2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Malam Pesta


__ADS_3

Suasana ballroom hotel yang luas dan megah dihiasi lampu-lampu yang gemerlap serta dekorasi tanaman hijau dan bunga-bunga yang menyejukkan mata. Di bagian depan terdapat panggung hiburan dan di setiap sudut di letakan layar monitor LCD. Kursi ditata melingkar di setiap meja. Di sisi kanan dan kiri terdapat meja yang di tersedia makanan dan minuman.



Pesta ulang tahun ARD's Corp ini mengusung dua tema, malam ini pesta diadakan di hotel, besok pagi dari perwakilan perusahaan akan memberikan santunan kepada fakir miskin dan panti asuhan yatim piatu.


Penataan ruang, dekorasi dan susunan acara telah diserahkan kepada pihak Party Organizer atau Event Organizer (EO) Sedangkan para pelayan hanya bertugas mengangkut makanan dan minuman dari dapur restoran ke Ballroom dan juga untuk melayani para tamu. Ada juga makanan yang dipesan dari Katering.


Sudah banyak tamu yang datang di tempat pesta ini. Mereka sebagian besar berasal dari rekan bisnis dan pegawai ARD's Corp, dan sebagian kecil dari kerabat keluarga Ardiansyah serta wartawan yang diundang.


Sisi dan Aris telah sampai di ballroom hotel, setiap ada pelayan wanita yang lalu-lalang hilir-mudik keluar masuk hotel, Sisi memperhatikan dengan seksama wajah mereka. Namun karena sebagian wajah mereka tertutup masker, sehingga ia menjadi sulit untuk mengenali kakak sepupunya tersebut.


Sisi memberanikan diri mendekati seorang pelayan yang sedang menata minuman di atas meja.


"Maaf, Mbak. Apa Mbak kenal seorang pelayan yang bernama Tania?" tanya Sisi mencoba untuk bertanya.


"Maaf, Mbak. Saya tidak kenal, saya lagi sibuk." Pelayan itu menjawab dengan judes.


Sisi juga sudah berkali-kali melakukan panggilan telepon ke nomor HP Tania yang dikasih Edos, namun tidak juga diangkat. Ya iyalah tidak diangkat Sisi, Handphone milik Tania kan disimpan di loker.


Flashback on


Rifki mengantarkan Tania sampai ke dalam Ballroom Hotel, di sana sudah ada koordinator pelayan dari Event Organizer yang ditunjuk. Koordinator tersebut yang kemudian akan mengarahkan tugas-tugas apa saja yang harus dilakukan oleh pelayan selama event berlangsung.


"Mbak, Ini tambahan pelayan yang diminta dari Ardimart," pasrah Rifki pada tim koordinator yang sedang sibuk mencorat-coret bukunya.


"Oh iya, Mas. Silahkan duduk dulu ya, Mbak. Nanggung ini," ucap Dewi.


Tania memandangi cewek tersebut lama.


"Devi!" panggil Tania dengan suara keras.


Terkejut, yang dipanggilpun mengalihkan perhatiannya dari buku yang dipegangnya.


"Tania!" panggil koordinator tersebut


"Ternyata kamu di sini," Ucap Tania sumringah karena bisa bertemu dengan teman sekelasnya.


"Eh, Edos mana? Kenapa bukan Edos yang nganterin kamu?" tanya Devi berbisik.


"Lain kali saja aku ceritakan," jawab Tania.


Rifki tersenyum geli mendengar apa yang dibisikkan mereka. Devi mengambilkan seragam untuk Tania.


"Janji lain kali cerita ya! Ini, Tan. Ganti kostum kamu, barang-barang kamu nanti taruh di loker yang kosong saja di ruangan sebelah sana, Kuncinya kamu bawa," suruh Devi.


"Oke, aku ganti baju dulu," pamitnya hendak pergi.


"Eh sebentar, Tan. Ini ID-card kamu," ucap Devi lagi menyerahkan ID-card pada Tania.


"Makasih ya, Dev," ucap Tania.c"Mas Rifki pulang dulu saja," perintah Tania pada Rifki.


"Kamu udah berani sendiri, Kan?" tanya Rifki memastikan.


"Berani kok, Mas. Lagian ada temanku sesama dari kampung. Mas nggak perlu khawatir," jawab Tania.


"Aku pulang dulu, jaga diri kamu baik-baik. Kalau ada apa-apa, telpon Mas Rifki," pamit Rifki.


"Iya, udah sana pulang!" suruh Tania.


Setelah mengantarkan Tania, Rifki langsung pulang kembali ke rumah. Sepulangnya Rifki, Tania diminta untuk mengganti pakaian yang ia pakai dengan seragam event khusus pelayan. Setelah berganti kostum, meletakkan barang-barangnya pada sebuah loker khusus.


Saat ia hendak pergi meninggalkan ruangan yang hanya berisi loker, ia berpapasan dengan rekan kerjanya di minimarket, Rina dan Sita.


"Hai, Tania! Kamu di sini juga ternyata?" tegur Rina.


"Eh, Rina, Sita. Kalian juga di sini," balas Tania tersenyum. "Aku duluan ya," pamitnya.


Tania pun meninggalkan ruangan tersebut.


"Kamu enggak lupa kan?" tanya Rina pada Sita saat menaruh tasnya pada loker.


"Beres, aku bawa ini," jawab Sita.

__ADS_1


"Simpan di saku aja, biar nanti nggak repot bolak-balik ke sini," suruh Rina.


"Oke, Yuk kita keluar," ajak Sita.


Flashback off


🌸🌸🌸🌸🌸


Kembali ke kediaman Keluarga Ardiansyah. Ardi masih menunggu istrinya berdandan.


"Berapa lama lagi sih, Ma? Ck, wanita kalau dandan sangat lama," decaknya.


Akhirnya Dewi selesai berdandan, ia berdiri melangkah menjauhi meja rias. Menghampiri Ardi yang menunggunya untuk dipakaikan dasi seperti kebiasaannya.


"Dari tadi ngedumel, Mama kira sudah siap," gerutu Dewi.


"Ini," ucap Ardi sambil menunjukkan sehelai dasi di tangannya.


Dewi meraih dasi dari tangan suaminya, lalu memakaikannya.


"Apa harus pakai dasi, Pa? Acaranya kan enggak formal-formal amat," tanya Dewi sambil merapikan anyaman dasinya.


"Wajiblah, Ma. Untuk menghormati tamu yang formal. Ayo berangkat!" jawab Ardi.


Mereka keluar dari kamar, melangkah beriringan bergandengan tangan bak sepasang muda-mudi yang baru menikah menuruni tangga.


Sampai di lantai dasar, mereka bertemu dengan Nurlita dan Edos yang sedang menonton televisi.


"Mbak Lita enggak ikut ke pesta?" tanya Dewi.


"Enggak, Wi. Mbak di rumah saja nemanin Edos," Jawab Nurlita.


"Mas Burhan juga tidak ikut?" tanya Ardi menimpali.


"Ikut kok, barusan berangkat sama Abizar," jawab Nurlita.


"Kami berangkat dulu ya, Mbak. Titip rumah," pamit Dewi.


"Baik-baik di rumah ya, Edos. Jangan kabur lagi!" timpal Ardi.


"Ma, Pa, aku ikut kalian donk," tiba-tiba terdengar seruan dari lantai dua. Aghni ternyata hampir ketinggalan.


"Ayo, memangnya kamu tidak membawa mobil sendiri?" tanya Nurlita kepada anak bungsunya.


"Enggak, Ma. Takut nanti pulang kemalaman dan mengantuk, kan bahaya," jawab Aghni


Ardi, Dewi dan Aghni pergi ke hotelnya diantar oleh supir. Setelah mereka pergi, Nurlita berbincang-bincang dengan Edos.


"Dek, besok pagi cek up ke rumah sakit ya, pasti kamu enggak pernah cek up kan, Sayang?" ajak Nurlita pada Edos.


"Ma, jangan panggil aku Dek, Edos bukan anak kecil lagi," decih Edos tidak terima.


"Mama masih merasa kalau kamu masih kecil, mau ya cek up?" pinta Nurlita lagi.


"Iya, Ma. Edos juga pingin cepat-cepat bisa normal berjalan."


"Kenapa kamu nggak ambil perhiasan yang mama berikan untuk Tania? Padahal kalau kamu ambil itu bisa dijual untuk biaya pengobatan kamu dan Tania," tanya Nurlita.


"Edos kelupaan, Ma. Rencananya mau Edos ambil sekalian ambil kunci mobil waktu itu," jawab Edos.


"Mama enggak bisa bayangkan betapa sulitnya Tania mencari uang buat biaya pengobatan kalian. Lalu darimana kalian mendapatkan uang? Honor Tania berkerja pasti habis buat makan," tutur Nurlita berkaca-kaca.


"Edos enggak tahu, Ma. Semuanya Tania yang ngurus. Mungkin dia memakai uang mahar, Edos juga tidak melihat dia memakai cincin pernikahan, waktu kutanya dia jawabnya alergi dan cincinnya disimpan di tas, aku sih nggak percaya," tutur Edos.


"Pasti itu cincin digadaikan, enggak mungkin kalau dijual. Papa sudah membuka blokiran rekening kamu lho, Nak. Kamu cari surat gadai cincin itu trus kamu tebus buat dia, cincin nikah itu kan mempunyai nilai yang sakral," ujar Dewi.


"Iya, Ma. Besok pagi saja aku cari di rumah Bu Retno, sekalian ambil barang-barang Edos yang ada di sana," sahut Edos.


🌸🌸🌸🌸🌸


Ballroom Hotel Merysta


Para tamu undangan telah hadir memenuhi ruangan, gemerlap lampu redup-terang mengikuti musik yang dimainkan oleh grup band terkenal itu, suara penyanyi papan atas juga terdengar melengkapi musik yang, lagu-lagu romantis mengalun syahdu di awal pesta tersebut.

__ADS_1


Tania dan kawan-kawan lainnya nampak sibuk hilir mudik keluar masuk antara dapur restoran dan ballroom. Mengecek persediaan makanan dan minuman di meja serta membawa dan meletakkan makanan dan minuman tersebut ke meja yang telah kosong.


Terkadang para pelayan menghampiri menawarkan makanan dan minuman yang di bawanya ke meja-meja yang berada di bagian tengah, mungkin ada tamu undangan yang malas untuk mengambil makanan yang ada di tepi ruangan, mungkin ada tamu undangan yang hanya pasrah menanti dilayani oleh para pelayan.


Di salah satu meja dari puluhan meja, eh ratusan meja mungkin yang ada di saja, nampak Sisi dan Aris duduk di sana. Sisi duduk dengan gelisah.


"Mas, aku ikut ke pesta ini kan karena ingin ketemu Kak Tania. Kalau kita enggak bisa ketemu dengan Kak Tania, buat apa kita di sini? Di sini enggak ada yang kita kenal, Mas. Pulang saja yuk!," sungut Sisi.


"Sabar lah, Sayang. Nikmati saja dulu acaranya dari pada mubazir. Siapa tahu nanti kita akan ketemu Kak Tania, acaranya juga baru mulai kan? Duduk saja jangan kemana-mana, lagian jarang-jarang kan kita dapat hiburan gratis sama makanan enak-enak," bujuk Aris.


"Tapi kalau kita diam saja di sini sampai kapan ketemunya, Mas?" rengek Sisi.


"Kalau kamu kemana-mana, mungkin bukan cuma Tania yang ada dalam daftar pencarianku, bahkan kamu juga nanti," ujar Aris agak menggertak.


Sisi terdiam membenarkan ucapan Aris, tapi ia tidak bisa menahan bibirnya untuk manyun. Aris tersenyum geli melihat tingkah kekasihnya.


"Mas Aris gemas melihat bibir kamu kalau manyun gitu. Jadi pengen cepat-cepat halalin kamu, Sayang," goda Aris.


Sisi pun hanya melirik sebal pria yang ada di sampingnya


Sementara tidak jauh dari meja Sisi dan Aris, Niken nampak bahagia bisa berdekatan dengan suaminya meskipun ia mengira kalau Bram masih menganggapnya istri pura-pura, kebersamaan mereka kali ini hanya akting pikirnya. Aura bahagia terpancar dari wajah keduanya. Bram terus menggenggam erat tangan Niken.


"Niken, aku ingin memperbaiki hubungan kita," ungkap Bram.


"Maksud Mas Bram?" tanya Niken belum mengerti maksud suaminya.


"Aku ingin kita seperti suami istri pada umumnya, bukan pura-pura," ungkap Bram lagi.


Niken tersenyum mendengar ungkapan hati Bram. "Benarkah, Mas?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca seakan tidak percaya.


"Iya, benar. Aku serius," kata Bram lagi.


Sejenak wajah Niken kembali murung, ia kembali teringat sesuatu. "Lalu bagaimana dengan surat perjanjian itu?" tanyanya.


"Surat perjanjian itu, aku sudah tidak menganggapnya ada, maukah kamu menjadi istriku yang sebenarnya? Kita akan arungi kehidupan dalam rumah tangga bersama. Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Bram.


Mendengar ungkapan dan pertanyaan Bram kali ini, bulir-bulir bening nampak mengalir dari pelupuk mata Niken. "Aku mau, Mas. Sejak kita menikah pun, aku sudah menganggap kaulah suamiku sebenarnya, aku tidak pernah menganggap surat perjanjian itu ada." ungkap Niken terisak.


Bram menatap manik mata Niken, berusaha mencari kebohongan di sana, namun ia tidak menemukannya. Bram pun merengkuh tubuh Niken dan mengecup singkat kening istrinya tersebut.


"Terimakasih, Sayang. Kau sudah bersabar menghadapiku selama ini."


Sesaat permainan musik dan penyanyi dihentikan untuk menyambut kehadiran orang nomor satu di ARD's Corp di ruangan pesta tersebut, Ardiansyah, Aghni dan Dewi muncul dari pintu tengah, berjalan dengan anggun dan berwibawa di atas karpet merah.


Suasana yang sesaat hening, kini menjadi riuh oleh tepuk tangan sorak sorai para tamu, serta bunyi ceklak-ceklek dan lampu kamera para tamu dan wartawan. Beberapa bodyguard mengiringi mereka dari belakang. Mereka diarahkan untuk duduk di kursi bagian paling depan tengah samping kiri.


Dua orang pembawa acara mulai memandu jalannya acara. Acara di mulai dengan pembacaan basmallah dilanjutkan sambutan dari perwakilan pimpinan dewan direksi.


Selanjutnya acara inti adalah sepatah kata dari pemilik ARD's Corp yang disampaikan oleh Ardiansyah dan pemotongan tumpeng. Ardi maju ke podium yang ada di atas panggung. Ia mulai membacakan pidato dadakan tanpa teksnya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh," terdengar ucapan salam dari bibir Ardi sebagai pembuka pidato. Jawaban salampun terdengar dari penjuru seluruh hadirin.


Ardi pun melanjutkan kalimatnya, "Sebelum saya menyampaikan sepatah dua patah kata, ijinkan saya berkata jujur, bahwa saya merasa grogi berada di podium yang kecil ini dengan panggung sebesar ini, di hadapan kalian yang jumlahnya hingga 1000 lebih undangan, Saya ini merasa seperti seekor kutu, dengan kata lain saya mati kutu di hadapan kalian,"


Gerrrr


Suara tawa dan tepuk tangan riuh pun seketika terdengar menyambut seloroh Ardi.


"Saya sudah terbiasa berhadapan dengan klien dari manapun, saya percaya diri. Tetapi kali ini kumpulan dari para klien berada di hadapan saya, luar biasa."


Tepuk tangan serempak kembali terdengar.


"Ungkapan syukur sedalam-dalamnya kami sanjungkan kehadirat Allah SWT, dalam satu generasi Ardiansyah Corporation atau yang lebih kita kenal dengan nama ARD's Corp telah tumbuh dari perusahaan minimarket dan perhotelan menjadi perusahaan terpadu yang beroperasi di Indonesia dan dua negara lain di Asia. Bisnis kami juga telah berkembang guna menyediakan kebutuhan bagi seluruh lapisan masyarakat dari kalangan bawah hingga menengah ke atas di masa kini."


"Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah menyumbangkan kerja keras dan dedikasi kalian sehingga ARD's Corp menjadi perusahaan hingga sebesar ini. Dari pemegang saham, Dewan direksi, jajaran manajemen, seluruh relasi bisnis serta seluruh pegawai dan pelayan sebagai ujung tombak perusahaan ini yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu persatu. Tanpa kalian kami bukan apa-apa."


"Pada kesempatan ini, Saya juga akan menyampaikan pengumuman....


.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2