
Melihat Tania sudah siap hendak berangkat menyusul Niken yang sudah menunggu di mobil, Edos juga bersiap-siap. Ia mengganti kaos yang dipakainya dengan kemeja. Tanpa mereka sadari, ternyata warna baju yang mereka pakai senada.
"Udah siap mau pergi, Sayang? Ayo keluar bareng," tanya Edos kepada istrinya yang telah siap.
"Udah kok, Peluk dulu donk, Yank. Lima menit.. saja," pinta Tania manja pada suaminya.
Edos menuruti keinginan istrinya sambil tertawa geli. Ia merentangkan kedua tangannya, memeluk Tania beberapa menit sebelum keluar dari kamar.
Istriku kok tiba-tiba menggemaskan begini ya?
"Sepuluh menit ya, Yank!" pinta Tania lagi.
"Satu jam juga enggak apa-apa buat kamu, tapi Mbak Niken udah nunggu di bawah," ucap Edos tersenyum. Edos kembali mengeratkan pelukannya.
"Udahan pelukannya, Yuk ke luar!" ajak Edos merenggangkan pelukannya.
"Sebentar, satu menit lagi," pinta Tania.
"Kok, kamu jadi gini sih?" Edos tertawa geli melihat tingkah istrinya.
"Ya udah, ke luar yuk. Tapi digandeng," pinta Tania manja.
Edos menggenggam telapak tangan Tania, berjalan ke luar kamar menuruni anak tangga. "Sepertinya kamu harus pindah ke kamar yang ada di lantai dasar dech, Say," cetus Edos.
Tania menoleh ke arah Edos dengan mengerutkan keningnya. "Kamu? Terus kamu masih tetap di atas, gitu?" tanyanya.
Edos mengoreksi kekeliruannya. "Ups, Kita maksudnya, Yank. Aku salah ngomong," ucapnya. "Aku takut kamu capek naik turun tangga," ucapnya lagi, padahal di dalam hatinya takut kalau Tania terpeleset saat naik turun tangga, mengingat Tania orang yang ceroboh.
"Iya, pindahnya kalau kita udah balik dari kampung saja. Besok pagi kamu bilang kita mau pulang kampung," tutur Tania.
"Oh iya, Yank. Kenapa meeting ya hari Minggu?" Tanya Tania lagi.
"Dari pihak sana bisanya cuma hari Minggu, Say. Kita cuma menyepakati saja," jawab Edos.
Sampai di ruang tengah mereka bertemu dengan Dewi. Edos melepas tautan jemari Tania.
"Ma, Tania mau ikut ke rumah Mbak Niken, karena Edos ada urusan pekerjaan," pamit Tania menghampiri sang Mama.
"Iya, hati-hati, Sayang. Sama suami mbok ya panggil Mas, masa masih Edos-Edos saja panggilnya," sahut Dewi memeluk dan menasehati anaknya.
Namun yang dinasehati cuma tersenyum nyengir. "Mama juga enggak panggil Mas sama Papa," bantah Tania yang langsung mendapat cubitan di hidungnya.
Tania mengurai pelukan sang Mama, ia melangkah ke arah pintu. Namun tiba-tiba ia kembali menoleh ke belakang. "Oh iya, Ma. Besok pagi kami mau pulang kampung," ucapnya.
"Wah, Mama pengen ikut. Mama pengen menjenguk Simbah kamu. Sudah lama Mama enggak menengoknya. Terakhir mereka yang datang ke sini pas lebaran haji," tutur Mama.
"Simbahku? Aku masih punya Simbah, Ma?"
"Iya, Sayang. Mereka masih sehat loh," jawab Dewi.
"Nanti malam kita bicara lagi ya, Ma," teriak Tania buru-buru.
Setelah mencium punggung tangan Mama mertua, Edos mengejar langkah Tania.
"Sepertinya kita harus periksa ke dokter kandungan dulu, sebelum pulang kampung, Yank. Untuk memastikan kandungan kamu, bisa diajak melakukan perjalanan jauh atau tidak," cetus Edos.
"Ya udah, berarti berangkatnya sehabis pulang periksa," sahut Tania.
Edos mengangguk, ia mengantarkan Tania hingga masuk ke dalam mobil dan duduk di depan di samping Niken. Sementara di kursi belakang ada Karim dan juga Siti. "Titip Tania ya, Mbak Niken," ucap Edos pada Niken.
"Kamu tenang saja, pasti akan aku jaga dengan sepenuh jiwa dan ragaku, Edos," jawab Niken diselingi tawa renyah.
Setelah mobil Niken menghilang dari pandangan mata, Edos menghampiri dan masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu gerbang. Mobil bergerak meninggalkan rumah keluarga Ardiansyah.
"Sudah lama menunggu, Pak Trisno, Pak Nur?" tanya Edos pada Sekretaris papanya dan sopirnya.
"Ya, kira-kira sepuluh menitan lah, Denmas," jawab Pak Trisno.
"Kita langsung ke kantor pemasaran 'PT. Dinda Pulp and Paper Corporation' saja, Pak Nur," perintah Edos pada Pak Nur selaku sopir.
"Baik, Denmas," jawab Pak Nur sambil tetap fokus menyetir.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju, Kantor pemasaran PT. Dinda Pulp and Paper Corporation. Suasana kantor nampak lengang, karena hari Minggu tidak ada pekerja yang datang, hanya seorang office boy dan sekretaris saja yang diminta oleh pemilik perusahaan untuk datang.
Edos menelpon direktur sekaligus pemilik perusahaan tersebut, mengatakan bahwa mereka telah sampai di depan kantor. Selanjutnya mereka dijemput oleh sang sekretaris dan diantarkan ke tempat ruangan meeting.
Pertemuan mereka berjalan dengan lancar, kira-kira satu jam kemudian Pak Trisno dan Edos telah keluar dari gedung tersebut. Edos meminta untuk diantarkan langsung ke cafe Mentari.
"Terimakasih, Pak Trisno, Pak Nur. Kalian bisa kembali lagi ke hotel, besok pagi jemput saya jam 10," tutur Edos setelah sampai di depan Kafe.
"Sama-sama, Denmas. Sampai besok," jawab Pak Trisno.
Edos melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih setengah jam lagi dari waktu yang dijanjikan oleh Bram. Ia keluar dari mobil, masuk ke dalam kafe menghampiri kasir.
"Reservasi atas nama Bapak Bramantyo di mana, Mbak?" tanya Edos pada salah seorang kasir.
"Bapak Bramantyo Ardiansyah, di lantai 2 ruang Robusta, Mas," jawab kasir tersebut.
"Terimakasih, Mbak," ucap Edos.
Edos membuka ponselnya untuk menelpon seseorang.
"Iya, Edos. Aku sudah siap nih, kamu share lokasinya saja," terdengar suara seseorang di ujung telepon.
"Bawa mobil yang dipakai Pak Nur, sekalian bawakan kursi roda aku yang masih tertinggal di kamar hotel," perintah Edos.
"Kamu kan sudah sembuh, kenapa kursi roda butut itu masih kamu ingat sih, Edos?"
"Kursi roda itu dibeli oleh Tania dari hasil keringatnya bekerja menjadi pelayan minimarket. Jadi tidak boleh dibuang begitu saja, Don," tutur Edos kepada temannya yang ternyata adalah Doni.
"Siap, Bos!" ucap seseorang tersebut.
Edos bukanlah orang yang seperti kacang lupa kulitnya. Ia sangat menyayangi barang-barang miliknya. Walaupun bagi orang lain barang itu tidak berguna lagi, namun ia tetap akan merawatnya dengan sepenuh hati, kecuali memang ada orang yang benar-benar membutuhkannya, baru ia akan melepaskannya.
Edos melanjutkan langkahnya menuju ke lantai dua, ada ruang-ruang yang hanya dibatasi dengan sketsel. Ia menemukan kata Robusta tertempel di dinding, lalu mendekati ruangan tersebut.
Bram belum sampai di tempat yang dia janjikan. Edos menghubungi Tania dengan Videocall. Terhubung, nampak Tania tengah duduk di sofa.
"Assalamu'alaikum, Suamiku," sapa Tania di layar ponsel.
"Wa'alaikumussalam, Istriku yang cantik. Lagi apa, Sayang?" sahut Edos bertanya.
"Aku di sini cuma jadi mandor doang, Yank," jawab Tania terkekeh.
"Ada siapa saja di situ?" tanya Edos.
Apa? Mas Rifki ada di sana? Jadi Mas Bram memintaku datang hanya sendiri tidak didampingi Mas Rifki. batin Edos bergemuruh.
"Sayang, serahkan ponsel kamu pada Mas Rifki sebentar ya, aku mau bicara hal penting sama dia sebentar saja," pinta Edos.
"Iya, Yank. Sebentar ya."
Tania mencari keberadaan Rifki sambil membawa ponselnya. Rifki ada di ruang tengah sedang memegang vakum cleaner.
"Mas Rifki, Edos mau ngomong penting katanya," ucap Tania pada Rifki.
Rifki mematikan vakum cleaner, dan menerima ponsel Tania.
"Ada apa, Edos," tanya Rifki.
"Mas Rifki menjauh dari Tania sebentar," pinta Edos.
"Kok tiba-tiba signalnya ilang sih, Tan. Mas Rifki bawa ponsel kamu keluar ya!" Rifki keluar rumah.
"Masa, Sih? Tadi lancar-lancar saja," gumam Tania.
Tidak tahu harus melakukan apa, Tania pergi ke dapur. Tapi belum sampai di dapur ia sudah berpapasan dengan Niken.
"Mbak Niken ada cemilan lagi tidak?" tanya Tania.
"Ada, Mbak Niken tinggal di mobil, di jok paling belakang, ambil saja!" jawab Niken.
"Kuncinya?" tanya Tania lagi.
"Di bawah televisi ruang tengah," jawab Niken.
Tania segera berlalu mengambil kunci mobil, lalu menuju halaman rumah mengambil untuk mengambil cemilan yang ada di dalam mobil sesuai yang dikatakan Niken.
"Tania, ini ponsel kamu. Terimakasih," ucap Rifki menyerahkan ponsel kepada yang punya.
"Iya, Mas. Sama-sama," jawab Tania menerima ponselnya. "Udah diputus ya, Mas?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, Tan. Mas Rifki mau menyusul Edos sekarang, tolong kamu bilangin sama Mbak Erika ya," pamit Rifki.
"Oh iya, Mas," sahut Tania.
*************
Cafe Mentari
Bram baru sampai di ruangan tempat Edos menunggunya. Dia duduk di sofa berhadapan dengan Edos, hanya terhalang meja. Edos nampak tenang menunggu apa yang akan dilakukan oleh kakak sepupu tirinya yang brengsek tersebut. Sepertinya akan terjadi sesuatu hal yang buruk.
"Hai, Azhar. Sudah menunggu lama kamu?" tanya Bram dengan menampilkan senyum basa-basi.
"Ya, kira-kira tiga puluh menitan lah, Mas. Kebetulan tadi ada urusan ke luar, jadi sekalian saja ke sini." jawab Edos. "Kenapa harus mengajak ketemuan di cafe? Kenapa tidak di rumah saja?" tanyanya.
Bram kembali tersenyum, "Biar orang-orang di rumah tidak tahu. Terus biar kamu mengenal yang namanya kota besar."
Jawaban Bram ini datar tetapi begitu menyentil, apalagi sentilannya menggunakan gelang karet yang dijepret. Namun Edos tetap tenang, ia masih ingat nasehat Niken kalau ia tidak boleh terpancing emosi. Ia harus menghindari adu jotos dengan Bram.
"Langsung saja, katakan apa tujuan Mas Bram mengundangku kemari?" Tanpa basa-basi Edos meminta Bram untuk menyampaikan maksudnya.
"Santai dulu lah, Bro. Nikmati dulu kopi yang kamu pesan, tenang," jawab Bram santai.
"Kalau tidak ada yang mau anda sampaikan, lebih baik saya permisi. Sepertinya kita tidak seakrab itu untuk hanya minum-minum kopi sambil bercengkrama." Edos mulai menunjukkan rasa muaknya terhadap Bram.
"Oke, kita memang tidak akrab. Baiklah aku akan menyampaikan maksudku." Bram nampak menghela nafas sesaat. "Aku minta kamu melepaskan Tania secara baik-baik. Ceraikan dia setelah melahirkan anaknya!" ucap Bram dengan santainya.
Duarr!!!
Ternyata aku sedang berhadapan dengan orang gila! batin Bram dongkol.
"Apa urat malu kamu sudah putus? Meminta kepada seorang suami untuk menceraikan istrinya, padahal hubungan pernikahan mereka baik-baik saja," balas Edos yang telah mengganti anda menjadi kamu.
"Baik-baik saja kamu bilang? Memangnya kamu sudah menunaikan kewajiban kamu sebagai seorang suami?" tanya Bram menohok.
"Punya hak apa kamu mencampuri urusan keluargaku?" Edos masih berusaha untuk tenang ia tidak boleh terpancing.
"He, Azhar. Apa kamu lupa? Bayi yang ada di dalam kandungan Tania itu anakku, dan sekarang dia tinggal di rumahku. Itu artinya kamu tidak becus menjadi seorang suami," sergah Bram tersenyum penuh kemenangan.
Seketika emosi Edos meledak, jebol sudah pertahanannya. Dengan cepat ia bangkit melompati meja, mencengkeram dan menarik kerah kaos yang dipakai Bram hingga si brengsek tersebut berdiri.
"Kurang ajar kamu, Kakak tiri brengsek! Aku sudah memaafkan mu karena kamu tidak terbukti bersalah, tapi apa yang kamu lakukan sekarang, meminta baik-baik katamu, hah?" sarkas Edos yang tidak tertahankan lagi.
Akhirnya bogem mentah Edos mendarat juga di perut dan pipi Bram.
"Ini untukmu yang telah lancang mencampuri urusan keluargaku!"
Plakk..plakk..
"Ini untuk Tania yang kamu sakiti!"
Bukk
"Dan ini untuk Mbak Niken yang kamu hianati!"
Bukk
Bram yang tengah bersandar pada sandaran sofa, tidak menyangka akan mendapat serangan dari Edos yang bertubi-tubi, ia hanya pasrah. Edos belum puas dengan aksinya, tiba-tiba Rifki datang melerai. Ia mencekal lengan Edos.
"Edos, sudah!!!" teriak Rifki.
Edos seketika tersadar, ia menghempaskan tubuh Bram ke sofa, untung tidak kejedot tembok. Edos berjalan keluar meninggalkan ruangan, Rifki mengejarnya.
"He Rifki! Dasar asisten tidak tahu diri, majikannya yang dipukul malahan orang lain yang dikhawatirkan, awas kamu Rifki!" umpat Bram.
"Aku tidak akan menyerah, Edos. Akan aku buat kamu melepaskan Tania dengan sukarela untukku," janji Bram yakin.
Edos menghentikan langkahnya, ia berpegangan pada dinding, kepalanya terasa pusing. Rifki menghampiri Edos, ia membimbing Edos untuk duduk di sebuah kursi.
"Dibilangin jangan mukul masih bandel, kalau sudah begini bagaimana?" sesal Rifki. Ia memberikan botol air mineral yang dipegangnya. Edos menerimanya kemudian meneguk beberapa kali tegukan.
Edos mengeluarkan ponselnya, membuka kunci layar lalu menyerahkannya pada Rifki. "Tolong panggilkan Doni, Mas! Suruh bawa kursi roda sekalian," ucap Edos dengan napas masih terengah-engah.
"Don, cepat ke lantai dua dan bawa kursi roda sekalian!"
Lima menit kemudian Doni telah sampai di depan mereka. Edos duduk di kursi roda. Mereka turun ke lantai dasar menggunakan lift darurat.
.
.
__ADS_1
TBC
Terimakasih masih terus setia membaca kisah Tania dan Edos 🥰🥰🥰