
Pagi ini Tania sudah bersiap-siap untuk pergi. Ia mengajak serta Neni untuk menjaga Atar selama mereka bepergian. Sesuai dengan janjinya Tania hari ini akan pergi ke rumah Erika yang baru melahirkan putra pertamanya bersama Niken.
Pukul sembilan pagi perempuan yang saat ini mengenakan bawahan rok plisket dipadukan dengan blus oversize dengan kerudung segiempat berwarna senada dengan warna blusnya itu membawa mobilnya menuju kediaman orang tua Niken. Sampai di rumah Haidar, Tania dipersilahkan masuk oleh pelayan di rumah itu. Tania dan Nani yang menggendong Atar duduk di ruang tamu menunggu Niken siap untuk pergi dengannya. Dari ruang tengah Niken dan suaminya muncul. Niken memakai gamis berbahan rayon twill agar nyaman dan menyerap keringat saat melakukan kegiatan ke luar rumah, dipadukan dengan kerudung berbahan voal ultrafine berwarna senada dengan dress yang dipakainya.
"Tania, sudah lama?" sapa Bram.
"Baru saja kok, Mas Bram," sahut Tania agak rikuh teringat peristiwa yang pernah mereka alami.
Bram menghampiri Atar yang saat ini dipangku oleh Nina, memandangnya gemas. "Siapa namanya, Tan?" tanyanya.
"Namanya Atar, Mas. Muhammad Akhtar Firdaus," jawab Tania.
Suasana menjadi canggung. Ia masih memandangi bayi mungil itu sambil mencolek pipinya. Atar masih anteng terlelap di pangkuan Nina. Entah apa yang ada di dalam pikiran Bram saat ini. Atar memang mirip dengan almarhum Edos. Tidak ada sesuatu pun di wajah bayi mungil itu yang mirip dengan Bram, berarti anak itu memang anaknya Edos. Tanpa Bram berniat untuk melakukan tes DNA.
"Eh, Tan udah sarapan pagi belum?" tanya Niken mengusir kecanggungan yang terjadi. Wanita dengan perut buncit itu sepertinya tahu jika hubungan kakak beradik tiri itu tidak baik-baik saja. Rasanya canggung.
"Udah kok, Mbak. Tadi gantian sama Nina. Iya kan, Nin?" sahut Tania meminta dukungan kepada Nina.
Nina tersenyum dan mengangguk. "Iya, Mbak," sahutnya.
"Ya udah, ayo kita langsung berangkat saja. Mas Bram beneran enggak mau ikut bareng kita?" ajak Niken lalu beralih kepada suaminya.
"Kamu ikut mobilnya Tania kan, Sayang? Mas ada pekerjaan sedikit yang harus segera dirampungkan," Bram balik bertanya saat menyahut pertanyaan Niken.
"Iya, Mas. Mobilnya masih muat untuk membawa stroller kan, Tan?" Niken beralih kepada Tania.
"Di bagasi udah ada strollernya Attar, Mbak," sahut Tania. Tania memang membawa stroller milik Attar yang ia simpan di bagasi belakang. Buat jaga-jaga barangkali saat di sana nanti membutuhkan.
"Gini aja, nanti strollernya Mas susulin ke sana deh," timpal Bram.
"Beneran lho, Mas," Niken memastikan.
"Iya, atau kalo enggak nanti Rifki Mas suruh milih sendiri di baby shop, Mas yang bayar. Yang kamu beli buat calon anak kita gimana?" Bram memberikan penawaran.
"Ya udah, Niken berangkat dulu ya, Mas," ucap Niken lalu mencium punggung tangan Bram.
Niken duduk di kursi depan samping kemudi dan Nadia yang memegang setir. Sementara di kursi penumpang duduk Nina, Attar ia letakkan di box keranjang bayi.
"Mbak Niken mau ngomong apa sama Tania?" Tagih Tania saat mobil berada di perjalanan.
"Nanti saja kalau kita sudah sampai di rumah Erika," Niken masih menangguhkan sesuatu yang akan ia sampaikan kepada Tania.
"Ah, Mbak Niken enggak asyik," cibir Tania.
"Sabar ya! Kamu fokus nyetir aja, Tan," suruh Niken.
Tania kembali fokus menyetir. Ia menahan rasa keingintahuannya hingga nanti sampai di rumah orang tua Erika. Sabar, sebentar lagi, Tan.
"Tania!" panggil sebuah suara yang sepertinya Tania kenal saat ia menghentikan mobil lalu turun dari dalam mobilnya.
Tania menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri posisinya. "Ibu? Ibu di sini juga?"
Tania mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Iya, kebetulan hari ini acara aqiqah putrinya Rifki," sahut Bu Retno. Ya, wanita paruh baya itu adalah Bu Retno, ibunya Rifki yang sudah Tania anggap seperti ibunya sendiri. "Kamu enggak ajak Attar ke sini?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Ada kok, Bu. Itu sama Nina," sahut Tania dengan gestur menunjuk ke arah Nina yang baru keluar dari dalam mobil sambil menggendong Attar.
Niken juga keluar dari dalam mobil dan menghampiri Bu Retno. "Assalamu'alaikum, Bu," sapanya kemudian mencium punggung tangan Bu Retno juga.
"Wa'alaikumussalam, Niken. Wah, udah mau lahiran ya?" tanya Bu Retno sembari mengelus lembut perut Niken.
"Masih satu setengah bulan lagi, Bu," sahut Niken dengan wajah berhiaskan senyum.
"Ayo, masuk, Tania, Niken dan Nina," ajak Bu Retno sok jadi tuan rumah.
Sampai di dalam rumah mereka disambut oleh ayah baru, Rifki. "Tan, Nina sama Atar biar istirahat di sini. Kamu sama Niken ikut Mas," titah Rifki saat mereka sudah sampai di ruang tamu yang lantainya sudah ditutup karpet.
"Biar kami istirahat dulu lah, Rif. Capek tahu! Aku juga mau lihat keponakanku lebih dulu lah," pinta Niken yang langsung duduk di atas karpet. Perutnya yang sudah sangat besar memang membuatnya mudah sekali lelah.
"Ya udah kalian duduk dulu. Biar aku panggil rewang untuk mengambilkan minum," pungkas Rifki.
Pria itu lalu meninggalkan tamunya menuju ke dapur. Tidak lama kemudian ia kembali lagi duduk bergabung dengan Tania dan Niken.
"Kenapa enggak cerita sekarang di sini saja sih, Mas?" tanya Tania dengan setumpuk rasa penasarannya.
"Di sini banyak orang, Tan. Apalagi sebentar-sebentar ada tamu," ucap Rifki.
Seorang perempuan membawa nampan berisi minuman dan cemilan, lalu meletakkannya di hadapan mereka. Setelah meminum teh hangat dan menikmati sedikit cemilan, Niken bangkit dan mengajak Tania ke tempat yang ditunjuk oleh Rifki, teras samping rumah.
"Nina, ayo ajak Attar istirahat di kamar," ajak Rifki kepada Nina. Nina pun bangkit menggendong Attar mengikuti Rifki.
Niken dan Tania duduk di kursi yang disediakan di teras tersebut. Sementara Rifki memanggil Erika yang ada di kamarnya menjaga bayinya. Tak lama berselang Rifki muncul bersama Erika dan duduk di kursi yang lainnya.
"Kok aku merasa kalian seperti mau mendakwa ku sih?" cicit Tania berlebihan.
"Habis kalian mainnya keroyokan. Tahu gini sih aku ajak Pipim sama Nanad deh," ucap Tania lagi.
"Apaan sih kamu, Tan? Siapa yang mau ngeroyok kamu coba?" sergah Erika. Tania hanya nyengir kuda tidak bisa menerka apa yang akan mereka sampaikan.
"Jadi siapa nih sebenarnya yang mau cerita," todong Tania tidak sabaran.
"Noh," ucap Niken dengan gestur menunjuk ke arah Rifki.
Rifki tampak mengambil napas dalam-dalam sebelum memulai ceritanya.
"Ini tentang kepulangan Edos saat acara do'a selamatan empat bulanan kehamilan kamu, Tan," ucap Rifki membuka ceritanya. Tania hanya mendengarkan saja, tetapi mimik mukanya berubah seketika setelah mendengar nama Edos disebut.
"Sebenarnya Edos sudah sampai di Indonesia satu bulan sebelum kepulangannya saat itu," ungkap Rifki.
"Apa, Mas?" Tania melebarkan matanya.
"Dia ikut orang tuanya pulang ke Batang, lalu ke Jakarta di antar oleh Doni. Namun, saat sampai di Jakarta dia kehilangan kesadaran. Doni yang saat itu panik menghubungi Mas Rifki. Kami kami membawanya ke rumah sakit."
Tania sudah tidak sanggup untuk menopang bobot tubuhnya, ia menyandarkannya di pundak Niken. Air matanya sudah tidak dapat ditahan lagi.
"Kenapa kalian tidak menghubungiku?" Tania menyela.
"Dengerin Rifki selesai cerita dulu, Tan," pinta Niken sembari mengelus lengan Tania.
***
__ADS_1
Rifki dan Doni sedang menunggu di depan UGD.
"Apa Tania tahu tentang kepulangan Edos, Don?" tanya Rifki kepada pemuda di sampingnya.
"Sepertinya belum, Mas. Edos bilang mau kasih kejutan untuk Tania, Mas," sahut Rifki.
Pintu ruang UGD dibuka dari dalam. Seorang pria yang tengah memakai atribut dokter muncul dari pintu tersebut.
"Keluarganya Mas Azhar Firdaus?" ucap dokter.
"Kami keluarganya dok," sahut Rifki yang berdiri menghampiri.
"Mari bicara di ruangan saya," ajak sang dokter.
Rifki dan Doni mengangguk lalu mengikuti kemana langkah dokter itu berjalan. Dokter itu masuk ke sebuah ruangan. Rifki dan Doni pun ikut masuk.
"Silakan duduk!" ucap dokter mempersilakan. Sementara dirinya duduk
"Terimakasih, dok," sahut Rifki dan Doni hampir bersamaan. Mereka pun duduk berhadapan dengan si dokter.
"Begini, Bapak-bapak. Setelah kami melakukan observasi, kami menemukan adanya kebocoran carian di otak saudara Azhar ini," ungkap dokter Aditia.
"Astaghfirullah," ucap Rifki dan Doni bersamaan.
"Lalu apa tindakan yang harus dilakukan, dok?" tanya Rifki menginterupsi.
"Operasi adalah jalan satu-satunya untuk mengatasi hal ini. Namun, operasi ini tidak bisa menyembuhkan. Operasi ini hanya untuk menanam saluran yang dihubungkan ke saluran pembuangan," tutur dokter.
"Silakan lakukan yang terbaik, Dok," ucap Rifki.
"Baiklah, kami akan melakukan persiapan operasi. Kalian silakan ke bagian administrasi untuk mengurus biaya dan menandatangani persetujuan operasi," ucap dokter.
"Baiklah, dok. Kami permisi," ucap Rifki undur diri.
Mereka keluar dari ruangan dokter menuju ke bagian administrasi.
"Astaghfirullah, operasi lagi kamu Edos," Doni bermonolog.
"Don, kalau kita tidak kasih tahu keluarganya lalu kita akan dapatkan biaya untuk operasi dari mana?" tanya Rifki.
"Kita temui Edos dulu, Mas. Barangkali dia sudah sadar," usul Doni.
Mereka pun kembali ke ruang UGD. Dan memang benar Edos sudah sadar.
"Mas Rifki, Doni, kenapa aku dibawa ke sini?" tanya Edos yang masih terlihat pucat dan kesakitan.
Mendengar pertanyaan dari Edos, Rifki dan Doni hanya mendengus kesal.
"Kamu pingsan Edos, aku khawatir sama keadaan kamu makanya aku telepon Mas Rifki. Dia yang memintaku untuk membawamu ke sini," tutur Doni menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Aku mau pulang ke rumah Tante Dewi, Don. Aku ingin ketemu sama Tania. Kasihan dia, sudah cukup lama kami berpisah," seru Edos yang berusaha turun dari brangkar dan melepas selang infus, tetapi dengan sigap Doni menahannya.
"Edos, nurut bisa tidak sih? Atau kamu mau tidak bisa lagi bertemu dengan Tania selamanya?" sergah Rifki yang seketika membuat Edos terdiam.
Doni membantu Edos kembali naik ke atas bed. Edos duduk berselonjor kaki, pandangan matanya kini kosong dengan raut muka datar.
__ADS_1
"Maaf!" ucap Rifki kemudian menyesal atas apa yang telah ia ucapkan.