
Saat ini Fauzan berada di sebuah taman dengan padang rumput nan luas dan hijau dengan pepohonan rindang. Pemuda itu berjalan menyusuri jalan setapak. Di kejauhan di bagian taman yang lain ia melihat sebuah keluarga sedang bermain di sana. Ayah, ibu, dengan kedua anak mereka laki-laki dan perempuan. Fauzan berjalan mendekati keluarga tersebut. Mereka berpakaian serba putih. Mereka bermain dengan asyik tanpa menyadari kedatangan Fauzan di dekat mereka. Samar-samar terlihat dari kejauhan sesosok pria tampan berpakaian serba putih juga datang mendekat.
"Azhar, sudah cukup main-mainnya. Sekarang sudah waktunya kamu pulang ikut ayah," ucap pria baru datang itu.
"Ayah, tapi siapa nanti yang akan membantuku mengasuh kedua anak ini?" rajuk si perempuan.
Pria yang datang itu tidak menjawab, hanya menatap ke arah Fauzan.
"Sayang, Mas Fauzan sudah datang. Dia yang akan membantu kamu menjaga kedua anak kita. Aku pamit ya. Ayah sudah menjemput. Sudah cukup waktu yang dulu ayah berikan untukku menemanimu," pamit si pria yang masih menggenggam tangan si wanita.
Si pria mengecup kening si wanita hingga 10 detik, lalu perlahan melepaskan genggaman tangannya dari si wanita. Pria itu menjauh mendekati pria yang menjemput.
Si wanita menangis tergugu, tetapi dua pria itu tidak menghiraukannya. Bahkan semakin menjauh. Fauzan mendekat. Ia kaget ketika melihat wajah wanita yang menangis itu. Dua anaknya memeluk ibunya dan ikut menangis.
"Tania?" panggilnya. Namun, yang dipanggil tidak menyahut. Perempuan itu masih tetap menangis.
Fauzan semakin kebingungan. Mau memeluk perempuan rapuh itu untuk memberi kekuatan, terapi dia bukan mahram. Akhirnya jalan yang ia pilih adalah mendekati anak gadis kecil itu.
"Cantik, mau sama ayah?" tanya Fauzan. Gadis kecil itu mengangguk.
Fauzan menggendong gadis kecil berusia yang mungkin tiga tahunan itu. Sementara anak laki-laki mungkin satu tahun lebih tua dari si cantik.
"Tania, ayo kita pulang. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan," ajak Fauzan.
Fauzan memperhatikan lingkungan sekitar. Cuaca cepat sekali berubah. Tadi cuaca begitu cerah, tetapi udaranya terasa sejuk. Namun, sekarang berubah 180 derajat. Tania masih bergeming.
"Ayolah, Tania. Mas tidak sanggup menggendong tiga orang sekaligus," ajak Fauzan sekali lagi.
Tatapan mata Tania menghunus ke arah Fauzan, tetapi akhirnya ia bergerak juga. Tania menggendong anak laki-lakinya. Lalu mereka berdua berjalan beriringan bak sebuah keluarga bahagia. Menyusuri jalan yang masih panjang entah kapan sampainya.
Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan datang mengguyur. Mereka bernaung di bawah pohon rindang yang bisa mereka jangkau. Namun tiba-tiba petir datang menyambar pohon tersebut.
"Aaaa," teriak Tania karena kaget. "Mas, kita cari gubuk saja jangan dekat pohon!" seru Tania panik.
"Itu ada gubuk. Ayo kita lari ke gubuk itu, tapi lari ya," ajak Fauzan dengan tersenyum. "Dalam hitungan ke tiga, satu ..."
"Dua."
"Ti --."
Belum sempat Fauzan menyelesaikan ucapannya, Tania sudah berlari lebih dulu.
"Wah, ayah kalah start nih, Cantik," keluh Fauzan.
"He he he ... Ayah nggak bisa lari ya?" cibir gadis kecil itu.
__ADS_1
"Iya, enggak tahu kenapa ayah kok sekarang tidak bisa lari ya. Padahal dulu waktu sekolah itu ayah jago lari sprint loh," jawab Fauzan penuh mengeluh.
"Semangat, Ayah! Ayo kejar Bunda," Gadis kecil itu menyemangati. Kemudian menarik tengkuk Fauzan memberi kecupan sebagai mood booster di kening Fauzan.
Fauzan pun kini semangat berlari ke arah gubuk mengejar Tania.
"Maafkan Ayah ya, Cantik. Kamu jadi kehujanan. Pasti kamu kedinginan," ucapnya," ucap Fauzan di tengah ia dalam keadaan berlari membuatnya ngos-ngosan. Namun, tiba-tiba ...
"Aaagrh..." Brug!
Fauzan terpeleset di jalan yang licin dalam keadaan telentang tengah memeluk si cantik.
"Zan, Fauzah! Ibu bangunin dari tadi. Bangun ih! Ini sudah jam delapan. Kamu enggak berangkat kerja?" cerocos sang ibu membangunkan anak sulungnya.
"Ibu!" Fauzan kaget mendapati dirinya tengah berada di atas karpet sambil memeluk guling di dalam kamarnya.
Pemuda itu bangkit dan meletakkan guling ke atas kasur.
"Kamu ini kebiasaan kalau habis subuhan tidur lagi. Sudah ibu bilangin kalau habis subuhan itu jangan tidur, nanti rejeki kamu dipatok ayam, Le," omel sang ibu.
"Ah itu cuma mitos, Bu. Rejeki, jodoh, lahir, mati, itu sudah tertulis di kitab lauhul Mahfudz," sangkal Fauzan sembari menghambur ke kamar mandi.
"Zan, Zan. Selalu begitu kalau dikasih tahu, ada saja bisa menyangkal," gerutu Bu Badriyah.
Bu Badriyah membuka lemari dan menyiapkan pakaian ganti untuk Fauzan. Fauzan memang tidak mengenakan pakaian formal saat bekerja, tetapi dia selalu tampil rapi. Dia seringnya memakai celana jeans pipa straight atau celana bahan dengan perpaduan atasan hem atau kaos kerah. Bu Badriyah juga menyiapkan baju dalaman untuk putra sulungnya.
Kali ini Bu Badriyah menyiapkan hidangan sederhana. Tumis pakcoy, sambal terasi dan ikan pakang tawar goreng kering seperti kerupuk. Fauzan dengan antusias menikmati hidangan tersebut.
"Bu, Ozan pamit berangkat ya, assalamu'alaikum," ucapnya pada sang ibu dan tak lupa mencium punggung tangannya.
Saat di perjalanan ia teringat Tania dan menghubungkannya dengan mimpinya.
"Apa Tania hamil lagi? Padahal bayinya baru mau empat bulan. Kasihan sekali kalau sampai wanita itu hamil lagi. Tapi mimpi itu seperti nyata. Ayahnya Tania seperti menaruh harapan besar terhadapku untuk menjadi Tania dan kedua anaknya. Entahlah," Fauzan berbicara pada dirinya sendiri tentang mimpi yang dialaminya.
"Tapi mimpi itu ku alami saat tidur setelah sholat subuh. Dulu ayah bilang mimpi yang mengandung firasat itu adalah mimpi sesaat sebelum bangun untuk shalat subuh," gumam Fauzan lagi.
Saat telah sampai di toko dan duduk di kursi kerjanya, Fauzan membaca pesan dari Tania di aplikasi hijau.
[Assalamu'alaikum, Mas Fauzan. Nanti malam di rumah ada acara do'a bersama peringatan 100 hari meninggalnya almarhum suamiku M. Azhar Firdaus bin Burhanudin. Jika Mas Fauzan ada waktu luang, datangnya. (emoticon menangkupkan kedua tangan)] Tania.
Fauzan langsung membalasnya.
[In sya Allah Mas banyak waktu luang, mudah-mudahan tidak ada halangan untuk datang. (emoticon tersenyum)]
Fauzan lalu menghubungi Amar untuk mengajaknya datang untuk menemaninya ke acara tersebut supaya ia ada teman untuk mengobrol. Kalau datang sendirian ia takut di sana tidak ada orang yang ia kenal.
__ADS_1
Sementara di kampus, Tania juga membagikan undangan kepada para dosen yang mengenal papa Ardi.
"Fauzan diundang juga, Tan?" tanya Amar saat ia membaca undangan yang diberikan oleh Tania di ruang dosen.
"Iya, Pak pakai undangan khusus, chat Wa," kekeh Tania.
"Dikasih yang legal juga donk, Tan. Biar kuat kalau dia memang diundang," usul Amar.
"Oke, Tania titip sama Pak Amar ya," jawab Tania.
Ia kemudian membuka tas punggungnya, mengambil satu lembar kertas undangan dan memberikannya kepada ustadz Amar.
"Kamu tulis namanya sekalian donk, Tan," pinta Amar saat mau menerima kertas yang diberikan oleh Tania tidak jadi karena belum ditulis nama penerima.
"Saya tidak tahu nama lengkapnya siapa, Pak," kilah Tania.
"Tulis saja M. Fauzan Mubarak," Ustadz Amar mengeja nama sahabatnya. Tania menuliskan nama tersebut di kertas.
"Terima kasih, Pak Amar," ucapnya menyerahkan kembali undangan tersebut kepada ustadz Amar.
"Kembali kasih, Tania," jawab Tania.
Tania keluar dari ruang dosen dan kembali menuju ke kelas. Ia pamit kepada Nadia kalau dia akan pulang awal. Sampai di rumah ia mendapati mamanya sedang melakukan video call dengan saudara-saudaranya di Batang.
"Dewi sekeluarga enggak ke situ, Kang. Kita mengadakan acara do'a bersama sendiri di Jakarta nanti malam," ucap Dewi kepada juragan Burhan.
"Tania juga enggak ke sini, Wi?" tanya Nurlita.
"Bulan depan ke sananya saat pembacaan surat wasiat katanya," sahut Dewi. "Lagipula kasihan Attar kalau harus bolak-balik ke sana. Tania kan harus kuliah tidak cuti terus," lanjutnya.
"Tidak apa-apa, Wi. Yang penting kita tidak putus menghadiahkan do'a-do'a untuk Azhar," ucap Burhan.
"Iya, Kang. Semoga dilapangkan kuburnya serta diampuni dosanya. Oh iya, itu Tania sudah pulang. Tan sini sayang bicara sama Papa mamanya Edos," ucap Dewi mengajak Tania mendekat.
Tania mendekat, belum mendekat terapi pipi Tania sudah basah banjir air mata. "Tania enggak sanggup, Ma," ucapnya sembari lari menuju ke kamarnya.
"Maafkan Tania, Pa, Ma. Karena Tania, kalian jadi kehilangan anak kesayangan kalian," lirih Tania masuk ke dalam kamar.
Tania melempar tas gendongnya ke sofa, lalu ia menyusul duduk di sofa tersebut dan menangis pilu.
"Sayang," panggil Dewi yang ternyata menyusul putri sulungnya ke dalam kamar. "Jangan nyalahin diri sendiri," pintanya.
"Mereka juga pasti nyalahin Tania 'kan, Ma?" sergah Tania. "Gara-gara nikah sama Tania Edos jadi kecelakaan, kakinya lumpuh dan terjadi kebocoran cairan di otak itu. Coba dulu dia jadi pergi ke Jepang nyusul kak Bizar, pasti kecelakaan itu enggak akan terjadi dan sekarang pasti Edos masih sehat-sehat saja," rutuknya.
"Istighfar, Nak. Kematian itu kuasa Allah. Sesehat apapun manusia kalau sudah ditakdirkan meninggal pasti ia tidak bisa melawannya. Kematian Edos itu sudah menjadi kehendak-Nya, bukan karena siapa-siapa yang menyebabkannya. Bukan juga dibunuh," Dewi turut larut dalam tangis Tania, ia mencoba untuk meluruskan argumen putrinya yang menyalahkan diri sendiri.
__ADS_1
"Edos itu meninggal karena kebocoran cairan yang terjadi akibat kecelakaan waktu itu, Ma dan itu terjadi saat ia menikah dengan Tania dan melarikan ke kota ini. Kematiannya memang takdir Allah, tetapi penyebab ia meninggal tetap saja Tania ikut andil di dalamnya," Tania tetap saja menyalahkan diri sendiri.
"Terserah kamulah, sayang. Namun, apa penyesalan kamu ini bisa menyebabkan Edos hidup kembali? Enggak kan? Sekarang Mana cuma minta kamu enggak usah lagi menyalahkan diri sendiri lagi. Nanti malam acara do'a bersama diadakan. Mama minta kamu jangan terpuruk seperti ini lagi," ucap Dewi.