
Atar dirawat di rumah sakit selama satu minggu setelah itu anak kecil itu sudah diperbolehkan untuk pulang. Selama dirawat Fauzan menemani dan merawatnya di sana. Sesekali ia pamit pulang untuk mandi dan mengambil baju ganti. Karena ia merasa tidak cocok dengan air di rumah sakit. Katanya meskipun sudah mandi tetapi rasanya masih gerah. Bu Fatimah juga pada waktu-waktu tertentu menjenguk ke rumah sakit.
Esok harinya setelah kepulangan Atar dari rumah sakit Fauzan langsung bertolak menuju ke NTT dengan mengajak ibunya serta. Bu Fatimah merasakan udara di sana selama satu minggu. Lalu pulang kembali satu minggu kemudian.
Kini sudah lebih dari dua bulan usia Bita. Tania juga telah kembali menjalani aktivitasnya sebagai seorang mahasiswa.
Sebulan sekali Fauzan pulang ke Jakarta. Saat tengah berada di Jakarta kadang Fauzan menyempatkan diri mengunjungi rumah Ardi tanpa sepengetahuan Tania. Ia berkunjung saat Tania tengah kuliah. Ia bermain dengan Bita. Terkadang ia mengajak Atar bermain di Taman kota, kebun binatang atau ke time zone.
Seperti pagi ini, tidak jauh dari kediaman Ardiansyah tampak Fauzan sedang menunggu keberangkatan Tania, bukan untuk berangkat bersama, tetapi Fauzan ingin kembali menemui Bita dan Atar setelah Tania berangkat kuliah. Sementara di dalam rumah Tania tengah dengan santainya menyantap sarapan pagi ditemani sang mama. Ia hari ini santai karena dosen yang bertugas pagi sudah menginfokan via aplikasi WhatsApp kalau dia ijin.
"Tan, minggu depan kak Bizar nikah. Ini undangannya," ucap Dewi menunjukan sebuah undangan.
Tania menerima dan membuka undangan tersebut. "Pestanya di Bandung ya, Ma? Tania nggak bisa hadir, kasihan Bita kalau dibawa perjalanan jauh. Kalau ditinggal juga kasihan," tolak Tania.
"Tidak hadir juga tidak apa-apa, Mama bisa ngerti kamu punya bayi. Tapi kamu tidak apa-apa kan?" timpal Dewi lalu bertanya.
"Enggak apa-apa lah, Ma. Memangnya kenapa?" Tania bertanya balik.
"Enggak harus minta persetujuan dari Tania bukan? Kan Tania sama Kak Bizar udah resmi bercerita, ups," Tania menutup mulutnya karena keceplosan. Memang selama ini ia belum menceritakan status perceraiannya kepada sang Mama.
"Apa? Cerai?" beo Dewi.
"Maaf, Ma. Tania belum sempat kasih tahu mama, Tania dan Kak Bizar sudah resmi bercerai sejak di rumah sakit setelah Bita lahir," ungkap Tania.
"Astaghfirullah, kamu bisa tenang-tenang saja menyimpan semua ini? Sudah dua bulan ternyata," cicit Dewi.
"Tania pikir mama sudah dengar dari Kak Bizar atau Mama Nurlita," terka Tania.
"Mungkin mereka menjaga perasaan kamu sehingga tidak mengungkitnya sebelum kamu sendiri yang membukanya," terka Dewi.
"Mungkin, Ma. Ya udah Tania berangkat kuliah dulu, sudah siang. Titip Atar dan Bita ya," pamit Tania.
"Iya, Sayang. Yang rajin kuliahnya biar cepat lulus," nasehat Dewi.
"Ih, Mama kayak Tania anak kecil saja," sergah Tania membuat Dewi terkekeh.
Dewi mengantarkan putrinya hingga sampai di halaman. Tania pun berlalu meninggalkan kediaman Ardiansyah. Kali ini ia menyetir sendiri karena Nadia bilang akan berangkat bersama sang suami. Mobil yang dikendarai oleh Tania melaju di antara mobil-mobil lain yang padat merayap. Namun, sampai di sebuah lampu merah, dirinya baru teringat kalau laptopnya tertinggal.
"Aduh, laptopku ketinggalan lagi! Harus putar balik nih. Kalau tidak bawa laptop bisa repot nanti," cetus Tania.
Tania pun segera mencari celah jalan untuk putar arah menuju ke rumahnya kembali. Setelah beberapa menit ia kembali sampai juga di halaman rumah orang tuanya. Di halaman ada sesuatu yang berbeda. Tadi saat meninggalkan rumah belum ada motor, sekarang sudah ada motor sport di sana. Tania sengaja memasuki rumah tanpa salam. Membuka pintu pun ia dengan pelan mengantisipasi bunyi dari pintu tersebut.
Dari ruang tengah terdengar suara tawa Atar lepas. Tania belum pernah mendengar suara tawa Atar selepas itu. Ternyata ada seorang pemuda yang tengah bermain dengan dirinya.
"Eghm eghm," Tania berdeham.
Fauzan seketika menghentikan banyolannya terhadap Atar. Ia menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Tania tidak mengucap ataupun menyapa. Ia langsung melangkah ke lantai dua menaiki anak tangga. Pandangan Fauzan pun mengikuti kemana langkah Tania bergerak hingga hilang di balik pintu kamarnya. Tidak berselang lama ia kembali muncul dengan tas laptop jinjing di tangannya dan sebuah stofmap.
Sampai di depan Fauzan duduk, Tania melempar stofmap yang dipegangnya. "Kalau saja aku tidak buru-buru, aku pasti akan buat perhitungan sama kamu," ucapnya.
"Tan! Tunggu, Tan!" cegah Fauzan.
"Aku lagi buru-buru. Kalau mau ngomong nanti saja tunggu sampai aku pulang. Aku juga mau bicara sama kamu banyak," elak Tania.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut ia langsung pergi meninggalkan Fauzan dengan penuh tanya. Fauzan mengambil map tersebut lalu membukanya. Stofmap tersebut berisi sertifikat kepemilikan sebuah apartemen yang belum dibalik nama, kuitansi pembelian apartemen dan kartu akses.
"Kawasan Sudirman?" gumam Fauzan. "Atar, yuk kita jalan-jalan," ajaknya beralih kepada Atar.
"Nen, tolong siapin susu dan makanan Atar, juga keperluan lainnya. Saya mau ajak dia jalan-jalan," pintanya kemudian kepada Neni yang tengah menyuapi Bita dengan ASI menggunakan botol.
"Memangnya Mas Fauzan bisa ngurus bayi sendiri? Kalau dia mau mandi atau pup gimana?" tanya Neni tidak yakin jika pria yang duduk di atas karpet tidak jauh darinya ini bisa mengurus bayi yang baru berusia satu tahun.
"Bisalah, masa ngurus bayi kecil aja enggak bisa? Bayi besar saja bisa aku, Nen," sahut Fauzan menyombongkan diri.
"Yo wes lah, sana minta sama Mbak Siti saja, Mas. Neni lagi pegangin dotnya Bita ini, baru terlelap tidur kasihan kalau dibangunin," pinta Neni. "Sekalian minta kunci mobil sama carseat ya, Mas. Mas Fauzan enggak berniat ngajak jalan-jalan Atar naik motor kan?" tebaknya.
"Eh iya lupa kalau tadi aku ke sini naik motor. Untung kamu ngingetin. Makasih ya, Neni," ucap Fauzan menyadari kekeliruannya.
"Kembali kasih, Mas Fauzan," sahut Neni.
"Hemm?" Fauzan memicingkan mata.
"Terserah kamu lah, Nen," ucap Fauzan akhirnya. Pemuda itu lalu meninggalkan ruang tengah dengan menggendong Atar.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Fauzan langsung hengkang dari rumah Ardiansyah membawa mobil milik tuan rumah beserta cucunya. Atar ia dudukkan di carseat di sampingnya. Dari Kramat Jati Fauzan mengambil arah Kalibata. Hanya butuh waktu setengah jam kini Fauzan telah sampai di tempat yang dituju, Sebuah apartemen yang berada di kawasan industri Sudirman.
Fauzan memasuki gedung apartemen mewah tersebut sembari menggendong Atar dengan gendongan depan. Seorang satpam mencegatnya.
"Mau kemana, Mas?" tanya satpam tersebut.
Lalu Fauzan menunjukan map berisi sertifikat kepemilikan apartemen yang dibawanya kepada satpam tersebut.
"Oo ... Anda suaminya Mbak Tania to?" simpul pak satpam. Fauzan sempat memicingkan mata, tetapi akhirnya ia mengiyakan juga supaya tidak panjang urusan dengan satpam tersebut.
Fauzan meninggalkan pos securiti lalu berdiri di depan pintu lift. Setelah pintu lift terbuka ia menelan angka lantai yang ia tuju. Saat pintu lift terbuka, ia langsung bisa menemukan pintu apartemen yang dicarinya. Fauzan membuka pintu dengan kartu akses karena belum diset password.
Saat ia memasuki apartemen tersebut, Fauzan terpukau dengan apa yang ia lihat. "Masya Allah, ini sih penthouse. Mana cukup uang segitu buat beli penthouse semewah ini? Pasti ini uang Tania juga diikutkan." gumam Fauzan menerka-nerka.
Atar yang mengira bahwa Fauzan berbicara dengannya pun menjawab dengan bahasa bayi yang susah dimengerti oleh manusia dewasa.
"Tatatatata."
__ADS_1
"Atar suka jalan-jalan sama ayah ke sini 'kan?" Tanya Fauzan sambil melangkah mengelilingi apartemennya. Tentu saja Atar belum bisa menjawab pertanyaan Fauzan. Laki-laki kecil itu hanya bisa mengoceh tidak jelas.
"Anyanyanya nyanya," ucap Atar.
Semetara sang ibunda dari Atar sendiri telah sampai di kampus. Saat melangkah di koridor, seorang pria memanggilnya.
"Tania!"
Tania pun menoleh. "Eh, pak Amar. Bu Salma mana, Pak?" tanya Tania.
"Tidak berangkat dia, lagi ngidam. Payah dia ngidamnya, tidak mau makan nasi blas," sahut Amar.
"Wah, selamat ya, Pak, bentar lagi bakal jadi seorang ayah," ucap Tania ikut merasa senang.
"Terima kasih. Eh Tan, apartemennya jadi mau disewain enggak? Aku udah nemu calon konsumen loh," tanya Amar langsung ke Tania.
"Bapak tanya saja langsung ke yang punya," suruh Tania menjawab pertanyaan Amar.
"Apa? Maksud kamu? Kamu sudah tahu pengirim uang 5 M itu?" cecar Amar.
"Siapa lagi kalau bukan sahabat Pak Amar yang kutu buku itu?" tunjuk Tania dengan sebuah klu. "Dah ah, Pak. Aku mau masuk," pamitnya langsung pergi meninggalkan Amar yang tengah menghubungi Sahabatnya, Fauzan.
"Ada apa?" tanya Fauzan dalam sambungan telepon Amar.
"Kamu di mana? Ada pengusaha asing yang mau sewa apartemen. Tania bilang surat-suratnya udah sama kamu," tutur Amar menjawab pertanyaan Fauzan.
"Di apartemen nih bareng sama Atar. Kesini aja kalau enggak ada jadwal," sahut Fauzan.
"Kita ketemu di kafe dekat situ saja gimana? Sekalian ketemu sama yang mau nyewa," cetus Amar memberikan penawaran.
"Stop! Jangan ketemu orangnya dulu. Masalahnya ini bukan 100% punyaku. Harus ada persetujuan dari Tania juga," cegah Fauzan.
"Ya udah aku langsung ke situ saja, enggak menghubungi orang yang mau sewa dulu," sahut Amar.
"Dah ah, mau ajak Atar renang dulu nih. Assalamu'alaikum," pamit Fauzan langsung menutup teleponnya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Amar.
Tania yang tadi meninggalkan Amar menelepon ternyata penasaran juga dengan apa yang akan dibicarakan oleh Amar dan Fauzan. Ia menguping dari balik tembok di Tidak jauh dari tempat Amar berdiri.
"Memang uang untuk membayar apartemen itu bukan milik Mas Fauzan semuanya. Pak Amar kan juga tahu kalau uang yang ditransfer oleh Mas Fauzan cuma 5 M, ia udah melihat saat ku tunjukkan di rumah sakit waktu itu. Itu uang warisan dari kakeknya Atar dan tambahan untuk Bita. Sebagian lagi uang jajan dari papa Ardi. Tania sengaja membalik namakan apartemen tersebut atas nama Mas Fauzan untuk mengujinya, dia orangnya silau akan harta atau tidak? Apartemen itu juga sebagian milik anak yatim, sudah tahu kan hukuman orang yang memakan harta anak yatim seperti apa? Bagi Tania harta masih bisa dicari, tetapi kesungguhan Mas Fauzan untuk menjadi pendamping hidup Tania perlu diuji," gumam Tania dalam hati.
"Tania," panggilan seseorang seketika mengagetkan Tania. Siapa dia? Ikuti terus ceritanya ya.
Terima kasih telah menghiasi laporan mingguan ku 😘😘😘
__ADS_1