
Saat Nadia tengah khusyuk melaksanakan sholat isya, sebuah mobil berjalan pelan memasuki pelataran rumah orang tua Nadia yang luas. Dari dalam mobil nampak keluar seorang laki-laki yang usianya sekitar 40 tahun yang memutari bagian depan mobil. Membukakan pintu untuk majikannya yang duduk di samping kursi kemudi.
"Ayo turun, Mas Rasya. Apa perlu saya bawakan tandu," ajak Supri diselingi candaan pada majikannya.
"Pak Supri ini ada-ada saja, saya masih kuat berjalan kok," sergah Rasya.
Pak Supri tertawa sambil melangkah, ia membuka pintu bagian belakang dan mengambil barang bawaan yang dibeli oleh Rasya untuk buah tangan. Mereka lalu melangkah beriringan meninggalkan mobil menuju rumah orang tua Nadia. Mamak dan Mimik Nadia sudah menunggu untuk menyambut kedatangan mereka di teras rumah.
"Assalamu'alaikum, Bapak, Ibu," ucap Rasya memberi salam kepada Mamak dan Mimik Nadia lalu mencium punggung tangan mereka secara bergantian.
"Wa'alaikumussalam, Pak Rasya. Selamat datang di gubuk kami, silakan masuk!" ucap Mamak menyambut kedatangan Rasya.
"Terima kasih, Pak. Tapi jangan panggil saya Pak juga donk. Sepertinya saya terlalu tua untuk dipanggil Pak oleh Bapak," tolak Rasya.
"Baiklah, Bapak panggil Mas Rasya saja bagaimana?" tanya Mamak. Sedangkan Mimik sudah ngacir ke dapur untuk mengambil teh hangat yang mungkin sudah dingin. Setelah menerima bingkisan yang diberikan oleh Pak Supri.
"Begitu juga lebih enak didengar," sahut Rasya menyetujui usulan Mamak.
"Kalau begitu panggil saya Mamak dan istri saya Mimik saja, biar lebih akrab. Seperti Nadia juga memanggil kami begitu," tutur Mamak.
"Baiklah, Mamak," sahut Rasya.
Mamak mempersilakan duduk kepada Rasya dan Pak Supri. Tidak lama kemudian Mimik kembali ke ruang tamu membawakan teh hangat serta martabak manis, lalu ikut duduk disamping Mamak.
"Ngomong-ngomong Nadianya di mana, Mamak, Mimik, kok belum kelihatan?" tanya Rasya.
"Tadi sedari bakda maghrib dia menunggu kedatangan Mas Rasya lho, sampai kita menunda untuk makan malam. Sekarang dia sedang sholat isya' di kamarnya," jawab Mimik.
"Wah, saya jadi tidak enak sudah membuat kalian menunggu lama. Maafkan saya, Mak, Mik," ucap Rasya sungkan.
"Tidak apa-apa, Mas Rasya. Yang penting kalian sampai dengan selamat tidak kurang suatu apapun. Kami tadi khawatir kalau terjadi sesuatu pada kalian sehingga baru sampai. Silakan diminum tehnya, Mas Rasya, Pak Supri," tutur Mamak.
"Mik, panggilkan Nadia. Mungkin sudah selesai shalat isya'nya," perintah Mamak.
"Sebentar, Mak," sahut Mimik.
Mimik bangkit dari duduknya melangkah menuju ke kamar Nadia.
Tok tok tok
"Nadia! Sudah selesai belum sholatnya?" seru Mimik.
"Sebentar, Mik!" sahut Nadia.
Derit
Nadia membuka pintu kamarnya. Dia muncul di ambang pintu.
"Sudah ditunggu Pak Rasya di depan," tutur Mimik yang dibalas anggukan oleh Nadia. "Mimik ke dapur dulu ya, memastikan meja makan," imbuhnya.
"Iya, Mik," sahut Nadia. Jantung Nadia kembali berdebar, tubuhnya terasa panas dingin.
Nadia menenangkan dirinya sebentar sebelum ia menyeret kakinya menuju ke ruang Tamu.
"Bismillahirrahmanirrahim,"
"Pak Rasya, Pak Supri," ucapnya sambil mengangguk dan menangkupkan kedua tangan, lalu duduk di samping Mamak.
"Bagaimana kabar kamu, Nad? Luka jahitan kamu sudah sembuh?" tanya Rasya.
"Alhamdulillah sudah sembuh, Pak," jawab Nadia sambil sesekali melongok ke luar.
"Kamu cari siapa, Nad?" tanya Rasya.
"Ehmm, Bapak ke sini cuma berdua? Tiara tidak ikut?" Nadia menjawab pertanyaan Pak Rasya dengan pertanyaan.
"Tiara dirawat di rumah sakit, Nad. Dia terkena typus." tutur Rasya.
"Subhanallah, anak sekecil itu sudah kena typus," pekik Nadia.
__ADS_1
"Dia tidak mau makan kalau tidak disuapi sama kamu, Nad. Makanya selama satu bulan ini perutnya jarang kemasukan makanan. Untuk itulah saya dan Pak Supri datang kemari. Saya meminta bantuan dari kamu, tolong rawat Tiara," tutur Rasya.
Nadia memegang tangan Mamak dengan tatapan mata memohon. "Apa boleh, Mak?" tanyanya. Mamak mengangguk. Ia kembali menghadap kepada Rasya.
"Raya akan menggaji kamu, Nadia. Dan kamu masih tetap boleh kuliah," tambah Rasya.
"Nadia kembali berfikir, "Iya saya mau, Pak," jawabnya.
Mimik muncul di ambang pintu ruang tengah. "Ayo, Nadia! Pak Rasya dan Pak Suprinya di ajak makan," ucap Mimik.
Nadia berdiri, "Mari Pak Rasya, Pak Supri. Ayo bangun, Mak!" katanya sambil menarik tangan Mamak untuk bangun. Mamak bangkit dan melangkah sambil merangkul pundak Nadia, mesra sekali sih Mamak sama putrinya. Sementara Rasya dan Pak Supri mengikuti di belakang mereka.
******
Tania dan Edos sedang berkemas menyiapkan apa yang harus dibawa untuk keperluan Tania dan Bayinya pasca operasi. Sebenarnya semuanya sudah dipersiapkan dengan rapi dan disimpan di sebuah tas besar jauh-jauh hari. Namun, sekarang lebih dipastikan agar nanti tidak bolak-balik mengambilnya jika tertinggal.
"Sudah siap semua kan, Sayang?" tanya Edos.
"Sepertinya sudah, Yank, tetapi kalau nanti ada yang kurang kan kamu bisa ambil lagi," sahut Tania.
"Iya, istirahat saja yuk, sudah lelah rasanya," ajak Edos yang duduk di pinggir ranjang. Tania mengikuti duduk di sampingnya.
"Kira-kira Mama Dewi sampai jam berapa ya, Yank? Ke sini langsung atau ke rumah Eyang?" tanya Tania.
"Kalau dari sana jam lima sore, paling tidak nanti jam sepuluh sampai. Pasti ke sini, tujuan Mama Dewi ke Pekalongan kan mau menemani kamu saat lahiran," jawab Edos.
"Berarti kan sebentar lagi sampai, Yank. Kita jangan tidur dulu ya, tunggu mereka sampai," pinta Tania.
Edos tidak menjawab, ia seperti ingin mengutarakan sesuatu. "Say, mulai besok kan kita puasa, apa malam ini aku enggak dikasih jatah nih?" tanyanya.
"Kalau mama tiba-tiba datang gimana?" tanya Nadia khawatir.
"Enggak usah dilepas bajunya, bagian itunya saja yang dilepas," sahut Edos.
Tania masih berfikir, badannya rasanya sudah lelah, tetapi mengingat minimal empat puluh hari atau bahkan bisa sampai dua bulan ke depan dia tidak bisa untuk melayani sang suami, maka ia merelakan tubuhnya digerayangi oleh Edos. Kasihan juga kan.
Edos mulai menggeser tubuhnya mendekati Tania, mengikis jarak di antara mereka.
"Mau apa?" tanya Tania menatap Edos.
"Cium," jawab Edos tersenyum.
Tania merangkul pinggang Edos, mendekatkan bibirnya ke bibir suaminya, dan.
Cup, kecupan singkat mendarat di bibir Edos.
"Bukan gitu," protes Edos.
Ia segera meraih tengkuk Tania dan ******* bibir merah yang selalu menggodanya tersebut. Tania membalas ciuman suaminya, ia memejamkan matanya. Ciuman mereka kini semakin panas dan liar. Lidah Edos mengekspor setiap ia inci rongga mulut Tania, lidah mereka kadang membelit satu sama lain. Posisi tubuh mereka kini telah berbaring di ranjang saling berhadapan. Tangan Edos mulai bergerak ke bawah ke bagian inti milik Tania yang sudah mulai basah. Mereka belum melepas kegiatan mereka yang masih bertukar saliva, tiba-tiba.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum*, Tania!" terdengar ketukan pintu dan suara orang memanggil dari luar.
Tania mendorong tubuh suaminya hingga ciuman mereka terlepas. "Tu kan, aku bilang apa?" ucapnya sambil tertawa.
"Gagal maning dech," rutuk Edos.
"Tania! Ini Mama dan Papa datang, Sayang!" suara itu kembali memanggil.
"Iya, Ma. Sebentar," seru Tania.
Tania segera bangkit dan merapikan rambutnya yang acak-acakan. Setelah itu ia langsung keluar kamar membukakan pintu untuk mama dan papanya. Tania memeluk sang Mama dan mencium punggung tangan papanya.
"Sudah tidur, Nak?" tanya Ardi saat pintu telah terbuka.
"Belum, Pa. Baru selesai mengemas barang-barang yang mau dibawa besok pagi," jawab Tania. "Silakan masuk, Pa, Ma!" ajak Tania mempersilakan kedua orang tuanya masuk.
"Pa, Ma," sapa Edos yang muncul di belakang punggung Tania lalu mencium punggung tangan mereka. Edos membantu membawakan barang-barang yang mereka bawa masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Tania mengantarkan mama dan papanya langsung ke kamar. "Maaf, Ma, Pa. Kamarnya sempit. Ini biasa ditempati Sisi kalau menginap di sini," tuturnya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting muat untuk papa dan mama," sahut Dewi.
"Tania buatkan teh hangat dulu ya, Ma. Papa dan Mama silakan istirahat," pamit Tania.
"Jangan pakai gula ya, Sayang!" seru Dewi.
"Iya, Ma," sahut Tania.
Di ruang tamu, Edos sedang berbincang dengan Pak Joko sang supir.
"Pak Joko mau teh manis atau tawar?" tawar Tania.
"Manis, Non," jawab Joko.
********
Bram dan Niken juga telah tiba di Jakarta. Dari Bandara Sukarno Hatta mereka menaiki taksi online.
"Kita pulang ke apartemen Mas saja ya, Sayang. Biar lebih dekat dengan kantor," cetus Bram.
"Terserah Mas Bram saja, yang penting Niken pingin cepat rebahan di kasur," sahut Niken.
"Ya sudah tidur saja, nanti kalau sudah sampai Mas bangunin," suruh Bram.
40 menit perjalanan mereka sampailah taksi di depan apartemen. Bram bingung karena Niken tidur nyenyak sekali. Mau dibangunin kasihan. Bram mengeluarkan barang-barang bawaannya terlebih dahulu. Setelah itu baru iya menggendong Niken ala bridal style dan meninggalkan barang-barang tersebut teronggok begitu saja.
Saat melewati pos satpam, Bram meminta kepada Pak Satpam untuk mengambil berang-barangnya dan membawakannya sampai ke unit apartemennya. Bram langsung ke unit apartemennya, membuka akses pintu dengan susah payah. Ia langsung menuju ke kamar dan merebahkan Niken di kasur springbed, kemudian melepas kerudung yang menutupi kepala istrinya. Ia langsung keluar lagi, dan mendapati barang-barangnya sudah berada di ruang tamu.
"Sudah semuanya, Pak?" tanya Bram pada Pak Satpam.
"Sepertinya sudah, Mas Bram. Sudah tidak ada yang tertinggal di bawah. Silakan diperiksa," jawab Pak Satpam masih berdiri.
Bram memeriksa barang tersebut, dan mengambil sebuah keranjang berisi peuyeum. "Sudah semuanya, terima kasih, Pak. Ini buat Bapak," ucap Bram menyerahkan keranjang peuyeum kepada Pak Satpam.
"Wah, sama-sama, Mas. Jadi Mas Bram lama tidak kelihatan tinggal di Bandung?" tanya Pak Satpam.
"Iya, Pak. Istri saya tinggal di sana," jawab Bram.
"Oo, kalau begitu saya pamit, Mas. Silakan beristirahat," ujar Pak Satpam.
Setelah Pak Satpam keluar, Bram segera menutup pintu. Ia kembali masuk ke dalam kamar dan langsung ke kamar mandi. Ia ingin segera mandi air hangat, tubuhnya terasa lengket.
Selesai melakukan ritual mandinya, Bram mengganti pakaiannya dengan setelan piyama. Ia merebahkan tubuhnya miring menghadap Niken, menatap lama wajah istrinya. Membelai lembut rambut Niken dan menciumi wajahnya.
"Pulas banget tidurnya, Sayang. Capek banget ya," gumam Bram.
Bram bangkit lagi, menyeret kakinya menuju ke pantry. Ia mengambil baskom lalu kembali ke kamar mandi, mengisinya dengan air hangat dan washlap. Bram kembali menghampiri ranjang dan meletakkan baskom berisi air hangat tersebut di samping ranjang. Kemudian bangkit lagi, keluar dari kamar untuk mengambil koper yang berisi pakaian Niken. Bram mengambil handuk dan baju ganti untuk Niken. Ia meletakkan baju dan handuk Niken di sudut ranjang.
Dengan telaten Bram membersihkan wajah Niken dengan washlap dan air hangat. Selesai membersihkan bagian wajah, Bram mulai membuka pakaian yang melekat di tubuh Niken untuk membersihkan tubuhnya juga. Hingga untuk membersihkan tubuh bagian belakang Niken ia harus memiringkan tubuh istrinya tersebut. Hingga Bram selesai memakaikan baju untuk Niken, tetapi nyonya CEO ARD's Corp tersebut tak terusik sedikitpun.
Bram menyingkirkan baju kotor dan baskom ke kamar mandi, lalu ia segera bergabung dengan Niken untuk tidur karena ia juga sudah merasa lelah dan mengantuk.
.
.
.
TBC
Tararengkiuuh 😘😘😘
Saya selaku author Menikah dengan Sepupu mengucapkan selamat hari raya idul Fitri mohon maaf lahir & bathin.
Setelah Tania melahirkan, cerita ini akan saya tamatkan. Kita akan ketemu di sesion 2 "2x menikah dengan sepupu" nanti setelah cerita "Titian Cinta Nadia," end juga. Ini scuel dari Menikah dengan Sepupu tetapi lebih fokus ke Nadia dan Rasya.
__ADS_1