2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Sapu lidi lepas talinya


__ADS_3

Kumandang azan isya' mulai menggema. Bram melongok ke lantai dua, istrinya kenapa tidak muncul? Ia bergegas menaiki tangga, dilihatnya Niken masih sibuk dengan kertas dan pensilnya.


"Nggak ikut Mas ke masjid?" tanya Bram.


Niken menoleh. Ia menggeleng pelan, "Badanku capek, punggungku sakit," keluh Niken.


Bram mendekat, emosinya tersulut. Ia mengambil kertas-kertas di hadapan Niken dan menyusunnya, juga peralatan tulis lainnya. Niken berusaha menolaknya. "Eh, ini hampir selesai, Mas," sergahnya.


Bram semakin mendekati Niken, dengan sigap ia mengangkat tubuh Niken, menggendongnya ala bridal style dan membaringkan tubuh istrinya tersebut di atas kasur springbed.


"Awas saja kalau sampai Mas kembali nanti kamu masih pegang kertas-kertas itu lagi. Kamu pikir Mas enggak bisa biayai hidup kamu apa? Sampai-sampai kerja tak kenal waktu. Ingat Niken, kamu ini sedang hamil muda, jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan karena kecerobohan kamu!" cecar Bram menatap tajam mata Niken.


Niken terdiam mendengar semua ucapan Bram. Bram memang benar, ia telah melupakan kehamilannya hanya demi target untuk memenuhi permintaan pelanggan yang harus selesai sebelum hari raya Idul Fitri tiba. Niken hari ini telah bekerja dari habis subuh, hanya istirahat saat waktu sholat.


"Maafkan Niken, Mas," ucapnya menyadari kekhilafannya.


Bram mengangguk, "Kamu boleh bangun kalau mau sholat," ucapnya.


Bram pergi meninggalkan Niken. Niken hanya memandangi punggung suaminya hingga ia hilang di balik pintu.


"Maafkan Mama ya, Dek," ucap Niken seraya mengelus perutnya yang mulai berisi karena telah memasuki bulan ke empat.


Selama bermenit-menit Niken mencoba mengistirahatkan tubuhnya, hingga ponselnya kembali berdering. Nama Aghni terpampang di sana.


"Ya, Aghni," sapa Niken.


"Kak Niken, Aghni sudah ada di depan butik Kakak nih. Kok tokonya masih tutup?"


"Tunggu sebentar ya, tokonya buka nanti pukul 20.00," jawab Niken.


"Iya Kak, Aghni tunggu," timpal Aghni. Niken segera menutup ponselnya. Mengambil kunci cadangan untuk membuka pintu depan, karena kuncinya pasti dibawa Ririn ke masjid.


Dengan perlahan ia turun ke lantai bawah. Niken membuka pintu, ternyata Aghni tidak sendiri, ia membawa pasukannya.


"Kak Niken," panggil Aghni menghambur ke pelukan Niken, "oh iya, teman-teman aku boleh ikut masuk kan, Kak?" tanyanya setelah mengurai pelukannya.


"Boleh, dengan senang hati kalau kalian mau bantu," jawab Niken tersenyum jahil.


"Ih, kakak kok gitu," cebik Aghni.


"Hahaha, kakak cuma bercanda kok. Mari dek masuk," sanggah Niken.


"Oh iya, ini pesanan Kakak," ucap Aghni sambil menyerahkan kantong kresek yang di dalamnya tersusun kotak makanan.


Niken menerima kantong kresek tersebut, "Kalian belum makan ini kan?" tanyanya.


"Belum, Kak. Tapi kami sudah kenyang makan makanan yang lain," jawab teman Aghni.


"Ayo, kita ke ruang tengah," ajak Niken. Aghni dan teman-temannya mengikutinya di belakang.


Niken duduk di atas karpet, meletakkan kantong kresek yang dibawanya di atas meja kayu kecil pendek lalu membuka bungkusan tersebut.



"Ayo temani kakak makan, kakak mana bisa menghabiskan makanan sebanyak ini," ajak Niken.


Teman-teman Niken malu-malu kucing, "Masa makanan yang kita bawa kita juga yang makan sendiri kak," tolak salah seorang teman Niken.


"Enggak apa-apa, ini kalian bawanya kebanyakan kok," timpal Niken. "Emm ... yummy, asli ini enak banget," ucap Niken melebih-lebihkan apa yang ia ***** dan rasakan di lidahnya supaya teman-teman Aghni pada ngiler.

__ADS_1


"Kalau enggak habis bisa disimpan buat besok, Kak. Kami benar-benar sudah kenyang," timpal teman Niken lainnya.


Pukul delapan kurang Bram, Ririn dan pegawai butik lainnya telah kembali dari masjid.


"Wah, ada yang enak-enak nih, pas banget." Ririn menyerobot sepotong sus pisang keju dari hadapan Niken. "Minumannya mana, Mbak? Ada tamu kok enggak dikasih minuman," tanyanya dengan mulut penuh.


"Oh iya, ambil sendiri saja di show cash ya adik-adik. Itu semua minuman yang ada di show cash disediakan untuk pengunjung gratis kok," jawab Niken.


Niken mengambil satu kotak sus yang belum dibuka dan berdiri, "Kakak ke lantai atas dulu ya, kalian santai-santai saja di sini," pamitnya.


Niken menaiki tangga dan melangkah menuju ke kamarnya, membuka pintu kamar pelan. Terlihat suaminya sedang di atas springbed bersandar di dinding dengan bantal disusun tinggi sebagai sandaran, sibuk dengan tablet di tangannya.


"Mas enggak mau sus pisangnya?" tanya Niken.


"Enggak," jawab Bram singkat.


"Benaran enggak mau? Ini enak banget lho," ucap Niken sedikit promosi.


"Kamu kayak lagi iklan saja," sergah Bram.


"Serius, Mas. Ini enak banget, coba deh Mas cicipi," ucap Niken lagi menyuapkan sepotong sus pisang ke mulut Bram. Bram membuka mulut dan menggigitnya, mulai menikmati sus pisang keju tersebut.


"Enak kan?" tanya Niken memastikan. Bram cuma mengangguk. "Lagi, aak," lanjut Niken kembali menyuapi suaminya. Namun Bram menolak.


"Udah ah, Mas masih kenyang. Simpan buat nanti habis kita olahraga," perintah Bram.


"Olahraga? Ini masih sore, Mas. Masih banyak orang di bawah," cicit Niken.


"Memangnya kenapa? Kita kan tidak melakukan dosa, taruh di meja dulu sus pisangnya," titah Bram enggak bisa dibantah.


Niken menuruti perintah Bram, ia beringsut untuk meletakkan kotak berisi sus pisang keju tersebut di atas meja yang tidak jauh darinya. Bram juga meletakkan tabletnya di meja yang sama. Ia beringsut mendekati istrinya dan melepaskan kerudung yang menutup kepala Niken dan melempar sembarangan. Bram menangkup pipi Niken, mulai mencium kening, mata kiri dan kanan serta bibir istrinya tersebut.


"Body kamu tambah berisi jadi makin seksi, Sayang. Mas tidak tahan jika dekat-dekat sama kamu," ucap Bram dengan gairah yang menguasai diri dan fikirannya.


*******


Tania dan Edos memutuskan untuk pulang kampung saja, dan menunggu kelahiran putra mereka di kampung halaman. Kasihan Edos kalau harus bolak balik antara Batang-Jakarta. Karena tidak mungkin ia terus tinggal di Jakarta sementara pekerjaannya di pabrik milik orangtuanya menunggunya.


Hari ini Tania dan Nadia berencana untuk pulang kampung dengan menyewa sebuah mobil travel, karena tujuan perjalanan ke kampung mereka searah. Nadia beserta kedua orang tuanya akan pulang ke kota udang Indramayu, sementara Tania dan Edos akan pulang ke Pekalongan.


Mobil yang akan mereka sewa telah terparkir di halaman rumah Tuan Ardiansyah. Untuk mempercepat kepulangan mereka, sejak tadi malam Nadia beserta kedua orang tuanya menginap di rumah tersebut.


Setelah menyelesaikan semua persiapan, mereka keluar dan kembali berkumpul di halaman. Barang-barang yang akan mereka bawa sudah dimasukan ke dalam bagasi dan bagian belakang mobil.


"Kamu tidak berpamitan sama Bu Nastiti, Nad?" tanya Tania pada Nadia.


"Sudah tadi lewat telepon, aku takut Tiara akan menangis kalau aku pamit ke rumah beliau langsung," jawab Nadia.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Tania menghampiri Dewi, memeluk dan mencium pipi sang mamanya tersebut. "Tania pamit, Ma. Do'akan Tania selamat sampai di rumah, dan melahirkan cucu Mama dengan lancar dan sehat," ucapnya dengan bulir bening yang tak mampu ditahannya.


"Aamiin, selalu, Sayang. Do'a terbaik selalu buat anak-anak Mama. Jaga diri kamu dan calon cucu Mama baik-baik," balas Dewi tidak kalah sedihnya. "Kabari kami kalau sudah sampai ya, Nak," pintanya.


"Iya, Ma," sahut Tania. Kini ia beralih mencium punggung tangan Pak Ardi, diikuti oleh Edos.


Setelah semuanya siap, mobil pun bergerak meninggalkan halaman kediaman keluarga Ardiansyah. Mamak (ayah) Nadia duduk di depan di samping sopir, di kursi bagian tengah diduduki Tania dan Edos, sementara di kursi jok bagian belakangnya duduk Nadia dan mimiknya (ibunya).


*******


Sementara di rumah Bu Nastiti. Mereka masih berkumpul di ruang keluarga sebelum berpisah kembali pada aktivitas masing-masing.

__ADS_1


"Rasya, hari ini Nadia akan pulang ke kampungnya, kamu tidak mengantarnya?" tanya Bu Nastiti pada anak sulungnya.


"Rasya ada jadwal mengajar pagi, Bu. Lagi pula Rasya siapanya dia?" sanggah Rasya.


"Nadia siapa, Bu?" tanya Pak Baskoro.


"Gadis korban penusukan waktu itu, Pak," jawab Bu Nastiti. "Tiara butuh dia sebagai pengganti mamanya, Rasya. Sebaiknya kamu membuka hati kamu untuk mengambil hatinya. Susah mencari wanita yang bisa menyayangi Tiara seperti Nadia," timpal Bu Nastiti lagi.


"Umurnya jauh di bawah Rasya, Bu. Dia berhak mempunyai pendamping yang lebih muda, yang belum menikah serta punya anak," kilah Rasya.


"Kamu tahu bagaimana kondisi Nadia saat ini kan, Rasya?"


"Saya pernah menemui dokter yang menanganinya, Bu. Luka akibat tusukan itu menyebabkan kerusakan rahim sebelah kanannya, dan sebelah indung telurnya harus diangkat. Dokternya bilang kemungkinan Nadia untuk mengandung dan melahirkan keturunan hanya 5%," tutur Rasya.


"Astaghfirullah al'adzim, kasihan sekali gadis itu," pekik Pak Baskoro.


"Bagaimana jika tidak ada pemuda yang mau menerimanya jika tahu kondisi gadis itu yang sebenarnya? Kamu kan sudah punya Tiara, kalau kamu yang menikah dengan dia, kamu tidak terlalu berharap akan hadirnya seorang anak dalam pernikahan kalian."


"Dia masih terlalu muda, Bu. Umurnya saja belum genap 19 tahun, sementara Rasya sudah 32 tahun, duda lagi. Mana dia mau?" bantah Rasya.


"Kamu ini belum mencoba sudah menyerah," sergah Bu Nastiti.


"Nanti Rasya pikirkan, Bu. Rasya berangkat dulu, Bu, Pak. Takut terlambat," pamit Rasya kemudian mencium punggung tangan kedua orangtuanya secara bergantian. Lalu pergi meninggalkan ruang tengah.


Tinggallah kini Bu Nastiti, Pak Baskoro dan Rayan yang sejak tadi hanya jadi pendengar setia.


"Rayan, apa kamu sudah putuskan mau ambil S2 di mana?" tanya Pak Baskoro pada putra bungsunya.


"Rayan masih nunggu balasan dari Harvard, Pak. Kalau di sana tidak lolos seleksi, ya terpaksa Rayan mau nyusul bang Arya ke Australia," jawab Rayan.


"Di manapun kamu menempuh pendidikan, Bapak berharap semoga bermanfaat buat kemajuan perusahaan kita," ucap Pak Baskoro penuh harap.


Rayan bangkit hendak pergi.


"Mau ke mana kamu?" tanya Bu Nastiti.


"Rayan mau antar Prima kuliah, Bu. Mumpung Rayan belum berangkat ke luar negeri."


"Ya sudah sana, salam dari ibu ya," seru Bu Nastiti.


"Siap, Bos!" sahut Rayan.


"Bapak juga mau berangkat ke kantor, Bu," pamit Pak Baskoro.


"Iya, hati-hati di jalan ya, Pak."


"Iya, ibu juga jaga rumah baik-baik."


Bu Nastiti mengantar kepergian suaminya sampai di halaman. Ia meraih punggung tangan Pak Baskoro dan menciumnya. Pak Baskoro masuk ke dalam mobil.


"Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya ya, Supri," seru Bu Nastiti pada sopir pribadi suaminya, Suprianto.


"Baik, Bu," jawab Supri.


Mobil pun berjalan pelan meninggalkan pelataran dan hilang di balik pintu gerbang.


.


.

__ADS_1


.


Terimakasih yang masih setia😍😍😍


__ADS_2