2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Keputusan yang berat


__ADS_3

"Ngapain kamu ke sini lagi!" suara itu tiba-tiba mengagetkan Tania.


Tania menoleh ke arah sumber suara, ia bangkit mendekati perempuan tersebut, "Mbak Mutia, apa kabar?" tanya meraih punggung tangan gadis itu. Tania tidak memperdulikan sikap Mutia, yang kasar terhadapnya.


Mutia menepis tangan Tania, "Dasar kacang lupa kulitnya!" hardiknya.


Tania mengernyit heran, tidak paham apa yang dimaksud oleh Mutia. "Maaf, Mbak. Maksud Mbak apa ya?" tanyanya.


"Sudah jadi orang kaya, lupa sama keluarga yang sudah merawat kamu sejak bayi," hardik Mutia lagi.


"Mutia, adik kamu sedang hamil. Jaga ucapan kamu, Nduk. Jangan ngomong kasar!" Mak Surini yang sedang duduk di depan tungku memperingatkan.


"Maafkan aku, Mbak. Aku tidak pernah melupakan jasa kalian, terutama almarhumah Ibu," elak Tania.


"Suami kamu kan anak orang kaya, kamu bisa kan minta uangnya sedikit buat biaya sekolah Farhan. Dia kan adik kamu juga."


Dia tahunya aku punya suami anak orang kaya, tidak pernah berpikir apa yang selama ini aku alami, batin Tania.


"Kalau soal biaya sekolah Farhan, Mbak Mutia tenang saja, nanti akan aku transfer ke nomor rekening nya. Maaf Mbak, kedatanganku sekarang tidak sengaja karena aku tidak tahu kalau Mbak Likha akan mengajakku ke sini, aku tidak membawa uang banyak," ungkap Tania.


Tania menghampiri suaminya yang berdiri mematung memperhatikan mereka, Tania dan Mutia. "Yank, bawa uang cash berapa? Aku enggak bawa uang," tanya Tania.


Edos merogoh dompetnya, menguras semua isinya dan meyerahkan pada Tania. Tania menerimanya dan langsung memberikan pada Mutia.


"Cuma segini, Mbak. Mungkin cukup untuk uang jajan buat Farhan. Memang Farhan sekolah di mana, Mbak?" tanya Tania.


"Dia sekolah sambil mondok di kecamatan Bandar," jawab Mutia. "Terimakasih, Tan. Maafkan Mbak Mut, pabrik tempat Mbak Mut berkerja jarang beroperasi, jadi Mbak Mut menganggur di rumah, Mbak Mut tidak ada pekerjaan selain membantu Simbah berjualan serabi," ucap Mutia sungkan.


"Tidak apa-apa, Mbak. Tania bisa mengerti kok," sahut Tania. "Oh iya, Mbak. Kalau Mbak Mutia mau, Mbak bisa kerja di Ardimart dekat sini. Nanti aku akan bilang pada kepala tokonya," imbuhnya.


Tanpa berfikir lama, Mutia menerima tawaran Tania untuk berkerja di Ardimart.


*************


Sementara itu, pemilik ARD's Corp yang baru saat ini sedang ditemani oleh asisten pribadinya, Rifki di sebuah bar di ibukota. Rifki tampak kesusahan merangkul bosnya keluar dari bar, membantunya masuk ke dalam mobil. Bram selalu bicara tidak jelas saat mabuk, namun Rifki tidak pernah menggubrisnya. Mobil melesat di jalanan ibukota.


"Hei Rifki! kamu yang jadi saksi sumpahku ya, suatu saat nanti Tania akan menjadi milikku," cerocos Bram.


Rifki tidak menggubris ucapan bosnya, ia fokus mengemudi mobil di antara kantuk yang mulai mendera. Terserah kamu lah, Bram. Gara-gara kamu aku tidak bisa menikmati tidur bersama istriku juga kurang tidur, belum lagi kalau Erika sampai marah, bisa-bisa aku dideportasi ke rumah ibu, Gerutunya dalam hati.


Sampai di apartemen milik Bram, Rifki semakin sudah untuk membawa Bram hingga sampai ke kamarnya. Rifki menekan password untuk membuka pintu apartemen, membawa Bram hingga berbaring di kamarnya.


Rifki langsung kembali menutup pintu kembali dan bergegas pulang ke rumah orangtua Erika. Sampai di rumah Erika, ia mengetuk jendela kamar Erika dan memanggil nama istrinya tersebut.


Erika keluar kamar untuk membukakan pintu rumah untuk suaminya. Rifki segera masuk dan menutup pintu kembali, membuntuti langkah istrinya yang wajahnya masih ditekuk. Rifki menghempaskan tubuhnya di ranjang karena kantuk sudah mendera.


Melihat suaminya langsung tidur, Erika yang yang masih duduk di tepi ranjang hatinya semakin dongkol.


"Siang enggak ketemu, jam segini baru pulang, langsung tidur gitu saja. Terus aku ini kamu anggap apa, Mas?" gerutu Erika.


Rifki yang baru saja merambah ke alam mimpi seketika kaget mendengar ucapan istrinya. Dengan mata masih terpejam ia membalas ucapan istrinya tersebut. "Aku udah ngantuk banget, Ay," sahutnya dengan suara serak.


"Besok lagi kalau mau pulang sampai jam segini, enggak usah ke sini. Pulang saja ke rumah ibumu," ancam Erika kesal.


Rifki membuka matanya, "Ay, kamu enggak mau kan kalau suamimu ini dipecat?" ucap Rifki memelas.


"Mas, kerja itu ada waktunya. Memangnya Mas Rifki dibayar berapa untuk menemani Pak Bram minum?" Mata Erika memerah menahan amarah.


"Lalu aku harus bagaimana, Ay?" tanya Rifki frustrasi.


"Mas kan bisa telepon Niken, suruh dia yang mengurus suaminya. Siapa tahu dengan ini mereka bisa bersatu,"


"Iya, Besok Mas coba, sekarang kita tidur ya, Ay," bujuk Rifki.


Erika menuruti perkataan suaminya, ia merebahkan tubuhnya di samping Rifki. "Tapi aku enggak bisa tidur lagi, Mas," rengeknya.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu pengen apa, hem?" tanya Rifki berusaha membuka matanya.


"Aku pingin es krim," jawab Erika.


Waduh, malam-malam begini mana masih ada yang buka, Ay.


*************


Sementara Tania,


Karena hari sudah hampir pagi, Tania dan lainnya pamit untuk pulang. Simbah menahannya, membujuk Tania untuk tinggal barang sehari saja. Sebenarnya Tania juga masih ingin tinggal, Namun Tania ingat kalau di rumah Juragan Burhan masih ada teman-temannya dan suaminya, takutnya nanti mereka bingung dan mencari keberadaan Tania dan Edos.


"Yank, gimana kalau Mbak Mutia kita jodohkan saja dengan Kakak?" cetus Tania bertanya pada Edos saat mereka berada di mobil dalam perjalanan pulang.


"Maksud kamu Kak Abizar. Enggak-enggak, no no no!" tolak Edos seketika.


"Kenapa?" tanya Tania heran.


"Aku enggak suka punya kakak ipar judes seperti itu," jawab Edos tanpa memandang pada orang yang bertanya. "Lagian Kakak pasti sudah punya calon," tambahnya.


Sebenarnya bukan itu masalahnya, Tania. Aku tidak mau Kakak berhubungan dengan wanita manapun, karena suatu saat jika aku telah tiada, Kakak yang akan menjagamu. Memang banyak yang suka sama kamu, tetapi aku tidak mau kamu menjadi milik orang lain, batin Edos.


"Dia itu sebenarnya tidak judes, Yank," sanggah Tania.


"Tapi aku tidak suka." Ucapan Edos tidak mau dibantah.


"Aku tahu kamu sukanya cuma sama aku. Tapi siapa yang mau jodohin dia sama kamu?"


"Tania! Bisa enggak sih tidak membantah perkataan suami?" Kalau sudah menyebut nama Tania, itu artinya Edos sedang serius.


"Maaf, enggak usah dibahas," ucap Tania akhirnya mengusap-usap punggung Edos.


Kenapa mendadak tegang gini sich? Apa aku salah? Aku cuma kasihan sama Kakak dan Mbak Mutia, mereka sudah sama-sama dewasa.


Beribu pertanyaan tersimpan rapi di dalam benak Tania, dia heran dengan perubahan sikap suaminya yang tiba-tiba tegang dan jadi pendiam. Tania seakan tidak mengenal sosok yang saat ini berada di sampingnya. Suami yang suka bercanda, usil, ceria, seketika berubah menjadi datar, dingin bagai malam ini yang terguyur hujan tidak henti-henti.


"Sholat subuh dulu, Yank. Nanti ketiduran," cegah Edos melihat istrinya sudah berbaring di ranjangnya.


"Aku cuma mau ngeluh boyok sebentar saja kok, Yank," sahut Tania. Ngeluh boyok maknanya meluruskan punggung.


Edos bersandar di sandaran ranjang di samping Tania. "Besok kamu akan diantar Aris ke rumah Ayah. Aku menyusul kalau urusan pekerjaan sudah selesai," ungkap Edos.


"Jam berapa selesainya?" tanya Tania.


"Jam dua siang mungkin juga sudah selesai," jawab Edos. "Yank," panggilnya kemudian.


"Ehm," jawab Tania singkat memandang ke arah Edos.


"Kita enggak usah pergi ke Jakarta lagi ya? Kita tinggal di sini saja atau di rumah peninggalan ayah kamu," cetus Edos.


Tania tidak kaget, pertanyaan ini yang selama ini Tania hindari dari Edos.


"Sekarang aku harus menggantikan Papa Burhan mengurus pabrik," ungkap Edos lagi.


"Tapi kuliahku gimana?" tanya Tania memandang kosong ke arah suaminya.


"Kamu ambil cuti saja sampai kamu melahirkan, toh kamu nanti juga bakalan ambil cuti kan? Atau mendaftar di sini saja mengulang dari awal, gimana?" tanya Edos penuh harap.


Tania masih terdiam, rasanya berat. Ia sudah melewati satu semester walaupun hanya beberapa bulan tetapi ia harus mengerjakan tugas rapelan, itu sangat melelahkan. Tapi Tania takut membantah perkataan suaminya, ia tidak mau distempel sebagai istri durhaka.


"Kenapa tidak dijawab?" tanya Edos memandang istrinya.


"Iya," jawab Tania singkat dengan hati kecewa.


Edos memperhatikan wajah istrinya yang terlihat sedih lekat-lekat. Ada rasa iba yang mengganjal di hatinya. Namun mungkin ini yang terbaik agar mereka terhindar dari Bram yang masih berusaha untuk menghancurkan rumah tangga mereka.

__ADS_1


Kumandang azan subuh mulai terdengar, mereka bangkit untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di kamar. Setelah selesai sholat mereka berbaring untuk tidur karena kantuk yang sudah tidak dapat ditahan lagi.


Pukul enam pagi teman-teman Tania dan juga Edos sudah berkumpul di teras, terapi mereka bingung tuan rumah yang mereka tuju untuk didatangi malah tidak kelihatan batang hidungnya. Sementara Likha, sepulang menemani Tania tadi, langsung memasak nasi goreng, setelah nasi goreng tersebut tertata di meja makan, ia langsung tidur hingga saat ini.


Nurlita dan Burhan nampak memasuki pekarangan rumah sehabis jalan pagi. Biasanya mereka kembali lewat dari pukul tujuh pagi. Tetapi karena di rumah banyak tamu, mereka jadi pulang cepat.


"Lho kalian kok pada di luar? Edos sama Tanianya mana?" tanya Nurlita.


"Itu dia Bude, sejak bangun tadi aku tidak menemukan mereka," jawab salah satu di antara mereka.


Nurlita meninggalkan suaminya dan teman-teman Tania dan Edos, menyeret langkahnya menuju ke dapur untuk mengambil air putih. Ia juga heran mendapati dapurnya juga sepi.


"Tidak biasanya dapur jam segini juga sepi," gumam Nurlita.


Ia membuka tudung saji. "Ini nasi goreng, kapan Likha memasaknya? kok sudah dingin," gumam Nurlita lagi.


Nurlita kemudian menuju ke kamar Likha, mengetuk pintu dan memanggil-manggil yang punya kamar. Dengan mata berat untuk terbuka, Likha mencoba untuk bangun dan membuka pintu.


"Maaf, Bu. Aku baru bisa tidur setelah sholat subuh tadi. Tadi jam satu dibangunkan Mas Edos, Mbak Tania nyidam pengen serabi Kalibeluk yang baru matang dari tungku, jadi dan Pak Nur mengantar mereka ke rumah Mak Surini, kami baru sampai di rumah tadi pagi jam empat," tutur Likha tanpa ditanya.


"O, jadi kalian habis begadang," simpul Nurlita.


"Tadi Likha sudah masak nasi goreng, Bu."


"Ya sudah kalau kamu masih ngantuk tidur lagi saja, yang penting nanti jam 9 Pak Nur sudah harus siap mengantar Edos dan Bapak ke pabrik."


Nurlita kembali ke teras untuk memanggil teman-teman Edos, mengajak mereka untuk sarapan nasi goreng bersama.


Kira-kira pukul sembilan, Aris telah tiba di kediaman Juragan Burhan. Edos dan Tania juga telah bersiap untuk ke luar sesuai dengan rencana, Edos hendak mengunjungi pabrik sementara Tania mau pulang ke rumah lamanya.


Tania sedang berhias di depan cermin. Tiba-tiba Edos memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher istrinya. Namun Tania tidak menampilkan wajah ceria seperti biasanya jika bersama dengan suaminya.


Edos merasa sikap Tania terhadapnya berbeda. Ia lebih suka diam dan hanya menyahut dengan 'Iya' jika diajak bicara.


"Kamu ini kenapa sih, Yank? Kenapa sepertinya kamu tidak merasa senang?" Edos semakin tidak mengerti dengan perkataan Tania.


Tania berusaha untuk menetralkan perasaannya. Ia berusaha untuk tersenyum, "Tidak apa-apa kok, Yank. Mungkin bawaan bayi," sahutnya dengan senyum yang dipaksakan.


Edos percaya saja apa yang dikatakan oleh istrinya. Mereka berjalan beriringan keluar dari kamar menuruni anak tangga. Sampai di lantai bawah teman-teman mereka sudah menunggu.


"Kalian jadi ikut pulang ke rumahku, kan?" tanya Tania pada ketiga temannya, Feby, Resti dan Hilda.


"Jadi donk, Tania. Nanti kita ikut mobil kamu karena kemarin kita diboncengi sama mereka bertiga," jawab Hilda menunjuk pada Rizki, Doni dan Reno.


"Aku mau pulang pengen istirahat, Tan. Tapi tolong Mas Aris nanti tolong antarkan mereka pulang ke rumah mereka ya." sahut Doni.



Inilah Tania, saat teman-temanya tengah kembali ke rumah atau kost-an mereka, sementara suaminya sampai sekarang sudah masuk waktu Ashar, belum juga menyusulnya ke rumah peninggalan ayahnya. Tania duduk di teras depan rumahnya.


Aku kembali, kembali bagai katak dalam tempurung, terpuruk di sini tak bisa kemana-mana, sampai kapan ini akan berakhir, seperti inikah kodrat aku sebagai seorang wanita? yang hanya harus patuh pada seorang suami, yang menganggap suami adalah Tuhan yang nampak. Belum ada sehari saja aku sudah tidak betah bagaimana jika sampai sisa akhir hidupku, aku tidak sanggup hanya berdiam diri dan berpangku tangan. Mudah-mudahan suamiku bisa mencabut ucapannya, membiarkanku menikmati kebebasan menjalani hari-hari dengan kegiatan yang bermanfaat. Atau mudahkanlah aku untuk beradaptasi dengan semua ini.


.


.


"**Thor, kok cuma sak uprit sih?" tanya Bram.


"Sabar," jawab Author singkat.


"Sabar melulu jawabanmu Thor..Thor," protes Edos


"Makanya, bantu aku bujukin reader buat like dan komen,"


"Udah baca sendiri kok readernya," sahut Bram.

__ADS_1


"Terimakasih ya reader atas like dan komennya, apalagi yang sudah vote, Terimakasih banyak🙏" ucap tulus Author**


__ADS_2