
"Pipim, ngagetin aja deh!" hardik Tania.
"Hehe," Prima cuma nyengir kuda. "Yuk, masuk kelas, hari ini kan ada mendaftarkan rencana lokasi magang," tutur Prima.
"Magang?" beo Tania.
"Eh, maksudku titik lokasi PKL," ralat Prima.
"Bukannya pelaksanaan PKL semester depan ya? kartu rencana studi yang kemarin kita ajukan juga tidak ada PKL perasaan," protes Tania.
"Enggak tahu, tadi Pak Rustam bilangnya gitu," jelas Prima.
"Tan, Pim, ditunggu Nadia latihan vocal group di ruang gedung fakultas kesenian," ucap salah satu teman sekelas Tania saat sampai di ruang kelas.
Tania menajamkan penglihatan dan telinganya. "Ha? Ini lagi latihan vocal group. Tadi Pipim bilang PKL yang benar mana sih? Lagian bukannya vocal grup udah ada khusus dari Fakultas kesenian ya?" cecar Tania yang masih bingung.
"Tadi memang ada pendataan titik lokasi PKL. Setelah itu ada perekrutan peserta vocal group untuk acara wisuda juga dari kelas kita. Nadia yang daftarin nama kamu. Sekarang dia udah nunggu di gedung fakultas kesenian," jelas temannya lagi.
"Dasar teman enggak ada akhlak, daftarin nama orang enggak ijin dulu sama orangnya. Huh, nambah-nambah pekerjaan saja," dengus Tania.
"Terus sekarang enggak ada kuliah kita, Nit?" tanya Prima.
"Enggak ada, yuk kita ke sana bareng," ajak temannya Tania tersebut yang ternyata bernama Nita.
"Ogah ah," sahut Tania. "Tahu gini sih mendingan tadi nemuin Mas Fauzan di rumah. Ada jam kosong kok tidak ada pemberitahuan," gerutu Tania.
"Apa, Tan? Mas Fauzan? Maksud kamu apa?" cecar Prima yang tidak begitu jelas mendengar gerutuan Tania.
"Apa sih? Siapa yang bilang Mas Fauzan? Orang tadi aku bilang mau beli jajan," elak Tania. "Aku mau ke kantin saja ah, males latihan vocal," elaknya lagi.
"Ya udah kalau kalian enggak mau ikut aku tinggal," pamit Nita.
"Sana-sana, aku mau minum es doger aja kayaknya enak," ucap Tania berlalu seraya membayangkan segarnya es doger.
"Jam segini kok udah pingin nge-es sih kamu, Tan. Lagian kamu kan lagi ngASI, enggak takut Bita kena pilek kamu?" sergah Prima, tetapi ia mengikuti juga langkah kaki sahabatnya itu ke kantin.
"Kamu kayak nenek-nenek di kampung ku aja, Pim percaya gitu-gituan. Kalau makan es katanya pilek, kalau makan pedas mereka bilang anaknya bisa diare. Yang makan es mulut aku enggak ada hubungannya sama Bita atau Atar. Kalau mereka pilek mungkin emang udah takdir enggak ada hubungannya dengan aku makan es," tolak Tania. "Kamu mau pesan tidak?" tanyanya setelah mereka duduk di kantin.
"Mau lah, Pipim kan enggak menyusui," sahut Prima.
Tidak lama setelah mereka memesan langsung diproses, kini keadaan kantin tampak lengang tidak banyak pengunjung seperti biasanya sebab bukan waktunya istirahat.
*****
Amar akhirnya menyambangi Fauzan di apartemen yang dibeli oleh Tania. Terdengar bel berbunyi, padahal Fauzan sedang berenang. Fauzan malas untuk membuka pintu, pasalnya ia juga harus membawa Atar serta meskipun hanya untuk membuka pintu.
Fauzan santai saja beranjak dari kolam renang. Ia juga harus membilas dirinya dan juga Atar dengan air bersih lalu mengganti pakaian untuk dirinya juga Atar. Ponselnya sejak tadi berdering, tetapi ia biarkan begitu saja.
"Salah sendiri datang di waktu yang tidak tepat. Udah dibilang mau renang, eh ngotot datang sekarang juga. Emang enggak ada kerjaan apa dia?" gerutu Fauzan sembari membilas tubuh Atar dengan air hangat.
"Tatatata," sahut Atar.
__ADS_1
"Atar udah satu tahun kok belum bisa jalan juga sih, Sayang. Nanti belajar jalan sama ayah ya. Bundamu pasti sekarang tambah sibuk mengurus dede Bita, Atar jadi enggak keurus," timpal Fauzan meneruskan pekerjaannya. "Atar ikut ayah saja ya ke NTT, mau enggak?" tanyanya yang dijawab oleh Atar dengan gelengan kepala.
"Kenapa enggak mau? Ayah kan bisa ngurus Atar," bujuk Fauzan.
"Emmah," sahut Atar.
"Anak ayah jelas banget sih bilang emmoh," cicit Fauzan. "Udah tampan sekarang, Yuh kita temui om Amar," ajaknya kemudian.
"Lama amat sih, Zan? Ane nunggu ente sampai kering nih dari tadi," cela Amar saat Fauzan telah membukakan pintu untuknya.
"Kan tadi udah ku bilang mau renang, kamunya ngotot datang salah sendiri," sergah Fauzan.
Fauzan mengajak Amar masuk ke dalam apartemen. "Minumnya ambil sendiri gih, noh belanjaan belum masuk kulkas," suruhnya.
"Ente belanja barang banyak banget buat apaan sih, Zan? Bukannya nih apartemen mau disewain?" Amar justru membalas Fauzan dengan pertanyaan.
"Tadi beli baju buat ganti sekalian belanja lainnya," sahut Fauzan. "Eh, Siapa bilang mau disewain? Kan belum ada persetujuan dari aku dan Tania selaku pemilik apartemen," timpal Amar.
"Loh, kemarin Tania udah setuju mau disewain kok. Hari ini bahkan udah janji mau ketemu dengan calon penyewa," ungkap Amar.
"Kenapa enggak minta persetujuan dariku terlebih dahulu?" tanya Fauzan protes.
"Entenya aja baru muncul. Mana tahu Ente ada di Jakarta? Kemarin-kemarin juga nomor WhatsApp Ente selalu tidak aktif," elak Amar. "Sekarang gimana? Mau enggak ketemu sama orang yang mau sewa?" lanjutnya bertanya.
"Ya udah mau lah, tapi di kafe gedung ini saja jangan jauh-jauh," cetus Fauzan.
"Ente jangan seenaknya merubah tempat yang sudah kami sepakati untuk ketemuan dong, Ozan," dengus Amar. "Kami itu udah janji bertemu di kafe kita," lanjutnya.
"Ya udah deh dari pada kelamaan, gimana kalau orangnya aku undang langsung ke sini aja? Sekalian tinjau lokasi kan?" cetus Amar.
"Oke, undang ke sini aja, tapi jangan lama-lama bentar lagi aku mau ajak Atar cukur rambut. Lihat, udah gondrong rambutnya," suruh Fauzan menunjuk ke kepala Atar.
Amar pun langsung menelpon orang yan yang akan menyewa apartemen yang baru dibeli oleh Tania tersebut.
*****
Tania sampai di rumah bertepatan dengan waktu maghrib. Meskipun tidak ada kegiatan kuliah, tetapi tadi ia sempat dipanggil untuk ke ruangan dosen wali karena ada yang melaporkannya tidak ikut latihan vokal. Di dalam ruangan dosen itu dia diberi nasehat panjang kali lebar seperti pak dosen wali saat memberi materi kuliah. Jadi Tania dan Prima terpaksa ikut meskipun telat.
Tanua langsung masuk ke dalam kamarnya. Ternyata Bita tidak ada di sana, jadi ia putuskan untuk mencarinya di kamar Atar habis mandi nanti. Sampai di kamar Atar, ia juga tidak mendapatkan putra sulungnya itu. Ia pun mengambil langkah berbalik 180⁰. Ia berpapasan dengan sang mama.
"Kamu baru pulang, Tan? Mandi dulu gih," tanya Dewi.
"Udah kangen sama Bita dan Atar. Mereka di mana ya, Ma?" Tania bertanya balik.
"Mereka aman kok. Kamu mandi aja dulu," suruh Dewi.
"Iya Deh, Ma," sahut Tania. Lalu ia kembali lagi ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Tania melalukan ritual mandinya dalam tempo yang sangat cepat. Ia sudah tidak bisa menahan rindunya untuk bertemu dengan si buah hati. Setelah selesai mandi ia keluar dari kamar dengan sudah berganti kostum, kostum pakaian dinas ibu rumah tangga, daster berbahan katun rayon. Ia kembali menuruni anak tangga menuju ke lantai dasar lalu melangkah ke luar rumah menuju ke taman belakang. Berdiri memperhatikan sekeliling. Butiran air sisa hujan yang menggenang mengenai dedaunan bak embun yang kesorean.
Azan maghrib sayup-sayup tertangkap dalam Indra pendengaran. Namun Tania belum menemukan tanda-tanda keberadaan Atar di rumah besar tersebut. "Mereka ke mana ya?" gumam Tania seorang diri.
__ADS_1
"Tan, udah maghrib. Masuklah, Sayang," seru Dewi mendekat. "Bita udah nunggu di kamar kamu, tadi saat kamu ke sini ternyata Neni membawanya ke halaman," tuturnya lagi.
"Oo, kalau Atar di mana, Ma?" sahut Tania bertanya sembari melangkah mendekati ibunya.
"Tadi pagi dipinjam Fauzan, mama udah telepon dia. Katanya sekarang mereka lagi di salon, mereka belum selesai potong rambut," sahut Dewi.
"Atar juga dipotong rambutnya?" tanya Tania lagi.
"Iya, tadi Fauzan sempat minta ijin sama mama. Karena memang Atar sejak aqiqah belum dipotong lagi rambutnya, udah gondrong juga ya mama kasih ijin," sahut Dewi.
Tania mendengus kesal. "Tapi kenapa harus sampai petang begini sih?" ucapnya.
Sampai di kamarnya tampak Neni sedang menimang bayi mungil Bita. "Mbak Tania nyari Bita ya?" tanyanya.
"Iya, Atar juga. Kalian dari mana?" sahut Tania lalu balik bertanya.
"Cuma duduk di kursi halaman depan aja," sahut Neni.
"Kamu sholat enggak? Kalau mau sholat siniin Bita-nya," pinta Tania.
"Eh iya, Mbak," sahut Neni seraya mendekatkan Bita kepada Tania.
Tania meraih Bita ke dalam gendongannya. Setelahnya ia langsung menuju ke kamarnya. Namun, baru beberapa langkah ia hendak mencapai anak tangga. Dari arah pintu ruang tamu ia mendengar suara salam.
"Biar Mbak Siti yang bukain, Mbak," sela Siti yang langsung berjalan ke depan.
Tidak berselang lama Siti masuk kembali dengan membawa barang-barang keperluan Atar beriringan dengan Fauzan yang tengah menggendong Atar. Tania masih berdiri mematung di dekat tangga, menunggu dua orang laki-laki beda generasi itu mendekat dengannya.
"Kenapa baru sampai sih, Mas? Enggak ingat kalau lagi bawa bayi?" cecar Tania dengan muka yang tidak bisa diajak kompromi.
"Maaf udah buat kamu khawatir. Tadi saat maghrib Atar belum selesai dicukur, jadi nunggu sampai selesai dan rapi dulu, Tan. Kebetulan salonnya rame banget, jadi harus ngantri," sahut Fauzan.
Fauzan merasa bersalah, tetapi mau bagaimana lagi? Tadi Atar memang lagi proses dicukur rambutnya, masa iya harus pulang sebelum azan maghrib sementara potongan rambutnya masih berantakan, batin Fauzan.
"Lain kali jangan bawa Atar keluar tanpa seizin saya!" pungkas Tania tanpa bisa ditawar. Setelah mengucapkan itu Tania langsung menaiki tangga tanpa memperhatikan yang diajaknya bicara.
Fauzan kian merasa bersalah, padahal adalagi yang ingin ia sampaikan terkait penyewaan apartemen, tetapi sepertinya ia harus menunda juga keinginannya tersebut. Fauzan menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Huh!"
.
.
.
TBC
Terima kasih buat kalian yang udah menghiasi laporan mingguan ku 😘
__ADS_1