
“Inna lillahi wa innaa ilaihi raji'un."
Terdengar kalimat tarjik terlontar dari bibir Ardan-adik dari Ardiansyah membuat Aghni yang saat itu sedang mengunjungi ruangannya di universitas tempatnya bertugas seketika mengernyitkan kening.
"Baiklah, kami akan langsung menuju ke rumahnya di Batang," ucap Ardan lagi. Lalu ia menetapkan kembali ponselnya ke atas meja.
"Siapa yang meninggal, Om?" tanya Aghni yang sejak tadi menahan keingintahuannya.
"Kakak ipar kamu yang dari Pekalongan, siapa namanya?" Ardan menjawab pertanyaan Aghni dengan pertanyaan karena lupa nama keponakan dari istri kakaknya.
"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raji'un," pekik Aghni dengan kalimat tarjik seraya menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Mata gadis itu seketika berkaca-kaca siap tumpah. "Kak Edos, memangnya sakit apa dia, Om?" tanyanya.
"Kata dokter kebocoran cairan di otaknya atau gimana, Papa kamu nggak jelas ngomongnya. Kita nggak usah ke Jakarta, langsung ke Batang saja. Jenazah mau dimakamkan di tempat kelahirannya katanya," ujar Ardan.
"Gimana keadaan Kak Tania, Om?" tanya Aghni yang kini sudah tidak bisa menahan air matanya. "Aghni memang mau pulang ke Jakarta, tapi untuk lihat baby Atar bukan untuk takziyah, Om."
"Pasti shock. Ayo kita harus segera siap-siap biar cepat sampai di sana. Soalnya jenazah mau dikuburkan nanti sore langsung. Kamu kasih kabar Tante sama Farel," perintah Pak Ardan.
Dengan tangan gemetar Aghni meraih ponselnya, tetapi ia urungkan kembali. Ia bingung dengan perintah Omnya, mau kasih kabar tantenya dan adik sepupunya - Farel, segera pulang buat siap-siap berangkat ke Batang.
Pak Ardan yang susah selesai berkemas dan beranjak berdiri pun menoleh ke arahnya. "Aghni!" panggilnya.
"I iya, Om. Aghni kabari Tante dulu ya?" tanya gadis itu bingung.
Pak Ardan menggelengkan kepala. "Nanti di mobil saja," sahutnya.
"Tapi Aghni nggak bisa nyetir sambil telepon dalam keadaan seperti ini, Om," seringai Aghni.
"Kamu ikut mobil Om. Om yang nyetir. Mobil kamu tinggal di sini saja. Ayo!" cetus Pak Ardan seraya meraih tangan keponakan cantiknya.
Aghni pun mengikuti langkah Pak Ardan bagai kerbau d*ngu yang dicocok hidungnya. Hanya butuh waktu 20 menit kini mereka telah sampai di kediaman Pak Ardan.
Seorang wanita berusia empat puluhan yang masih terlihat cantik menyambut kedatangan mereka. "Farel belum sampai rumah, Pa. Masih di jalan katanya," ungkapnya.
"Ya udah, kita tunggu anak itu sambil siap-siap," pungkas Ardi.
"Tante," seru Aghni menghambur ke pelukan tantenya. "Aghni enggak bisa bayangin gimana keadaan Kak Tania," ucapnya dengan derai air mata.
Tante Nirmala membalas pelukan Aghni seraya mengusap punggung gadis itu. "Makanya kamu jangan terlalu sedih gini. Kalau kamu saja terpuruk, lalu siapa yang nanti akan kasih support buat Kak Tania?" tanyanya. "Udah jangan sedih. Semua sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa," imbuhnya.
"Heh Anay-anay! Kok jadi cengeng gini sih? Bukanya tadi malam bilang berani mau pulang ke Jakarta sendiri? Kenapa sekarang maunya kroyokan?" cerocos Farel yang tiba-tiba sudah berada di belakang Aghni tanpa mereka sadari kehadirannya.
Aghni seketika menoleh ke belakang dan memukul lengan Farel. "Siapa yang bilang Aghni takut pulang ke Jakarta sendiri? Kita itu sekarang bukan mau ke Jakarta, tapi mau ke Batang kampungnya Edos suami kak Tania," sergahnya sambil masih menangis.
__ADS_1
Farel menangkup kedua pipi Aghni. "Memangnya ada acara apa di sana? Kenapa harus ada air mata gini?" tanyanya menghapus jejak air mata di pipi Aghni.
"Suaminya Kak Tania meninggal, Farel. Hiks hiks hiks ..."
"Apa? Innaa lillahi wa Inna ilaihi raji'un. Sakit apa?" tanyanya kaget.
"Enggak tahu. Om bilang otaknya bocor atau apa enggak jelas."
Farel membimbing Aghni menuju ke kamarnya. Ia memasukkan beberapa stel pakaian ke dalam travel bag. Sengaja tidak menggunakan koper untuk mengemas pakaiannya supaya tidak memakan tempat di dalam mobil. Setelah semua siap mereka berangkat dari rumah sekitar pukul 11 siang.
Sementara itu jenazah Edos yang sempat dibawa ke rumah sakit, pihak rumah sakit juga tidak dapat memberikan tindakan karena Edos sudah menghembuskan nyawanya sekitar 4 jam sebelum Tania menemukannya.
Di rumah sakit jenazah di mandikan dan dikafani, langsung diberangkatkan menuju rumah kedua orang tuanya di Kabupaten Batang didampingi oleh Rifki yang ikut serta di dalam mobil jenazah.
Tania hanya bisa menangis meraung-raung meratapi kepergian suaminya. Ia tidak diperbolehkan untuk ikut ke Batang karena mengingat kondisi kesehatan baby Atar yang baru beberapa hari pulang dari Pekalongan. Kasihan kalau bayi sekecil itu dibawa perjalanan jauh bolak balik kembali. Kasihan juga kalau ditinggal sedangkan ia masih ASI eksklusif. Tania hanya bisa terpuruk nelangsa.
"Kenapa kamu tega ninggalin aku sama Atar, Yank? Bahkan aku tidak diperbolehkan untuk mengantar mu ke peristirahatan terakhir. Mereka tega sama aku. Setelah tiga bulan lebih ia meninggalkan aku. Kini saat ia kembali kalian pisahkan lagi aku dengan nya," rintihnya dengan kalimat yang sama berulang-ulang.
Siti masuk ke kamar Tania untuk mengantarkan makan siang. "Mbak Tania makan siang dulu ya," ucapnya menaruh nampan berisi makanan di atas meja dekat sofa.
"Aku nggak mau makan," tolaknya.
"Mbak, kasihan Atar kalau Mbak nggak makan. Bagaimana ASInya bisa lancar?"
Siti pun memandangi anak majikannya yang meringkuk di ranjang dengan pilu. Tania yang belum lama melahirkan, bahkan sekarang seseorang yang menjadi penyemangat hidupnya juga pergi meninggalkan dirinya. Harusnya gadis itu memperoleh dukungan moral karena psikologinya tengah terguncang, bukan semuanya malah pergi meninggalkannya. Bagaimana seandainya ia melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan?
Siti pun mendekat duduk di sisi rancang. Meletakkan nampan yang ia dari meja ke atas nakas. Lalu membimbing Tania untuk bangun duduk bersandar.
"Mbak Siti suapi ya, Mbak. Kasihan Atar kalau ASI Mbak Tania enggak keluar, dia juga berhak hidup." Kata-kata Siti memang sedikit kejam, tetapi ia tidak tahu lagi harus mengucapkan kalimat bagaimana untuk membujuk Tania agar mau makan.
Akhirnya Tania mau menerima suapan makanan dari Siti meskipun pandangan gadis itu kosong lurus ke depan. Hanya beberapa suapan saja Tania sudah menolak. Siti bersyukur meskipun sedikit ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.
Saat Siti keluar dari kamar Tania hendak membawa nampan ke dapur, suara bel pintu menghadirkan atensinya.
"Siapa yang bertamu siang-siang begini? Apa ia tidak tahu kalau penghuni rumah ini pada melayat ke Batang?" gumam Siti.
***
Sementara itu di Batang, mobil yang membawa jenazah Edos sampai pada pukul dua siang. Tangis yang menyayat hati terdengar riuh menyambut kedatangannya. Jenazah dibawa ke rumah duka terlebih dahulu sambil menunggu sanak saudara yang ingin melihatnya untuk terakhir kali. Suara orang-orang yang membacakan surah Yaasiin dan tahlil masih menemani Edos.
Nurlita bangkit dari kursi dipapah oleh adik perempuannya karena tidak kuasa menopang bobot tubuhnya. Seluruh sanak saudara telah berkumpul, mereka tinggal menunggu Abizar- sang kakak dari Edos yang sedang berada dalam perjalanan. Rombongan keluarga dari Ardi dan Ardan tiba di rumah duka selisih setengah jam dari mobil jenazah.
"Maaf, Mbak Nurlita. Aku melarang Tania Ikut mengantar jenazah. Kasihan Atar kalau harus bolak-balik melakukan perjalanan jauh. Mbak yang sabar ya," ucap Dewi saat memeluk Nurlita.
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa, Wi. Harusnya mereka tidak ke Jakarta dulu. Atar masih terlalu kecil untuk bolak-balik," sesal Nurlita lesu.
"Abizar tadi telpon aku pas tiba di bandara Ahmad Yani, Mbak," ungkap Dewi.
"Iya, dia juga sempat share loc ke Mbak. Tolong kamu cek dia udah sampai mana," timpal Nurlita memberikan ponselnya kepada Dewi.
Dewi menerima ponsel dan membuka aplikasi berwarna hijau. "Sudah dekat kok, Mbak. Sebentar lagi sampai," ucapnya.
Dua puluh menit berselang. Sebuah taksi berhenti di depan gerbang rumah juragan Burhan. Saat pintu belakang mobil dibuka keluarlah Abizar dengan wajah lesu. Laki-laki itu segera disongsong oleh sanak saudaranya yang laki-laki, membimbingnya mendekati jenazah Edos di atas keranda yang belum ditutup.
Abizar membuka kain tipis yang menutupi wajah Edos, mencium keningnya seraya berdoa. Setelah itu jenazah ditutup kembali. Petugas yang mengurus jenazah memastikan apakah masih ada keluarga yang ditunggu lagi? Abizar teringat Tania, pandangannya memutari orang-orang di sekitarnya dan melihat Dewi dan mamanya. Mata Dewi bertatapan dengannya.
"Tante Dewi, Tania mana?"
"Tania di Jakarta, Bizar. Tante melarangnya untuk ikut kembali kemari, kasihan Atar kalau diajak bolak balik, kalau ditinggal juga kasihan dia masih ASI eksklusif," ungkap Dewi dengan mata sembabnya.
Tercetus ide di benak Abizar untuk melakukan panggilan video dengan Tania. Memperlihatkan wajah Edos supaya Tania bisa melihat wajah suaminya untuk yang terakhir kali sebelum ditutup dengan kain kafan.
Abizar merogoh ponselnya dari dalam saku. Sesaat ia terlihat menekan-nekan layarnya. Bu Panggilannya terhubung dan diangkat, tetapi wajah yang terpampang di layar tidak sesuai expectasi yang dibayangkan oleh Abizar.
”Edos!" cicit gadis yang dalam pandangan Abizar bukanlah Tania-adik sepupunya.
"Lho, bukannya ini nomor ponsel milik Tania ya?" Tanya Abizar dengan bodohnya.
"Iya benar, Mas. Tania lagi ada di kamar mandi, saya temannya," sahut gadis itu.
"Oo ... tolong kasih ke Tania segera ya, ini penting," pinta Abizar memelas.
"Siapa, Pim?" tanya Tania yang muncul di belakang temannya yang ternyata Prima.
"Nih, mirip Edos tapi agak tuaan," sahut Prima.
"O, Kak Bizar," ucap Tania sesaat setelan melihat ke layar ponsel. Dapat Abizar lihat wajah adik sepupu sekaligus iparnya itu yang pucat dan sembab. "Kakak sudah sampai?" tanyanya kemudian.
"Tan, kamu mau melihat suamimu untuk yang terakhir kali?" Abizar mengabaikan pertanyaan yang Tania lontarkan. Seketika mata Tania kembali basah. Tanpa menunggu jawaban Tania Abizar mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Edos yang belum tertutup kafan.
Abizar memerintahkan kepada petugas pemulasaraan jenazah untuk segera menutup kepala jenazah Edos dengan kafan sambil tetap melakukan panggilan video kepada Tania hingga proses pengkafanan selesai. Tahlil langsung dibacakan sebelum jenazah dibawa ke masjid terdekat untuk disholatkan. Setelahnya jenazah akan dibawa ke kuburan umum untuk dimakamkan.
.
.
.
__ADS_1
TBC