2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Dipanggil ke Ruang Dosen


__ADS_3

Di dalam kamar, Tania merutuki dirinya sendiri. Pasalnya bukan kalimat itu yang ingin dia ucapkan kepada Fauzan sebenarnya. Ia sangat berterima kasih karena Fauzan sudah membantunya mengajak Atar cukur rambut ke salon pria yang belum bisa ia lakukan. Tania memang sudah punya rencana untuk mengajak Atar potong rambut, tetapi waktunya belum juga ia punyai. Lagi pula ia belum pernah ke salon pria ataupun ke tukang cukur anak-anak. Sekarang Fauzan membawa Atar pulang dalam keadaan sudah rapi rambutnya. Ia pun sadar, mana mungkin belum selesai dicukur rambutnya sudah mau langsung pulang? Bisa-bisa nanti seperti anak tidak terurus meskipun kenyataannya memang demikian.


"Duh, kenapa kamu jadi ketus begitu sih, Tan sama laki-laki. Padahal dia sudah melakukan hal yang baik terhadapmu. Membantu meringankan pekerjaan mu. Dasar tidak tahu terima kasih!" gerutu Tania terhadap diri sendiri sambil menyusui Bita.


"Maafkan Tania ya, Mas Fauzan. Tania memang tidak pernah bisa bersikap baik terhadapmu, tapi bukan berarti Tania membencimu. Entahlah, Tania sendiri tidak tahu kenapa Tania bisa bersikap seperti itu? Tania tidak bisa mengontrol raga ini," lirihnya.


Sementara di lantai bawah, Fauzan menurunkan Atar di lantai ruang tengah yang beralaskan permadani.


"Atar biar sama Mbak Siti saja, Mas Fauzan," sela Siti yang muncul dari arah depan dengan kedua tangan menenteng kantong kresek berisi belanjaan. "Ini belanjaannya dibawa pulang saja ya buat ibunya Mas Fauzan," imbuhnya meletakkan dua kantong kresek di dekat Fauzan duduk.


"Oh iya, terima kasih, Mbak Siti. Tadi niatnya mau nyetok isi kulkas yang di apartemen, ternyata apartemennya sudah ada yang nyewa. Iya nanti saya bawa saja," ungkap Fauzan. Bukannya Fauzan pelit atau apa, tetapi memang di rumah Ardiansyah ada petugas khusus dari Ardimart yang menyetok barang-barang kebutuhan sehari-hari. Jadi dari pada mubazir lebih baik ia bawa saja ke rumah untuk dikasih kepada ibunya.


Siti mengambil alih menjaga Atar yang belum lancar berjalan. Fauzan pun segera pamit untuk diri kepada seisi rumah kecuali Tania.


Sampai di rumahnya Fauzan langsung memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam kulkas. Tiba-tiba Faraz menyela kegiatannya.


"Mas minta jus jambu bijinya satu."


"Nih, tapi belum dingin, mau?" sahut Fauzan bertanya. Faraz pun menerimanya dan duduk di kursi meja makan.


"Tumben Mas belanja banyak?" tanya Faraz heran.


"Lagi pengen," sahut Fauzan asal sambil meneruskan kegiatannya. Setelah dirasa cukup, ia bangkit dari jongkoknya dan melangkah menghampiri Faraz Fauzan duduk di samping Faraz.


"Gimana kuliah kamu? Lancar?" Tanya Fauzan kepada sang adik.


"Alhamdulillah lancar, Mas. Faraz bisa menyelesaikan tugas tepat waktu," sahut Faraz.


"Baguslah, kalau udah lulus nanti kamu bisa fokus membantu Mbak Farah mengurus toko," cetus Fauzan. "Atau kamu mau buka usaha sendiri?" tanyanya.


"Faraz belum punya rencana ke depannya, Mas. Sementara Faraz jalani kuliah dulu sambil jualan kaos kaki, lumayan hasilnya bisa buat beli bensin," sahut Faraz. "Oh ya, Mas, cewek kakak tingkatan Faraz yang Mas Fauzan temui di kampus itu kekasihnya Mas Fauzan ya?" tanyanya penasaran.


Fauzan pun membelalakkan mata. Namun, sesaat kemudian ia menyunggingkan senyumnya. "Bukan, Mas cuma suka dia, tetapi dianya tidak, " sahut Fauzan tersenyum kecut. "Kenapa memangnya?" tanyanya kemudian.


"Enggak apa-apa sih. Tapi Faraz lihat beberapa waktu kemudian kok sepertinya dia hamil, Mas? Mas suka sama istri orang ya?" tanya Faraz penuh selidik.


"Suaminya sudah meninggal, udahlah enggak usah dibahas lagi," pinta Fauzan karena ibu dan adik perempuannya kini juga bergabung bersama mereka.


"Siapa yang suka sama istri orang?" tanya Farah yang mendengar sedikit perbincangan dua pria di rumah tersebut sembari duduk di kursi.


"Enggak ada, Farah. Tania itu bukan istri orang, tetapi dia janda. Ibu sudah kenal sama dia kok. Udah jangan ngobrol terus, ayo makan," timpal Bu Fatimah membantu Fauzan menjawab pertanyaan adiknya.


Mereka pun menikmati makanan yang dimasak oleh Bu Fatimah tanpa mengobrol. Farah selalu menyempatkan diri pulang sore dan makan malam di rumah kemudian berangkat lagi ke tokonya setelah makan. Ia akan pulang malam hari pukul 10 atau jika capai ia akan menginap di ruko.


Pagi harinya Fauzan siap meluncur ke NTT dengan penerbangan pertama. Tadi malam ia sudah mengirimkan pesan ke nomor ponsel Tania terkait penyewaan apartemen, uangnya sudah ia transfer langsung ke rekening Tania. Namun, sampai tadi pagi ia hendak berangkat, ia melihat pesan itu masih belum berwarna biru juga. Mungkin Tania belum sempat membuka ponsel atau mungkin ponselnya kehabisan daya baterai dan masih dicas.


"Sudahlah, apapun dan bagaimanapun sikap Tania terhadapku, aku tidak akan menyerah. Semoga Allah segera bukakan pintu hatinya untuk dapat melihat ketulusanku," ucapnya di iringi do'a.


*****

__ADS_1


Sementara Tania baru menyadari ada pesan dari nomor asing saat ia sudah berada di kampus untuk kuliah. Juga pesan M-banking yang menginfokan adanya SPAN. Tania duduk di bangku teras sebelum masuk ke dalam kelas.


"Siapa ini?" tanyanya.


"Ternyata Mas Fauzan sudah menyewakan apartemen. Syukurlah, jadi aku enggak perlu susah-susah untuk ketemu orang itu. Sudah dibayar 6 bulan di muka sekalian lagi, alhamdulillah. Aku bisa nabung buat Atar," gumamnya.


Saat Tania hendak berdiri, tiba-tiba dari arah samping ia ditabrak oleh seseorang.


"Aw!" lenguhnya.


Tania melihat siapa orang yang telah menabraknya. "Kamu?" ucap terhadap pemuda yang menabraknya. Pemuda itu wajahnya mirip seseorang, tetapi ia belum menemukan wajah siapa yang sebenarnya mirip dengan pemuda tersebut.


"Hai, kamu cewek yang waktu itu hamil ya? Udah mbrojol ternyata baby-nya?" tebak pemuda tersebut.


"Eh, kamu ternyata perhatian juga sama aku?" ucap Tania.


"Jelas donk, kamu kan calon kakak ipar aku," ungkap pemuda tersebut dengan tingkat kepedean tinggi.


"Haha, ngaco kamu! Memangnya siapa abang kamu kok ngaku-ngaku mau jadi suamiku?" tanya Tania.


"Eh, kenalkan, aku Faraz adiknya Mas Fauzan," ucap Faraz memperkenalkan diri.


"Oo, adiknya si cupu? Udah cerita apa aja abang kamu itu sampai kamu berani ngaku-ngaku jadi calon adik iparku?" tanya Tania jutek.


"Mas Fauzan enggak cerita apa-apa kok, aku cuma nebak karena pernah lihat kalian bareng di ruang perpus. Jadi jangan su'udhon," pungkas Faraz. "Kalau enggak bisa jadi kakak ipar, berarti boleh dong jadi istri," goda Faraz sebelum pergi berlalu dari hadapan Tania.


"Eh iya, dia kan cowok yang suka jualan kaos kaki di depan gerbang. Ternyata dia adiknya Mas Fauzan, pantesan mirip," gumam Tania.


Tania langsung menghambur ke dalam ruang kelas karena sudah hampir terisi penuh oleh mahasiswa. Pak Tomi masuk ke dalam ruang untuk menyampaikan materi kuliah. Tetapi sebelum ia membuka perkuliahan ada titipan dari dosen wali yang harus ia sampaikan segera, sebab kalau tidak disampaikan langsung bisa-bisa nanti kelupaan.


"Yang namanya saya sebutkan, nanti diminta oleh Pak Rustam menghadap ke ruangannya. Dengarkan baik-baiknya. Arza, Firman, Sigit, Tania dan Prima. Sudah itu saja," ungkap Tomi.


"Ada apa, Pak?" tanya Tania penasaran.


"Saya tidak tahu, nanti bisa ditanyakan kepada Pak Rustam langsung saja. Beliau tidak menyampaikan kepada saya apa maksudnya," sahut Tomi.


Tania lalu mengangguk-anggukkan kepalanya dan tidak bertanya lagi. Tomi kemudian melanjutkan ceramahnya memulai menyampaikan materi kuliah. Hingga saat istirahat, Tania dan ketiga temannya datang menemui Pak Rustam di ruangannya. Sebab satu orang mahasiswa yang namanya tadi disebutkan berhalangan hadir hari ini. Sampai di ruang dosen mereka duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa kalian main keroyokan ke ruang dosen?" tanya Bu Siska, dosen yang masih betah melajang sampai umurnya 40 tahun tersebut.


"Kami hanya memenuhi undangan Pak Rustam, Bu," sahut Firman mewakili teman-temannya.


"Oh, Pak Rustam? Beliau belum kembali. Masih di fakultas ekonomi kayaknya," sahut Bu Siska.


"Kami akan tunggu, Bu," sahut teman Tania lainnya.


Bu Siska lalu meninggalkan mereka dan kembali ke mejanya. Tania menunggu dengan gelisah karena sampai 15 menit mereka menunggu, tetapi yang ditunggu tidak muncul juga.


"Tahu gini mendingan tadi kita ke kantin dulu beli cilok, Pim," celetuknya.

__ADS_1


"Haha, tubuh udah kayak cilok aja masih doyan cilok kamu, Tan," seloroh Prima menyahut.


"Biarin, yang penting ASI buat Bita sama Atar lancar, nggak peduli mau kayak cilok atau semangka juga," timpal Tania cuek.


"Kamu mau cilok, Tan? Aku pesanin," cetus Firman.


"Pipim juga donk, Fir. Sama minumannya jangan cilok doang," pinta Prima.


"Iya, memang kamu mau minum apa?" sahut Firman lalu bertanya lagi.


"Aku minumnya es mocacino dong, Fir," sahut Prima.


"Oke, kamu, Tan?" Firman beralih kepada Tania.


"Aku pengen ke tempatnya langsung, enggak di sini. Malas lihat muka jutek Bu Siska," sahut Tania berbisik kepada teman-temannya.


"Tunggu bentar lagi, Pak Rustam udah keluar dari kelas yang ia ampu nih. Takutnya nanti kita malah enggak dilulusin mata kuliahnya dia kalau kita abai," cegah Sigit.


"Ya udah deh, udah sampai di mana Pak Rustamnya?" tanya Prima.


"Baru keluar dari gedung Fakultas Ekonomi katanya," sahut Sigit.


"Sebenarnya kita diundang ke sini kenapa sih? Ada yang tahu enggak?" tanya Tania.


"Mungkin karena kita kemarin udah ditunjuk jadi peserta paduan suara, terapi enggak ikut latihan," tebak Firman.


"Aku emang enggak mau, kok dipaksa-paksa. Memang yang enggak ikut cuma kita apa?" gerutu Tania tak terima.


Tak lama orang yang ditunggu masuk ke dalam ruang dosen, tetapi tidak menyapa mereka. Ia malah duduk santai di meja kerjanya.


"Itu Pak Rustam sudah kembali, kenapa tidak menemui kita?" tanya Tania.


"Mungkin dia lupa, coba kamu temui sana, Tan," terka Sigit.


"Kok aku sih? Kalian lah yang cowok," tolak Tania.


"Justru karena kamu cewek. Biasanya cowok itu luluh sama cewek," ucap Sigit.


"Enggak-enggak, itu teori ngawur. Kamu aja Fir, temui sana!" suruh Tania.


Firman ogah-ogahan bangkit dari duduknya untuk menemui Pak Rustam.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2