
Saat jeda sesi kuliah Tania pergi ke perpustakaan hanya untuk sekedar mengisi waktu suntuknya saja berdua bersama Prima. Sedangkan Nadia sedang uring-uringan karena sang suami ketahuan ternyata telah memiliki anak laki-laki dengan seorang wanita dari masa lalunya. Ia duduk di salah satu bangku di ruang baca dengan kepala menunduk memandang buku bacaannya.
"Boleh duduk di sini?" sebuah suara seorang pria tiba-tiba bertanya untuk meminta ijin. Sepertinya Tania mengenal suara tersebut, suara beberapa bulan ini absen dari Indra pendengarannya.
"Silakan, Mas, ini tempat umum kok," sahut Tania tanpa mengalihkan matanya dari fokus buku bacaannya.
"Terima kasih," sahut pemuda itu.
Ketika Tania mendongak melihat ke arah pemuda itu, Tania tertawa. Ternyata laki-laki tersebut menutupi wajahnya dengan koran bacaannya yang terbalik seperti yang Tania lakukan beberapa bulan yang lalu di ruangan yang sama.
"Mas Fauzan ngapain di sini? Kuliah lagi ambil S3? Atau mau mata-matain Tania?" cecar Tania kepada pemuda itu yang ternyata adalah Fauzan.
Fauzan melipat koran yang dipegangnya ke bawah hingga kini terlihat wajahnya. "Mas mau belajar sama kamu cara baca buku dengan terbalik, Boleh 'kan?" sahut Fauzan bertanya.
"Ada-ada saja Mas ini. Itu udah bisa," ucap Tania seraya menggelengkan kepalanya.
"Ternyata susah juga membaca tulisan kebalik. Pusing kepala, baby," cicit Fauzan.
"Barbie, Mas," Tania mengoreksi.
"Oo ... kamu mau dipanggil Barbie?" tanya Fauzan.
"Ish, lagunya kan pusing pala Barbie," cebik Tania.
"Tapi yang Mas panggil bukan Barbie," sangkal Fauzan.
"Terserah Mas Fauzan saja deh," ucap Tania pasrah.
Fauzan tersenyum akhirnya lawan bicaranya mengalah. "Kamu gemukan sekarang, Tan," ucap Fauzan.
"Aku lagi berbadan dua, Mas. Makanya badanku melar," ungkap Tania.
"Mas sudah duga sebelumnya. Kamu pasti lagi hamil dan anak kamu pasti kali ini perempuan. Kalau dilihat dari tanggal kematian almarhum suami kamu, usia kehamilan kamu pasti lebih dari 5 bulan, benar 'kan?" tebak Fauzan.
Tania mengangguk. "Iya, Mas. Udah masuk bulan ke tujuh," sahutnya.
"Mas dengar kamu udah nikah lagi? Apa itu benar, Tan?" tanya Fauzan memastikan.
"Iya, Mas, maafin Tania. Mas pasti juga sudah tahu 'kan Tania menikah karena apa?" Tania bertanya balik.
"Nggak usah minta maaf, bukan salah kamu juga 'kan?" sergah Fauzan.
"Tapi waktu itu Tania udah nolak Mas Fauzan," sesal Tania.
"Apa kamu bahagia, Tan? Apa suami kamu bisa menerima kamu?" Fauzan bertanya lagi.
"Iya, Mas, suamiku sangat mencintaiku," sahut Tania.
"Apa dia selalu siaga?"
"Iya, Mas, dia selalu siaga kalau lagi di rumah. Sayangnya dia udah kembali kerja ke Jepang," sahut Tania tanpa menjelek-jelekkan Abizar.
__ADS_1
"Kamu yakin dia benar-benar ke Jepang untuk bekerja? Bukan ke Bandung?" Tanya Fauzan memastikan.
Tania terbelalak kaget mendengar pertanyaan Fauzan. "Maksud Mas Fauzan apa?" Tania bertanya dengan intonasi sedikit naik.
"Suami yang kamu bilang sangat mencintaimu itu sedang berada di Bandung, Tan. Dia menikah dengan perempuan lain," cibir Fauzan dengan intonasi yang selaras dengan Tania.
"Tahu dari mana Mas Fauzan kalau suamiku ke Bandung, wong Tania yang nganter sendiri ke bandara pas dia berangkat ke Jepang. Lagian bukan urusan Mas Fauzan juga, jadi enggak usah ikut campur urusan rumah tangga orang lain," sergah Tania.
"Kalau dia benar-benar mencintai kamu mana mungkin dia mengkhianati kamu, Tan?" timpal Fauzan yang belum mau menyerah.
"Sekali lagi Tania bilang, itu urusan Mas Fauzan ya! Mas Fauzan sebaiknya enggak usah ikut campur. Memangnya siapa Anda?" pungkas Tania.
"Gimana Mas Bisa enggak ikut campur kalau itu masalah yang menimpa kamu, Tania," sesal Fauzan dalam hati. "Baiklah kalau itu mau kamu. Maaf Mas udah ganggu waktu kamu. Mas permisi," pungkas Fauzan akhirnya berpamitan.
"Terima kasih atas perhatian anda," ucap Tania.
Fauzan pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Tania dengan perasaan pedih, apalagi sapaan Anda yang terakhir kali disematkan oleh Tania untuknya seakan mengatakan bahwa jurang pemisah di antara mereka semakin menganga. Dinding pembatas itu semakin menjulang tinggi.
Tania pun tidak jauh beda pedihnya dari hati Fauzan. Ia memandangi punggung laki-laki itu dengan perasaan pilu hingga hilang di kejauhan.
"Tania enggak ada maksud buat menyakiti hati kamu, Mas. Tania cuma enggak mau jadi janda dua kali dalam waktu secepat ini. Apalagi sekarang dalam kondisi hamil," gumam Tania dalam hati.
"Tan, ayo kita kembali ke kelas!" ajakan Prima seketika menghentikan lamunan Tania. "Kamu kenapa, Tan? Itu laki-laki yang waktu itu bikin jidatmu kejedot tembok 'kan? Ngapain tadi dia datang ke sini? Kenapa wajah kamu sekarang jadi bermuram durja setelah dia pergi?" cecarnya kepada sahabatnya.
"Enggak apa-apa kok, Pim. Yuk balik!" sahut Tania. Mereka pun ke luar dari perpustakaan. "Em, Pim, nanti pulang anterin aku ke dokter ya," pintanya saat mereka tengah berjalan di koridor.
"Aku? Yakin kamu?" beo Prima.
"Entar kalau dokternya nyangka kita pasangan lesbi gimana?" kekeh Prima ngaco.
"Emang ada pasangan lesbi yang bisa hamil?" sergah Tania ikut terkekeh.
"Hehehe, iya juga ya," timpal Prima.
"Ada sih pasangan lesbi yang bisa hamil, tapi lewat jalur surrogate atau salah satunya selingkuh sama cowok lain," ungkap Tania.
"Surrogate apaan, Tan?" tanya Prima yang memang baru mendengar istilah tersebut.
"Oh itu, singkong diparut, dibikin bulatan terus di dalamnya dikasih gula aren, digoreng deh. Enak loh, dulu bibi Rosi biasa bikin waktu aku masih di kampung," sahut Tania berpikir, padahal dia cuma ngarang bebas.
"O ... itu yang namanya Surrogate. Lah, hubungannya singkong sama kehamilan kamu apa, Tan?" tanya Prima semakin bingung.
"Ya enggak ada lah. Kamu kan bisa cari sendiri di google, Pim," suruh Tania yang sudah malas menjelaskannya kepada Prima secara panjang lebar.
Saat mereka sampai di depan kelas yang mereka tuju, tatapan mata Tania bertemu dengan mata Fauzan, tetapi laki-laki itu langsung mengalihkan ke tempat lain. Tania segera masuk ke dalam kelas dan mengikuti perkuliahan hingga selesai.
Sementara Fauzan memilih untuk pergi ke suatu tempat untuk mendinginkan pikirannya. Otaknya sudah tidak bisa lagi diajak untuk bekerja. Laki-laki itu memarkirkan mobilnya di pinggir sebuah bendungan. Jangan berpikiran kalau Fauzan mau bunuh diri lho ya. Karena otaknya tidak sepicik itu.
Fauzan keluar dari dalam mobil dengan pundak kiri menenteng sebuah tas panjang berisi peralatan memancing dan tangan kanan membawa sebuah ember kecil. Memancing adalah sebuah hobi yang bisa mengalihkan dunia kita beberapa saat.
Tadi laki-laki itu sempat mendengarkan percakapan antara Tania dengan sahabatnya. Sebenarnya ia ingin menawarkan diri untuk mendampingi Tania periksa ke dokter kandungan, tetapi mengingat ucapan Tania tadi sewaktu di dalam ruang perpustakaan, Fauzan mengurungkan niatnya. Memangnya siapa dia? Dia bukan siapa-siapa.
__ADS_1
Fauzan mengetahui semua hal yang terjadi terhadap Tania dari Doni. Semula Rifki yang bilang kepadanya bahwa Doni adalah teman sekolah Tania yang masih satu kecamatan dengan almarhum suami Tania. Doni menerima pekerjaan dari Fauzan karena ia membutuhkan biaya untuk membayar uang kuliah. Ia selalu memberi kabar kepada Fauzan apapun yang ia ketahui.
Sebelum memulai kegiatan memancingnya, Fauzan terlebih dahulu mengirim chat untuk Doni. Hati-hati ya, Zan, jangan sampai HP kamu kecemplung ke dalam air bendungan.
[Doni, tugas kamu sudah cukup. Saya mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan kamu. Uang pelunasannya sudah saya transfer sesuai kesepakatan.]
Doni
[Iya, Mas. Terima kasih kembali, berkat job dari Mas Fauzan, saya jadi tidak pusing lagi memikirkan biaya kuliah. Kalau ada job lagi Mas Fauzan jangan sungkan-sungkan untuk memberikan kepada saya.]
Anda
[Oke, saya pasti akan menghubungi kamu kembali jika ada pekerjaan lagi.]
Setelah membalas kembali chat dari Doni, Fauzan menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas weisbag. Ia mulai mengeluarkan peralatan memancingnya satu per satu, merakitnya sebentar lalu memulai kegiatan memancingnya.
Saat menunggui umpannya dimakan oleh ikan, ia meletakkan jorangnya begitu saja di tanah, Fauzan kembali teringat Tania.
"Pergi jauh kau, Tania! Enyahlah dari pikiranku! Aku sangat yakin kamu adalah jodohku. Aku sangat yakin kita adalah jodoh yang tertunda. Namun, kadang aku tidak yakin dengan keyakinan ku sendiri."
Fauzan berteriak ke arah air bendungan sambil melemparkan batu kerikil sejauh-jauhnya ke arah air bendungan tersebut. Berharap dengan begitu beban pikirannya akan semakin ringan.
"He, Bro, jangan teriak-teriak ke arah air begitu nanti ikan-ikan bukannya mendekat malah pada kabur! Sejak kapan kamu tidak waras seperti ini?"
Tiba-tiba seseorang yang duduk tidak jauh dari tempat Fauzan memperingatkan. Fauzan sering bertemu orang tersebut jika memancing.
"Maaf, Pak. Bapak juga sama teriaknya," sahut Fauzan. "Sudah dapat banyak, Pak?" tanyanya kemudian.
"Kamu lihat saja sendiri," sahut sang bapak.
Fauzan mendekat ke arah bapak tersebut. Ia lalu mengangkat sebuah tali yang diikatkan ke pagar bendungan. Dari dalam air terangkatlah kantong yang terbuat dari jaring berisi ikan-ikan hasil pancingan.
"Kenapa kamu? Ditolak lagi oleh gadis yang sama? Kayak enggak ada gadis lain saja?" cibir si bapak pemancing.
"Wah, banyak sekali, Pak, ikan hasil pancingannya. Ikan gabusnya juga banyak. Nanti saya beli semua ikan gabusnya ya, Pak," ucap Fauzan mengalihkan pertanyaan si bapak.
"Ambil saja kalau kamu mau, saya tidak pernah menjual hasil pancingan saya. Saya ini memancing karena hobi bukan pekerjaan," jelas si bapak pemancing kesal karena tersinggung Fauzan menganggapnya penjual ikan pancingan.
"Saya juga tidak bilang pekerjaan bapak ini memancing kok. Maaf kalau bapak tersinggung," ucap Fauzan.
"Lalu buat apa kamu cuma mau ambil ikan gabusnya saja?" tanya si bapak penasaran.
"Saya mau taruh ikan itu di kolam ikan, Pak. Tiga bulan lagi Tania pasti operasi Cesar lagi karena operasi Cesar kemarin belum genap satu tahun," sahut Fauzan.
Fauzan tahu bapak tersebut memang hobi memancing dan hasilnya bukan untuk dijual melainkan untuk dinikmati sendiri atau kadang diberikan kepada orang lain. Mereka bertemu saat memancing, kadang di tempat lain. Si bapak juga kadang mengajak istrinya ikut memancing. Jika bapak tersebut membawa istrinya, pasti akan ada acara makan-makan bekal yang dibawa oleh istrinya tersebut sambil menggelar tikar di bawah pohon. Fauzan juga kadang ikut bergabung menikmati bekal yang mereka bawa. Menu sederhana tetapi Rahat.
****
Terima kasih udah menghiasi laporan mingguan ku😘😘😘
__ADS_1