masuk hari ini," tukas Rayan lancang tanpa meminta ijin dulu pada yang bersangkutan.


Tiba-tiba ponsel Rayan berdering lagi, Rayan merogoh ponsel nya, melihat siapa yang menelpon.


"Prima telpon," ucap Rayan menunjukkan layar ponselnya pada Tania.


"Angkat!" perintah Tania.


"Iya, Prima?" sapa Rayan pada si penelepon.


"Tania kok belum sampai, Mas? Hari ini jam pertama ada kuis mata kuliahnya Pak Rasya, Mas," tanya Prima.


"Tania ijin hari ini tidak bisa masuk karena sakit, Prima. Tadi pagi dia sempat pingsan," tutur Rayan menjawab pertanyaan Prima.


"Oo, ya udah, suruh istirahat saja ya, Mas. Nanti aku bilangin sama Pak Dosen," ucap Prima.


"Iya, makasih. Semoga sukses ya, hasil kuis kamu, Prim," ucap Rayan.


"Sama-sama, Mas. Terimakasih juga do'anya," sahut Prima.


"Assalamu'alaikum, Prima Putri Aprillia,"


"Wa'alaikumussalam, Mas Rayan Bayu Bagaskara,"


Rayan tersenyum memandangi ponselnya. Namun Tania masih memasang muka masamnya.


"Ma, sepertinya ada yang udah move on dari putri bungsu Mama dech," lirih Tania pada sang Mama yang masih dapat didengar oleh Rayan.


Rayan menoleh ke belakang memandang Dewi. "Boleh kan, Tante?" tanyanya.


"Boleh, kami tidak memaksamu untuk menerima perjodohanmu dengan Aghni, kok. Cukuplah pengalaman kami menjodohkan Mas Bram dengan Niken yang entah seperti apa sekarang hubungan mereka," jawab Dewi.


"Sudah jalan, Mas Rayan! Tunggu apa lagi?" tanya Tania.


"Tunggu Pak Bram dan Niken lagi menebus obat, Tan. Sabar dikit donk," jawab Rayan.


"Kak Bram dan Mbak Niken? Mereka ikut mobil kita juga? Huh!" tanya Tania diakhiri dengan dengusan.


Dewi meraih pundak Tania. "Tania, tadi Mas Bram lho yang menggendong kamu keluar dari rumah Mas Rifki ke mobilmu di depan gang, karena mobilnya Mas Bram terjepit di antara mobil-mobil yang lain, tidak bisa keluar, Sayang," tutur Dewi menjelaskan seraya menepuk-nepuk lembut pundak Tania.


Niken dan Bram nampak menghampiri mobil. Bram duduk di samping Rayan, sementara Niken duduk di samping Dewi.


"Ini obatnya, Ma," ucap Niken sembari menyerahkan bungkusan obat kepada mama mertuanya.


"Terimakasih, Sayang," ucap Dewi menerima bungkusan tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. "Nanti mampir ke minimarket ya, Rayan. Mau beli susu," ucapnya pada Rayan.


"Baik, Tante," sahut Rayan.


"Susu buat siapa, Ma? Tania enggak doyan susu," tolak Tania.


"Masa sih? Sejak bayi kan kamu minumnya susu formula," tanya Dewi tidak percaya.


"Tapi sekarang Tania udah enggak doyan, eneg rasanya perut Tania kalau habis minum susu," tolak Tania.


"Tapi ini demi anak yang ada di kandungan kamu, Sayang," bujuk Dewi.


"Anak?" tanya Bram dan Rayan bersamaan.


************************


TBC


Cara vote dengan Noveltoon/Mangatoon terbaru:


__ADS_1



Terimakasih atas partisipasi kalian๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2