
Suasana malam yang hampir pagi kian mencekam, meskipun di kota masih sangat ramai dengan aktivitas malamnya, Namun tidak menutup kemungkinan bagi para penjahat untuk melakukan aksinya.
Bunyi klakson sepeda motor dengan seorang pria berpakaian jaket hijau, mengagetkan sekaligus membuat hati Tania Lega. Tania kini sudah berani menoleh ke arah pria disampingnya.
"Maaf, Om. Anda salah, pelanggan ku sudah datang," ucap Tania kepada pria di sebelahnya, sejenak kemudian ia beranjak setengah berlari menghampiri tukang ojek yang dipesannya.
"Om? beraninya kamu panggil aku 'Om'!" gumam pria tersebut menatap kepergian Tania dengan ojeknya.
Selepas kepergian Tania, Bram menyeret kakinya masuk ke dalam mobil. Menghidupkan dan melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota yang tidak pernah sepi meskipun waktu menunjukkan sudah hampir pagi.
Aghni, dia mirip sekali dengan Aghni. Sayang ya, gadis sebelia itu sudah terjerumus ke dalam pro*****si online, anak jaman sekarang apapun akan dilakukan demi uang. Aku memang bukan orang yang suci, namun jangan sampai adik-adik dan keturunanku terlibat dalam hal seperti itu ya Allah. Bram terus berbicara sendiri dalam mobil sambil tetap fokus menyetir.
Sampai di apartemen, Bram memarkir mobilnya di basemen apartemen. Bram menaiki lift sampai di lantai 6 dan berjalan kaki menuju apartemennya, ia langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang queen size. Seluruh badannya terasa pegal semua.
Di saat seperti inilah ia merasa membutuhkan seorang istri. Namun ia malu untuk menemui Niken, ia sendiri yang telah menolaknya mentah-mentah dan membuat surat perjanjian. Memang bodoh, itulah isi hati Bram yang merutuki kebodohannya sendiri.
Setelah perayaan ulang tahun perusahaan, aku akan mencoba mengenalnya lebih dalam, mudah-mudahan ia masih mau menerimaku sebagai suaminya, gumam Bram.
Bram terus saja memikirkan cara untuk meminta maaf kepada Niken, padahal tidak perlu meminta maaf Niken juga siap kapanpun ia akan memulai hidup bersamanya. Tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya Bram terlelap.
Sementara itu Tania yang baru saja sampai di depan rumah Bu Retno tengah membuka pintu rumah menggunakan kunci cadangan yang ia bawa. Setelah pintu terbuka, ia menutup dan tak lupa menguncinya kembali.
Tania langsung menuju ke belakang menerobos ke dalam kamar mandi untuk
membuang air seni dan mencuci muka, ia terlalu takut ada jerawat yang akan hinggap di wajah mulusnya jika tidur tanpa mencuci muka terlebih dahulu.
Setelah itu Tania baru masuk ke dalam kamar, membaringkan tubuhnya di samping tubuh suaminya yang masih terlelap.
Tania mencium kening sang suami dan memeluk tubuhnya, aroma khas tubuh suaminya walaupun tidak memakai parfum selalu ia rindukan, ia membenamkan wajahnya di dada suaminya hingga matanya terpejam.
Dua jam kemudian Edos membuka matanya, ia ingin pergi ke belakang tetapi tubuh Tania menghalanginya. Ia belum bisa bangun dan melangkahi Tania karena di sebelah kanannya tubuh Tania yang tengah berbaring sementara di sebelah kiri hanya dinding kamar.
Edos tidak tega membangunkan Tania yang masih terlelap dalam tidurnya. Nampak dari deru nafas Tania yang teratur. Edos menciumi wajah istrinya dengan lembut beberapa kali.
"Tidurlah, Sayang. Aku tahu kamu pasti sangat lelah dan mengantuk," bisik Edos.
Edos lalu merangkak seperti cara berjalan putri duyung jika berada di tanah daratan. Dengan susah payah ia merangkak hingga akhirnya berhasil mencapai Walker yang ia sandarkan di dinding.
Edos membuka pintu dan keluar dari dalam kamar menuju ke kamar mandi. Di sana ia juga masih kesusahan saat hendak duduk di atas toilet. Untung Bu Retno sudah menyuruh tukang untuk mengganti toilet jongkok menjadi toilet duduk, sebelumnya toilet di kamar mandi ini adalah toilet jongkok.
Edos kembali kesusahan saat hendak berpindah dari Walker hingga duduk di atas toilet, biasanya ia dibantu oleh Tania, namun sekarang ia harus mencoba belajar untuk melakukannya sendiri, kalau dibantu terus kapan bisanya.
Akhirnya berhasil juga Edos melakukan kegiatan sendiri tanpa dibantu oleh istrinya. Ia menunaikan hajatnya hingga selesai, setelah itu ia berwudlu dan kembali lagi ke kamar.
Edos melakukan sholat subuh dengan cara duduk. Setelah selesai melakukan sholat subuh, Edos melakukan latihan berjalan dengan merambat di dinding meskipun tulang belakangnya masih agak nyeri.
Edos menyibak tirai jendela, membuka jendela, melongok ke luar, pagi telah datang. Ia meraih ponsel dan tas selempang nya. Edos naik dan duduk di kursi rodanya keluar dari kamar.
Di luar kamar Edos bertemu dengan Rifki yang baru saja keluar dari kamarnya juga.
"Edos, mau kemana?" tanya Rifki pada Edos.
"Mau jalan-jalan ke luar komplek, Mas. menghirup udara pagi," jawab Edos.
"Ayo, Bareng. Aku juga mau jalan-jalan ke luar," ajak Rifki.
Rifki meraih gagang dorongan kursi roda Edos, tangan kirinya menyangking alat bantu jalan atau Walker berkaki empat yang dilipat, ia lalu mendorongnya ke luar rumah. Suasana pagi hari udara masih terasa segar, meskipun udara kota sudah sedikit tercemar dengan asap kendaraan yang lalu lalang, namun menghirup udara dan jalan jalan di pagi hari dapat menyegarkan tubuh.
Tak hanya untuk kesehatan fisik, manfaat jalan pagi juga berkontribusi terhadap kondisi psikologis kita. Jalan pagi dapat meningkatkan harga diri, memperbaiki suasana hati, serta mengurangi stres dan rasa cemas. Jalan pagi juga dapat membantu memperbaiki mood.
Tak hanya itu, manfaat jalan pagi lainnya adalah mengikis gejala depresi, serta meurunkan risiko untuk terkena kondisi depresi.
Melakukan jalan pagi selama 30 menit, secara tak langsung membantu kita untuk menurunkan berat badan. Sebab, jalan pagi dengan durasi tersebut, dapat membakar hingga 150 kalori.
Memulai hari dengan melakukan jalan pagi, akan membantu kita dalam menjalani aktivitas yang hendak dikerjakan. Setelah jalan pagi, pikiran kita dapat menjadi lebih jernih, tanpa terburu-buru.
Rifki membawa Edos ke sebuah taman, dan melakukan strecing di sana. Edos juga melakukan latihan ringan supaya kakinya tidak terasa kaku, dia menapakkan kaki telanjangnya di tanah tanpa beralaskan sandal maupun sepatu, selangkah demi selangkah dengan berpegangan alat bantu jalan atau Walker.
"Mas Rifki, jadinya kapan nikahnya?" tanya Edos pada Rifki.
"Insya Allah, setelah perayaan ulang tahun perusahaan tempatku kerja. Tolong dibantu ya, Edos," jawab Rifki.
"Insya Allah, sebisa saya, Mas. Pasti saya bantu," jawab Edos.
Di taman tersebut juga ada penjual bubur ayam, mereka berdua sarapan pagi dengan bubur ayam dan tak lupa memesan 3 porsi dibungkus untuk dibawa pulang ke rumah.
__ADS_1
Matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur, udara mulai terasa hangat. Aktivitas jalan raya mulai padat. Setelah dirasa cukup jalan-jalan mereka kali ini, mereka memutuskan untuk pulang.
Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di depan rumah. Rifki meninggalkan Edos di teras dan menyandarkan Walker di dinding depan rumah. Kemudian masuk ke dalam rumah, meletakkan bubur ayam yang ia beli di atas meja makan.
Rifki menyambar handuk yang tergantung pada jemuran, kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Sementara Edos di teras rumah, ia menghampiri jendela untuk mengetahui Tania sudah bangun ataukah belum. Ia mengetuk-ngetuk jendela berkali-kali.
Tok tok tok..
"Assalamu'alaikum,"
Berulangkali Edos mengetuk pintu dan mengucap salam. Namun Tania tetap saja tidak bergeming.
"Say," panggil Edos dengan suara bas. Tidak ada sahutan.
"Yank," panggil Edos Lagi dengan suara barito. Tetap tidak ada sahutan.
Edos nampak mengambil ancang-ancang dan bersiap-siap untuk memanggil istrinya dengan suara tenor plus dinaikan nadanya satu oktaf.
"Tania..!"
"Hiih.., kurang kerjaan banget sih!" Tania menggerutu, masih dengan mata terpejam.
"Kamu enggak ambil sift pagi, Yank?" tanya Edos.
"Jam berapa sekarang?" tanya Tania yang nampaknya susah untuk membuka mata.
"Jam tujuh," jawab Edos.
"Kok udah jam tujuh sih? Perasaan baru tidur dech aku," Tania protes entah pada siapa.
"Bangun, cuci mukamu! Aku sudah belikan kamu bubur ayam, dimakan mumpung masih hangat, kalau udah keburu dingin nanti nggak enak," perintah Edos pada istrinya.
Mata Tania terpejam kembali. Melihat istrinya susah bangun, Edos membelokkan kursi rodanya dan masuk ke dalam kamar.
"Hai, Tania Sari Dewi binti Syarifudin!" panggil Edos dengan suara yang dibesar-besarkan.
"Astaghfirullah al'adzim! Ngeselin ih!" Ucap Tania kaget.
Edos hanya tertawa,
"Kalau aku tahu tidur kamu bakal ngebo seperti ini, aku enggak ijinkan kamu ambil sift malam lagi," tukas Edos.
"Iya dech, Yank. Aku juga takut pas pulang tadi malam, ada om-om yang godain aku, untung tukang ojek orderanku lekas datang. Tapi aku boleh ambil dua sift sampai sore ya, Yank?" pinta Tania merengek.
"Begitu lebih baik," jawab Edos.
"Terimakasih, Suamiku Tersayang," ucap Tania.
Tania beranjak bangun dari tidurnya. Ia menyambar handuk kimononya yang tergantung di kamar. Kemudian menyeret kakinya menuju ke kamar mandi.
Tetapi di kamar mandi masih ada orang, jadi ia menuju ke dapur dan mencuci mukanya dengan air kran di tempat mencuci piring. Tania menunggu Rifki selesai mandi dengan mencuci piring yang kotor sisa makan malam.
🌸🌸🌸🌸🌸
Sore itu, Ardi baru pulang dari kantornya. Ia keluar dari mobilnya berjalan dengan langkah malas dan menghempaskan pantatnya di sofa ruang tengah, tas jinjing yang dibawanya ia letakkan di sofa sampingnya. ia menyandarkan punggungnya, tangan kanannya tampak memijit-mijit keningnya sambil memejamkan mata.
Dewi yang sudah tahu bahwa suaminya telah pulang, segera menuju ke ruang tengah dan duduk di samping suaminya.
"Papa sakit? Badan Papa panas sekali. Mama panggilkan dokter ya?" tanya Dewi menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi Ardi.
"Papa cuma lelah, Ma. Istirahat sebentar besok juga sembuh sendiri," jawab Ardi. Namun Dewi tidak memperdulikan jawaban suaminya.
"Dok, bisa ke rumah saya? suami saya sakit," ucap Dewi pada panggilan teleponnya.
"Ayo, Mama bantu ke kamar!" ajak Dewi.
Ia memapah suaminya naik tangga dan masuk ke dalam kamar, tangannya menjinjing tas milik suaminya tersebut. Dewi membantu membantu Ardi melepas jas, dasi dan sepatu serta kaos kaki yang dipakai suaminya.
Ardi membaringkan tubuhnya di ranjang, sedangkan Dewi duduk di samping Ardi di tepi ranjang, tangannya terus membelai puncak kepala sang suami.
"Mestinya Papa udah pensiun dari perusahaan, kenapa tidak diserahkan kepada Bram saja semuanya sih, Pa?" tanya Dewi membujuk suaminya.
"Heh, Kamu pikir suamimu ini sudah tua apa? Papa kan belum tua-tua amat, Ma. Bram sudah Papa kasih tanggung jawab mengurus Minimarket, Papa bisa saja kasihkan ke Bram kalau dia sudah tidak mabuk-mabukan lagi!" tutur Ardi.
__ADS_1
"Tapi anak laki-laki papa kan cuma Bram,"
"Harusnya Mama kasih papa anak lagi, kalau bisa laki-laki, bikin yuk!"
Dewi hanya tersenyum menanggapi permintaan suaminya, "Ih, Papa apa enggak malu? Dua anak kita sudah menikah, Pa. Kita tinggal menunggu lahirnya cucu dari mereka," tolak Dewi.
"Coba saja Tania dapat Kita temukan, mungkin dia bisa membantu. Dia di kampung sekolah kan, Ma?"
"Dia baru lulus SMA, Pa," jawab Dewi.
"Kalau kita menemukannya, suruh dia kuliah," tukas Ardi.
"Mudah-mudahan secepatnya kita menemukannya ya, Pa."
"Aamiin.."
Tok tok tok
"Maaf Nyonya, dokter Idris sudah datang," seru Siti dari balik pintu.
"Tolong suruh langsung masuk ke sini saja, Siti!" seru Dewi juga.
"Baik, Nyonya," sahut Siti, ia kemudian memanggil dokter Idris yang masih duduk di kursi ruang tamu.
"Maaf, Pak dokter. Tuan ada di kamarnya, Anda dipersilahkan langsung masuk ke dalam kamar Tuan Ardi," tutur Siti pada dokter Idris.
"Terimakasih, Siti," ucap dokter Idris.
"Sama-sama, Pak. Silahkan!" sahut Siti.
Dokter Idrispun segera melangkah menuju ke kamar Ardi yang ada di lantai dua. Ia mengetuk pintu tiga kali dan dibukakan oleh Dewi.
Dokter Idris mengeluarkan stetoskop dan tensimeter, ia nampak memeriksa dengan seksama kondisi Ardi yang berbaring di atas kasurnya.
"Tidak ada yang serius, hanya kelelahan saja," ucap dokter keluarga Ardi tersebut sembari merapikan peralatan medisnya. "Istirahat yang cukup, saya kasih Paracetamol biar tidak repot-repot ke apotek, tolong diminumkan supaya panasnya segera turun," tambahnya.
Dokter Idrispun mengeluarkan satu strip Paracetamol dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Dewi, dan Dewi menerimanya.
"Saya permisi," ucap dokter Idris undur diri.
"Terimakasih, Dok," ucap Dewi.
Dewi mengantar dokter Idris sampai di depan, dan kembali lagi ke dalam kamar untuk menemui suaminya setelah sebelumnya mengambil air putih terlebih dahulu di dapur.
Dewi membuka satu tablet Paracetamol, kemudian menyerahkan kepada suaminya untuk diminum.
"Diminum dulu obatnya, Pa," ucapnya.
Ardi menelan pil tersebut dan mendorongnya dengan meminum air putih yang disodorkan oleh Dewi.
"Tidur ya, Pa! Nanti mandinya kalau panasnya udah turun," ucap Dewi sambil mengelus-elus rambut sang suami.
"Ma, permintaan Papa yang tadi serius loh," ucap Ardi mengingatkan.
"Permintaan yang mana?" tanya Dewi bingung.
"Yang Papa minta anak," jawab Ardi.
"Oh, kita serahkan sama Allah saja ya, Pa. Soalnya usia Mama itu sudah tidak muda lagi, sangat beresiko jika hamil lagi," tutur Dewi tersenyum.
"Ah, Mama kan belum genap 40 tahun. Kita coba sekarang yuk! Papa ingin berkeringat biar suhu tubuh papa cepat turun," ajak Ardi.
Pasangan yang terpaut usia 10 tahun tersebut sempat-sempatnya melakukan olahraga di sore hari. Kita jangan mau kalah ya! 🤭🤭🤭
.
.
.
Happy reading
Semoga suka
Jangan lupa like n komen ya
__ADS_1
Tararengkiuuh
😘😘😘