
Rinai hujan menemani senja, kian malam kian kental derasnya. Tak dapat ditolak jika banjir melanda di kota, yang penghuninya tidak tahu tempat sampah yang sebenarnya.
Saat Tania tengah membersihkan buah apel, tiba-tiba ada tangan yang melingkar menutupi kedua matanya dari belakang.
Aku seperti mengenal tangan ini, begitu familier. Aromanya tubuhnya juga khas, batin Tania.
Tania melepas kedua tangan kekar tersebut, ia memiringkan kepalanya, tubuhnya mencondong menengok ke belakang. Bertapa terkejutnya Tania saat itu. Ia mendapati wajah tersenyum manis menampakkan barisan gigi putihnya, sosok seseorang yang selama ini dirindukannya mengenakan baju Koko berwarna putih.
Tania ia membalikkan badannya sesaat ia diam tak bergeming, tercengang, antara perasaan terkejut, tidak percaya, bahagia, rindu, dan haru campur aduk menjadi satu.
Tania memeluk sosok tersebut dengan erat, menyandarkan kepalanya pada dada bidang miliknya tanpa memperdulikan tangannya masih basah oleh air, dan ada sesuatu di dalam perutnya yang terhimpit oleh mereka. Ia hanya ingin menumpahkan kerinduannya. Air matanya meleleh membentuk anak sungai.
Edos pun membalas pelukan Tania, menciumi puncak kepala istrinya tersebut berkali-kali, menumpahkan rasa kerinduan yang terasa sesak dan menggunung.
Lama mereka terdiam dalam pelukan, hanyut dalam keharuan. Rasanya hati ingin mengungkapkan banyak hal, tetapi bibir tak mampu berucap sepatah kata sama sekali. Lidah mereka begitu Kelu, terhalang cinta dan kerinduan yang masih menyesakkan dada.
Sesaat Edos mengurai pelukannya, tangannya menangkup wajah Tania, menyeka tetesan air yang membekas di sana dengan ciumannya yang bertubi-tubi.
"Kenapa kamu malah menangis, Sayang. Ini aku, suamimu," ungkap Edos yang menjelaskan dirinya melihat wajah Tania yang tak dapat diartikan.
"Kenapa lama sekali? hiks hiks hiks..," cerca Tania lirih.
"Maaf, aku akan menebus semuanya. Lihatlah, aku sudah bisa berdiri tanpa alat bantu, Sayang. Kamu percaya kan sekarang," tanya Edos. Tania hanya mengangguk.
Edos membimbing Tania untuk duduk di sebuah kursi yang melingkar di meja makan. Edos pun menggeser kursi di sebelahnya, mereka duduk saling berhadapan.
"Apa dia rewel?" Edos bertanya sambil mengelus perut Tania yang mulai agak berisi. Tania kaget. Tania memegang tangan tersebut.
Tania menggeleng pelan seraya menjawab, "Tidak, dari mana kamu tahu kalau ada dia di sini?" tanya Tania heran, karena ia belum pernah menceritakan tentang kehamilannya kepada suaminya tersebut.
"Tubuh kamu sekarang lebih berisi, Sayang. Dan lebih seksi," jawab Edos tersenyum membuat Tania tersipu. "Apa masih suka mual?" tanya Edos lagi.
"Masih, kadang-kadang saja, enggak seperti waktu awal-awal," jawab Tania lagi. "Selama ini kamu kemana saja, Yang?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Nanti akan ku ceritakan, tidak sekarang," jawab Edos. "Aku ada sesuatu milikmu, sebentar," imbuhnya.
Edos kemudian membuka resleting tas selempang yang melingkar di tubuhnya, merogoh sesuatu dari sana. Ternyata sebuah cincin. Ya, cincin couple pernikahan mereka. Edos langsung menyematkan cincin tersebut ke jari manis tangan kiri Tania.
Tania menatap Edos dengan segudang tanda tanya, "Kamu sudah menebusnya, Yank?" tanyanya.
Edos membalas tatapan istrinya. "Aku tidak percaya waktu kamu bilang alergi saat memakai cincin ini, makanya aku cari cincin itu di lemari pakaian kita, aku malah menemukan surat gadai cincin ini di dalam map mika kamu," jawabnya.
"Maafkan aku, kamu enggak marah kan, Yank?" tanya Tania lagi khawatir.
Edos menggenggam tangan Tania seraya berkata, "Kenapa mesti marah? Aku tahu kamu pakai uang itu buat biaya pengobatan aku. Aku yang seharusnya berterimakasih sama kamu, kamu sudah merawat aku dengan baik."
Sementara di ruangan depan, Pak Ustadz menanyakan nama calon ayah dan calon ibu dari calon bayi yang akan dihadiahi do'a.
"Nama calon ayah dan ibu, siapa bin siapa? tolong dicatat di selembar kertas ya, Pak!" pinta Pak Ustadz.
"Saya calon ayahnya, Pak Ustadz. Bramantyo Ardiansyah,"
Bram yang kebetulan berada satu ruangan dengan Pak Ustadz mengaku sebagai calon ayahnya.
Ardi menasehati anak sulungnya, "Bram, kamu jangan seperti anak kecil. Bagaimanapun juga suami Tania itu Edos. Kamu jangan menambah malu keluarga dengan tingkah mu seperti ini," tukasnya berbisik.
__ADS_1
"Tapi Bram yakin anak yang dikandung Tania itu anak saya, Pa," ucap Bram ngotot.
Dewi meninggalkan ruangan tersebut untuk memanggil Tania. Sesampai di dapur,
"Ee.. calon Ayah dan Bundanya kok malah masih di sini, ayo ke ruang depan! acaranya udah mau dimulai lho," cetus Dewi.
"Ayo, Sayang!" ajak Edos.
Edos dan Tania bangkit dari duduknya, melangkah bergandengan tangan menuju ke ruang Depan. Di ruang tengah juga banyak orang. Mereka bertiga menerobos ke ruang depan dan duduk lesehan di sana.
"Ini calon ibunya, Pak Ustadz. Namanya Tania Sari Dewi binti Syarifudin," tutur Dewi.
"Calon ayahnya siapa namanya?" tanya Pak Ustadz.
"Saya calon ayahnya, Pak Ustadz. Muhammad Azhar Firdaus bin Burhanudin," jawab Edos.
Menyadari ada Bram di ruangan tersebut Tania menggerutu, 'Dasar kakak tiri brengsek, masih berani menampakkan diri di depanku,' gerutunya dalam hati
Pak Ustadz segera memulai acara dengan pembacaan surat Alfatihah, selanjutnya pembacaan Al-Qur'an 30 juz secara serentak, sebab jika dibaca dan disimak per juz akan memakan waktu yang lama hingga malam.
Setelah pengajian selesai, acara ditutup dengan do'a dan makan-makan.
"Yank, sepertinya kamu lelah, aku antar ke kamar yuk," ucap Edos pada istrinya. Tania mengangguk.
Mereka bangkit dan melangkah meninggalkan ruang depan. Sampai di ruang tengah Tania berhenti, ada teman-temannya di sana. Tania menghampiri untuk sekedar menyapa. Ada Rifki, Erika dan Niken, serta Nadia, Prima dan Rayan.
"Mbak Erika, kata Mas Rifki udah isi juga," kata Tania mengelus perut Erika.
"Alhamdulillah, Tan. Jalan dua bulan," jawab Erika.
"Selamat ya, Mbak. Semoga Mbak Erika dan dee bayi sehat, lancar sampai persalinan," ucap Tania mendoakan Erika.
"Terimakasih juga, Mbak. Mohon maaf ya teman-teman, saya permisi ke kamar dulu, silahkan kalian lanjutkan," pamit Tania.
"Iya, Tan, kamu istirahat saja. Biar kami yang membantu menghabiskan makanannya," celetuk Nadia yang langsung mendapat lemparan buah duku dari Prima yang mengenai kepalanya.
"Aw, jahat banget kamu, Ayang Pipim," hardik Nadia.
"Bikin malu saja, Kamu," sergah Prima.
"Enggak apa-apa, Pipim. Biar nanti Nanad bantu sekalian membersihkan piringnya," timpal Tania tersenyum jahil.
Tania menghampiri Edos yang setia menunggunya. Edos membimbing istrinya menaiki anak tangga. Sesampai di kamar mereka duduk di sofa.
"Capek ya, Say. mau kupijat?" ucap Edos menawarkan diri.
"Tidak usah, Yank. Tadi siang udah dipijat di spa. Aku udah senang akhirnya kamu pulang," jawab Tania.
Tania merasa bahagia atas kepulangan suaminya. Namun ada sesuatu yang mengganjal yang harus ia sampaikan kepadanya tapi ia masih bingung bagaimana cara menyampaikannya.
"Kita sholat isya' dulu yuk, nanti kalau kemalaman malah ngantuk jadinya malas," ajak Edos. Kembali Tania hanya memberikan anggukan.
"Kamu wudhu dulu, Yank," suruh Tania.
"Oke," balas Edos singkat.
Edos melepas Tas selempang nya, meletakkannya di sofa bekas tempat duduk nya. Ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sesaat kemudian ia keluar lagi dengan wajah dan sebagian rambut yang basah.
__ADS_1
"Sudah, Yang. Ayo gantian kamu yang ambil air wudhu, kita sholat berjamaah," suruh Edos.
Tania menuruti perintah Edos, walaupun sebenarnya badannya terasa capek. Sambil menunggu Tania selesai berwudhu, Edos membuka kopernya, mengambil kopiah, sajadah, dan Al-Qur'an kecil berwarna emas.
Edos memakai kopiahnya, meletakkan Al-Qur'an di atas nakas, lalu membentangkan sajadah di atas permadani lantai kamar. Ia juga mengambil sajadah milik Tania yang diletakkan di nakas sehabis sholat maghrib tadi, membentangkannya pula di belakangnya dan menaruh mukena di atas sajadah tersebut.
Tania keluar dari dalam kamar mandi, kemudian memakai mukenanya berdiri di atas sajadah. Sebelum menunaikan sholat, Edos membaca iqomah terlebih dahulu, dan mereka kini tengah melaksanakan sholat berjamaah.
Tania mencium punggung tangan suaminya usai sholat, dan Edos mencium pucuk kepala Istrinya.
"Udah mau tidur?" Edos bertanya pada istrinya.
"Udah ngantuk, Yank," sahut Tania.
Edos bangkit melipat sajadahnya dan meletakkannya di nakas. ia mengambil Al-Qur'an kecil lalu duduk berselonjor di atas kasur springbed dan bersandar di sandaran ranjang. Sementara Tania masih diam terpaku memandang suaminya.
"Sini, Yank!" ujarnya menepuk pahanya.
Tania bangkit melipat sajadahnya dan meletakkannya di nakas. Ia beringsut mendekati Edos dan merebahkan tubuhnya dengan pangkuan Edos sebagai bantalnya.
Lantunan ayat suci Al-Quran mulai terdengar. Tania memandangi wajah suaminya dari bawah yang tengah membacakan surat Luqman. Sesekali tangan laki-laki tersebut mengelus surainya yang masih tertutup mukena, sesekali pula mengelus perutnya. Lantunan ayat suci tersebut sungguh menenangkan. Perasaan Tania menjadi damai hingga akhirnya ia terlelap.
Edos tersenyum menyadari istrinya telah tertidur. Ia meneruskan bacaannya hingga selesai. Edos meluruskan tubuh Tania. Dengan hati-hati ia melepaskan mukena yang dipakai istrinya, melipatnya dan meletakkannya di nakas bersama Al-Quran dan kopiah yang dipakainya.
Edos menunduk menciumi kening istrinya seraya berkata, "Maafkan aku, tidak bisa melindungi mu, maaf aku belum bisa menafkahi mu. Mulai saat ini aku berjanji, tidak akan pergi lagi dari kamu," janjinya.
Kini ia beralih ke perut Tania, Mengelus-elus serta menciumnya. "Robbi hablii minas shalihiin."
Edos mengganti baju Koko ya dengan kaos putih lengan pendek. Ia pun merebahkan tubuhnya di samping tubuh istrinya, memeluknya hingga ia terlelap.
*********
Suara kokok ayam dari kejauhan mulai terdengar. Sayup-sayup terdengar. Dingin masih menyelimuti rasa. Fajar hampir menjelang.
Tania membuka matanya, mendapati wajah suaminya yang tampan dengan bibir seksinya. Ia tidak mau kehilangan momen tersebut. Oleh sebab itu ia mengambil ponselnya di laci dan mengabadikan momen tersebut.
Cekrek.. cekrek
Tania engambil gambar beberapa kali, lalu memilih salah satu yang menurutnya paling bagus. Ia mengirim foto tersebut ke nomor WhatsApp Edos dengan caption "Good morning suami🥰"
Tania mengelus punggung suaminya untuk membangunkannya, Namun Edos tetap tak bergeming. Lalu ia berinisiatif untuk mencium bibir seksinya. Tania tidak tahan melihat bibirnya yang seksi tersebut, ia menempelkan bibirnya dengan bibir suaminya untuk memberikan morning kiss.
Tania melu*at bibir seksi tersebut. Edos yang kaget dengan tindakan yang dilakukan Tania seketika tersedak dan terduduk. Edos nampak berusaha mengumpulkan nyawanya, memandang Tania dengan pandangan yang sulit diartikan.
.
.
TBC
Terus kepoin Tania dan Edos ya Say
Ini hari Senin, jangan lupa kasih vote 1 kamu buat Tania dan Edos.
__ADS_1
Tararengkiuuh 😘😘😘