2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Dadakan3


__ADS_3

Hari semakin sore dan senja pun datang kemudian menggantikan siang dengan malam yang sangat indah, penuh gamerlapan bintang yang bertebaran dan tak lupa ratunya berdiri di tengah dengan senyum penuh cahaya terang indah dan mempesona rembulan datang menyapa malam ini.


Malam berbalut sepi,


Suara burung-burung kian menyepi,


Awan tipis menghalangi sang bulan dari pandangan,


Sehingga senyumnya tak nampak ceria dalam singgasananya.


Semalam ini ia harus tetep memasang wajah cerianya, meski terkadang awan menghalanginya.


Waktu menunjukkan pukul Sembilan malam, saat Doni sampai di Bandara Ahmad Yani. Ia celingukan mencari keberadaan Edos yang hendak melarikan diri dari rencana kepergiannya menuju ke negara Jepang. Namun batang hidung sahabatnya tersebut belum nampak juga.


Dimana cecunguk satu itu, merepotkan saja. Gumam Doni.


Doni merogoh gawai dari dalam saku jaketnya, kemudian melakukan video call terhadap Edos.


Sementara itu Edos disaat yang sama sedang berada di rumah paman Hisyam, pamannya Tania. Edos didampingi sang Mama datang untuk melamar Tania dan meminta paman Hisyam untuk menjadi wali nikah pada pernikahan mereka besok pagi.


Mendapat video call dari Doni, Edos pamit kepada paman Hisyam untuk mengangkat.


"Maaf, Paman. Saya permisi mau angkat telepon dulu, takutnya penting," ucap Edos.


"Silahkan, Nak," sahut paman Hisyam mempersilahkan Edos.


"Terimakasih, Paman."


Edos keluar dari dalam rumah untuk mencari signal, ia duduk di beranda dan meletakkan HP nya di meja yang ada di sana.


"Ngapain pake VC segala sich, kan bisa chat dodol. Nggak tahu apa kalau gue lagi ngelamar Tania." Edos langsung menyerbu Doni dengan cercaan.


"Astaga, jadi Lo nggak jadi ke Bandara?" Doni balik tanya.

__ADS_1


"Ya ampun, gue lupa kasih tahu Lo, Don. Kalau gue enggak jadi ke Bandara, sorry Don.. sorry." Edos menangkupkan kedua telapak tangannya.


"Lo kira jarak dari Batang ke Semarang cuma lima langkah, bisa ditempuh cuma 5 menit doank. Gila Lo Dos!" Doni memaki Edos yang memang menurutnya sudah keterlaluan.


"Sorry, Doni. Sekali lagi gue minta maaf, yaudah sebagai berikut ganti permintaan maaf gue, motor gue buat Lo deh. Lo nggak usah pulang dulu, nginep aja cari hotel manjain diri Lo, kurang baik apa coba gue," ucap Edos memuji diri sendiri.


"Itu baru namanya teman. Yaudah gue nginep di hotel, tapi besok gue nggak ikut datang di pernikahan Lo." Kemarahan Doni akhirnya mereda.


🌸🌸🌸🌸🌸


Burung-burung berkicau menyambut pagi, mentari dengan senyumnya yang menawan menerobos celah dedaunan.


Begitupula hati dua insan yang sedang dilanda kasmaran.


Sudah sejak beberapa hari yang lalu, Edos memang sengaja menyiapkan segala sesuatunya untuk sang pujaan hati gadis miskin yang bernama Tania untuk dinikahi nya sebelum dia berangkat ke Jepang.


Namun entah kenapa pikirannya tiba-tiba berubah untuk menentang kedua orang tuanya yang telah membelikan tiket pesawat keberangkatan ke Jepang. Edos kemarin siang setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya yang super kaya raya dan juga tajir melintir untuk berangkat ke bandara.


Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, dia menyiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahannya hari ini dengan sang pujaan hati. Edos juga telah meminta izin kepada pamannya Tania yang bernama Abdullah Hisyam untuk menikahi keponakannya.


Berkat kawannya tersebut, sekarang atau tepatnya pagi hari ini, Edos sedang duduk di hadapan pegawai KUA dengan sedikit grogi. Itu adalah sesuatu yang wajar, karena sebentar lagi dia akan melihat pujaan hatinya keluar dari kamar riasan, memakai kebaya yang di belinya bersama Tania secara dadakan saat pulang dari perkebunan teh.


Keringat dingin sedikit membasahi tubuhnya Edos, karena terlalu grogi menghadapi ijab qobul yang akan dilakukan.


"Bagaimana perasaanmu sekarang, Nak Edos? jangan terlalu kaku itu biasa terjadi pada setiap calon pengantin baru. Betul kan penghulu?" kata-kata pamannya Tania sedikit menghibur dan melegakan hati Edos, yang sedang berkecamuk antara senang dan juga sedikit khawatir akan ketahuan oleh orang tuanya.


"Tenang saja Nak Edos, semua nya pasti akan berjalan lancar. Semoga Allah subhanahu wata'ala, selalu memberikan jalan yang terbaik untuk anak muda yang punya keinginan menikah dari pada pacaran lama-lama akhirnya berbuat zina," ucap Pak Penghulu yang sengaja datang memenuhi undangan dari Edos dan kawannya yang bernama Rizky.


Tidak lama kemudian, Tania keluar dari kamarnya dengan kebaya sederhana namun terkesan sangat indah dipandang mata, karena kebaya tersebut merupakan kebaya dengan harga yang lumayan fantastis dibelikan langsung oleh seorang Edos.


"Cantik."


Tanpa sadar mulut Edos reflek memuji kecantikan dari wajah seorang gadis yang sebentar lagi akan dinikahi nya dan sah menjadi istrinya.

__ADS_1


Rizky langsung menyenggol bahu Edos yang sangat terpana melihat kecantikan calon istrinya.


"Awas tuh iler mu jatuh," ucap Rizky menggodanya.


Edos reflek mengambil tisu yang ada di atas meja, hal itu langsung membuat para bapak bapak yang hadir di dekat sekitaran tempat acara ijab qobul menjadi tertawa, melihat tingkah laku Edos yang sedang di jahilin Rizki sahabatnya.


"Hahaha, calon pengantin prianya sampai ileran yaa, udah gak sabar nih," canda salah seorang dari mereka.


Ketika sadar dia sedang menjadi bahan tertawaan antara bapak-bapak tersebut, akhirnya Edos mendengus kesal melotot pada Rizki. Orang yang di pelototi hanya mengangkat kedua bahunya sambil tertawa ngakak.


Tania mulai duduk di samping Edos dan sang paman mulai mengambil tempat duduk persis di hadapan calon mempelai laki-laki. Pegawai KUA mulai bertanya.


"Apakah pernikahan ini dilakukan tanpa adanya paksaan?" tanya pak penghulu pada kedua pasangan sejoli tersebut.


"Tidak, Pak. Kami saling mencintai," ucap Tania dan Edos kompak seperti paduan suara kampung yang sedang latihan vokal group.


"Hemm, sepertinya kalian sehati, jawabannya saja langsung sama, baguslah," ucap Pak Penghulu sambil manggut-manggut.


"Nak Edos, apakah kamu sudah siap untuk menafkahi lahir dan batin perempuan yang bernama tania?" tanya pak penghulu kembali yang masih menjalankan misinya sebagai pegawai KUA.


"Saya siap, Pak. Terutama bagian batinnya," jawab Edos tanpa berpikir sehingga mengundang kembali gelak tawa semua orang yang hadir disana.


"Anak muda jaman sekarang memang orangnya jujur, tidak ada rasa malu untuk mengakui apa yang sedang dipikirkannya, hahaha." Pak PPA itupun tak bisa menahan tawanya menghadapi Edos yang bicara jujur apa adanya.


Tania menyikut Edos karena merasa malu dengan apa yang baru saja diucapkan calon suaminya.


"Ya sudah, mari kita mulai ijab qobul nya," kata pak penghulu untuk mengajak acara segera dimulai.


"Maaf, Pak. Edos permisi ijin pipis dulu, tiba-tiba saja ubi singkong saya minta ke kamar mandi," ucap Edos sambil berdiri.


************


Kalau baca jangan ngelindur,

__ADS_1


Semoga terhibur. 🤣🤣🤣


__ADS_2