
Senja mulai menampakkan diri, membalut sebagian wajah bumi. Ini adalah isyarat bagi seekor burung untuk kembali ke sarangnya, induk ayam dan si jantan kembali ke kandangnya, begitupun para pekerja akan kembali ke rumahnya masing-masing. Senjapun perlahan lahan meredup bersamaan kumandang suara azan.
Hari ini Tania dan Erika mengambil 2 sift sekaligus dari jam delapan pagi hingga jam delapan malam. Ia sedang mencatat dan menyusun barang-barang di rak.
"Tania, bisa minta tolong nggak?" panggil Icha dari meja kasir.
"Minta tolong untuk apa, Mbak?" Tania balik tanya.
"Gantiin aku di sini, aku kebelet pipis banget nih sekalian mau sholat maghrib," terang Icha.
"Iya, Mbak. Tapi jangan lama-lama ya!" pinta Tania. Tania mendekat ke meja kasir.
Icha meninggalkan meja kasir, agak terbirit-birit masuk ke ruangan yang ada di belakang.
Seorang ibu-ibu mendekati kasir.
"Silahkan, Bu. kartu palanggannya ada?" tanya Tania.
"Ada," jawab si ibu sambil menunjukkan bar code aplikasi Ardimart yang ada di ponselnya.
"Ini ada paket promo serba 10 ribu, wafer ini beli dua sepuluh ribu, sabun pencuci pakaian ini juga 10 ribu, Bu," terang Tania pada ibu-ibu tersebut sambil menunjuk barang-barang yang tersusun dalam keranjang kotak di depannya.
"Tidak, sudah cukup, Mbak. Terimakasih," tolak si ibu.
"Oke, Bu."
Tania mulai menscan barang-barang dalam keranjang yang di bawa ibu-ibu tadi.
"Totalnya dua ratus dua puluh dua ribu lima ratus rupiah ya, Bu. Sekalian beli pulsanya, Bu!" ucap Tania menawarkan.
"Tidak, Mbak," tolak si ibu lagi.
Si ibu menyerahkan tiga lembar uang seratusan ribu rupiah, Tania menerimanya.
"Uangnya Tiga ratus ribu, kembaliannya tujuh puluh tujuh ribu lima ratus rupiah. Terimakasih, ibu," ucap Tania menyerahkan struk belanja, uang kembalian dan barang belanjaan, kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya.
Sudah tiga pengunjung yang Tania layani, dari dalam nampak Icha sudah kembali.
"Makasih ya, Tan!" ucap Icha.
"Sama-sama, Mbak. Aku sholat dulu ya," pamit Tania.
Saat Tania tengah melaksanakan sholat, Pak Lucky yang sedang memeriksa gudang memanggil Erika.
"Erika!" panggil Pak Lucky.
"Iya, Pak," Erika mendekat, "Ada apa, Pak?" tanyanya dengan tergopoh-gopoh.
"Lihat ini!" Erika memandang barang-barang yang dikumpulkan oleh pak Lucky berupa makanan ringan dan kebutuhan dapur lainnya yang tertera tanggal expired. "Barang-barang ini seharusnya sudah keluar dari gudang awal bulan ini. Kenapa masih ada di sini?" tanya Pak Lucky dengan menahan emosi.
"Waduh, tapi itu kan bukan bagian saya, itu bagiannya Tania dan kawan-kawan, Pak," jawab Erika mengelak.
"Mana Tanianya?" tanya Pak Lucky lagi.
"Tania lagi sholat, Pak," jawab Erika.
Tania muncul dari ruang sholat.
"Ada apa, Mbak?" tanya Tania dengan mata penuh selidik.
"Ini, Tan. Pak Lucky menemukan barang-barang yang seharusnya sudah kamu tata di show cash maupun di rak awal bulan lalu," jelas Erika.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya kalian satu tim harus menghabiskan semua barang ini, pembayarannya akan dipotong dari honor," tukas Pak Lucky lalu pergi meninggalkan Tania dan Erika yang sedang bingung menuju ke ruangannya.
Tania mengambil salah satu barang yang teronggok di hadapannya.
"Tapi ini kan masih lama expirednya, Mbak," protes Tania.
"Iya, memang masih lama, tapi peraturan di mini market ini memang begitu, barang yang masuk duluan harus keluar duluan," tutur Erika.
"Terus, barang-barang sebanyak ini harus kita apakan?" tanya Tania. Erika hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.
Tania terduduk di lantai dengan lesu memandang hampa barang-barang yang teronggok di hadapannya.
"Padahal tiap hari aku keluar masuk gudang, semua barang tidak luput dari pemeriksaan ku, karena setiap barang yang datang selalu kuberi tanda, kutulisi tanggal dan waktu saat barang datang dengan spidol permanen. Kenapa bisa ada barang sebanyak ini yang hampir expired?" tanya Tania heran.
"Mbak ambil sebagian ya, Tan. Bayarnya nunggu gajian," ucap Erika mengambil sebagian makanan ringan yang dia suka.
"Iya, Mbak," sahut Tania, "Eh, coba lihat dech, Mbak! Kayaknya ini bukan tulisanku," ungkap Tania.
"Besok pagi kita tanya sama Firman saja, mungkin dia bisa tahu dari CCTV, siapa yang melakukan ini." Erika mencoba menenangkan Tania.
"Aku mau pulang sekarang saja, Mbak. Tubuhku rasanya lemas, nanti tolong kalau Mbak Erika pulang, scan kan kartuku ya," pinta Tania.
Tania melepas ID card yang mengalung di lehernya dan menyerahkannya kepada Erika, Erika menerima Id card tersebut. Tania masuk ke dalam ruangan ganti untuk mengambil tasnya, lalu kembali lagi ke tempat jajanan yang teronggok di lantai depan gudang, memasukan sebagian ke dalam kantong kresek, dan sebagian lagi dimasukkan ke dalam gudang.
Setelah memesan ojek online Tania keluar dari minimarket dengan tidak lupa membawa kantong kresek yang berisi jajanan dan bahan makanan instan lainnya tadi.
__ADS_1
Tania menunggu ojek online yang diordernya dengan duduk di kursi yang ada di teras minimarket. Wajahnya kusut bagai benang yang terurai dari gulungannya.
Baru kerja belum genap dua bulan, sudah ada saja yang tidak senang, gerutu Tania dalam hati.
Ojek online pun datang, Tania langsung naik di boncengan motor ojek online tersebut. Tania dengan ojeknya meninggalkan lokasi tersebut.
Sampai di depan rumah Bu Retno, Tania turun dari motor. Selain membayar ongkos, Tania juga memberikan kantong kresek kecil yang berisi jajanan dan bahan makanan lain di dalamnya.
"Ini, Bang. Buat yang di rumah, terimakasih ya," tutur Tania menyerahkan bungkusan tersebut.
"Wah, Mbak Tania ini baik banget. Terimakasih, Mbak." Tukang ojek online tersebut lalu langsung pergi meninggalkan Tania.
"Assalamu'alaikum," ucap Tania langsung masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh." jawaban serempak bagai paduan suara terdengar dari ruang tengah.
Edos, Bu Retno, dan Pak Rasyid sedang menonton televisi.
Tania menyeret kakinya menghampiri mereka, meletakkan kantong kresek besar di depan mereka dan mencium punggung tangan ketiga orang tersebut secara bergantian, wajahnya masih saja ditekuk.
"Wah, ada yang mau pesta, ya? Tapi kok muka kamu ditekuk begitu?" goda Bu Retno.
Tania menghempaskan tubuhnya di sofa di samping Edos.
"Pesta apaan? ulang tahun juga enggak, Bu," sergah Tania.
"Terus ini belanja segini banyak buat apaan, Nak?" tanya Pak Rasyid.
"Buat dimakan, Pak," jawab Tania.
"Kamu lagi banyak uang ya, Sayang?" tanya Edos menggenggam tangan istrinya
"Tidak." Tania menjawab singkat pertanyaan suaminya.
"Lalu?" tanya Edos lagi.
"Aku rasa ada yang tidak suka sama aku, Yank. Tadi pak Lucky menemukan barang-barang yang seharusnya sudah dipajang sejak awal bulan lalu, terus barang-barang tersebut harus habis, dan aku disuruh menggantinya nanti dengan uang gaji." Tania menerangkan duduk persoalannya pada suaminya.
Suara sepeda motor terdengar berhenti tepat di depan rumah, tidak lama kemudian terdengar salam.
"Assalamu'alaikum," ucap Rifki yang muncul dari balik pintu.
Rifki menghampiri mereka yang sedang duduk di ruang tengah, mencium punggung tangan kedua orangtuanya kemudian duduk di lantai yang beralaskan karpet. Pandangannya tertuju pada kantong kresek di hadapannya, iapun membukanya.
"Ada yang lagi banyak uang nich, beli jajanan sebanyak ini. Mau ada acara apa, Tan?" Cerocos Rifki mengambil satu bungkus, membukanya dan langsung memakannya.
"Acara dikerjain sama orang," jawab Tania dengan wajah judesnya. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Edos dan memeluk lengan kirinya.
"Jangan judes gitu, Say. Jelek dilihat tahu!" ucap Edos menoel-noel bibir Tania yang manyun dengan tangan kanannya.
"Duh, pasangan imut ini selalu bikin aku ngiri dech. Maksud kamu apa, Tan? Tolong jelaskan sama Mas Rifki!" pinta Rifki menunggu penuturan dari tania.
"Males, ah. Menjelaskan hal yang sama berulang-ulang," sahut Tania.
"Ah, kamu ini, Tan," decak Rifki dengan mulut penuh dengan keripik kentang. "Ada apa memangnya, Edos?" tanya Rifki kemudian beralih bertanya pada Edos.
"Tania bilang tadi Pak Lucky menemukan barang-barang yang seharusnya sudah di pajang awal bulan lalu. Dan Tania harus memborong semua barang tersebut sebagai dendanya, Mas," jelas Edos.
Bukannya berbelasungkawa, Rifki malah tertawa terbahak-bahak.
"Tuh, kamu lihat kan, Yank. Mas Rifki hobi banget tertawa di atas penderitaan orang lain," ucap Tania merajuk manja pada Edos.
"Itu mah fitnah kamu, Tan. Orang tertawa di atas karpet, dibilang tertawa di atas penderitaan orang lain," kilah Rifki.
Pak Rasyid dan Bu Retno hanya tersenyum menyaksikan tingkah laku anak-anaknya.
"Sudah-sudah, besok ibu bantu jualin jajanan dan bahan makanan itu di warung ibu," ucap Bu Retno menawarkan.
"Bapak juga mau menjajakan sambil jual sayur keliling, Tan," timpal Pak Rasyid.
"Serius, Bu, Pak?" tanya Tania senang.
"Serius, Nak," ucap Pak Rasyid dan Bu Retno kompak.
"Kita malah senang tinggal jualin saja, tidak harus keluar modal buat kulakan ya, Pak," tambah Bu Retno meminta dukungan pada suaminya.
"Iya betul itu, Tania," tambah pak Rasyid.
"Terimakasih, Pak, Bu. Kalian memang the best," ucap Tania girang sambil mengacungkan kedua ibu jarinya. "Di minimarket masih banyak barangnya, besok aku bawa pulang lagi dech sisanya kalau begitu," imbuhnya.
"Sekalian saja itu minimarket dibawa ke sini juga nggak apa-apa kok, Tan," seloroh Rifki.
"Wah, ide bagus itu, Mas. Suatu saat pasti aku akan pindahkan ke sini, jika minimarket itu sudah jadi milikku. Nanti Mas Rifki aku angkat jadi manajer utama, Mas Rifki tenang saja," canda Tania meladeni Rifki.
"Aku aminkan saja dech, Tan. Aamiin..," ucap Rifki menengadahkan kedua tangannya lalu mengusahakan kedua telapak tangannya ke wajahnya meladeni cerocosan Tania yang menurutnya impossible.
"Kamu udah makan belum, Say?" tanya Edos pada Tania.
__ADS_1
"Belum, Yank. Aku lagi males makan," jawab Tania.
"Ayo makan, aku temani! Ibu tadi beli Sego megono loh di warung sebelah konveksi di ujung gang, ada petai sama sambal terasi juga, yuk!" Edos membujuk istrinya untuk makan.
"Tapi aku benar-benar lagi males makan, Yank." Tania masih menolak bujukan suaminya.
"Nanti kalau enggak makan, mag kamu bisa kambuh, Say. Kamu pengen makan apa aja dech, terserah," Edos masih berusaha membujuk istrinya untuk makan.
"Aku lagi pengen makan bakso yang pedes sama kamu, Yank," jawab Tania.
"Ayo, mau makan bakso di mana?" tanya Edos Lagi.
"Di depan gang kayaknya ada bakso mercon dech, Yank," usul Tania.
"Ya udah, ayo. Ambilin kursi rodaku di kamar!" suruh Edos.
Tania bangun dari duduknya, melenggang masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kursi roda. Tak berapa lama ia pun keluar dengan mendorong kursi roda mendekati Edos.
Tania membimbing suaminya berpindah duduk di kursi roda.
"Ada yang mau bakso tidak, Pak, Bu, atau Mas Rifki?" Tania bertanya untuk menawarkan bakso.
"Tidak, Ibu masih kenyang, Tan," jawab Bu Retno.
"Bapak juga masih kenyang," sahut Pak Rasyid.
"Mas Rifki juga nggak mau? Ya sudah," Tania mengambil kesimpulan sendiri.
"Eh, Eh, sembarangan. Aku mau kosongan ya, Tan," sergah Rifki.
"Maksud Mas Rifki kuahnya doang, begitu?" tanya Tania menggoda.
"Ck, bakso dikasih kuah, kecap, saus tomat plus sambal dong, Tan. Masa gitu aja nggak tahu, payah kamu, Tan," decak Rifki.
"Aku kira malah Mas Rifki mau makan mangkok kosong. Hahaha..," cetus Tania.
"Kamu pikir aku kuda poni apa?" hardik Rifki.
"Kuda kepang, Mas. Hahaha..," timpal Tania mendorong kursi roda suaminya keluar rumah.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Di rumah Juragan Burhan,
Nurlita sedang mengemas pakaian dan keperluan lain miliknya dan suami untuk tiga hari selama menginap di hotel milik adik iparnya, guna menghadiri perayaan ulang tahun perusahaan adik iparnya tersebut.
"Tidak udah bawa pakaian banyak-banyak, Lita! Kalau di sana kurang kita bisa beli," cegah Juragan Burhan yang sedang duduk di sofa pada istrinya.
"Iya, Mas. Ini cuma barang yang penting banget aja kok. Mas sudah telfon Abizar belum, tanyakan sama dia mau pulang atau tidak?" jawab dan tanya Nurlita kemudian.
"Sudah, Sayang. Dia bilang mau naik pesawat yang langsung ke Jakarta," jawab Juragan Burhan sambil menyeruput teh hangat buatan istrinya.
"Terus, Aris sudah Mas kasih tahu juga kalau kita berangkatnya besok pagi?" Tanya Nurlita lagi.
"Sudah, dia juga bilang mau sekalian ajak Sisi," jawabnya.
Sepertinya sudah cukup bagi Nurlita mengemas barang keperluan selama di Jakarta. Nurlita duduk di samping suaminya, menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
"Mudah-mudahan di sana kita bisa bertemu dengan Azhar atau Tania ya, Mas," ucap Nurlita dengan mimik wajah yang berubah sedih.
"Semoga saja, Sayang," sahut Juragan Burhan seraya membelai rambut sang istri.
"Aku merasa sepi di rumah sebesar ini tanpa kehadiran anak-anak kita," sesal Nurlita.
"Apa Mas masih memblokir rekening Azhar?"
"Masih," jawab Juragan Burhan singkat.
"Kasihan mereka, Mas," rengek Nurlita.
"Mas yakin mereka bisa mengurus keperluannya sendiri," ujar Juragan Burhan.
Nurlita bangkit dari duduknya, melangkah pergi keluar meninggalkan kamar.
"Lita, mau kemana kamu?" seru juragan Burhan melihat istrinya pergi.
"Mau ke kamar Aris, Mas. Mau minta tolong Aris, kata Aris ada aplikasi google untuk mencari keberadaan seseorang," jawab Nurlita dengan berseru pula.
.
.
Happy reading
Semoga suka
Jangan lupa like dan komen ya
__ADS_1
Tararengkiuh
πππ