
Waktu itu pukul empat sore, setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, panas di tubuh Niken kini telah reda. Ia sudah diperbolehkan pulang hari ini.
Hari ini Aghni ada jadwal sampai sore, sehingga ia tidak bisa menjemput kakak iparnya pulang dari rumah sakit. Akhirnya Niken pulang dengan memesan taksi online didampingi oleh asistennya, Ririn.
"Sepertinya kamu harus kursus nyetir deh, Rin," cetus Niken saat berada di dalam taksi.
"Mau banget, Mbak. Apalagi gratis," timpal Ririn girang.
"Dasar kamu, paling senang sama barang gratisan," cebik Niken. Ririn hanya nyengir kuda menanggapi ucapan Niken.
Sesampai di Ruko tempat butiknya berada, dari jauh Niken melihat sesosok laki-laki. Sosok laki-laki yang berusaha ingin ia lupakan selama sebulan ini sedang duduk di teras butik.
Taksi berhenti di depan teras butik. Niken dan Ririn keluar dari dalam taksi, dan Ririn menarik koper Niken. Niken berfikir ingin mengabaikan pria tersebut, karena ia telah mencoba melakukannya, namun hatinya berkata lain. Ia sangat merindukan sosok laki-laki tersebut. Apalagi sekarang saat ia mengandung anaknya, mungkin karena hormon kehamilannya, ia sangat menginginkan pelukan hangat dari laki-laki tersebut.
"Niken!" panggil Bram.
Niken hanya menatap laki-laki itu tanpa berucap apapun, matanya terasa pedih menahan tangis. Sekuat hati ia mengatakan kalau ia ingin melupakannya, namun ia tidak dapat memungkiri perasaannya sendiri, kalau saat ini ia rindu ingin pelukan hangat darinya, ia ingin lari memeluknya, menumpahkan kerinduan yang selama ini dibendungnya. Sementara orang yang ditatap hanya kikuk kebingungan tidak mampu berucap.
"Ada apa, Mas? Kalau tidak apa-apa Niken mau istirahat," tukasnya.
Setelah ditunggu lama tidak ada sebuah huruf pun yang terucap dari bibir laki-laki tersebut, Niken melangkah hendak meninggalkan laki-laki yang merupakan ayah dari anak yang ia kandung sekarang.
"Niken tunggu!" panggil Bram.
Langkah Niken berhenti tanpa menoleh. Bram berlari memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku! Aku merindukanmu."
Hati Niken luluh hanya dengan mendengar kata rindu dari orang yang saat ini memeluknya. Air mata bahagia tidak mampu terbendung lagi. Namun perasaan bahagia itu segera tertepis mengingat kelakuan Bram yang selalu menyakiti dan mengabaikannya.
"Kamu selalu meminta maaf, Mas. Dan aku selalu memaafkan mu. Namun akhirnya kamu menyakiti aku lagi dan lagi, selalu seperti itu seperti siklus hari."
"Aku janji tidak akan menyakitimu lagi," ucap Bram memelas.
"Bukankan setiap kamu meminta maaf selalu berjanji tidak akan mengulangi lagi, tetapi selalu saja begitu. Aku sudah menyerah, Mas. Aku akan mengajukan gugatan cerai setelah anak kita lahir." ucapnya sembari menepis pelukan Bram.
Seketika Bram terhenyak kaget mendengar pernyataan Niken. Niken melangkah masuk dengan langkah gontai, tubuhnya masih terasa lemah.
"Niken ... , Niken!" Bram terus menerus memanggil nama istrinya.
Aku harus kuat, tidak boleh mengedepankan perasaan ku, atau aku akan kembali merasa sakit hati nantinya, tekad Niken dalam hati.
Pelan namun pasti, akhirnya langkah Niken sampai juga di lantai dua, di lantai kamarnya. Niken menghampiri kursi yang terletak di bawah jendela, jendela itu menghadap ke arah halaman. Dari sana Niken dapat melihat siluet suaminya. Niken duduk di kursi tersebut sembari membelai lembut perutnya yang masih rata.
"Maafkan mama, Nak. Bukan maksud Mama untuk menjauhkan kamu dari papa kamu," ucapnya pelan dengan untaian air yang mengalir dari sudut matanya.
Setelah terdengar suara azan dari salah satu Masjid sekitar, Niken mengalihkan pandangannya dari jendela menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melakukan shalat Maghrib.
Saat selesai shalat maghrib, Niken hendak mengintip kembali suaminya dari balik jendela kaca. Tiba-tiba ponselnya berdering, Niken mengurungkan niatnya untuk menghampiri jendela. Langkahnya beralih menuju meja untuk mengambil ponselnya.
"Assalamu'alaikum, Ma," sapa Niken pada si penelepon yang ternyata adalah mama mertuanya.
"Wa'alaikumussalam, Sayang. Bagaimana kabar kamu? Aghni bilang kamu dirawat di rumah sakit."
__ADS_1
"Niken sudah baikan kok, Ma. Niken baru pulang dari rumah sakit," jawab Niken.
"Alhamdulillah. Apa Mas Bram sudah sampai di situ?"
Niken bingung harus menjawab apa pertanyaan mama mertuanya yang satu ini.
"Niken?" panggil Dewi.
"Ah i ... iya, Ma?" ucapnya gelagapan.
"Mas Bram sudah sampai?" tanya Dewi lagi.
"Sudah, Ma." Niken menjawab singkat.
"Sebenarnya Mas Bram belum diperbolehkan pulang dari rumah sakit, tetapi dia ngotot pengen ketemu kamu, Niken."
"Apa? Mas Bram sakit?"
"Mas Bram mengalami syndrome kehamilan simpatik, Niken. Perutnya tidak bisa kemasukan apapun, makanan yang masuk melalui kerongkongannya langsung dikeluarkan. Bagaimana kandungan kamu?"
"Kandungan Niken, baik-baik saja, Ma." Sekuat apapun Niken berusaha menutupi kehamilannya dari keluarga, ternyata sia-sia.
"Maafin mama ya, enggak bisa jengukin kamu karena mama juga harus jagain Mas Bram di rumah sakit," tutur Dewi. "Karena Mas Bram masih sakit, tolong jangan biarkan dia tidur di luar ya," pinta Dewi.
"Iya, Ma." Niken menjawab singkat.
"Ya udah kalau begitu, kamu pasti mau istirahat kan? Assalamu'alaikum."
Apa tekad Niken akan goyah? Sekuat apapun Niken ingin pergi jauh dari laki-laki itu, ia tidak bisa memungkiri kalau ia sangat mencintai laki-laki tersebut, dan ingin merasakan pelukan hangat darinya.
Niken kembali meletakkan ponselnya di meja kecil. Ia menghampiri jendela, melihat siluet Bram dari balik jendela kamarnya. Bram masih terlihat di sana. Ia pun melangkah mendekati kasur springbed tanpa ranjangnya dan merebahkan tubuh di sana.
Niken masih berfikir untuk membiarkan Bram di luar, ataukah mengijinkan dia untuk masuk. Sementara di luar cuaca sudah mulai tidak bersahabat. Sebentar lagi hujan turun menyapa, petir pun mungkin akan menjadi teman setia bagi sang hujan. Bagaimana kalau Bram kedinginan karena hujan dan dia kembali sakit, pasti Niken yang akan disalahkan oleh keluarganya.
Hujan mulai membasahi bumi, Niken semakin khawatir apa yang ia bayangkan bakal terjadi. Ia kembali menghampiri jendela, mengintip keberadaan suaminya di bawah sana. Niken kaget tidak mendapati Bram di teras. Cepat-cepat Niken turun ke lantai satu dan membuka pintu.
"Ternyata secepat itu kamu pergi, Mas. Kamu tidak sungguh-sungguh meminta maaf. Kamu tidak sungguh-sungguh mengajakku kembali," lirih Niken yang terduduk lemas memandang kosong ke depan.
********
Sementara di rumah Ardiansyah, Tania baru sampai diantar oleh Rayan. Tania sudah ditunggu oleh Ardi dan Dewi di ruang keluarga.
"Sayang, baru pulang? Kamu enggak apa-apa kan? Gimana kondisi Nadia?" tanya Dewi.
Tania meraih dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Lalu duduk di antara keduanya. "Tania baik-baik saja, Ma. Cuma shock. Tapi, Nadia belum sadar masih di rawat di ruang ICU," jawab Tania.
Dewi memeluk putrinya, memberikan dukungan untuk menenangkannya. "Tania takut orang itu masih mengincar Tania, Ma," ucap Tania dalam pelukan mamanya.
"Kamu tenang saja, Nak. Papa sudah kerahkan orang-orang Papa untuk membantu Rayan meringkus pembunuh beserta komplotannya itu," tutur Ardi yang membuat Tania sedikit lega.
"Tania ke kamar dulu ya, Ma, Pa, mau mandi. Badan Tania udah gerah," pamit Tania.
"Kamu sudah makan, Sayang?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Sudah tadi di kantin rumah sakit," jawab Tania yang mulai beranjak.
"Ya udah sana mandi, tapi jangan kaget saat sampai di kamar ya!" seru Dewi.
"Kaget?" tanya Tania pada diri sendiri.
Tania melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya yang telah berpindah di lantai bawah. Ia memegang handle pintu dan membukanya dengan hati-hati. Melangkah mengamati ruangan kamarnya. Siapa tahu bisa mengurangi rasa kagetnya saat mengalami kejadian yang tidak terduga, atau melihat sesuatu secara tiba-tiba.
Ternyata Tania merasa kaget juga, ia dikejutkan dengan sesosok mahluk tampan yang berbaring di sofa. Tania mendekati sosok tersebut. Duduk di sebelahnya, membelai rambutnya dan mencium keningnya.
Edos membuka mata. "Baru pulang, Say? Bau obat badan kamu," cicit Edos.
"Ini mau mandi, kapan sampai, Yank? Kok cepat banget?" tanya Tania.
"Aku khawatir takut kamu kenapa-napa, makanya tadi pas kamu tutup telepon aku langsung berangkat kemari," jawab Edos.
"Aku enggak kenapa-napa kok, tapi Nadia sampai sekarang belum sadar. Memang ke sini naik apa kok bisa cepat?"
"Naik pesawat, enggak mungkin kan? Helikopter juga enggak mungkin. Bawa mobil sendiri juga kamu enggak ngijinin. Enggak naik kereta api juga." Edos menjawab dengan penuh teka-teki.
"Tinggal jawab saja repot amat, pakai teka-teki lagi, enggak mungkin juga kan tiba-tiba kamu punya ilmu halimun. Dah ah, aku mau mandi, udah gerah banget," cebik Tania meninggalkan suaminya yang tertawa tertawa usil.
Tania membawa tubuhnya
memasuki kamar mandi. Dan tak berapa lama sudah terdengar bunyi gemericik air. dari dalam kamar mandi tersebut.
Ternyata Tania lupa membawa baju ganti, di dalam kamar mandi hanya ada selembar handuk. Tania pun mengenakannya sebagai kemben. Ia keluar dari kamar mandi menghampiri pintu lemari.
Saat sedang memilah-milah piyama yang hendak ia pakai untuk membalut tubuhnya, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya. Hembusan angin di telinga juga membuatnya merinding.
"Tidak usah pakai baju dulu, aku pengen jenguk Dedek," pinta Edos mendamba.
Tania bukan anak kemarin sore yang tidak tahu maksud suaminya dengan kata "jenguk". Ia pun menghentikan pergerakan tangannya dan berkata, "Memangnya kamu enggak capek? Aku capek pengen langsung tidur."
"Kangen aku udah di ubun-ubun, Yank. Kalau kamu capek, kamu enggak usah ngapa-ngapain," cicit Edos.
Tania membalikkan badannya, menatap suaminya yang yang menatapnya penuh harap. Edos menatap tubuh seksi istrinya yang hanya terbalut handuk sedang, gundukan bukit kembarnya nampak mentep-mentep semakin mengundang gairahnya.
"Yaudah ayo!" ajak Tania.
Tania menarik tangan Edos yang seperti tertancap paku menatapnya. Membawanya menghampiri ranjang. Kalau urusannya sudah ranjang. Mak Kusay enggak mau ikut campur ah. Takut dosa apalagi mau bulan puasa.
**TBC.
.
.
Maaf ya baru bisa up, soalnya kemarin ada Bimtek berangkat pagi pulang sore malam capek jadi nggak bisa nengok kalian 🙏
Terus Alhamdulillah, Mak Kusay ketularan Tania sama Niken, jadi bawaannya pengen tidur melulu😀
Terimakasih yang udah setia😍**
__ADS_1