
Masih Flashback
Matahari mulai tergelincir ke arah barat, menandakan hari telah sore. Mereka bertiga berjalan kaki menyusuri trotoar komplek perumahan. Mereka telah sampai di depan rumah Tuan Ardi dalam waktu tiga puluh menit. Pak satpam membukakan pintu untuk mereka.
"Apa Tuan Ardi sudah pulang dari toko, Mas Joko?" tanya Tinah pada pak satpam.
"Belum, Tinah. Tapi tadi pagi Pak Ardi sudah titip pesan kalau kamu datang disuruh menunggu di dalam katanya," jawab satpam tersebut.
"Oo, kalau begitu kami permisi masuk ke dalam dulu ya, Mas Joko," pamit Tinah.
Bi Munah menyambut kedatangan mereka dengan senang hati, dia membukakan pintu serta mempersilahkan duduk untuk ketiganya. Lalu membuatkan minuman untuk ketiga orang tersebut.
"Silahkan diminum tehnya, sebentar lagi Pak Ardi pulang," kata Bi Munah.
Niken menyeruput teh yang dibuatkan oleh Bi Munah karena memang ia haus sudah berjalan kaki, lalu ia berlari menuju ke kamar Bram.
"Mas Bram," panggil Niken sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban dari dalam, Niken pun nyelonong masuk.
"Heh drum minyak, ngapain kamu? main nyelonong masuk aja," hardik Bram.
"Habis Mas Bram dipanggil nggak menyahut," jawab Niken.
"Ngapain kamu kemari?" tanya Bram mengalihkan perhatian pada buku.
"Aku nganter Mbak Dewi kemari, sekalian pengen ketemu Mas Bram," jawab Niken.
"Siapa Mbak Dewi?" tanya Bram menjadi antusias.
"Dia calon baby sitter kamu, hahaha. Dasar bayi!" jawab Niken mengejek.
Karena hari telah hampir petang, maka Tinah dan Niken berpamitan, Tinah memasrahkan Dewi kepada Bi Munah. Bi Munah menunjukkan kamar untuk Dewi beristirahat. Menjelang waktu maghrib Ardi baru tiba di rumah.
"Apa Tinah sudah membawa temannya ke mari, Bi," tanya Ardi pada Bi Munah.
"Sudah, Pak. Dia saya suruh istirahat di kamarnya." jawab Bi Munah.
"Oke, nanti saat makan malam suruh dia ke ruang makan," tukas Ardi.
"Baik, Pak," sahut Bi Munah.
Ardi langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sholat Maghrib dan tadarus Al-Qur'an setelah itu baru makan malam.
Saat Ardi sampai di ruang makan, Bi Munah dan Dewi sudah duduk di sana. Di rumah Ardi memang pembantu dan majikan makan bersama, Kecuali kalau ada acara keluarga besar sehingga kursinya tidak muat. Ardi pun duduk di kursi yang kosong.
"Siapa nama kamu?" tanya Ardi pada Dewi sebelum makan malam dimulai.
"Nama saya Dewi, Tuan. Merysta Dewi," jawab Dewi.
Nama yang cantik seperti orangnya, batin Ardi. Menatap tajam Dewi.
"Sudah menikah?" tanya Ardi lagi.
"Sudah, Tuan," jawab Dewi.
"Jangan panggil Tuan, panggil Pak saja," tukas Ardi. "Sudah punya anak?" tanyanya lagi.
"Sudah, Tuan. Eh, Pak. Baru berumur satu bulan," jawab Dewi.
"Astaga, baru satu bulan ditinggal kerja," sesal Ardi.
"Saya terpaksa, Pak. Mau saya bawa ke sini kasihan, apa besok-besok saya boleh bekerja sambil bawa anak saya di sini, Pak," jawab dan tanya Dewi.
"Boleh, Dewi. Saya malah senang rumah ini jadi rame. Bram anak saya juga pasti akan senang ada teman di rumah. Oh iya, apa Bi Munah sudah menjelaskan apa saja tugas-tugas kamu di rumah ini?" jawab dan tanya Ardi.
"Tadi sudah saya jelaskan, Pak," jawab Bi Munah.
"Apa Mas Bram tidak makan di meja makan, Pak?" tanya Niken.
"Coba kamu bujuk dia, barangkali dia mau kalau kamu yang bujuk, Dewi," usul Ardi.
Dewi pun mengiakan, ia mengambil piring, menuangi nasi dan lauk di atasnya, membawa piring tersebut di atas nampan dan menambah segelas air putih. Dewi beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ke lantai dua, ke kamar Bram yang sudah ditunjukkan oleh Bi Munah.
Tok tok tok,
"Mas Bram," panggil Dewi ragu-ragu.
Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, Dewi membuka pintu. Dewi mengedarkan pandangannya, berujung pada seorang anak laki-laki yang sedang duduk di kursi dan memandang ke luar jendela. Dewi mendekat. Disentuhnya punggung anak itu.
"Mas Bram sedang apa?" tanya Dewi mengikuti arah pandang anak laki-laki tersebut.
"Aku kangen Mama, Mama bilang kalau aku kangen bisa pandang bintang itu," tutur Bram.
Dewi berjongkok di depan Bram menghadapnya. "Makan dulu yuk, atau Mas Bram mau Mbak Dewi bawakan makanan ke sini?" tawar Dewi.
__ADS_1
Bram menoleh, "Aku cuma mau disuapi sama Mama," ucapnya.
Gimana caranya? Mamamu kan udan enggak ada di dunia ini. Tapi jangan menyerah Dewi, masa belum apa-apa sudah kalah sebelum berperang. Batin Dewi.
"Mbak Dewi suapi ya, Mas Bram bisa menganggap Mbak Dewi seperti mamanya Mas Bram kok," tawar Dewi.
Bram mengangguk, Dewi tersenyum senang. Dewi pun menyuapi anak majikannya tersebut. Dewi berkerja dengan tekun, setiap Subuh ia membangunkan majikannya untuk sholat, menyiapkan air untuk mandi dan menyiapkan pakaian.
Setelah berkerja selama enam bulan, Dewi meminta ijin untuk mudik ke kampung halaman. Ia berencana untuk melaksanakan aqiqah untuk putrinya Tania. Sekalian nanti Tania akan dibawa ke Jakarta.
"Berapa lama kamu di sana?" tanya Ardi pada Dewi.
"Mungkin sekitar satu Minggu, Pak," jawab Dewi.
"Ini gaji kamu, saya sudah tambah buat ongkos naik bus, kamu bisa minta tolong mas Joko buat antar kamu ke terminal," ucap Ardi.
"Terimakasih, Pak. Tapi Tinah sudah pesankan mobil travel untuk saya," tolak Dewi.
Pukul tujuh pagi mobil travel yang akan mengantar Dewi tiba di halaman rumah Ardi. Dewi pun menghilang bersama mobil yang ditumpanginya.
Setelah kepulangan Dewi, keadaan Ardi dan Bram kembali seperti semula. Bram kembali mengurung diri di kamar. Ardi juga kembali menjadi pribadi yang workaholic. Ternyata kehadiran Dewi membawa pengaruh besar dalam kehidupan Ardi dan Bram.
Malam hari sebelumnya, Ardi pulang dari toko hingga larut malam. Setelah membersihkan diri ia duduk termenung di dalam kamar. Ada ketakutan kalau Dewi tidak akan kembali ke rumahnya lagi.
Dia mirip kamu, Prita. Tapi dia masih milik orang lain, ucap Ardi.
Ardi teringat Bram, ia menjadi khawatir. Kemudian bangkit dari duduknya pergi ke kamar Bram. Ternyata Bram sudah tidur di ranjangnya.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara itu Dewi tadi pagi pulang dengan membawa sejuta harapan dapat bertemu dengan si buah hati dan dapat melaksanakan tasyakuran Aqiqah untuk Tania.
Mobil yang ditumpangi Dewi sampai di halaman rumah orangtua Syarif sekitar pukul 12 siang. Setelah menurunkan barang bawaannya, ia segera menyerobot masuk ke dalam rumah. Dicarinya keberadaan putrinya di setiap ruangan sambil terus memanggil-manggil namanya, namun tak ditemukannya. Tidak ada orang di dalam rumah tersebut.
Dewi menghempaskan tubuhnya di kursi, rasa lelah di tubuhnya kini mulai ia rasakan. Dewi hampir putus asa. Ia mulai berpikiran yang tidak-tidak tentang Tania.
"Di mana kamu, Nak?" Dewi menangis tersedu-sedu.
Mendengar ada suara orang datang, Rosi yang ada di belakang rumah tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah. Rosi langsung memeluk kakak iparnya yang menangis sesenggukan. Setelah tangis Dewi mulai mereda, Rosi mulai bercerita.
"Maafkan aku, Mbak," ucap Rosi.
"Di mana anakku, Rosi? Dimana Tania?" tanya Dewi tidak sabar.
"Tania dibawa kang Syarif, Mbak," jawab Rosi. " Sebentar, ada titipan buat Mbak Dewi."
"Ini dari Kantor Pengadilan Agama, Mbak," tutur Dewi.
Dewi membuka isi amplop tersebut, seketika tangisnya meledak kembali. Rosi menepuk-nepuk punggung Dewi.
"Mbak Dewi yang sabar ya. Kang Syarif mudah menikah lagi dengan gadis desa sebelah, Mbak. Dia titip pesan supaya Mbak tidak usah mencarinya atau Tania lagi," tutur Rosi.
"Tania itu anakku, Rosi. Bagaimana mungkin aku bisa tidak mencarinya. Apa kamu tahu alamat tempat tinggalnya?" tanya Dewi.
"Tidak tahu, Mbak. Kang Syarif merahasiakannya dariku," jawab Rosi.
Tania menghela nafas berat. "Ya udah, Mbak titip ini saja, tolong sampaikan ke Mas Burhan kalau dia kemari. Ini untuk membeli kambing buat Aqiqah Tania. Yang ini buat kamu," tutur Tania menyerahkan dua buah amplop kepada Rosi.
"Terimakasih, Mbak. Maafkan aku, Mbak. Tidak bisa menjaga Tania," ucap Rosi.
Dewi keluar untuk mengambil barang-barangnya yang tadi ditinggal begitu saja di depan rumah. Dan masuk kembali ke dalam rumah.
"Ini baju-baju dan mainan untuk Tania, Mbak mau langsung kembali ke Jakarta saja," tutur Dewi.
"Mbak, Mbak istirahat dulu ya. Balik Jakarta besok pagi saja, Mbak," bujuk Rosi.
"Tidak Rosi, di sini hati Mbak akan tambah sakit rasanya. Mbak pengen langsung kerja saja. Maafkan Mbak ya, sudah merepotkan kamu," jawab Dewi.
"Tidak, Mbak. Mbak tidak pernah merepotkan ku. Tinggallah sehari saja, Mbak. Jangan seperti ini," cegah Rosi dengan derai air mata.
Dewi tidak peduli dengan omongan Rosi. Ia memaksakan kakinya untuk melangkah meninggalkan rumah yang penuh kenangan tersebut dengan langkah cepat.
Maafkan bunda, Nak. Bunda tidak bisa menemukanmu.
Sementara Rosi hanya bisa menatap pilu kepergian mantan kakak iparnya tersebut.
Dewi berjalan kaki keluar dari kampung menuju ke jalan raya yang dilalui angkutan umum. Ia naik angkutan umum menuju ke terminal, angkutan umum berhenti di depan terminal tidak masuk ke dalam.
Dan ketika Dewi hendak masuk ke dalam terminal, seorang calo menghampirinya.
"Mbak mau ke Jakarta atau ke Semarang? Naik mobil travel saja, Mbak," bujuk calo tersebut.
Dewi masih berfikir, kalau dua naik bus pasti harus beberapa kali naik kendaraan lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk naik mobil travel saja.
"Iya, Mas. Sudah mau berangkat apa?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Oh iya, Mbak. Satu penumpang lagi berangkat," jawab calo tersebut.
Dewi mengikuti ke mana calo tersebut berjalan, dan membukakan pintu mobil untuknya. Dewi masuk ke dalam, sudah ada beberapa penumpang. Mobil pun segera melaju menuju ke tempat tujuan melewati jalur Pantura.
Mobil yang Dewi tumpangi berhenti di depan pintu gerbang rumah Ardi sekitar pukul enam sore. Dewi langsung masuk ke dalam kamarnya dan enggan untuk keluar lagi.
Dewi duduk bersandar pada sandaran dipan, kakinya ditekuk dengan kedua lengan memeluk kedua lututnya. Kelopak matanya bengkak, matanya sembab karena air matanya tak henti-hentinya mengalir.
Bunda salah telah meninggalkanmu, Nak. Kehilanganmu menyisakan lubang yang menganga di hati bunda. Bunda bahkan belum pernah melihat tawamu juga ocehanmu. Bunda berharap suatu saat bisa menemukanmu kembali, Nak. Kita tumpahkan kerinduan yang tertunda ini.
Kira-kira pukul sebelas malam, Ardi baru pulang dari tokonya.
"Mbak Dewi sudah kembali, Pak," tutur Mas Joko saat membukakan pintu gerbang untuk Ardi.
"Apa? Katanya seminggu, kok langsung balik?" tanya Ardi lagi.
"Saya tidak tahu, Pak. Tadi tiba jam enam sore. Mbak Dewi tidak ngomong apa-apa, sepertinya tadi dia menangis," tutur Mas Joko lagi.
"Terimakasih ya, Jok." ucap Ardi menjalankan mobilnya sampai di garasi.
"Sama-sama, Pak," jawab Mas Joko.
Ardi dibukakan pintu oleh Bi Munah.
"Joko bilang Dewi sudah kembali Bi, benar begitu?" tanya Ardi pada Bi Sumi.
"Lho, saya malah tidak tahu, Pak," jawab Bi Sumi. "Memangnya kapan dia masuk ke rumah?" tanya Bi Munah mengikuti Ardi di belakang.
"Tadi jam enam katanya," jawab Ardi berjalan ke arah kamarnya.
Setelah mandi Ardi duduk bersandar di ranjangnya. Dia termenung.
"Joko bilang Dewi menangis, ada apa dengan anak itu? Ah, aku bahkan selalu ingin tahu tentangnya."
Ardi turun ke lantai bawah menuju ke dapur, ia mengambil air putih lalu meneguknya. Dilihatnya lampu di kamar Dewi masih menyala. Ardi menghampirinya, entah dorongan darimana yang membuat Ardi ingin masuk kesana.
Tok tok tok
"Dewi," panggil Ardi. "Kamu belum tidur?" tanyanya.
Dewi tidak menjawab supaya Ardi menyangka kalau ia sudah tidur. Namun lain bagi Ardi.
Ceklek
Ardi membuka pintu kamar Dewi.
"Saya masuk ya, Wi," pamitnya.
Dewi tidak menyangka kalau majikannya itu akan nekat masuk, ia menyembunyikan amplop coklat yang ia pegang di bawah bantal.
Ardi melangkah mendekat dan duduk di tepi dipan menghadap ke Dewi.
"Ada apa? Kenapa kamu langsung pulang, tadi pagi bilangnya seminggu," tanya Ardi membuka percakapan.
"Tidak ada apa-apa, Pak," jawab Dewi masih sungkan untuk bercerita.
"Lalu di mana anakmu, kamu bilang mau dibawa ikut kemari?" tanya Ardi lagi yang sontak membuat Dewi terisak kembali.
"Saya belum ketemu dengan anak saya, Pak. Suami saya telah mengambil dan menyembunyikannya," tutur Dewi. "Bahkan saya dapat ini," ucapnya sambil menunjukkan amplop coklat yang tadi ia sembunyikan di bawah bantal.
Ada senyum yang mengembang di hati Ardi manakala membuka isi amplop tersebut.
"Sabar ya, Wi. Suatu saat kamu pasti akan berkumpul dengan anakmu kembali," ucap Ardi berusaha menghibur Dewi.
"Aamiin, terimakasih, Pak," sahut Dewi.
Tiba-tiba Ardi menggenggam tangan Dewi, Dewi terperangah kaget.
"Menikahlah denganku, Aku dan Bram membutuhkanmu, aku janji akan selalu membahagiakanmu," tutur Ardi yang telah mengganti kata saya menjadi aku, semakin buat Dewi terkejut.
Dewi hanya diam tidak percaya dengan apa yang dilakukan majikannya.
"Maaf, Wi. Mungkin ini terlalu cepat buat kamu. Tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa, kamu juga tidak harus menjawabnya sekarang," tutur Ardi.
Dewi masih diam menunduk.
"Lupakan saja, tidurlah sudah malam, jangan menangis lagi,"
Ardi mengoreksi ucapannya lalu melepaskan genggaman tangannya, berdiri dan melangkah keluar dari kamar Dewi.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih like komen vote and rate 5 nya semuanya πππ
happy reading