2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Permintaan


__ADS_3

"Begini Om, kakak saya satu-satunya sekarang kuliah di Oxford university. Dulu dia kerja di Ardimart cabang Bandung. Saya mau om memintanya sebagai menantu saat kelak dia lulus dan kembali ke Indonesia. Kasih dia pekerjaan yang layak supaya bisa menghidupi anak istrinya," cetus Nadia.


"Maksud kamu, kamu ingin menjodohkan kakak kamu dengan Tania?" todong Ardi.


"Ha?" Tania membelalakkan matanya seketika.


"Bu-bukan, bukan lah Om," sangkal Nadia.


"Lalu siapa? Anak perempuan Om cuma dua dan Aghni masih sekolah," tanya Ardi.


"Justru Kang Nadhif dan Aghni itu, mereka saling mencintai, Om," ucap Nadia yakin. "Om bisa bertanya kepada Om Ardan adiknya Om Ardi yang tinggal di Bandung," sarannya.


"Kok kamu bisa seyakin itu dan lebih tahu banyak dari Om sepertinya?" ujar Ardi penuh selidik


"Iya lah, Om. Dulu waktu Nadia menemani Mas Rasya membangun vila di Bandung, mereka itu udah sering jalan bareng. Mana ada dua orang laki-laki dan perempuan jalan berdua kemana-mana kalau enggak ada hubungan?" ungkap Nadia.


"Nadhif sama Aghni?" Ardi memastikan.


"Benar, Om. Siapa lagi? Tania kan dulu masih punya suami," sahut Nadia.


Ardi masih menimbang-nimbang.


"Gimana, Om?" Nadia memastikan.


"Oke, in sya Allah kalau mereka memang saling mencintai, Om akan restui mereka sampai menikah," janji Ardi.


"Tapi Om Ardi yang melamar Kang Nadhif untuk menjadi suaminya Aghni. Kang Nadhif pasti insecure kalau harus melamar Aghni yang notabene putri seorang Om Ardi yang tajir melintir kepuntir-puntir," pinta Nadia.


"Baiklah, Om akan kabulkan permintaanmu, tapi Om tidak akan memaksa jika ternyata mereka tidak mau ya. Om sudah tidak mau menjodoh-jodohkan Aghni lagi. Cukup satu kali dulu Om menjodohkannya dengan Rayyan dan itupun dia tolak. Akibatnya dia sekarang lebih nyaman tinggal bersama Omnya tidak mau tinggal bersama Om yang papanya," janji Ardi.


"Iya, Om. Terima kasih ya," ucap Nadia bahagia. Akhirnya ia sudah mendapatkan restu untuk hubungan kakaknya dengan keluarga konglomerat.


"Kamu beneran tidak mau makan siang bareng Om? Om yang traktir," tawar Ardi memastikan.


"Enggak ah, Om. Nanti kalau ada teman Nanad lihat, dikiranya Nanad punya sugar Daddy lagi," tolak Nadia.


"Begitu?" ucap Ardi sambil tertawa.


"Tapi kita boleh perawatan ke salon terbaik 'kan, Pa?" cetus Tania.


"Boleh, silakan. Biayanya nanti Papa transfer ke rekening kamu, Tan," sahut Ardi.


"Terima kasih, Pa. Ayo, Nad, kita jalan sekarang, nanti keburu sore lagi," ajak Tania kepada Nadia.


Tania mengajak Nadia menuju ke sebuah salon kecantikan terbaik di Jakarta. Mereka melakukan treatment menyeluruh dari ujung kepala hingga ujung kaki. Mereka mendapatkan pelayanan dari tenaga yang sudah sangat terlatih.


Body treatment di salon ini berupa Spa Slimming, Brightenning body treatment, Body Scrub, Bust engagement, Lipo Burner Injection hingga Whitening injection.


Di salon ini juga memberikan penghargaan untuk mahkota wanita dengan Hair Treatment. Yaitu, Hair Scalp therapy with Ozon, sebuah perawatan intensif dengan kombinasi bahan alami dan hair ozone untuk kulit kepala sehat, pertumbuhan rambut lebih berkilau dan hair spa treatment. Perawatan yang memberikan nutrisi pada rambut dan kulit disertai teknik pemijatan ini sendiri mampu merileksasi pikiran serta tubuh.


Tak hanya perawatan untuk skin, body & hair treatment saja, juga ada perawatan khusus untuk menambah kepercayaan diri wanita melalui Nail Treatment. Perawatan ini dipandu oleh Nailist dan Nailtrix terlatih. Salon kecantikan kuku menggunakan barielle, yaitu sebuah produk kuku yang terkenal di dunia yang meliputi Basic Nail Treatment dan Nail Polish.


Hingga pukul delapan malam treatment yang mereka jalani barulah rampung. Tania merogoh kocek hingga 6 juta rupiah untuk membayar ongkos perawatan tersebut.


"Nyaman banget sekarang rasanya tubuhku, kalau enggak ingat ada anak di rumah sepertinya aku tidak ingin pulang," ungkap Tania saat mobil yang mereka kendarai keluar dari area salon.


"Hahaha betah banget, ingat kamu ini siapa, Tan. Jangan mentang-mentang sekarang kamu pegang uang banyak ya jadi ngerasa di atas awan," cibir Nadia.

__ADS_1


"Minta jemput di rumahku aja ya, Nad, capek aku kalau harus antar kamu ke rumah mertua kamu," cetus Tania.


"Oke, tapi kalau suamiku enggak bisa jemput, aku boleh bawa mobil kamu ya. Yang lelah kan kamu, aku enggak," timpal Nadia. "Suamiku kayaknya tadi pagi bilang ada kelas ekstensi akhir pekan deh," ungkapnya.


Sampai di rumah Ardiansyah, ternyata Rasya sudah menunggu di ruang Tamu.


"Mas Rasya? Kok udah di sini? Tadi bilangnya ada ngisi kelas ekstensi akhir pekan," cecar Nadia kepada Rasya. Nadia duduk di samping suaminya. Sementara Tania duduk di samping Ardi yang duduk bersebrangan dari Rasya.


"Mas sengaja membatalkan acara demi menyambut istri tercinta baru pulang dari salon," kekeh Rasya.


"Ah Mas bikin aku malu aja, kan jadi ketahuan kalau aku jarang ke salon," cicit Nadia.


"Justru Mas yang harusnya malu karena enggak bisa membiayai istrinya perawatan di salon. Ke salon saja mesti di biayai sama Om Ardi," timpal Rasya. "Kedepannya Mas akan biayai kamu rutin pergi perawatan di salon," janjinya.


"Terima kasih banyak ya, Mas," ucap Nadia memeluk lengan Rasya.


"Maaf, Om, sudah merepotkan. Kami permisi pulang," pamit Rasya.


"Om yang seharusnya mengucapkan terima kasih, Rasya. Kalian sudah dengan suka rela membantu Tania," timpal Ardi.


Akhirnya Nadia tidak jadi membawa pulang mobil Tania. Karena ia mendapat kejutan dijemput sang suami.


"Pa, Tania ke kamar dulu ya?" pamit Tania.


"Kamu enggak mau menemani papa makan? Papa sengaja nunggu kamu loh dari tadi karena pengen makan malam sama putri papa yang makin kinclong ini," ungkap Ardi yang dibumbui dengan kalimat hiperbola. Tania sekarang memang terlihat makin kinclong berbeda dengan dulu saat awal tinggal di rumah itu, kulit Tania dulu kuning langsat. Sekarang makin putih.


"Erghm erghm, Mama cemburu nih, Pa," Dewi berdeham menyela percakapan ayah dan anak tersebut. "Ayo makan dulu, Sayang. Kamu jangan mikirin diri sendiri, Tan. Ada Attar yang masih butuh ASI kamu," ajaknya pada sang putri.


Dewi menarik tangan putri dan suaminya untuk mengikutinya pergi ke meja makan.


"Pa, peringatan 100 hari meninggalnya Edos, kita bisa ngadain do'a bersama di rumah ini kan?" cetus Tania memohon.


"Enggak, Pa. Di sini aja. Lagian saat masa Iddah ku selesai kita juga bakal ke sana lagi kan? Sekalian ke sananya saat pembacaan surat wasiat saja setelah masa Iddah ku udah selesai sekalian ziarah," ungkap Tania.


"Oke kalau itu keputusan kamu, Papa setuju," timpal Ardi. "Besok papa akan suruh Frida bikin undangan, kamu buat daftar saja siapa-siapa yang akan kamu undang," perintahnya.


"Siap, Pa!" sahut Tania.


*****


"Mas jadi ya jadi narasumber seminar di Solonya?" tanya Nadia saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Jadi, Sayang. Kamu mau ikut?" Rasya bertanya balik.


"Enggak ah, nanti tugasku jadi numpuk, kasihan juga Tania kalau kuliah sore sendiri."


"Kamu mau perawatan ke salon rutin?" tanya Rasya.


"Emangnya enggak papa, Mas?" tanya Nadia balik.


"Enggak apa-apa, sih. Kan hasilnya nanti Mas Rasya yang nikmatin juga," sahut Rasya.


"Mau sih, tapi kalau ke salon yang tadi sayang sih menurutku uangnya, Mas," ucap Nadia.


"Kamu kan bisa ke salon langganan Ibu, Sayang," cetus Rasya.


"Iya, besok-besok anterin Nanad ke salon langganan Ibu ya," pinta Nadia.

__ADS_1


"Kamu bukannya pernah ke sana?" Rasya memastikan.


"Iya, waktu itu bareng sama Tiara juga. Ah jadi ingat Tiara deh, Mas. Kangen," cicit Nadia.


"Dia betah tinggal bareng keluarganya," ucap Rasya. "Sayang, mau makan apa?" Rasya mengalihkan pembicaraan.


"Nyari angkringan aja ya, Mas. Pengen wedang jahe," sahut Tania.


***


Sementara di sebuah mall, tepatnya di toko buku di sudut mall.


"Mas Fauzan belum mau pulang? Udah mau jam sepuluh nih," tanya seorang pegawai di toko buku milik Fauzan.


"Sebentar lagi, Din," sahut Fauzan.


Fauzan memang menyewa kios di beberapa mall untuk membuka toko bukunya dan memiliki sebuah kafe yang kini dikelola oleh adiknya. Hobinya membaca dan mengoleksi buku ini mendorongnya untuk memiliki perpustakaan dan toko buku sendiri.


Toko buku utamanya berada satu komplek dengan kafe. Sementara di beberapa mall ia membuka cabang untuk menggaet konsumen pengunjung mall. Dinding toko yang terbuat dari kaca membuat ia leluasa melihat pengunjung yang datang dari dalam toko.


Fauzan membuka ponselnya dan mengetikkan sesuatu.


[Capek ya baru pulang habis perawatan di salon?] Mas Fauzan.


Pesan itu langsung mendapat centang biru?


[Kok Mas Fauzan bisa tahu? Apa jangan-jangan Mas Fauzan kirim orang buat mata-matain Tania ya?] Tania.


[Mas tadi lihat Dek Tania masuk dan keluar dari salon. Mas kerja di toko buku samping nyalon.]


[O, toko buku yang itu. Kapan-kapan Tania mampir ke sana deh.] Tania.


[Oke, Mas tunggu kedatangan kamu.]


[Mas Fauzan sudah pulang belum?] Tania.


[Ini lagi berbenah bentar lagi pulang.]


[Hati-hati di jalan ya. Tania juga mau istirahat, assalamu'alaikum] Tania.


[Wa'alaikumussalam, jangan lupa sholat isya dulu ya, met istirahat]


Usai mengetik balasan chat terakhir untuk Tania, Fauzan menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Pemuda itu lalu merapikan mejanya. Setelah memastikan semua aman ia keluar dari toko dan mengunci pintu. Pemuda itu melangkah menuju ke tempat ia memarkirkan mobilnya dan membawa mobil tersebut meninggalkan area mall.


Lagu-lagu sholawat mengiringi perjalanannya dari mall hingga sampai di rumahnya 30 menit kemudian.


"Assalamu'alaikum," ucap Fauzan saat sampai di depan pintu rumahnya.


"Wa'alaikumussalam," seorang wanita paruh baya membukakan pintu menyambutnya. "Baru pulang tho, Le?" tanyanya sembari menyodorkan punggung tangannya.


"Inggih, Bu," sahut Fauzan menerima uluran tangan tersebut. "Ibu kok belum tidur?" tanyanya kepada sang ibu.


"Ibu nunggu kamu, Le?" sahut sang ibu.


Fauzan tersenyum bahagia mendapat perhatian dari ibunya. Ia lalu mengunci pintu dan menggandeng ibunya masuk ke dalam kamarnya.


"Mandi dulu, Le. Badan kamu bau, untung ibumu yang kamu gandeng," cibir sang ibu. Fauzan hanya terkekeh.

__ADS_1


"Ibu tidur ya sudah malam," ucapnya sembari membantu membaringkan ibunya ke tempat tidur.


Fauzan mencium kening ibunya sebelum meninggalkan kamar wanita paruh baya tersebut. Pemuda itu langsung mengguyur rambutnya saat bertemu air hangat di dalam kamar mandi.


__ADS_2