
Matahari merangkak naik hingga 100 derajat dari ufuk timur,
Burung-burung masih terdengar kicauannya, berterbangan kian kemari melepas pagi yang hampir pergi.
Deru kendaraan yang semakin memadati jalanan seperti dikomando untuk menyambut siang.
Seberat apapun ujian menerpa
Roda kehidupan haruslah berputar.
Hari ini Tania mengambil jadwal shift siang, karena ia ingin menemani suaminya saat ada kunjungan dokter. Kira-kira pukul 10 pagi dr. Heru baru bisa datang karena pagi hari dia harus bertugas di rumah sakit lain, maklumlah rumah sakit umum berbeda dengan rumah sakit swasta yang bonafit.
Pagi menjelang siang ketika dr. Heru mengunjungi ruangan tempat Edos dirawat, ditemani oleh seorang perawat dan seorang tenaga rekam medik, mereka melangkah dengan pasti masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Selamat pagi, bapak. Eh, Mas Muhammad Azhar Firdaus," sapa dokter Heru sambil mengeja tulisan yang tertera pada map yang dipegang oleh petugas rekam medik.
"Pagi juga, Dok."
"Bagaimana perasaan anda sekarang, Mas Azhar? Apa sudah enakan?" tanya dokter Heru sambil menyusupkan dan menekan-nekan stetoskop ke dada Edos.
"Sudah enakan, Dok. Sudah ingin pulang. Tapi kaki masih sakit jika digerakkan dan punggung agak nyeri."
"Hasil Rontgennya sudah diambil?" tanya dokter Heru lagi.
"Sudah, Dok," jawab Tania kemudian mengambil Amplop coklat lebar dari dalam laci lemari kecil di samping brangkar. "Ini, Dok," ucapnya sambil menyerahkan amplop besar tersebut.
Amplop tersebut diterima oleh dokter Heru dan dibukanya perlahan. Diperhatikan gambar dengan seksama.
"Gini ya, Mas. Mengapa kaki anda masih sakit ketika digerakkan? itu karena pada saraf tulang belakang anda mengalami cedera. lihat ini!" ungkap dokter Heru sambil melingkari gambar hasil foto Rontgen dengan jari telunjuknya.
"Lalu bagaimana supaya saya bisa cepat berjalan kembali, Dok?" tanya Edos lagi.
"Anda harus rutin melakukan latihan, bisa dilakukan sendiri di rum ah didampingi oleh keluarga atau didampingi oleh ahli fisioterapi," jawab dokter Heru.
"Jadi hari ini saya sudah boleh pulang, Dok?"
"Silahkan, saya kasih resep obat pereda nyeri silahkan ditebus ya," ucap dokter Heru sambil menuliskan pada secarik kertas.
"Dan jangan lupa untuk kontrol setiap dua minggu sekali," pungkas dokter Heru.
"Terimakasih, Dok."
Ketiga paramedis tersebut pamit undur diri ke luar ruang rawat Edos. Tania mendekati Edos dan duduk di tepi brangkar.
"Say, sudah ada kabar dari Mas Rifki?" tanya Edos pada Tania setelah kepergian dokter.
"Belum, Yank. Bentar aku hubungi lagi."
Tania merogoh ponsel yang ada di dalam tas selempang miliknya untuk menghubungi Rifki. Panggilan terhubung.
"Iya, Tan. ini lagi OTW ke situ, ditunggu sebentar ya!" suara Rifki di ujung telepon.
"Oh iya, Mas."
Rifki langsung menutup panggilannya.
"Sedang menuju ke sini, Yank. Aku tinggal nebus obat dulu ya, enggak apa-apa kan sendiri?" pamit Tania.
"Jangan lama-lama."
"Nggak lama kok."
Tania mengecup singkat kening suaminya, dan ketika ia hendak beranjak, tangannya ditarik oleh Edos.
"Apalagi, Yank?" Tania mengernyitkan dahinya.
Edos hanya menjawabnya dengan isyarat, jari telunjuknya menunjuk ke arah bibirnya.
"Dih, Kelamaan, Yank. Nanti keburu Mas Rifki datang loh."
"Bentar doang," rengek Edos seperti anak kecil.
"Ih, lepasin!" Tania mencoba menepis tangan Edos. "Week.." Tania menjulurkan lidahnya sambil tertawa mengejek dan berlalu pergi.
Edos hanya tersenyum menanggapi sikap istrinya yang seperti anak kecil tersebut.
Sesampai di luar ruangan, Tania sebenarnya masih bingung, kalau uangnya masih kurang untuk membayar biaya rumah sakit, ia harus mendapatkan pinjaman darimana lagi.
Sebaiknya aku ke kasir terlebih dahulu, nanti kalau ada sisa uang baru aku tebus obatnya di apotek, batin Tania.
Tania menyeret kakinya menuju keberadaan bagian administrasi. Tidak sulit untuk menemukan bagian administrasi karena biasanya berada di ruang pendaftaran.
Sementara itu, Rifki baru saja tiba di rumah sakit. Ia memarkirkan mobil box yang dipinjamnya dari minimarket. Rifki Turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit, ia menghampiri resepsionis untuk menanyakan keberadaan ruangan tempat Edos dirawat.
Rifki kembali melanjutkan langkahnya setelah ia mendapatkan petunjuk arah, sesekali ia memperhatikan papan arah ruangan. Sebenarnya Rifki pernah mengantarkan Tania ke rumah sakit ini, tetapi waktu itu ia hanya mengantarkan sampai di depan gerbang, tidak ikut masuk ke dalam.
Rifki berhenti di depan pintu ruangan, Matahari O7. Ia ragu mencoba memegang gagang pintu lalu menariknya ke bawah untuk membukanya. Ia melongokkan kepalanya ke dalam ruangan, kemudian seluruh badannya.
Rifki membaca papan nama yang menggantung di brangkar bagian depan. Tidak mendapatkan nama Edos, Rifki mencoba bertanya.
"Permisi, Mas. Apa di ruangan ini ada pasien yang bernama Edos?" tanya Rifki kepada pasien yang sedang sibuk bermain HP di ruangan tersebut. Edos mendongakkan kepalanya yang sejak tadi menunduk.
"Mas Rifki ya? Edos itu nama panggilan saya, Mas."
__ADS_1
"Oh, kamu Edos? Muhammad Azhar Firdaus kenapa jadi Edos? jauh banget, biasanya kan panggilannya Daus," protes Rifki yang kemudian mendudukkan pantatnya di kursi lipat. Edos hanya tersenyum menanggapinya.
"Teman-temanku yang manggil begitu, Mas."
Edos mengetik pesan WhatsApp untuk Tania.
[Say, Mas Rifki sudah sampai nih, kamu masih lama engga?]
send,
seketika centang biru, Tania online
Cling,
[Masih ngantri obat, Yank. Banyak banget yang ngantri. Suruh nunggu aja ya.]
Sementara itu, Tania yang sedang mengantri membeli obat sedang duduk di kursi tunggu sambil menonton televisi.
"Tuan Muhammad Azhar Firdaus!" seru tiba-tiba salah seorang apoteker mengagetkan Tania.
"Iya, Mbak," Tania bergegas maju menghampiri loket apotek.
"Obatnya lima ratus ribu, Mbak. Mau ditebus semua atau separo dulu?" tanya Sang Apoteker.
"Semuanya, Mbak," jawab Tania.
Apoteker menuliskan pada selembar nota dan memberikannya pada Tania.
"Ini silahkan bayar di kasir, Mbak!" suruh Apoteker. Tania mendengus pelan.
Ribet amat si, dari tadi disuruh bolak-balik melulu, gerutu Tania.
Tania meletakkan nota tersebut di meja di depan kasir yang hanya berjarak 3 meter dari apoteker. Selanjutnya Tania duduk kembali.
"Tuan Muhammad Azhar Firdaus," panggil kasir. Tania mendekat.
"Lima ratus ribu rupiah ya, Mbak."
Tania mengeluarkan 5 lembar uang dari dalam tasnya, kemudian menyerahkannya pada Kasir. Kasir memproses pembayaran Tania kemudian menyerahkan nota yang telah distempel lunas kepada Tania.
"Silahkan kembali ke apotek, Mbak." Tania mengetok jidatnya sendiri. Ia menunjukkan kembali nota tersebut kepada petugas apotek, baru dia dapat menerima obat yang sudah dia bayar.
Tania kembali ke ruangan Edos bersama dua orang perawat, satu perawat perempuan dan satunya lagi perawat laki-laki yang mendorong kursi roda.
Perawat perempuan membantu Edos melepaskan selang infus dan kateter, sedangkan perawat laki-laki membantu memindahkan Edos ke kursi roda dan mengantarnya hingga ke luar dari rumah sakit.
Tania sampai di depan ruangan langsung masuk ke dalam.
"Mas Rifki, sudah lama nunggunya?" tanya Tania mendapati Rifki sudah duduk di kursi lipat.
Rifki kini telah duduk di kursi kemudi, di samping kirinya ada Edos dan di samping kiri Edos ada Tania. Barang-barang mereka ditaruh di bagian belakang.
Rifki mulai melajukan mobilnya membelah jalanan menuju ke rumahnya. Dalam perjalanan ponselnya bergetar, ada notifikasi panggilan masuk. Rifki menerima panggilannya dengan menekan tombol earphone.
"Ya, halo?"
"Baik, Pak. Saya akan segera ke sana,"
"Sama-sama,"
Suasana hening sejenak, Rifki kembali fokus mengendalikan setir mobil, ia menghentikan mobilnya di sisi jalan masuk gang.
"Dos, Tan. Mobilnya nggak bisa masuk ke dalam, kalian turun di sini saja ya!"
Rifki membuka pintu di sampingnya, ia berjalan menuju ke belakang mobil dan membuka pintu bagian belakang. Rifki mengeluarkan kursi roda dan barang-barang lainnya dari sana.
Rifki membuka kursi roda yang terlipat kemudian mendorong kursi tersebut mendekati pintu mobil bagian depan
Tania keluar terlebih dahulu, kemudian ia membantu suaminya untuk turun.
"Pelan-pelan, Yank,"
Rifki juga ikut membantu Edos untuk duduk di kursi roda. ia kembali mengambil barang-barang yang ada di belakang mobil dan menyerahkannya kepada Tania.
"Maaf, aku nggak bisa ngantar kalian sampai rumah. Tadi Pak Manajer telfon, menyuruhku untuk menemui Pak Direktur sekarang juga, kalian tidak apa-apa kan?" tutur Rifki.
"Iya, Mas. Enggak apa-apa sudah dekat, terimakasih banyak ya, Mas."
Sepertinya ada masalah serius, sampai-sampai Mas Rifki disuruh menemui Pak Direktur langsung, batin Tania.
Rifki langsung menutup pintu mobil belakang dan depan kiri, ia bergegas duduk di kursi kemudi, dan membawa mobilnya pergi meninggalkan Edos dan Tania yang memandang kepergiannya.
Tania memandangi barang-barangnya yang teronggok di pinggir jalan, ada tas ransel, termos, tikar lipat dan bantal.
"Yank, gimana bawanya ini?" Tania menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Edos menoleh ke arah pandangan Tania, ia mengerti.
"Tas kamu gendong, termos kamu cangking, biar tikar sama bantal aku pangku," usul Edos.
Tania melakukan apa yang diusulkan Edos, ia mengambil tikar dan bantal diletakkannya di pangkuan Edos. Menggendong tas ransel dan tangan kirinya menyangkung termos, sementara tangan kanannya mendorong kursi roda yang diduduki Edos.
Dengan perlahan mereka meninggalkan gerbang gang. Hanya butuh waktu 15 menit, mereka kini telah sampai di depan rumah Bu Retno.
__ADS_1
"Kita tinggal di sini untuk sementara ya, Yank?"
"Iya, Say."
Bu Retno yang saat itu berada di warung depan rumahnya, tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Ee..., sudah pulang ya," ucap Bu Retno meraih termos dari tangan Tania.
Bu Retno membukakan pintu rumahnya. Tania mendorong kursi roda yang diduduki Edos memasuki rumah dan langsung menuju kamar mereka.
Sementara itu, Rifki membawa yang mobil box sedang menuju ke kantor pusat ARD's Corp. Ia tidak sempat menukar mobil yang dia bawa dengan motornya, karena perintah untuk menemui Pak Direktur langsung harus segera dilaksanakan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Rifki bergegas keluar dari mobil setengah berlari ia melangkah menuju ke lobby. Ini adalah pengalaman pertama kalinya menginjakkan kaki di kantor ARD's Corp.
Rifki menghampiri customer servis. CS yang mengenali seragam yang dipakai oleh Rifki menjadi ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" sapa CS Adilla.
"Saya Rifki, Mbak. Pegawai Ardimart cabang Cakung, saya mendapat panggilan untuk menemui Pak Direktur. Ruangan Pak Direktur di mana ya, Mbak?" tanya Rifki kepada customer servis.
"Masnya naik lift ini saja ke lantai 7, nanti di lantai 7 cari ruangan yang ada tulisannya Direktur," jawab CS Adilla sambil menunjuk ke arah lift.
"Terimakasih, Mbak," ucap Rifki berterima kasih kepada CS Adilla.
"Sama-sama, Mas,"
Rifki menghampiri lift yang ditunjuk oleh CS Adilla, menunggu hingga pintunya terbuka. Kebetulan ada beberapa karyawan lain juga yang sedang menunggu.
Lift pun terbuka, Rifki beserta karyawan lain masuk ke dalam lift tersebut. Pintu lift segera menutup kembali. Rifki bingung karena baru pertama kali naik lift. Dia ingin bertanya tetapi malu.
"Mas minimarket mau ke lantai berapa?" tanya pegawai yang berdiri di depan Rifki.
"Saya? mau ke lantai 7, Pak," ucap Rifki menunjuk dirinya sendiri.
Sesaat kemudian terdengar suara seorang wanita menggema. "LANTAI TUJUH, SILAHKAN KELUAR!"
"Silahkan, Mas! sudah sampai lantai tujuh," ucap bapak-bapak yang tadi bertanya kepada Rifki.
"Terimakasih, Pak," ucap Rifki.
Rifki melangkah keluar dari lift, sejenak memperhatikan ruangan yang ada di hadapannya. Ia menghampiri seorang wanita yang duduk di depan ruangan yang bertuliskan Direktur menempel di atas pintu.
"Selamat siang, Mbak. Pak Direktur ada?" sapa Rifki.
"Mas Rifki, ya? Silahkan sudah ditunggu Pak Bram sejak tadi," jawab Sekretaris Hilda.
Hilda beranjak dari kursinya, ia mengetuk pintu ruangan direktur sebanyak tiga kali.
"Masuk!"
Setelah terdengar perintah masuk dari dalam ruangan, Hilda membuka pintu ruangan tersebut. Rifki mengikutinya dari belakang.
Terlihat seorang pria yang kira-kira berusia tiga puluhan sedang dengan kepala menunduk fokus berkutat dengan berkas-berkas di depannya, dia adalah Bramantyo.
"Ada apa?" tanya Bram yang belum bisa berpaling pandangannya.
"Rifki sudah datang, Pak Bram," jawab Hilda.
"Suruh dia duduk, dan kamu keluar!" perintah Bram.
"Baik, Pak," jawab Hilda, ia langsung melenggang keluar dari ruangan dan menutup pintunya sebelum mendengar suara tenor bos-nya.
Rifki duduk berhadapan dengan Bram, ia masih menunggu hingga Bram selesai memeriksa berkas-berkas yang dipegangnya.
Suasana hening sejenak. Bram mendongakkan kepalanya menghadap ke Rifki.
"Rifki, saya mendengar laporan bahwa di toko kerja kamu hanya pacaran saja. Apa itu benar?"
Rifki terperanjat kaget merasa dihakimi.
"Siapa yang melapor kepada anda, Pak?" tanya Rifki heran.
"Kamu tidak perlu tahu siapa yang melapor kepada saya, tinggal jawab saja, benar atau tidak!" tukas Bram.
"Memang benar saya pacaran, tetapi kan saya pacaran di luar jam kerja, Pak," Rifki menjawab sekaligus protes.
"Jadi benar? Kamu di toko hanya pacaran," tanya Bram memastikan sekali lagi.
Bram melempar selembar amplop coklat kecil ke hadapan Rifki.
"Saya dipecat, Pak?" tanya Rifki tidak percaya.
Tega sekali orang yang telah melaporkanku seperti itu, padahal selama ini aku berkerja dengan baik, dan aku pacaran tidak mengganggu waktu kerjaku, Rifki menggerutu dalam hatinya.
"Kenapa bengong? Ambil amplop itu! Dan kamu masih diberi waktu tiga hari untuk berkemas." Suara Bram mengagetkan Rifki seketika.
Dengan ragu-ragu Rifki meraih amplop coklat tersebut. Perlahan-lahan ia merogoh kertas putih yang ada di dalamnya dan membuka kertas tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca
😘😘😘