
"Lagi apa ya? Lagi kangen sama Mas Bram kayaknya. Mas video call ada apa?"
"Mas kangen juga, sekalian ada sesuatu yang mau Mas omongin."
"Apa itu, Mas?"
"Mas nyusul ke situ nanti malam, mas harus lembur karena besok pagi Mas nggak bisa ke kantor. Ada yang harus Mas selesaikan," ucap Bram.
"Iya, Niken ngerti kok Mas, meskipun Mas belum mengatakan."
"Satu lagi, Sayang. Kalau besok Tania hadir bawa anaknya, Mas minta ijin untuk menggendong anaknya, boleh kan?" tanya Bram.
'Kenapa Mas Bram menanyakan hal itu sama Niken? Apa Maksudnya?' Batin Niken bertanya.
"Kalau masalah itu sebaiknya Mas minta ijin kepada Tanianya sendiri, Mas. Sebab Tania yang melahirkan jadi dia yang berhak memberi ijin kepada Mas Bram atau tidak," jawab Niken tidak suka dengan pertanyaan yang diucapkan oleh suaminya.
"Maksud Mas, kamu tidak cemburu kan kalau Mas pegang anak dia?" jelas Bram.
"Tidak lah, Mas. Ngapain cemburu sama adik sendiri?" sahut Niken.
"Sudah itu saja yang mau Mas omongin, kamu jaga diri baik-baik ya. Jangan terlalu capek. Nggak usah kerja dulu, biarkan suami kamu ini yang mencari nafkah buat kamu. Urusan butik serahkan saja kepada Laksmi asisten kamu itu," nasehat Bram panjang lebar.
"Iya, Mas. Mas juga jangan telat makan," sahut Niken mengingatkan.
"Iya. Udah ya, Sayang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Setelah sambungan video call terputus, Niken kini melamun, ia takut pernikahannya kembali terongrong. Bukan dari orang lain, melainkan dari pelaku pernikahan itu sendiri yakni suaminya - Bram. Padahal sekarang akan ada bayi yang melengkapi pasangan tersebut, Bram dan Niken. Ketakutan Niken bukan tanpa alasan. Seperti yang Niken ketahui prediksi dokter, umur Edos tidak akan lama lagi. Bukan tidak mungkin jika suatu saat Tania menjadi janda, Bram akan kembali mendekatinya.
Niken kembali memandangi layar ponsel pintarnya. Jemarinya bergerak naik-turun mencari sesuatu. Ia menelepon seseorang. Niken menempelkan ponselnya di telinga setelah terlihat waktu berjalan.
"Assalamu'alaikum, Mbak Niken," sapa seorang pemuda di sambungan ponsel Niken.
"Wa'alaikumussalam, Edos. Kamu sudah sampai di Jakarta?" jawab Niken. Ternyata ia menelepon Edos.
"Iya, Mbak. Baru saja sampai soalnya tadi mampir dulu di Indramayu," sahut Edos.
"Astaga baru sampai? Mbak jadi enggak enak nih udah ganggu istirahat kamu," ucap Niken merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa kok, Mbak."
"Ehmm ... Edos. Kamu udah cek up ke dokter selama di kampung?"
"Dua bulan ini belum, Mbak."
"Segera cek up ya. Jangan terlalu capek," Niken mengingatkan.
"Iya, Mbak. Besok siang pulang dari rumah orang tua Mbak Niken rencananya mau ke dokter."
"Ya udah sekarang kamu istirahat," ucap Niken.
"Iya, Mbak."
Setelah telepon dari Niken terputus, Edos kembali lagi masuk ke dalam kamar.
"Telepon dari siapa, Yank?" tanya Tania dengan muka bantalnya.
__ADS_1
"Mbak Niken, dia nanya apa kita bisa datang besok siang ke sana atau tidak," sahut Edos berbohong seraya tersenyum.
Tania tidak percaya dengan jawaban suaminya. "Kalau cuma masalah itu kenapa harus keluar kamar?"
"Kamu tadi kayaknya masih tidur pulas jadi biar tidak mengganggu tidur kamu aku keluar, Say," sahut Edos. "Eh, mau kemana?" cegahnya melihat Tania Bangun.
"Mau mandi, Yank. Sudah hampir maghrib. Atar juga pasti udah kepengin ketemu aku," sahut Tania beranjak.
Tania bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
*****
"Yank, Kita titipin Atar sama Bu Retno saja ya," cetus Tania besok paginya.
"Apa enggak rewel? Atar kan belum pernah mengenal Bu Retno," sahut Edos sangsi.
"Aku takut kalau si Bram ketemu Atar, dia akan memintanya," timpal Tania.
"Ya udah terserah kamu," sahut Edos. 'Kita enggak datang juga enggak apa-apa kok. Mbak Niken pasti bisa mengerti,' batinnya.
Tania mengepak semua kebutuhan baby Atar ke dalam sebuah tas bayi. "Ayo, Sayang!" ucapnya meraih Atar yang masih berbaring di tempat tidur. "Tasnya kamu yang bawa, Yang," pintanya pada Edos.
Edos meraih tas bayi yang Tania tunjuk. Ia lalu melangkah sejajar dengan perempuan itu. Rumah itu terlihat lengang karena sebagian penghuninya sudah pergi ke rumah orang tua Niken. Tinggal mereka bertiga yang belum berangkat.
Edos membukakan pintu bagian depan samping kiri untuk istrinya duduk, lalu melewati bagian depan mobil dan duduk di kursi kemudi.
"Kalau Bu Retno juga ikut hadir di acara, kita bawa saja Atar ke sana. Atau kita tidak usah datang saja?" ucap Edos menanyakan sesuatu yang terasa gamang. Mobil itu kini telah melintasi jalan.
"Kita bawa ke sana saja, Yank. Enggak enak sama Mbak Niken kalau kita tidak datang," sahut Tania.
"Ya udah kita langsung ke sana saja. Kasihan juga Atarnya nggak pernah sama orang lain," timpal Edos tanpa beralih fokus mengemudi.
"Ini rumahnya?" tanya Edos sembari memperhatikan lingkungan sekitar.
Tania juga turut memperhatikan. "Itu ada pak satpam, tanya aja," cetusnya.
Tanpa menyahut Edos keluar dari mobil menghampiri pos satpam. Tidak lama kemudian ia kembali dan duduk di kursi kemudi.
"Benar, Yank?" tanya Tania. Yang ditanya hanya mengangguk lalu menjalankan mobilnya memasuki gerbang dan mengambil tempat untuk memarkirkan mobil.
Edos keluar dari dalam mobil lalu berjalan memutari bagian depan mobil tersebut membukakan pintu untuk istrinya keluar. Ia meraih tubuh mungil Atar untuk ia ambil alih gendong supaya mempermudah Tania turun.
Halaman rumah Haidar - orang tua Niken nampak sudah tertutup seluruhnya oleh layout dan dekorasi. Di sana juga sudah ditata kursi yang menutupi paving.
Di teras sudah berdiri beberapa orang termasuk seseorang yang selama ini Edos dan Tania hindari. Bagaimana ini? Mau balik arah sudah terlanjur turun dari mobil. Mau ambil jalan lain untuk menghindarinya? Mereka bahkan baru pertama kali berkunjung ke rumah tersebut. Lagi pula mereka tidak enak hati pada Niken yang selama ini sudah bersikap baik kepada mereka.
Dengan senyum yang dipaksakan, Edos menghampiri Bram. Sementara Tania menghentikan langkahnya.
"Yank," lirih Tania dengan suara bergetar seraya mengeratkan dekapannya pada Attar yang terdengar di telinga Edos. Sudah hampir satu tahun, tetapi trahuma itu masih tetap hadir.
Edos pun menghentikan langkahnya seraya menoleh ke belakang. Ia maju tiga langkah menghampiri Tania lalu meraih tangannya. "Sayang, jangan takut. Aku akan selalu di sisi kamu," ucapnya mencoba menenangkan.
Mereka kembali melangkah dengan berpegangan erat.
"Ih, lucunya. Siapa namanya, Tania?" ucap Niken yang berada di samping Bram mengusap gemas pipi Attar yang tengah tertidur pulas.
"Atar, Mbak Niken," sahut Tania.
__ADS_1
"Tidurin di kamar aja gih, Tan. Kamu pasti capek gendong terus. Ayo Mbak antar," ajak Niken.
Edos yang tertinggal dari Tania dan Niken pun menghampiri Bram yang berdiri di samping Haidar dan Zaida. Ia hendak menyalami laki-laki brengs*k itu hanya demi menghormati mertua dari laki-laki yang merupakan kakak tiri dari istrinya tersebut.
"Hai, Azhar. Apa kabar?" sapa Bram dengan tersenyum sinis.
"Alhamdulillah, seperti yang Mas Bram lihat," jawab Edos santai.
Bram menggamit lengan Edos, mengajaknya agar menjauh dari kedua mertuanya.
"Sudah sembuh total kamu? Padahal aku berharap sisa hidupmu akan kamu habiskan di atas kursi roda butut itu," ucap Bram setelah mereka berada di tempat yang sepi.
"Maksud kamu apa?" tanya Edos mulai terpancing emosinya.
"Yah, siapa tahu aja kamu akhirnya mau menerima nasib kamu menjadi pria lumpuh dan mandul, lalu dengan sukarela menyerahkan Tania untuk aku jadikan istri kedua," sahut Bram tanpa tedeng aling-aling sengaja memancing emosi lawan bicaranya.
"Brengsek kamu, Bram!" umpat Edos meraih kerah baju Bram, ia tidak lagi menyematkan panggilan 'Mas' pada adik sepupu tiri yang umurnya lebih tua darinya itu.
"Mau pukul? Ayo pukul! Nanti juga kamu yang akan rugi sendiri," tantang Bram. "Laki-laki lemah kayak kamu mana bisa melindungi istri yang cantik itu?" Ejeknya.
Satu tinjuan akhirnya bersarang juga di perut Bram yang rata, tetapi pria itu hanya tertawa. Berbeda sekali dengan Edos yang malah memegangi kepalanya dan mencari tempat bersandar.
"Hahaha ... dasar pria lemah, cem*n!" umpat Bram. Pria itu puas menikmati pemandangan di depannya, biar mati sekalian.
"Mas Bram! Edos!" Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita menginterupsi.
"Sayang?"
"Mas apa-apaan sih? Jahat banget jadi orang," sesal Niken mendekat ke arah Bram. Ia tidak habis pikir atas tindakan suaminya itu. Ia pikir Bram sudah bertaubat. Perilakunya selama ini sudah menunjukan bahwa ia adalah seorang pria yang alim. Ternyata masih sama seperti dulu.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu pikirkan, aku hanya ..." sangkal Bram.
"Diam kamu, Mas!" bentak Niken memotong kalimat Bram, ia yang kini sedang menelpon seseorang.
"Nggak sabaran amat sih, ini aku sudah di rumah papa kamu. Kamunya di mana?" cerosos Rifki langsung tanpa salam di sambungan telepon.
"Rif, kamu ke samping kanan rumah cepat! Edos berantem sama Mas Bram," timpal Niken.
"Apa!" Niken langsung memutus panggilannya. Rifki langsung mencari keberadaan mereka.
"Astaghfirullah Al'Adzim, kalian ini udah jadi bapak-bapak kayak anak kecil saja," ucap Rifki yang kini telah menemukan dua orang pria dan seorang wanita.
"Rifki, tolong kamu bawa Edos ke rumah sakit," pinta Niken.
"Baik, Bu Bos!"
Rifki merangkul tubuh Edos yang lemah, membimbingnya ke mobil milik Edos.
"Nanti gimana kalau Tania tanyain aku, Mas?" tanya Edos khawatir.
"Udah nggak usah khawatir, nanti aku yang akan bilang ke dia kalau aku yang ajak kamu buat kerjasama," sahut Rifki sambil menjalankan mobil. "Lagian aku heran, udah tahu ujung-ujungnya kayak gini, kenapa kamu masih melawan pria edan itu sih?" lanjutnya kesal mengetahui Edos berantem melawan atasannya di ARD's Corp yang punya otak tidak dipakai itu, hanya disampirkan di kepalanya saja. Padahal ia tahu kalau tidak bisa kelelahan sedikitpun.
.
.
.
__ADS_1
TBC