
Abizar memandangi layar ponselnya setelah sang penelpon memutuskan panggilan. Aghni masih dalam mode kepo tentang apa yang dibicarakan Abizar dengan si penelpon. Sisi dan Aris telah sampai dan menghampiri mereka.
"Kita harus pulang sekarang!" tutur Abizar.
"What?" pekik Aghni dan lainnya kompak tidak percaya.
"Kakak sendiri saja yang pulang, kita masih lanjut nonton, ya?" usul Sisi yang mendapat gelengan kepala dari Abizar.
"No no no! berangkat bareng pulang harus bareng," tolak Abizar.
"Kakak, enggak asik ah," cebik Aghni. "Kasihan Sisi kan dia pengen banget nonton, di kampung pasti tidak ada tempat nonton kayak di sini," rayu Aghni.
"Enak aja, di kotaku ada kali bioskop," seringai Sisi.
"Sisi, kamu itu ih! Enggak tahu orang lagi ngerayu kakak biar kita tetap nonton," ucap Aghni kesal.
"Ngerayu sih ngerayu, tapi jangan menghina kota kelahiranku dong, bagaimanapun juga kan mamamu berasal dari sana," timpal Sisi tidak terima.
"Sudah, sudah. Kok malah jadi pada ribut sih! Kakak sudah putuskan kita tetap pulang sekarang. Nonton film bisa di rumah!" tukas Abizar.
"Terus tiket yang udah kakak beli mubazir donk," sesal Aghni.
"Nggak ada yang mubazir, kakak beli via aplikasi kok, dan belum check out," sangkal Abizar tersenyum jahil.
"Huh! Pasti Kakak sengaja kan?" Aghni mendengus kesal. Aris hanya jadi penonton.
"Sebenarnya ada apa sih, Kak? Kenapa harus pulang sekarang?" tanya Sisi yang juga kesal.
"Nanti juga kamu akan tahu sendiri," sahut Abizar yang kemudian hengkang meninggalkan mereka tak peduli dengan perasaan ketiga adik sepupunya.
Dengan wajah kesal ketiga orang tersebut meninggalkan lantai tiga, mereka langsung kembali ke lantai satu, mengambil barang-barang belanjaan yang dititipkan di tempat penitipan barang, lalu keluar Mall dengan langkah malas. Mereka bertiga telah sampai di halaman. Sedangkan Abizar entah sudah sampai di mana.
Sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka berdiri. Terdengar bunyi klakson mobil "Tin tin." Seseorang membuka kaca mobil bagian depan dan melongokkan kepalanya ke hadapan mereka.
"Butuh tumpangan, Mbak?" tanya orang tersebut meledek yang mendapat cebikan dari Sisi dan Aghni.
Aris membukakan pintu untuk Aghni, Sisi dan dirinya. Mereka bertiga telah masuk ke dalam mobil. Aris menutup pintu kembali. Mobil kembali melaju meninggalkan Mall.
Selama dalam perjalanan tidak ada yang bersuara, yang terdengar hanya deru mobil dan suara-suara dari jalanan yang ramai. Aghni memandang ke luar jendela.
"Kok pada diam? Pulang jalan-jalan kok kayak habis takziyah," cetus Dewi menanggapi keponakan dan anaknya yang bersikap acuh tak acuh.
Tidak ada yang menyahut hingga mobil sampai di halaman rumah. Rayan keluar dari mobil membuka pintu bagasi, mengeluarkan semua barang belanjaan dari sana. Sementara Aghni keluar dari mobil langsung masuk ke dalam rumah.
"Aghni, Mas Rayannya kok enggak diajak masuk, Sayang?" seru Dewi pada putri bungsunya.
Aghni hanya menyahut sambil terus melangkah tanpa menoleh. "Pintunya masih kelihatan kok, Ma. Dia udah hafal jalan masuk ke dalam."
Dari dalam ruang tengah, muncul Rosiana dan Hisyam menyambut kepulangan mereka.
"Mbak Dewi!" seru Rosi pada mantan kakak iparnya.
Dewi mengalihkan pandangan pada arah suara orang yang memanggilnya. "Eh, Rosi. Jam berapa sampai?" tanyanya.
"Tadi kira-kira jam dua belasan, Mbak," jawab Rosi. Mereka berpelukan setelah sekian lama tak bersua.
Tania dan Sisi mencium punggung tangan Rosi dan Hisyam secara bergantian. "Bunda kok enggak bilang kalau Bunda dan Ayah mau menyusul Sisi kemari?" cebik Sisi.
"Bunda dan Ayah mau kasih kejutan buat Sisi," jawab Hisyam.
"Atau jangan-jangan tadi yang telepon sama kakak nyuruh kami pulang itu Ayah ya?" tebak Sisi. Hisyam hanya mengedikkan bahu, sementara Abizar tertawa puas.
"Ayah jahat banget sih, Udah menggagalkan acara nonton Sisi," ucap Sisi merajuk masuk ke dalam rumah.
"Ayah udah kangen sama Sisi, memangnya Sisi tidak kangen sama ayah? Sudah hampir satu bulan tidak ketemu, eh pas ketemu sama ayah kok tidak senang begitu," sahut Hisyam.
Sisi bisa memahami kerinduan sang Ayah, tapi ia tidak bisa memaafkan Abizar, bisa-bisanya dia memaksa untuk pulang, padahal tinggal masuk pintu gerbang doang. Wajahnya masih kesal karena tidak bisa menunaikan keinginannya yang sudah dibicarakan semalaman bersama Aghni.
Untuk menghibur kekecewaannya, Sisi mengambil barang-barang yang teronggok di lantai begitu saja, ditaruh oleh Rayan. Sisi mengambil barang-barang mewah yang dibelikan oleh Dewi di Mall. Seumur-umur baru kali ini belanja di Mall. Biasanya beli pakaian, sepatu serta aksesoris lainnya Sisi Nrimo di pasar tradisional.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alhamdulillah, pagi ini cuaca begitu cerah. Bayangan benda terlihat sempurna menghadap berlawanan arah terhadap benda sebenarnya. Burung-burung kembali berkicau hinggap dari dahan pohon yang satu ke dahan pohon yang lain. Kupu-kupu pun bisa menghisap nektar kembali.
Tania sedang bersiap-siap untuk berangkat kuliah perdananya. Abizar telah kembali ke Jepang, Aghni juga sudah kembali ke Bandung tadi pagi-pagi sekali membawa kendaraannya sendiri.
Dewi masuk ke dalam kamar Tania, hendak memanggilnya karena sudah ditunggu sang sopir.
__ADS_1
"Sudah ditunggu Rayan, Sayang," ucap Dewi pada Tania.
"Iya, Ma. Sebentar lagi," sahut Tania.
Tania menghadap ke arah sang Mama. "Mama hari ini mau ke mana?" tanyanya
"Mama di rumah saja menemani bibimu. Kalau dia mau jalan-jalan, mama temani dia jalan-jalan. Kenapa?" jawab dan tanya Dewi.
"Tidak apa-apa, cuma tanya aja," jawab Tania tersenyum.
Setelah memakai sepatu, Tania meraih tas punggungnya kemudian melangkah keluar meninggalkan kamar, berjalan beriringan dengan sang Mama menuruni anak tangga. Sampai di ruang tengah Mereka bertemu dengan Sisi dan Bibi Rosi.
"Paman mana, Bi. Dari tadi pagi belum pulang ya?" tanya Tania pada Rosiana.
"Iya, dari tadi pagi jalan-jalan ke luar komplek sama Aris dan Tuan Ardi, sampai sekarang belum kembali," jawab Rosiana.
"Oo, Tania berangkat kuliah dulu ya, Bi. Doakan Tania biar jadi orang sukses," pamit Tania mencium punggung tangan Bibi Rosi.
"Do'a terbaik Bibi selalu buat kamu, Tania. Mudah-mudahan tercapai apa yang kamu cita-citakan, Sayang," Jawab Rosiana sambil sebelah tangannya mengelus-elus pucuk kepala Tania yang terbungkus kain, tanpa terasa mengalir bulir bening dari sudut matanya memandangi anak yang sedari bayi bersamanya kini telah tumbuh dewasa.
Tania melepas tangannya, kini ia beralih pada orang yang telah melahirkannya. "Tania pamit, Ma," ucapnya mencium punggung tangan mamanya.
"Hati-hati ya, Sayang," pesan Dewi.
"Iya, Ma," sahut Tania.
Tania keluar rumah, Rayan membukakan pintu untuk Tania duduk di kursi penumpang.
"Terimakasih, Mas Rayan," ucap Tania yang hanya dijawab anggukan oleh sang sopir.
"Jadwal kuliah pertama kira-kira jam berapa ya, Mas?" tanya Tania pada Rayan saat mobil telah melaju.
"Jam 09.00, Nona. Ada Apa?" jawab Rayan.
"Jangan panggil saya nona, Mas. Namaku Tania. Dan jangan terlalu bersikap formal, terlalu kaku. Oh iya, Mas. Saya mau mengambil fotokopi ijazah di rumah Bu Retno," tutur Tania.
"Rumahnya di mana, Tania?" tanya Rayan
"Aku enggak hafal alamatnya, Mas. Mas Rayan terus aja, nanti kuarahkan mau belok kiri atau kanan," jawab Tania.
"Yang bisa cuma Mas Rifki, tapi pasti sudah berangkat kerja, Mas," jawab Tania.
"Maksud kamu Rifki asistennya Pak Bram?" tanya Rayan lagi. Tania sedikit shock mendengar sebuah nama yang disebutkan oleh Rayan, ia memegang erat pegangan yang ada di atas jendela mobil.
"I.., iya, Mas," jawab Tania.
Rayan melirik sekilas perubahan sikap anak majikannya dari kaca spion di depannya, ia menambah kecepatan laju kendaraanya menuju ke rumah orang yang dikatakan oleh Tania.
"Tania!" panggil Rayan.
Ternyata anak majikannya tersebut sedang melamun.
"Tania," panggil Rayan sekali lagi.
"Ah ia, Mas?" tanya Tania gelagapan.
"Apa di sini tempatnya?" tanya Rayan.
Tania memperhatikan lokasi sekitar. "Iya, Mas," sahutnya, ia keluar dari dalam mobil. "Mas Rayan tunggu di sini saja ya!" pinta Tania yang terus berjalan memasuki gang.
Rayan memandangi kepergian Tania sampai hilang di balik jalan. "Ada apa dengan gadis itu?" gumamnya.
Menit demi menit terus berlalu, namun anak majikannya belum muncul-muncul juga. Rayan masih menunggu, sesekali ia melongok ke arah tempat anak majikannya tersebut menghilang.
Apa aku susul saja? gumam Rayan lagi.
Ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk, Rayan langsung menekan dan menggeser ikon berwarna hijau.
"Assalamu'alaikum, Pak," sapa Rayan pada si penelepon.
"Wa'alaikumussalam, Rayan Bayu Bagaskara. Saya sudah berada di ruangan saya, jangan biarkan saya menunggu terlalu lama!" kata si penelepon.
"Maaf, Pak. Ini masih dalam perjalanan ke kampus, dua puluh menit lagi insya Allah sampai," jawab Rayan.
"Oke, saya tunggu. Jika kamu tidak datang dalam kurun waktu lima belas menit, maka akan saya tinggal, saya masih banyak urusan," ancam si penelpon.
"Ha..? Iya baik, Pak. Saya segera sampai."
__ADS_1
Si penelpon langsung mematikan panggilannya tanpa salam penutup terlebih dahulu.
"Aduh, Tania. Kenapa kamu lama sekali sih?" gerutu Rayan.
"Aku sudah di sini sejak mas teleponan tadi kok, Mas," tiba-tiba terdengar suara dari belakang. " Ayo jalan," perintahnya.
"Udah ketemu yang kamu cari?" tanya Rayan.
"Sudah," jawab Tania singkat.
Rayan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh supaya bisa segera sampai ke kampus. Sementara Tania kembali melamun.
Kenapa surat gadai itu tidak ada? Padahal semua surat-surat aku simpan di map transparan ini, pikir Tania memegangi sebuah map mika yang di ambil dari dalam lemari di rumah Bu Retno.
Mobil berhenti di area parkir kampus sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Rayan keluar dengan segera. Ia membukakan pintu untuk majikannya yang terlihat ragu-ragu.
"Tania, sudah sampai. Ayo turun!" pinta Rayan.
Tania keluar dari dalam mobil memandangi lingkungan sekitar.
"Kamu mau ke bagian administrasi sendiri atau tunggu aku di sini?" tanya Rayan memandangi Tania yang masih bingung. "Atau mau ikut aku bimbingan skripsi sebentar, nanti kamu aku antar?" tanya Rayan lagi.
"Ikut Mas Rayan saja, Tania masih bingung mau ke mana?" jawab Tania.
"Ayo! aku sudah ditunggu pak dosen dari tadi soalnya," ajak Rayan yang nampak tergesa-gesa.
Tania menyeimbangkan langkahnya dengan jejak Rayan yang panjang-panjang itu, nampak kewalahan menyusuri koridor yang panjang dan menaiki tangga. Sampai di depan ruangan dosen, ada beberapa kursi yang disediakan untuk menunggu.
"Kamu duduk saja di sini, tunggu sampai aku selesai," ucap Rayan. ia membuka pintu ruang dosen langsung masuk ke dalam ruangan dan tidak lupa menutup pintu kembali.
Tania duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Rayan. Menunggu Rayan keluar lagi dari dalam ruangan dosen tersebut. Menunggu adalah sebuah pekerjaan yang membosankan. Tania merogoh kantong tasnya, mengambil dan membuka ponselnya, karena tidak tahu harus melakukan apa.
Detik berganti detik, menit berganti menit, orang-orang sudah banyak yang lalu lalang keluar masuk ruangan dosen, tetapi tidak nampak wajah Rayan muncul dari balik pintu ruangan tersebut. Tania melirik jam pada ponselnya, jarum jam sudah berada di angka 10.
"Itu yang di dalam ruangan bimbingan atau tertidur sih sebenarnya," dengus Tania. "Apa tadi dia udah keluar tetapi aku tidak menyadarinya dan dia juga lupa kalau aku masih menunggunya di tempat ini, ah." Tania memijit-mijit keningnya yang terasa pusing.
Tania terus menerka-nerka berasumsi dengan pikirannya sendiri. Tania menjadi kebelet pipis. Ia mencari papan keberadaan toilet, ketemu. Tania menyusuri koridor menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh papan tersebut.
Sampai di toilet, keadaan sepi karena di lantai tersebut hanya untuk perkantoran, tidak ada ruangan kelas. Tania segera mengeluarkan isi dalam kantung kemihnya, dan segera membersihkan diri, takut kalau-kalu Rayan keluar dari ruangan dosen dan dirinya tidak ada di depan ruangan tersebut.
Tania keluar dari dalam toilet hendak kembali ke tempat yang tadi, namun baru sampai di lorong, ia melihat Rayan yang tersenyum bahagia ketika melihatnya dan berjalan ke arahnya.
"Aku berhasil, Tania!" serunya.
"Berhasil kenapa, Mas?" tanya Tania yang masih bingung dengan ucapan Rayan yang masih ambigu.
Bukannya menjawab pertanyaan Tania, Rayan malah mendekat ke arah Tania, memeluk dan mengangkat Tania dan memutar-mutar tubuhnya sendiri seperti laron yang kehilangan sehelai sayapnya.
"Mas Rayan, tolong turunkan aku!" berkali-kali Tania berteriak-teriak minta diturunkan.
Rayan baru menghentikan aksinya setelah dia ingat, bahwa gadis yang diangkat dan diputar-putar tersebut bukanlah Aghni tetapi Tania.
Tania terduduk, kepalanya menunduk pening. Ia menutup mulutnya karena merasakan sesuatu hendak keluar dari sana. Secepat mungkin ia bangkit dan berlari kembali ke toilet, menumpahkan isi perutnya di sana.
Rayan mengejar Tania, ia merasa menyesal dan bersalah telah bersikap berlebihan mengungkapkan perasaan senangnya. Ia mengetuk-ngetuk pintu toilet tempat Tania berada di dalam.
"Tania, kamu tidak apa-apa di dalam? Maafkan aku!" seru Rayan dari luar toilet. Bagaimana kamu berfikir kalau Tania tidak apa-apa sih, Rayan.
Seorang wanita yang kebetulan keluar dari toilet yang lain memandangnya heran.
"Mas tidak bisa baca ya?" tanya wanita tersebut menunjukkan papan bertuliskan "TOILET WANITA" dan bergambar logo wanita.
Rayan keluar dari area toilet tersebut agar tidak mengundang kecurigaan pengguna yang lain, ia memutuskan untuk menunggu di luar saja.
.
.
.
TBC
Masih mau tau cerita selanjutnya kan gaess?
Tolong diFav ya!
TERIMAKASIH UNTUK LIKE KOMEN VOTE N RATE 5 KAMU YA GAESS πππ
__ADS_1