
Kenapa hidupku begini ya Allah, baru juga merasakan bahagia namun kembali harus menerima cobaan yang begitu berat. Gumam Tania di dalam hati dengan bulir bening yang tak mau berhenti keluar dari kelopak matanya yang masih terlihat lebam dan biru akibat kecelakaan.
Pandangannya kosong, bayangan-banyangan kebersamaannya dengan Edos berputar-putar di kepalanya. Seperti mimpi di siang hari tetapi ini nyata.
"Saya mau menemui suami saya, Pak," ucap Tania kepada Pak RT yang menolongnya dengan isak tangis pilu yang membuat siapapun yang melihatnya pasti akan turut bersedih.
"Eh, Neng belum boleh pergi kemana-mana. Lagipula suami Neng juga belum boleh ditemui oleh siapapun," cegah Pak RT yang reflek beranjak dari duduknya di sofa mencoba menahan pergerakan Tania.
"Mana mungkin saya hanya berdiam diri di sini, Pak. Sementara suami saya di sana sedang berjuang melawan maut sendirian," ucap Tania masih dengan deraian air mata.
"Bantu dia dengan doa, Neng," cetus Pak RT.
Taniapun akhirnya menuruti nasehat Pak RT.
🌸🌸🌸🌸🌸
Sudah sejak kemarin Juragan Burhanudin pulang dari Bandung, tetapi belum sempat menanyakan perihal keberangkatan putra bungsunya ke Jepang kepada putra sulung nya, karena ia terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya.
Saat sedang mendatangi pabriknya, juragan Burhan mendapat Videocall dari putra sulungnya Abizar, yang mengurus perusahaan tehnya di Jepang.
"Assalamu'alaikum, Pa," Abizar menyapa papanya dengan salam.
"Wa'alaikumussalam, Mana adikmu?" Juragan Burhan malah menjawab salam dari anak sulungnya dengan pertanyaan yang sontak membuat Abizar terkejut.
"Lho? Bizar malah mau menanyakan Edos kepada Papa. Kenapa sampai sekarang dia belum kelihatan batang hidungnya?"
"Apa?" suara Juragan Burhan mulai meninggi membuat Abizar memejamkan mata reflek. "Azhar belum sampai di Jepang?" tanyanya lagi. Wajahnya kini berubah menahan amarah, juragan Burhan menutup sambungan Videocall secara sepihak.
Ah, Papa. Kebiasaan menutup telepon tanpa salam. Gerutu Abizar.
Ia yang kemudian menelpon nomor telepon milik Edos tetapi selalu dijawab oleh operator.
Juragan Burhan segera menelepon Nurlita, istrinya. Namun posisi Nurlita sekarang berada jauh dari ponselnya. Dia berada di dapur tengah memasak, sedangkan ponselnya berada di nakas kamar tidurnya.
Anak itu semakin kurang ajar dimanja sama ibunya. Gerutu Juragan Burhan.
Nurlita tengah berkutat meracik bumbu-bumbu, ia dibantu oleh Liha, tetangga yang bekerja dirumahnya. Saat sedang mengiris bawang tiba-tiba jarinya terluka, darah segar keluar, ada perasaan tidak enak tiba-tiba menyeruak dalam hatinya.
Nurlita berfikir sejenak sambil membersihkan darah yang keluar dari jarinya yang terluka.
__ADS_1
Kenapa jari tangan kananku bisa terluka, padahal tangan kanan yang memegang pisau. Ah, mungkin hanya perasaan ku saja. Mudah-mudahan anakku baik-baik saja. Nurlita mencoba menepis perasaannya sendiri.
"Liha, tolong sayuran yang sudah bersih dibawa kemari, ya," perintah Nurlita kepada asisten rumah tangganya.
"Ma!" seru juragan Burhan yang tiba-tiba saja telah berada di ambang pintu menuju ke arag dapur.
"Eh, Papa. Kok sudah pulang? Ada yang ketinggalan?" Tanya Nurlita memandang suaminya dengan tatapan heran.
Juragan Burhan hanya diam saja, ia bergegas menghentakkan kakinya berputar 180° menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Nurlita pun tak urung membuntutinya dari belakang.
Juragan Burhan menjatuhkan pantatnya di sofa. Nurlita melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suaminya di sebelah suaminya.
Nampak Juragan Burhan menghembus nafas kasar mencoba meredam kemarahannya. Nurlita memandang lekat-lekat suaminya, tangannya kini bergelayut di leher juragan Burhan.
"Ada apa, Mas? Kangen sama Lita?" tanya Nurlita yang mengubah panggilannya jika hanya berdua dengan suaminya.
Nurlita sudah memahami gelagat suaminya, ia mencoba mengintimidasi.
"Papa paling nggak bisa marah, kalau mama sudah seperti ini," ucap juragan Burhan yang kini tidak bisa menahan senyum.
"Jangan suka marah-marah, Mas! Nanti cepet tua loh. Nih lihat bulu hidung saja, sudah beruban. Dan ini, garis-garis di dahi ini pasti karena pikiran Mas sering tegang."
"Ma, jangan coba-coba membuyarkan tujuanku pulang ke rumah pagi ini!" ancam juragan Burhan. "Dimana kamu sembunyikan putra manjamu itu?" pertanyaannya langsung membuat Nurlita terdiam, perasaan takut yang sejak kemarin lusa dia tahan kembali menyeruak.
Nurlita tidak berani menatap suaminya, nyalinya menciut, ia menggigit bibir bawahnya, menundukkan kepala seperti seorang anak usia SD yang ketahuan mencuri mangga milik tetangga, memainkan jari jemarinya, memijit dan memilin.
Tiba-tiba bayangan masa lalunya kembali menghampiri fikirannya. Air matanya jebol seketika.
"Sayang," panggil juragan Burhan selembut mungkin mendapati perubahan sikap wanita yang dicintainya.
Ia meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Lita hanya enggak mau masa lalu yang pernah kita alami terulang pada anak kita, Mas. Kamu kan tahu sendiri Edos kalau punya kemauan nggak bisa di tahan," ucap Nurlita dalam Isak tangis. "Untung anak pertama kita laki-laki, kalau anak kita perempuan kamu tidak sah untuk jadi walinya walaupun Mas ayah kandungnya sendiri. Kita akan semakin berdosa selamanya, Mas!" paparnya.
"Tapi setidaknya kamu kan bisa menungguku pulang, Sayang," sesal Juragan Burhan. "Sekarang dimana Azhar?" tanyanya sudah tidak sabar.
"Dia sudah menikah dengan Tania, dan katanya mau pergi kerja ke Jakarta," jawab Nurlita akhirnya, sejenak mereka terdiam.
__ADS_1
Juragan Burhan mengambil nafas dalam dan membuskannya perlahan.
"Biarkan mereka hidup bahagia, Mas," ucap Nurlita memohon dalam kecemasan.
"Mas tidak akan pernah lupa perjuangan kita 25 tahun yang lalu, Sayang. Menikah tanpa restu orang tua, tidak punya pengalaman kerja."
Juragan Burhan kembali teringat kenangan pahitnya awal membina rumah tangga dengan Nurlita. "Mas janji tidak akan mengganggu mereka, tapi mas ingin menguji mereka," tukas Juragan Burhan.
"Maksud Mas apa?" tanya Nurlita kaget menatap suaminya nanar.
"Biarkan mereka hidup mandiri. Azhar itu seorang laki-laki, kamu jangan terlalu memanjakannya, biarkan dia bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya dengan uang hasil keringatnya sendiri," tutur Juragan Burhan.
"Ya Allah, Mas," ucap Nurlita tidak percaya mendengar penuturan suaminya.
Nurlita kembali menangis memikirkan nasib putra bungsunya. Edos sudah terbiasa hidup serba berkecukupan. Mau apa saja tinggal minta. Orang tuanya dengan sukarela mengabulkan semua permintaannya.
Nurlita melepas pelukan suaminya. Ia bangkit dari duduknya dan bergegas menuju ke kamar Edos. Betapa terkejutnya ia mendapati kotak perhiasan milikinya yang dia titipkan ke Edos untuk Tania masih berada di atas nakas, di samping tempat tidur Edos
Ya Allah lindungilah putraku di manapun dia berada. doa Nurlita dalam hati.
Fleshback on
Burhan dan Nurlita adalah teman sekelas saat SMA, mereka sama-sama saling mencintai. Namun orang tua Burhan tidak sudi mempunyai menantu seperti Nurlita yang notabene hanya seorang anak orang miskin, bapaknya hanya penjual kayu belah.
Mereka menikah diam-diam karena Nurlita sudah keburu hamil. Nurlita diasingkan di rumah bibinya di luar kota hingga dia melahirkan.
Namun ternyata juragan Tohir, ayahnya Burhan menyuruh orang untuk menyelidiki dan menculik anak yang dilahirkan oleh Nurlita, dan juga membuangnya ke panti asuhan.
Nurlita semakin terpuruk meratapi bagaimana nasib anaknya, tubuhnya kurus kering. Tiap hari kerjaannya hanya melamun dan menangis. Bertahun-tahun mencari keberadaan Abizar namun tidak juga membuahkan hasil.
Tujuh tahun kemudian setelah perekonomian mereka mengalami peningkatan dan setelah kelahiran putranya yang diberi nama Muhammad Azhar Firdaus, Nurlita bisa sedikit melupakan kesedihannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Heppy reading
semoga suka