
Cinta itu sederhana, sesederhana mencintai apa adanya dan seadanya. Karena, cinta itu hadir untuk saling melengkapi agar cinta bisa menjadi sempurna
Cinta itu sederhana, selalu sederhana. Kadang-kadang hanya membutuhkan hal sederhana untuk memastikannya
-------------------
"Lalu mengapa kalian tidak kasihan dengan Tania? Dia dan suaminya mengalami kecelakaan saat baru sampai di kota ini hingga membuat suaminya koma selama 10 hari dan ketika sadar kaki suaminya lumpuh, tanpa pekerjaan dia harus membiayai dirinya dan suaminya," ungkap Bram.
"Maafkan Kami, Pak!" pinta Rina memohon.
"Dan perlu kalian ketahui, Tania itu adik saya yang selama ini keluarga saya cari. Bahkan jika dia mau dia bisa saja langsung menduduki kursi yang saya tempati ini sebagai direktur Ardimart tanpa seleksi dan tanpa training, bukan hanya sebagai pelayan toko,"
Bram berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam kembali dan menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan ceritanya.
"Dan malam itu, saya melihatnya masuk di ballroom hotel Merysta dengan segelas jus buah di tangannya. Saya meminta jus tersebut dan meminumnya, kalian pasti tahu apa yang akan terjadi kan?"
Rina dan Sita terbelalak kaget. Tidak pernah terpikirkan dalam benak mereka kalau jus yang diberikan kepada Tania akan diminum oleh Presiden Direktur mereka langsung.
"Kalian pernah menonton berita kan, ada orang mati karena meminum obat perangsang dan tidak tersalurkan? Kalian pasti tahu apa yang terjadi dengan saya selanjutnya?"
"Sekarang kalian hanya punya dua pilihan, satu, dipecat dengan reputasi buruk di seluruh perusahaan, atau yang kedua, di mutasi ke Papua? silahkan kalian pilih!" tawar Bram.
"Saya tidak mau dipecat Pak," ucap Sita.
"Bagus, kamu Rina?" tanya Bram menunjuk pada Rina.
"Saya juga tidak mau dipecat, Pak," jawab Rina.
"Baiklah, Berarti kalian berdua memilih untuk dimutasi ke Papua," simpul Bram. "Dan buat kamu Lucky, tagihan yang dibebankan pada Tania akan dipotong dari gaji kamu sebagai hukuman atas keteledoran mu," Ucap Bram.
Bram menekan interkom memanggil Hilda, Hilda masuk ke ruangan Bram.
"Ada apa, Pak Bram?" tanya Hilda.
"Tolong kamu antar kedua perempuan ini ke ruangan Pak Fandy HRD, bilang padanya untuk membuatkan Surat Pengantar Mutasi buat mereka ke Papua," tutur Bram.
"Baik, Pak. Mari Nona ikut saya!" ajak Hilda pada Rina dan Sita.
Hilda, Sita dan Rina keluar dari ruangan tersebut menuju ke bagian HRD.
"Kamu boleh kembali ke berkerja, Lucky!" suruh Bram.
"Terimakasih, Pak. Maafkan atas keteledoran saya," jawab Lucky.
"Lain kali jangan diulangi ya," pinta Bram
"In Sya Allah, Pak," jawab Lucky.
Lucky menjabat tangan Bram lalu keluar.
Bram menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Jari tangan kanannya memijit keningnya, sepertinya beban berat masih bergelayut di pundak. Ia mengusap wajahnya kasar. Menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya dengan kasar.
"Huh!"
Apa saja dilakukannya untuk mengusir kegelisahannya. Ia melipat kedua tangannya di meja, kemudian menyandarkan keningnya di sana sambil berfikir.
Aku bingung, seperti banyak suara-suara yang menuntut ku untuk tanggung jawab, tanggung jawab yang bagaimana? menikahinya? Lah dia masih punya suami.
Niken, kenapa aku kembali melupakannya? Aku malu, benar-benar malu kalau harus bertemu dengannya setelah kejadian waktu itu. Maafkan aku Niken, kalau memang kita berjodoh, Tuhan pasti punya cara tersendiri untuk mempersatukan kita, batin Bram.
Waktu telah beranjak dari pukul 12 siang, meskipun masih seperti pagi hari karena cuaca hari ini sedikit mendung, cuaca di awal tahun memang lebih sering hujan, dan datangnya kadang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
Bram mengangkat kepalanya memandang Rifki yang duduk di sofa, ia beranjak dari duduknya.
"Rifki, kita makan siang di luar saja," Ujar Bram pada Rifki sambil berjalan ke arah pintu keluar.
"Baik, Pak," sahut Rifki.
Rifki mengekor Bram di belakangnya masuk ke dalam lift yang langsung sampai di basemen parkir gedung ARD's Corp. Rifki membukakan pintu untuk majikannya di kursi penumpang dan menutup pintu setelah Bram duduk. Ia memutari mobil bagian depan untuk duduk di kursi kemudi.
"Kita, mau makan di mana, Pak?" tanya Rifki sebelum melajukan mobilnya.
"Di restoran seberang gedung kita saja," jawab Bram.
"Oke, Pak," sahut Rifki.
Rifki melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sebenarnya jika ditempuh dengan berjalan kaki menuju ke Restoran tersebut sih cuma lima menit sampai, tetapi karena mereka harus memutar jalan jadi akan lebih lama sampainya.
Dua puluh menit kemudian mereka telah sampai di halaman restoran, Rifki memarkirkan mobil di area parkir.
Mereka keluar dari mobil berjalan menuju restoran. Mereka mencari kursi yang kosong, Bram mendapatkan tempat favorit di samping jendela. Mereka duduk berhadapan. Seorang pelayan perempuan datang menghampiri mereka.
"Pak Bram, mau pesan apa?" tanya Pelayan tersebut.
__ADS_1
"Seperti biasa saja, Nay," jawab Bram pada pelayan yang ternyata bernama Naya.
"Oke, Pak. Masnya mau pesan apa?" jawab dan tanya Naya.
Rifki masih melihat-lihat daftar menu, ini kali pertama dia makan di restoran tersebut, masih bingung.
"Samain Pak Bram saja, Mbak," jawab Rifki.
"Memangnya kamu tau saya pesan apa, Rif?" tanya Bram.
"Memangnya Anda pesan apa?" tanya Rifki.
"Pak Bram pesan nasi sama ayam rica-rica, minumnya es lemontea, Mas. Anda mau juga?" jawab dan tanya Naya.
Rifki masih bingung, ayam rica-rica? pasti rasanya pedas banget.
"Apa Masnya mau mencoba menu andalan restoran kami yang lainnya? Ada Fried Oxtail, Nasi Goreng TRK, Salmon Steak, Fried Banana, Tape Bakar, Sirloin Steak, Salmon Teriyaki, Fish Soup, gado-gado dan Bebek Baduy. Silahkan dipilih, Mas!" Naya masih menawarkan.
Gado-gado? Gado-gado paling enak itu cuma buatan ibuku doank, Mbak. Gado-gado Bu Retno Pinasti. Hehehe..
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Kesambet kamu, Rif? Udah buruan pesan, sudah paper banget nih," gerutu Bram.
"Saya mau coba menu bebek baduy, Mbak. Jangan lupa pakai nasi putih, minumnya es jeruk manis ya," ucap Rifki memesan makanannya.
"Oke, Mas. Silahkan ditunggu, permisi," ucap Naya kemudian berlalu pergi.
"Rif, aku mau curhat tentang hubunganku dengan Niken," ucap Bram. "Menurut kamu aku harus bagaimana sama Niken? Aku merasa malu untuk menemuinya kembali setelah peristiwa lak*at itu," tuturnya.
Rifki masih menjadi pendengar yang setia.
"Waktu awal pernikahan kami, aku membuat surat perjanjian, lalu sebelum kejadian itu aku sudah berniat untuk melupakan surat perjanjian tersebut dan akan memperbaiki hubungan kami. Ternyata dia yang malah memergoki malam lak*at itu pertama kali, semuanya hancur gara-gara pegawai toko nggak punya otak itu," tutur Bram diakhiri dengan emosi.
"Mungin untuk saat ini Niken butuh waktu untuk sendiri dulu, Pak. Dan untuk mengusir perasaan malu yang ada di hati Pak Bram, saya kira lebih baik gunakan waktu ini untuk refleksi diri dan introspeksi, menyadari kesalahan-kesalahan masing-masing," tutur Rifki.
Makanan yang mereka pesan pun datang, mereka menikmati makan siang dengan sambil berbincang-bincang.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Malam hari di ruang keluarga Kediaman keluarga Ardiansyah, Mereka sedang berkumpul. Tania rebahan di sofa dengan pangkuan mamanya yang sedang duduk sebagai bantalan. Ardi dan Abizar duduk di sofa yang lainnya, sementara yang lainnya duduk di karpet bulu. Mereka sedang menyaksikan acara televisi dengan home teather.
"Kak Tania, ikut Sisi pulang ke kampung ya besok pagi. Masa kita pulang cuma berdua, cuma aku dan Mas Aris. Aku takut nanti ada setan yang godain Mas Aris, Kak," ucap Sisi menghiba. Tania menengok ke arah Dewi, meminta mamanya untuk menjawab.
"Sisi, Bude kan baru saja ketemu sama kak Tania setelah bertahun-tahun lamanya, masa kamu tega misahin Kak Tania sama Bude lagi," bujuk Dewi.
"Ya udah, kalau Kak Tania enggak bisa, Kak Bizar saja ikut pulang bareng kami, ya kak?" Sisi memohon kepada Abizar.
Sisi cemberut, "Nggak ada yang sayang sama Sisi ya," keluhnya.
"Mas Aris tetap sayang sama Sisi kok," ucap Aris.
"Udah tahu, tapi Sisi takut kalau pulang satu mobil cuma sama Mas Aris doang," ucap Sisi merajuk.
"Ya udah, pulangnya besok-besok lagi saja, kan sekolahnya bisa dari Jakarta," bujuk Dewi.
"Besok pagi atau besok-besok lagi juga sama aja kan, Bude. Kalau pulang kampung tetap berdua saja," ucap Sisi masih berharap ada yang menemani dia dan Aris pulang.
"Besok siang Bude ajak ke mall deh, Sisi boleh ambil apa saja yang Sisi mau, gimana?" tawar Dewi.
Mendengar akan diajak ke mall Sisi menjadi sumringah kegirangan. "Beneran, Bude? Sisi boleh ambil apa saja yang Sisi Mau?" tanya Sisi girang.
"Beneran lah, Sisi. Sama gedung mallnya, sama penjual dan kasirnya kalau perlu juga boleh," jawab Dewi terkekeh.
"Asik.. Mas Aris, pulang kampungnya kita tunda dulu aja ya? Sisi pengen ke mall. Kita juga di sini belum liburan," pinta Sisi pada Aris.
"Iya, Sayang. Biar kamu senang," jawab Aris.
Sisi jadi senang, untuk sementara ia tidak meminta pulang bertiga lagi karena diiming-imingi akan di ajak ke mall. Ia jadi membayangkan akan dibelikan barang-barang yang mewah oleh Dewi, mamanya Tania.
"Tania, besok lusa kamu mulai kuliah ya, Papa sudah daftarkan kamu di perguruan tinggi," ucap Ardi pada Tania.
"Kuliah? Kan udah lewat dari penerimaan mahasiswa baru, Pa. Dan lagi pasti sudah banyak SKS yang harus dikejar," sahut Tania.
"Itu bisa diatur, yang penting kamu siapkan diri saja persyaratan buat kuliah, kamu bawa fotokopi ijazah kamu ke bagian administrasi. Besok siang sekalian belanja keperluan buat kuliah kamu di Mall," tukas Ardi.
"Baik. Terimakasih, Pa," jawab Tania.
"Memangnya kamu udah enakan, Sayang?" Tanya Dewi sambil mengelus-elus rambut putrinya.
"Tania enggak apa-apa kok, Ma. Tania kan enggak sakit," jawab Tania.
Tania hendak bangun dari tidurannya.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Tania mau ke kamar, Ma. Mau Videocall sama Edos sekalian minta ijin. Nanti Tania mau langsung tidur, Ma," jawab Tania.
"Oh iya, Sayang. Selamat Tidur," sahut Dewi.
Tania berdiri, ia mengayun langkahnya menuju ke kamar yang disediakan untuknya, di lantai dua bersebelahan dengan kamar Aghni.
"Sisi ikut ya, Kak," pinta Sisi.
"Ayo," ajak Tania.
Sampai di kamarnya, Tania meraih ponselnya yang ia taruh di atas nakas, ia menghempaskan pantatnya di ranjang dan bersandar di sandaran ranjang tersebut. Sisi duduk di samping Tania.
Tania mulai membuka layar ponselnya, membuka aplikasi WhatsApp, mencari kontak Edos, dilihatnya kontak nomor WhatsApp Edos sedang online.
"Alhamdulillah," ucap Tania.
Tania lalu melakukan panggilan video. Lagi-lagi tidak dijawabnya. Tania melakukannya berulang kali tanpa merasa jenuh. Hingga panggilan ke lima akhirnya diangkat oleh Edos.
Seminggu sudah Tania menahan kerinduan terhadap suami tercinta, akhirnya rasa itu tumpah ruah. Tania tersenyum, namun bulir-bulir bening mengalir dari sudut matanya, ia tak mampu berucap sepatah katapun.
Bagaimana tidak? rasanya ingin mengadu tentang semua yang ia alami selama tidak ada Edos, menumpahkan kerinduan, ia juga ingin mengucapkan cinta yang tak bisa putus walau badai seberat apapun datang melanda.
"Sayang," panggil Edos. "Kenapa nangis?" tanyanya.
Tania masih berusaha menetralkan perasaannya saat ini. Berusaha meredam tangisnya. "Aku kangen, kapan kamu pulang?" tanyanya.
"Aku baru kemarin operasi, Say. Pulangnya nunggu sampai pulih, mungkin satu bulanan," sahut Edos.
"Kenapa lama sekali? Tadi kenapa enggak diangkat-angkat?" tanya Tania masih terisak.
"Udah jauh-jauh berobat sampai kemari, biar sekalian sembuh, Say. Kamu yang sabar ya. Tadi masih di toilet," bujuk Edos.
"Iya aku akan berusaha sabar," ucap Tania.
"Anak pintar, I love you," ucap Edos dengan bibir sensualnya.
"I love you too, jelek ih," akhirnya Tania bisa tertawa melihat ekspresi wajah suaminya.
"Biarin, yang penting bisa bikin kamu tertawa, Say," sahut Edos. "Kamu lagi ngapain, Say?" tanyanya kemudian.
"Lagi Videocall sama kamu, Yank," jawab Tania.
"Aku kira lagi lari-lari, hahaha," ucap Edos tertawa.
"Ih, mulai deh," cebik Tania.
"Sama siapa?" tanya Edos lagi.
"Sama Sisi," Tania mengarahkan layar hpnya ke wajah Sisi. Sejenak kemudian ia kembali menghadapkan layar ponsel ke wajahnya.
"Kamu udah ketemu sama Sisi, Say?" tanya Edos.
"Iya, Yank. Aku sekarang udah tinggal di rumah Mama Dewi. Oh iya, Yank. Papa Ardi udah daftarin aku kuliah, mulai besok lusa aku sudah bisa kuliah, Yank," jawab Tania.
"Alhamdulillah, bagus. Kuliah yang rajin ya sayang," ucap Edos.
"Kamu ngasih ijin aku buat kuliah,Yank?" tanya Tania tidak percaya.
"Kuliah itu kan sesuatu hal yang baik, masa enggak diijinin?" Edos balik tanya.
"Beneran, Yank?" tanya Tania memastikan.
"Beneran, Say," jawab Edos.
"Makasih, Yank. Aku seneng banget dech, I love you, emmuach..," ucap Tania girang.
"I love you too. Udah malam, kamu mau tidur jam berapa, Say?" tanyanya.
"Sebenarnya sih, aku udah ngantuk, Yank. Tapi aku pengen dininaboboin kamu," jawab Tania manja.
"Yaudah, rebahan gih aku ninaboboin kamu sampai tidur," jawab Edos.
Tania menurut apa yang dikatakan Edos. Ia merebahkan tubuhnya, sementara ponselnya ia letakkan di dadanya. Hingga sampai 5 putaran lagu, Tania mulai terlelap. Sisi mengusap lembut rambut kakak sepupunya. Ia mengambil hape milik Tania dan meletakkan kembali di nakas.
Sisi kembali ke tempat semula di samping Tania, ia merebahkan tubuhnya di sana, dan ikut memejamkan mata.
.
.
.
__ADS_1
TBC
Terimakasih teman-teman atas like komen vote n rate 5 dari kalian πππ