
"Maaf, Mas Fauzan. Adik saya ini sedang dalam masa Iddah. Jadi sebisa mungkin harus menghindari berdua dengan yang bukan mahram, apalagi dengan laki-laki yang baru dikenal," ungkap Rifki. Diingatkan sedang dalam masa Iddah membuat Tania sedih seketika. "Lagi pula Tania bawa mobil sendiri, Mas Fauzan bawa mobil sendiri juga 'kan?" pungkas Rifki bertanya yang hanya dijawab anggukan oleh Fauzan. Terlihat raut kekecewaan di wajahnya.
Tania melangkah keluar menuju ke halaman. Rifki memandang iba punggung gadis itu yang kini sedang menelpon seseorang. Sepertinya Rifki menyesal telah menolak permintaan Tania. Beberapa saat kemudian ia kembali ke dalam rumah.
"Tan, jadi minta anterin sama Mas Rifki enggak, ayo Mas anterin," tawar Rifki.
"Basi! Lagian Mas Rifki juga bukan mahram aku 'kan?" cibir Tania.
Ibu muda itu terus masuk ke dalam rumah dan keluar dengan menggendong Attar. Sementara Nina membuntutinya di belakang dengan menenteng baby bag. Mereka masuk ke dalam sebuah mobil. Tania duduk di samping kursi kemudi sementara Nina duduk di kursi belakang. Entah menunggu siapa mereka saat ini yang akan menjadi seorang sopir mobil. Rifki melihat pemandangan tersebut dengan batin penuh tanya.
"Kan ada Nina yang jadi orang ke tiga, Tan," tekan Rifki menebus rasa bersalahnya mengejar Tania.
"Tania udah nyuruh orang lain kok, Mas," ungkap Tania.
Amar dan Fauzan pun ikut berpamitan. Mereka masuk ke dalam sebuah mobil. Sekitar 15 menitan kemudian, sebuah motor ojek online berhenti di halaman. Ternyata ojek tersebut mengantar Karim yang tadi ditelepon oleh Tania. Dan Tania langsung memesankan ojek online menjemputnya.
"Maaf, Mbak Tania lama nunggunya ya?" tanya Karim saat ia sudah masuk dan duduk di kursi kemudi.
Tania menoleh lalu menjawab. "Enggak lama kok, Mas Karim."
"Kok pasang muka mendung gitu?" selidik Karim.
"Cuma lelah aja enggak tahu kenapa? Padahal Tania tadi enggak melakukan pekerjaan berat loh," sahut Tania mengingat kegiatannya seharian ini.
"O begitu, ini kita langsung pulang ke rumah atau mau mampir di mana, Mbak?" tawar Karim.
"Langsung pulang aja, Mas," sahut Tania.
"Siap, Bos! Jangan lupa kasih bintang lima ya," goda Karim.
"Ih, Mas Karim ketularan driver ojek online," cebik Tania menerbitkan senyum. "Tapi jangan pakai mobil Tania juga donk kalau mau ngobyek."
"Hahaha, kan cantik kalau senyum begitu," puji Karim.
"Mas Karim tak laporin Mbak Siti loh, godain cewek lain," ancam Nina dari kursi belakang.
"Hahaha, laporin aja, Nina. Biar enggak capek laporan sendiri," kekeh Karim.
Obrolan mereka diisi dengan candaan garing dari Karim. Hingga Karim menyadari ada yang mengikuti mobil mereka.
"Sepertinya ada mobil yang mengikuti kita deh, Mbak," ungkap Karim. "Mbak Tania coba lihat mobil warna silver metalik di belakang kita," pintanya.
Tania menoleh ke belakang. Ia tersenyum mengetahui siapa yang menguntit mobilnya saat ini, tetapi senyuman itu langsung ia ganti dengan mimik muka ketakutan demi mengerjai si Karim.
"Itu pasti orang jahat yang mau merampok kita, Mas. Mas Karim bisa bela diri kan? Tania takut," ungkap Tania.
"Tenang saja, Mbak Tania. Karim Nawawi ini pemegang sabuk kulit kok," Karim malah menyambut ketakutan Tania dengan candaan.
"Huh, Kok malah bercanda sih? kirain sabuk hitam," cibir Tania. Tania dan Nina jadi tertawa.
Sebenarnya tadi Karim rada-rada takut juga, tetapi karena posisi mereka sudah hampir sampai di rumah sang majikan, jadi ia mencoba membuang rasa takutnya.
Mobil yang mereka tumpangi pun sampai dan berhenti di halaman rumah Ardiansyah. Tania langsung keluar dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
"Kok tamunya tidak diajak masuk, Sayang?" todong Dewi ketika sang putri sudah sampai di dalam rumah.
__ADS_1
"Tamu?" tanya Tania bingung.
Sedangkan tadi sepertinya tidak ada tamu di depan rumah.
"Mama tadi lihat dari balkon ada mobil yang mengikuti mobil kamu, mobil itu berhenti sebentar lalu pergi lagi. Mana pikir itu teman kamu," ungkap Dewi.
Tania sekarang paham maksud mamanya. "Oh, mungkin kebetulan saja kali, Ma. Orang cari alamat barang kali," kilahnya. "Emang boleh terima tamu, Ma?" tanyanya lagi.
"Iya juga ya. Sini, Attar biar Mama yang mandiin. Kalian pasti capek," tawar Dewi.
"Ih Mamaku emang paling dabest. Mamaku paling pengertian sedunia," puji Tania dengan menyerahkan Attar kepada Dewi.
Tania naik ke lantai dua. Menuju ke kamarnya yang dulu saat awal-awal ia tinggal di rumah ini. Tania langsung menuju ke kamar mandi, ia ingin berendam air hangat untuk mengusir rasa lelahnya. Tidak tahu mengapa belakangan ini ia sangat mudah lelah, padahal tadi kegiatannya hanya membaca kitab Barzanji saja, tetapi rasanya seperti habis bekerja sebagai kuli panggul.
Tania berendam di dalam bathtub sambil memejamkan mata dan akhirnya ia pun tertidur. Ia terbangun saat suara azan Maghrib terdengar.
Tania keluar dari kamar mandi lalu melaksanakan tiga rakaat di kamarnya. Usai sholat ia membaca surah Yaasiin yang ia hadiahkan untuk sang suami. Ini sudah menjadi kebiasaannya sejak kepergian Edos. Usai membaca surah Yaasiin, ia melanjutkan tadarus surah lainnya hingga terdengar azan isya. Setelah sholat isya ia berbaring di ranjang sambil mengecek ponselnya.
Ternyata ada chat dari nomor tak dikenal di aplikasi hijau yang sudah diterimanya sejak tadi sebelum Maghrib.
[Assalamu'alaikum, Dek Tania.
Ini nomor Fauzan]
Tania langsung mengetik pesan balasan dan mengirimnya.
[Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh, Mas Fauzan. Tadi Mas Fauzan ngikutin Tania sampai depan rumah ya?]
Terlihat Fauzan sedang mengetik, lalu muncul balasan darinya.
[Iya, saya cuma mau memastikan kalau putri pemilik ARD's Corp selamat sampai di rumah tidak kurang suatu apapun.]
Fauzan sepertinya sedang mengetik pesan kembali. Lalu muncul notifikasi chat masuk.
[Saya kagum sama kamu, Tan. Ternyata di jaman modern dan di kota besar seperti ini masih ada anak muda yang pandai membaca kitab Al-Barzanji]
Tania mengetik balasan.
[Saya berasal dari kampung kok, Mas Fauzan. Kegiatan seperti itu di kampung saya sudah menjadi kegiatan rutin para pemuda.
Saya juga bukan anak pemilik ARD's Corp seperti yang anda kira]
Tania langsung menekan kirim. Langsung centang berwarna biru.
[Tidak apa-apa, saya hanya ingin berteman kok, Tania. Syukur kalau jodoh itu mah bonus. Hehe] Fauzan.
[Oh iya, tadi Mas Rifki bilang kamu tengah dalam masa Iddah. Kalau boleh tahu cerai atau meninggal?] Fauzan.
Lama Tania tidak membalasnya. Mungkin ia enggan membicarakan masalah pribadinya dengan orang lain yang baru dikenalnya. Mungkin juga karena sesak kini menghimpit dadanya.
[Jika kamu tidak berkenan menjawab, tidak usah dijawab ya, Tan. Maaf jika pertanyaan saya menyinggung perasaan kamu. Maaf juga sudah mengganggu waktumu (emoticon menangkupkan kedua tangan)
Selamat malam, selamat istirahat.
Wassalamu'alaikum] Fauzan.
__ADS_1
[Suami saya meninggal sebulan yang lalu, Mas. Selamat malam juga.
Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh]
Tania menyimpan ponselnya di atas nakas. Ia lalu keluar dari kamarnya.
"Attar mana, Ma?" tanya Tania saat bertemu sang mama yang sedang melayani suaminya di meja makan.
"Tadi sama Nina. Biar sama Nina aja Attarnya, kamu makan dulu gih," sahut Dewi.
"Tania minum teh saja, masih kenyang, Ma," tolak Tania.
"Kenyang? Kapan kamu makan? Tadi siang Erika bilang kamu hanya minum teh doang," sergah Dewi.
"Enggak tahu kenapa belakangan rasanya tubuh Tania mudah lelah, terus nggak nafsu makan, Ma," ungkap Tania.
"Atau jangan-jangan kamu hamil lagi," terka Dewi.
"Ah Mama ngaco! Enggak mungkin lah Ma kalau Tania hamil, Tania kan lagi ASI eksklusif, dokter bilang itu KB mandiri," elak Tania disertai argumen.
"Mendingan kamu periksa ke dokter gih. KB dengan ASI eksklusif itu tidak menjamin akan berhasil, Sayang. Itu enggak permanen," bujuk Dewi.
"Kuliah kamu gimana, Tan?" tanya Ardiansyah menyela dengan mengganti topik.
"Alhamdulillah, udah mulai jalan, Pa. Udah ngulang SKS yang tertinggal juga. Tugas-tugas Tania dibantu Nadia, Pa," sahut Tania.
"Bilang ke Nadia, pengen hadiah apa dari papa? Mau bulan madu ke Eropa, atau perhiasan yang mewah papa akan kabulkan," tawar Ardiansyah.
"Kalau Nadia minta hotel Papa, boleh?" todong Tania.
"Bolehlah, apapun yang dia minta papa kasih," ucap Ardiansyah serius.
"Enggak mungkin lah, Pa. Mertuanya kan tajir melintir. Nanti aku tanya Nanadnya aja ya, Pa," janji Tania.
"Besok sore atau siang ajak Nadia temui papa di kantor," perintah Ardiansyah.
"Baiklah, Pa. Tania jadi lapar sekarang," kekeh Tania.
"Makanlah, Tan. Siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini kalau kamu tidak makan," timpal Ardiansyah.
Tania membuka piring dan menuang nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.
"Pa, yang dikasih hadiah cuma Nadia aja? Nanti Prima cemburu lho," tanya Dewi mengingatkan.
"Yang menemani Tania dan membantu mengerjakan kuliah cuma Nadia kan, Tan? Kalau Prima mau ya enggak apa-apa dikasih juga, tetapi yang utama tanyakan kepada Nadia dulu. Kalau Nadia mau bulan madu ke Swiss masa Prima ikut juga. Ya enggak, Tan?" Ardi menjawab pertanyaan Dewi dengan uraian panjang yang meminta dukungan kepada Tania.
"Tania setuju sama papa, Ma," ucap Tania memberi dukungan.
"Sudah, makanlah. Nanti enggak enak kalau dingin. Kita lanjutkan ini besok siang," ucap Ardi.
Saat makan tidak ada lagi obrolan. Hanya suara denting sendok dengan piring yang mengalun merdu mengiringi kegiatan mereka.
Setelah makan malam Tania ke kamarnya yang ada di bawah untuk menyusui Attar sembari menidurkannya. Memang sudah ada baby sitter, tetapi ia mengerjakannya hanya saat dia sibuk dengan kegiatan di luar rumah atau ketika ia kelelahan. Saat ia senggang di rumah ia selalu mengasuhnya sendiri. Tania tidak ingin hubungan yang terjalin antara dirinya dan Attar renggang karena keegoisannya.
"Terima kasih, Nina. Kamu bisa istirahat sekarang," ucap Tania meraih Attar dari gendongan Nina saat sampai di dalam kamar.
__ADS_1
"Sama-sama, Mbak Tania. Nina permisi dulu," sahut Nina.
Nina pun keluar dari kamar. Tania menyusui sambil menggendong Attar. Biasanya ia menyusui Attar sambil berbaring, tetapi kali ini tidak karena ia baru selesai makan malam. Ia takut tubuhnya akan melar jika langsung tidur. Tania bersenandung dengan membaca sholawat sambil menggoyangkan tubuhnya agar Attar lekas tertidur. Ia teringat sholawat Thola'al Badru yang dilantunkan oleh Ustadz Amar dan Fauzan tadi siang. Sholawat tersebut kini menghiasi kamar Tania dan Attar. Bahkan bayangan Fauzan saat membacakan sholawat tersebut tadi siang kini hadir di kamar tersebut. Ih, Tatan kok malah Fauzan yang dibayangin! Harusnya saat membaca sholawat yang khusuk itu seperti bayangan Baginda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam hadir. Allahumma shalli wa sallim 'alaih.