
Rifki menelpon Bram kembali, namun tidak diangkatnya. Setelah berulangkali Rifki men-dial kontak Bram, baru ia menjawab panggilan Rifki
"Ada apa lagi, Rifki?" tanya Bram dengan kesal.
"Pak Rifan tidak bisa ditemui kalau tidak punya janji dengan beliau, Pak Bram," jawab Rifki.
"Huh, kamu kerja begitu saja tidak becus. Masalah begitu saja harus saya sendiri yang menangani," gerutu Bram yang langsung menutup telpon.
Rifki menatap tajam wanita yang menjadi Costumer servis.
"Siap-siap dipecat saja kamu, dasar CS sombong!" ancam Rifki menakut-nakuti.
"Memangnya kamu siapa berani-berani ngancam mecat saya, dasar orang gila! Tampang kucel begitu ngaku-ngaku orang suruhan Pak Presdir, tidak tahu malu dasar muka tembok," balas wanita tak kalah pedasnya.
"Rifki!" suara Bariton Bram tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Rifki menoleh ke arah sumber suara.
"Iya, Pak," sahut Rifki.
"Ikut saya!" perintah Bram yang melangkah mendekati lift khusus.
Rifki mengikuti langkah Bram, namun matanya memberi isyarat pada petugas CS tadi seakan memberi tahu bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.
"Aduh, bagaimana ini kalau aku benar-benar dipecat? Padahal aku kan hanya menjalankan tugas," ucap sang CS panik menatap kepergian Bram dan Rifki hingga menghilang masuk ke dalam lift.
"Apa kamu tidak sempat mandi?" tanya Bram saat di dalam lift melihat penampilan Rifki yang kucel.
"Mana saya sempat, Pak. Pak Bram tahu tidak? sejak keluar dari rumah sakit tadi saya itu wira-wiri jadi tukang ojek." tanya Rifki.
"Tidak," jawab Bram singkat yang jauh dari expektasi yang diharapkan oleh Rifki.
Lift berhenti di lantai tiga, pintu terbuka, Bram keluar melangkah menyusuri koridor hotel hingga sampai di sebuah ruangan yang dijaga oleh dua orang satpam. Mereka membungkukkan badan saat melihat kedatangan Bram.
Bram langsung masuk ke dalam ruangan, Rifki tercengang melihat ruangan yang dindingnya penuh dengan monitor CCTV hotel dari berbagai sudut. Lebih tercengang lagi saat melihat ruangan mini market tempatnya berkerja juga terpampang di salah satu monitor.
"Sudah selesai terkagum-kagumnya, Rif?" suara Bram kembali mengagetkan Rifki.
"Eh iya, Pak," jawab Rifki.
"Sini kamu!" suruh Bram. Rifki mendekat, Bram menyodorkan sebuah laptop. "Kita bagi tugas, kamu cari di Ardimart, aku cari di Merysta, okey?" perintah Bram lagi.
"Okey, Pak," Sahut Rifki.
Rifki mengambil alih laptop yang diberikan oleh Bram sementara Bram membuka laptop lainnya.
"Sudah ketemu?" tanya Bram beberapa saat kemudian.
"Sudah, Pak. Sudah saya simpan di file tersendiri," jawab Rifki.
"Tolong kirim kan ke Wa saya ya, Rif," perintah Bram.
"Baik, Pak," jawab Rifki.
"Sekarang kita cocokkan apakah pelaku di Ardimart dan Merysta adalah orang sama," ungkap Bram.
Rifki mematikan dan menutup laptopnya. Ia hendak melihat video rekaman CCTV yang ada di laptop yang dipegang oleh Bram, tapi agak risih karena ia belum mandi.
"Kenapa lihatnya jauh-jauhan begitu? Kamu takut saya bakalan suka sama kamu, najis. Saya ini masih laki-laki normal tahu," gerutu Bram.
"Maaf, Pak. Saya belum mandi," sahut Rifki cengengesan. Ia mendekat ke arah Bram.
"Wajahnya tidak kelihatan, Rif. Coba replay lagi," ujar Bram. Rifki menggeser ke chapter sebelumnya.
"Stop! yang itu coba kamu zoom," tukas Bram. "Kamu kenal dia?" tanya Bram.
"Kenal, dia memang Sita, mantan bawahan saya sewaktu di Ardimart Cakung, Pak." jawab Rifki.
"Coba kamu telpon si Lucky, bilang padanya suruh menghadap saya besok pagi jam sembilan bersama cewek bren*sek tersebut!" perintah Bram.
"Kenapa kita tidak lapor polisi saja untuk menangani kasus ini, Pak," tanya Rifki seperti memberikan usulan sembari menunggu panggilannya dijawab oleh Lucky.
"Saya takut nantinya hal ini akan berdampak buruk pada ARD's Corp dan Tania, kita selesaikan secara intern dan kekeluargaan saja, jangan sampai publik tahu tentang hal ini," jawab Bram.
Panggilan terjawab,
"Halo, ada apa, Rifki?" tanya Lucky dari ujung telepon.
"Halo juga, Pak. Pak Lucky dan Sita anak buah bapak, besok pagi jam sembilan diminta menemui Pak Bram di kantornya," jawab Rifki.
"Oh, iya Rif. Terimakasih infonya," ucap Lucky.
"Iya Pak, Sama-sama. Tolong sampaikan pada Sita ya, Pak!" pinta Rifki.
"Siap, Rifki. Ngomong-ngomong ruangan Presdir atau ruangan Direktur ya, Rif?" tanya Lucky lagi.
"Oh iya, bentar saya tanya Pak Bram dulu ya, Pak," ucap Rifki, Ia menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Pak Bram, Pak Lucky nanya, Bapak besok pagi di ruangan Presdir atau Direktur?" tanya Rifki pada Bram.
__ADS_1
"Bilang padanya masih di ruangan Direktur," tukas Bram.
"Baik, Pak," jawab Rifki pada Bram. Rifki mendekatkan ponselnya lagi ke telinganya.
"Halo, Pak Lucky. Pak Bram bilang di ruangan Direktur, Pak," jawab Rifki pada Lucky.
"Oh iya, Rif. Terimakasih," sahut Lucky.
"Sama-sama, Pak. Assalamu'alaikum," pamit Rifky lalu menutup kembali panggilannya.
"Pasti Pak Lucky pikir bakal dapat SK kenaikan pangkat seperti saya, Pak," ucap Rifki pada Bram kemudian.
"Biarkan saja dia senang dulu," ucap Bram tersenyum sinis. "Ayo kita keluar, jangan lupa bawa kembali barang-barang kamu," suruh Bram.
"Ah iya. Hampir saja lupa ini barang-barang milik Tania, bisa tambah nangis dia karena tidak bisa telponan sama Edos," ucap Rifki.
Bram sudah terlebih dulu keluar, Rifki mengambil barang milik Tania kemudian mempercepat langkahnya mengejar Bram.
"Kita ke restoran dulu, Rif. Pasti kamu dari tadi pagi belum makan kan?" terka Bram.
"Wah, Pak Bram baik banget sih. Tahu aja kalau saya memang belum makan dari pagi. Terimakasih, Pak," sahut Rifki merasa senang dengan wajah berbinar-binar.
"Jangan senang dulu kamu, Rif. Semua yang saya berikan ke kamu itu harus ada gantinya," ucap Bram.
Rifki seperti diagkat ke atas awan, kemudian dihempaskan jatuh ke bawah seketika. "Yaah, baru saja merasa senang," sesalnya.
Mereka mengambil tempat duduk yang kosong agak disudut ruangan restoran. Seorang pelayan datang menghampiri mereka.
"Selamat siang, Pak Bram. Suatu kehormatan bagi kami mendapat kunjungan dari Bapak. Silahkan mau pesan apa, Pak?" sapa dan tanya pelayan kemudian menyodorkan buku menu.
"Saya pesan nasi putih sama sup iga, minumnya teh tawar saja," ucap Bram.
"Baik, Pak. Bapak satunya mau pesan apa?" tanya pelayan pada Rifki.
"Saya, samain Pak Bram saja, Mbak," jawab Rifki.
"Baik, Pak. Pesanan akan segera kami proses, silahkan ditunggu, permisi," ucap pelayan.
"Rifki, tadi kamu bilang Tania tidak bisa telponan sama Edos. Siapa Edos?" tanya Bram penasaran dengan ucapan Rifki saat di ruang CCTV.
"What? Bapak tidak tahu siapa Edos?" Rifki balik bertanya.
"Tidak, memangnya siapa dia?" tanya Bram lagi
"Edos itu suaminya Tania, Pak," jawab Rifki.
Tania sudah punya suami, tapi kenapa tadi malam seperti masih perawan, pikir Bram.
"Saat pertama kali datang ke kota ini, mobil mereka mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kaki Edos lumpuh," tutur Rifki lagi.
"Kasihan sekali hidup Tania," ucap Bram.
"Kok Bapak tidak mengenal Edos? Bukankah dia itu keponakan dari mama tiri anda, Pak? Kemarin mereka orang tua Edos, namanya Burhan dan Nurlita menjemput Edos untuk tinggal di rumah papa anda, Tuan Ardi," tutur Rifki.
"Oh.. ternyata dia, tadi malam saat saya menjemput Niken di rumah papa memang ada anak laki-laki yang duduk di kursi roda, ternyata dia suaminya Tania," ucap Bram manggut-manggut.
"Jangan bilang kalau bapak mau merebut Tania dari Edos ya! Kasihan mereka, kasihan Niken juga, Saya juga tidak akan memaafkan Bapak kalau sampai bapak melakukan itu," tukas Rifki yang seakan melihat gelagat yang tidak baik di mata Bram.
"Mana mungkin saya melakukan hal itu? Saya ini laki-laki beristri," sangkal Bram.
"Iya, istri yang diterlantarkan," cela Rifki.
Bram mengerutkan keningnya. "Sepertinya kamu sangat mengenal istri saya," terka Bram.
"Saya ini teman akrab Niken setelah kepindahan Niken dari sekolah yang sama dengan Bapak saat SMA," ungkap Rifki. "Kami berlima satu kelompok saat mengerjakan tugas," imbuhnya.
"Niken pernah satu sekolah dengan saya?" tanya Bram.
"Iya, waktu itu dia cerita, kalau dia sudah mencintai bapak sejak kecil, dia minta pindah sekolah ketika mengetahui kalau bapak menjalin hubungan dengan teman sekelas Bapak," ungkap Rifki.
Bram semakin kaget mendengar penuturan Rifki tentang Niken. Makanan yang mereka pesan datang.
"Tapi saya merasa belum pernah mengenal Niken sebelumnya, saya baru mengenal Niken sesaat sebelum kita menikah," sangkal Bram.
Mereka menikmati hidangan yang disuguhkan oleh pelayan dengan terus sambil mengobrol. Bram semakin penasaran dengan siapa istrinya sebenarnya.
"Karena Niken saat masih sekolah dengan Niken yang sekarang memang berbeda, Pak," tutur Rifki.
"Maksud kamu?" tanya Bram yang semakin dibuat penasaran.
"Niken yang dulu gendut, sekarang Niken ramping. Niken pernah cerita, kalau dia sering dihina oleh Pak Bram, bahkan Pak Bram menyebutnya drum minyak,"
"Drum minyak, oh dia." Bram kini mulai paham.
"Walaupun Bapak selalu menghinanya, tapi dia tidak bisa menghilangkan cintanya untuk Bapak. Padahal salah seorang teman saya menyukainya, tapi selalu ditolaknya."
"Siapa teman kamu itu?" tanya Bram masih tertarik mendengar cerita tentang istrinya.
__ADS_1
"Namanya Arya, CEO muda PNN Group, dia sekarang tinggal di Australia. Mungkin kalau sampai dia mendengar pernikahan Niken tidak bahagia, dia akan merebut Niken dari Bapak," jelas Rifki sedikit mengancam.
"Apa?" Bram terkejut dengan perkataan Rifki. Hampir saja dia tersedak. Rifki mengambilkan minum untuknya.
"Makanya, jaga baik-baik milik anda, Pak," nasehat Rifki tersenyum pada sang Bos dengan tanpa berdosa.
"Kamu mengancam saya?" tanya Bram seakan menantang.
"Tidak, Pak. Mana berani saya mengancam Bapak yang notabene orang nomor satu di tempat saya bekerja. Tapi kalau bapak menganggapnya demikian, ya tidak apa-apa," jawab Rifki santai.
Mereka telah selesai menghabiskan makan siang mereka, Bram meminta Bill kepada pelayan, pelayan mendekat.
"Untuk Pak Bram gratis, Pak," ucap pelayan tersebut.
"Lha saya bagaimana, Mbak?" tanya Rifki.
"Untuk Bapak juga gratis, Saya permisi," ucap pelayan.
"Jangan senang dulu kamu, Rifki," tukas Bram membuat kepercayaan diri Rifki kembali menciut. "Tadi kubilang kan ada gantinya," imbuh Bram tersenyum devil.
Rifki menyugar rambutnya kasar, "Ya Allah, sejak tadi malam sampai sekarang saya kurang tidur juga kurang makan itu semua untuk membantu Pak Bram, kurang apalagi coba?" tanyanya.
"Kamu kurang jadi asisten pribadi saya," jawab Bram enteng.
"Bilang kek dari tadi," sahut Rifki belum menyadari maksud ucapan Bram.
"Apa? Asisten pribadi? Bapak tahu kan kalau saya ini cuma lulusan SMA?" Rifki memberondong pertanyaan.
"Saya tahu, SMA kamu bareng sama istri saya, kan? tadi kamu sudah cerita," jawab Bram enteng lagi.
"Lalu kenapa Bapak pilih saya?" tanya Rifki lagi. "Padahal banyak teman bapak yang berpendidikan tinggi," imbuhnya.
"Yang penting kamu bisa IT, banyak orang yang berpendidikan tinggi tetapi tidak bisa IT, dan saya lebih cocok sama kamu," tukas Bram yang tidak mudah dibantah.
Hadeuh, tambah runyam lagi hidupmu, Rifki. Punya bos yang semena-mena seperti Pak Bram. gerutu Rifki dalam hati.
"Mana ada Sarjana yang tidak bisa IT?" gumam Rifki.
"Banyak, contohnya Author," sahut Bram tajam menohok.
Bram dan Rifki beranjak dari duduknya, melangkah beriringan keluar dari area hotel menuju ke basemen, tempat mereka memarkirkan kendaraan.
"Kamu hanya punya dua pilihan, jadi asisten pribadi saya, atau dipecat dari ARD's Corp. Besok pagi jam tujuh kamu sudah harus berada di apartemen saya," tukas Bram sebelum menghampiri mobilnya.
Belum sempat Rifki berfikir, apalagi menjawab ucapan Bram, mobil orang yang memberi pilihan sudah meninggalkan dirinya berdiri mematung sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rifki kemudian menghampiri motornya, menyalakannya dan melajukan meninggalkan basemen parkir Merysta Hotel. Rifki tidak kembali ke rumah sakit, melainkan pulang ke rumah karena ia ingin segera tidur, matanya sudah teramat sangat mengantuk.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara di rumah keluarga Ardiansyah, Nurlita sedang mengemas barang-barangnya dan suaminya, karena ia akan mendampingi anak bungsunya operasi di Singapura, entah berapa lama mereka di sana, mereka tidak dapat memperkirakannya.
"Lalu Sisi kembali ke Pekalongan cuma sama Mas Aris, Bude?" tanya Sisi yang menemani Nurlita berkemas-kemas.
"Kalau kamu tidak mau pulang bareng Aris, kamu bisa naik Bus atau travel," usul Nurlita.
"Sisi kan tidak tahu Jakarta, dan belum pernah naik kendaraan umum, nanti kalau tersesat bagaimana, hilang dong anak semata wayangnya ayahanda Hisyam yang imut ini seperti Kak Tania," ucap Sisi nerocos panjang lebar kayak kereta api tanpa gerbong.
"Atau kamu mau ikut bude ke Singapura?" tanya Nurlita.
"Sisi kan belum punya visa, Bude. Lagi pula Sisi belum ketemu Kak Tania, tujuan Sisi ikut Bude ke Jakarta kan pingin ketemu Kak Tania," ucap Sisi plin-plan.
"Ya udah, kamu disini saja sampai ketemu kakakmu. Nanti kalau kamu sudah ketemu dia, kamu kasih tahu bude, ya!" bujuk Nurlita.
"Siap, Bude. Jangan lupa oleh-oleh buat Sisi dari Singapura kalau kembali ke Indonesia ya Bude," pesan Sisi.
"Iya," ucap Nurlita mengacak-acak rambut Sisi yang tertutup hijab segi empat.
.
.
.
Bagaimana ini jadinya?
Apakah Edos akan bertemu dengan Tania?
Terimakasih ya teman-teman udah mau berkunjung.
Tetap like dan komen terbaik dari kalian yang Author tunggu
Terimakasih juga atas vote dan rate 5 kalian
salam love dari Author
πππ
__ADS_1