
Senja hampir menjelang, anak ayam berbondong-bondong mengikuti induknya, masuk ke dalam kandang, kerbau-kerbau telah dimandikan oleh pemiliknya. Gadis-gadis desa juga telah kembali dari sungai bercanda ria.
Edos masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Dia mencari keberadaan istrinya, namun tidak ada Tania di ruangan tersebut. Di kamar mandi juga kosong, Edos berjalan menuju ke balkon, tidak ada juga.Ia memutuskan untuk mandi kemudian melakukan sholat Ashar sebelum mencari kembali keberadaan Tania.
Edos akhirnya keluar dari kamarnya dan melangkah menuruni anak tangga. Saat sampai di lantai bawah ia berpapasan dengan Likha yang baru saja mengambil gelas dari ruang tamu.
"Mbak Likha, lihat Tania istri saya?" tanya Edos.
"Mbak Tania di kamar paling ujung sana, Mas," jawab Likha.
"Pantesan aku cari di atas enggak ada. Makasih, Mbak," ucap Edos.
"Sama-sama, Mas. Mbak Likha ke dapur dulu ya," pamit Likha.
Edos bergegas menuju ke kamar yang telah ditunjukkan oleh Likha. Ia menggeser pintu untuk membukanya. Dilihatnya Tania tengah melaksanakan sholat. Edos duduk di lantai yang beralaskan permadani, di sana ada meja yang pendek, dan di atas meja tersebut Likha meletakkan 2 cangkir teh dan cemilan.
Tania telah selesai melaksanakan sholatnya. ia melepaskan mukena dan melipatnya. Bangkit berjalan menghampiri suaminya, duduk berhadapan. "Sudah mandi, Yank?" tanyanya.
"Sudah, tadi di kamar mandi atas," jawab Edos. "Kamu enggak istirahat?" tanyanya kemudian.
"Maksud kamu tidur? Enggak, bentar lagi kan Maghrib. Lagian tadi di mobil sudah tidur lama kok," jawab Tania.
"Mau dipijit?" tanya Edos, Tania mengernyit. Pertanyaan Edos menimbulkan kecurigaan di benak Tania.
"Enggak," jawabnya singkat. Tania menyesap tehnya. Lalu meletakkan kembali cangkir yang dipegangnya di meja.
"Kita ke teras samping, yuk! duduk-duduk di sana," ajak Edos.
Tania mengangguk, Edos bangkit mengambil sehelai kerudung dan menutupi kepala Tania dengan kerudung tersebut, lalu membimbing Tania untuk bangkit juga. Mereka melangkah ke luar dari kamar, di depan kamar tersebut ada pintu keluar menuju ke teras samping rumah. Edos membuka pintu tersebut. Sampailah mereka di teras. Tania berdiri menghadap ke luar, menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan.
"Bentar, Yank. Aku ambilkan teh kamu," ucap Edos. ia melangkah masuk dan menghilang di balik pintu. sesaat kemudian ia muncul dengan dua cangkir teh di tangannya. Edos menyerahkan cangkir di tangan kanannya pada Tania.
"Makasih, Suami," ucap Tania tersenyum menerima cangkir teh tersebut.
"Kembali kasih, Istri," sahut Edos dengan tersenyum melihat Tania yang tambah menggemaskan untuk dilihat.
Tania duduk di sebuah kursi, menyesap teh sejenak, lalu meletakkan cangkir teh tersebut di atas meja kecil.
"Aku pengen lihat rumah Ayah," ungkap Tania. "Paman bilang sudah direnovasi, aku pengen lihat seperti apa sekarang," imbuhnya menatap Edos.
Edos membalas tatapan penuh harap dari istrinya lalu berkata," Besok pagi saja kita ke sana, sekalian aku mau melihat perkebunan," sahutnya.
"Oke kalau begitu," pungkas Tania. "Em, Yank. Apa kamu pernah ke rumah Kakek?" tanya Tania.
"Pernah," jawab Edos singkat, namun pandangannya ia buang ke tempat lain.
"Kapan, kok kamu enggak pernah cerita kalau kakek masih hidup?"
"Kamu enggak pernah nanya. Besok-besok aku antar kamu ke sana," pungkas Edos.
Tiba-tiba Likha muncul dari balik pintu. "Mas Edos, Mbak Tania, ada tamu," ucapnya.
"Sore-sore begini tamu siapa, Mbak?" tanya Edos.
"Kata mereka teman-temannya Mas Edos," jawab Likha.
"Oo, Yo wis tolong buatkan minum ya, Mbak Likha!" suruh Edos.
"Baik, Mas," jawab Likha.
Edos bangkit dari duduknya, membantu Tania berdiri dan merangkul pinggang Tania. ia mengajak istrinya menemui teman-teman mereka. ternyata mereka sudah ada di ruang tengah. Ada tiga cewek dan tiga cowok.
"Heh, kalian ini, apa enggak dicari sama orangtua kalian, ini jam berapa main di rumah orang?" hardik Edos pada teman-temannya.
"Risti, Hilda, Feby!" panggil Tania, seketika ia reflek melepas lengan Edos yang masih merangkulnya dan menghambur bergabung dengan teman-temannya. Edos hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Aduh! Enggak usah lari, Yank!" pekik Edos melihat Tania setengah berlari.
Tania memeluk satu-persatu teman-temannya, sedangkan Edos menghempaskan pantatnya diantara Doni, Riski dan Reno. "Ngapain kalian ke sini? ganggu orang lagi istirahat saja. Ini sandikala lho, enggak baik buat bertamu," sergah Edos dengan wajah datar.
"Aku cuma ngantar mereka, kok?" jawab Reno dengan bibir mengerucut ke teman-teman ceweknya.
"Kangen lah, Edos. Masa enggak boleh," cebik Risti protes.
"Memangnya kamu enggak capek apa, Don?" Edos bertanya pada Doni.
"Capek sih, tapi mereka maksa," tuduh Doni dengan mata melirik ke arah tiga teman ceweknya.
"Siapa yang maksa? Kita tadi mau ke sini sendiri, kok. Tapi kalian inisiatif sendiri mau nganterin," sanggah Febi.
"Sudah-sudah! Kok malah pada nyalahin sih. Sudah magrib mendingan kita sholat dulu, yuk!" ajak Tania.
Tania masuk ke dalam kamarnya, mengambil beberapa mukena. Lalu keluar lagi menemui mereka. "Kalian mau sholat di masjid atau di rumah?" tanya Tania.
"Di masjid saja, yuk!" usul Hilda.
Tania mengajak teman-temannya mencari masjid atau musholla terdekat, mereka keluar dari rumah.
"Tunggu, Yank! barengan," cegah Edos. "Memangnya kalian tahu masjidnya di mana?" imbuhnya bertanya sambil memakai kopiah.
Tania menggeleng, mereka berenam berangkat ke masjid bersama. Bayangan mereka menghilang di balik gang.
-----------
Sekembali mereka dari masjid, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Sudah terhidang teh dan makanan ringan di meja ruang tengah. Likha menghampiri mereka.
"Makan malam sudah siap, Mas, Mbak. Silakan ke ruang makan," ucap Likha.
"Terimakasih, Mbak Likha," ucap Tania.
"Sama-sama, Mbak Tania," sahut Likha kemudian kembali ke belakang.
"Mau kemana, Yank?" tanya Edos yang tengah berbaring di karpet bulu memeluk guling.
"Mau ambil teh yang tadi sore," jawab Tania.
"Ambilkan punyaku sekalian ya," pinta Edos.
"Iya," sahut Tania berlalu pergi. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa dua buah cangkir di tangannya. Tania menyerahkan satu cangkir yang dipegangnya kepada Edos. "Ini, Yank. Udah dingin," ucapnya.
Edos bangkit menerima cangkir pemberian Tania, "Terima kasih, istriku," sahutnya.
Tania kembali duduk di sofa, menyesap tehnya, lalu meletakkan cangkir tersebut di meja. "Risti, Febi, Hilda, ayo kita makan!" ajaknya menepuk paha ketiga temannya.
Hilda bangkit, menarik tangan Tania untuk membantunya bangkit. Mereka mengayun langkahnya menuju ke ruang makan diikuti teman-teman yang lain. Sampai di dapur, mereka sudah ditunggu oleh Juragan Burhan dan istrinya, Nurlita. Mereka duduk di kursi yang melingkari meja bundar, hanya ada enam kursi di sana.
"Likha, tolong ambilkan kursi empat lagi ya!" seru Nurlita pada Likha yang masih ada di dapur.
"Inggih, Bu," jawab Likha.
Likha muncul dari arah dapur membawa empat kursi plastik, meletakkan kursi tersebut di dekat meja makan.
"Ayo, Doni. Ajak teman-teman kamu duduk. Likha sudah makan sebanyak ini kasihan kalau enggak di makan," ujar Nurlita lagi.
Mereka semua telah duduk melingkari meja makan. Tania duduk di samping Edos, ia mengambilkan piring dan menuangkan nasi di atasnya.
"Yank, mau pakai lauk apa?" tanya Tania pada Edos.
"Sayur sama telur dadar aja, kasih sambal sedikit," jawab Edos.
Setelah mengambilkan nasi plus lauk untuk suaminya, Tania mengambil untuk dirinya sendiri, lalu ia dengan lahap memakannya. Memang akhir-akhir ini ia sangat lahap menikmati makanan dan banyak, mungkin karena ia sedang berbadan dua, dan gejala morning sicknes nya sudah menghilang.
__ADS_1
Tania sudah menghabiskan nasi sepiring penuh. Namun tiba-tiba di dalam benaknya terbayang gambar kue serabi Kalibeluk yang manis dan lezat. Tania menepis bayangan tersebut. Sekarang masih kenyang, besok pagi saja sekalian jalan-jalan pagi, pikirnya dalam hati.
"Apa kalian sudah minta ijin sama orang tua kalian, kalau mau menginap di sini?" tanya Juragan Burhan pada teman-teman Edos dan Tania.
"Risti belum Pakde, tapi tadi sudah minta ijin sama ibu kost," jawab Risti cengengesan yang langsung mendapat toyoran oleh Febi.
"Itu sama saja udah minta ijin, Dodol," sergah Febi. Risti mengusap keningnya.
"Febi sama Hilda juga sudah minta ijin lewat telfon kok Pakde. Tadi enggak pamit mau nginap soalnya enggak tahu kalau mau hujan gede kayak gini," tutur Febi.
"Kalian tidur di kamar Tania saja, nanti biar ditambah kasur satu lagi. Biar yang Doni dan teman-temannya tidur di ruang tengah," pungkas Nurlita. Seketika raut wajah Edos berubah muram.
Yaah, enggak bisa terapi dong malam ini, sesal Edos dalam hati. Edos pun tersedak akibat memikirkan gagal terapi.
Uhuk uhuk..
Tania mengambilkan air putih dan mendekatkan pada bibir suaminya, Edos meneguknya hingga habis. "Kok aneh sih, Yank. Tadi pas makan enggak tersedak, sekarang makan sudah selesai kok malah tersedak?" gumam Tania sambil mengelus-elus punggung Edos. "Pasti mikirin sesuatu?" tebaknya.
"Cuma mikirin orang yang ada di samping ku," jawab Edos jujur setelah batuknya reda.
----------
Malam semakin larut, namun sepertinya hujan tiada keinginan untuk berhenti, hama dingin pun kian pekat terasa di sekujur tubuh.
Tania dan kawan-kawan berada dalam satu kamar, kamarnya sejak tadi siang sudah ditambahkan sebuah kasur busa inoac berukuran king size.
Tania berada satu kasur dengan Risti, sementara dua temannya yang lain berada di kasur satunya lagi. Ia masih terjaga belum bisa memejamkan matanya, sementara ketiga temannya sudah terbuai dalam mimpi mereka.
Bayangan kue serabi Kalibeluk yang menggugah selera semakin kuat, ia tidak bisa menghapus bayangan itu, keinginan untuk menikmatinya sudah tidak dapat terbendung lagi. Ia bangkit melangkah ke luar dari kamar, terus menuju ke ruang tengah. Suami dan teman-teman cowoknya sudah terlelap dengan televisi masih menyala.
Tania menyalakan senter ponselnya untuk mencari wajah suaminya, karena ruangan tersebut telah gelap. Diteranginya satu persatu wajah orang-orang yang tertidur di ruang tengah tersebut, posisi Tania berada di dekat kaki mereka.
Setelah menemukan wajah suaminya, Tania berjongkok, menggerak-gerakan kaki Edos dengan tangannya. "Yank, Yank!" panggilnya lirih. Edos hanya menggeliat, memiringkan badannya ke kiri.
"Yank, Yank!" panggilnya lagi.
Edos membuka sedikit matanya. "Ada apa?" tanyanya dengan suara serak, karena sudah sangat mengantuk.
"Pengen serabi Kalibeluk," ucap Tania manja.
"Besok pagi saja, sekarang sudah larut malam, hujan deras lagi. Tidur saja, sebentar lagi pagi," bujuk Edos.
"Pengennya sekarang," rengek Tania.
Edospun bangkit dan duduk berselonjor kaki, mencoba mengumpulkan nyawanya, matanya masih pedih untuk terbuka. Sejenak ia bangkit berdiri. "Ayo kita ke dapur, barangkali Mbak Likha menyimpan di kulkas, tinggal kita kukus sebentar," ajaknya.
"Enggak mau," tolak Tania manja.
Langkah Edos terhenti, ia menengok ke arah istrinya. "Terus maunya bagaimana?" tanyanya.
"Pengennya yang masih hangat baru keluar dari tungku," jawab Tania penuh harap.
Edos menyugar rambutnya kasar, "Ini sudah larut malam, Yank. Pengrajinnya pasti juga sudah pada tidur."
Tania cemberut kecewa, "Ya udah, kalau kamu mau anak kamu nanti ngences," tukas Tania melangkah dengan menghentak-hentakkan kakinya yang beralaskan sandal jepit.
Astaghfirullah al'adzim
.
.
.
TBC
__ADS_1
Masih setia kan dengan Tania dan Edos
Terimakasih 😍😍😍