2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Memulai


__ADS_3

Embun pagi telah mengering


Pancaran mentari membuat dedaunan menguning


Mataku tertegun menatap langit


Melepas hati yang terbelit


Tak dapat membayangkan seperti apa hari esok kan kujalani


Secerah pagi ini


Ataukah temaram seperti senjakala


🌸🌸🌸🌸🌸


Bu Retno dan Tania turun dari angkot yang berhenti di depan gang. Mereka berjalan memasuki gang sempit. Sampailah mereka di depan sebuah rumah kecil. Bu Retno merogoh kunci rumah dari dalam tas, kemudian memasukkan kunci tersebut ke lubangnya.


"Silahkan masuk, Dek!" ucapnya pada Tania saat membuka pintu. Kemudian meletakkan tas yang ia bawa di lantai dekat dengan dinding.


"Panggil Tania saja, Bu!" pinta Tania yang melangkah masuk mengikuti Bu Retno.


Ia duduk di kursi yang ada di ruangan itu, mengamati setiap sudut ruangan. Sementara Bu Retno pergi ke belakang, tak lama kemudian ia kembali dengan segelas air putih di tangannya.


"Minumlah," ucapnya sambil menyerahkan gelas kepada Tania lalu duduk di sampingnya. "Untuk sementara, kamu istirahatlah di kamar Rifki anak saya. Nanti ibu akan suruh tukang untuk menyekat ruangan ini menjadi kamar." tambahnya.


Tania terkejut, seketika air yang diminumnya muncrat tersembur. Ternyata rumah Bu Retno hanya memiliki dua kamar tidur, satu miliknya dan suami, satunya lagi milik putranya yang belum menikah.


"Apa di sekitar sini, tidak ada rumah yang mau dikontrakkan, Bu?" tanya Tania selanjutnya.


"Ada, tapi apa kamu tidak takut tinggal di kontrakan sendirian?" pertanyaan Bu Retno ini membuat Tania berfikir sejenak. "Rifki sudah terbiasa tidur di depan televisi," tutur Bu Retno. Tania masih terdiam.


Bagaimana tanggapan para tetangga kalau sampai mereka tahu ada seorang gadis tinggal satu atap dengan laki-laki yang sudah dewasa dan belum menikah tanpa ikatan apa-apa. Tania terus berfikir dalam hati, keningnya berkerut.


"Tunggu apa, Tania? Ayo istirahat di dalam kamar, kamu kan belum pulih!" suruh Bu Retno.


"Iya, Bu. Sebentar, Tania kan baru duduk, masih pewe ini," jawab Tania asal.


"Anggap saja rumah sendiri ya. Ibu mau jualan di depan," pamit Bu Retno.


"Ibu jualan apa?" tanya Tania.


"Ibu jualan gado-gado sama pecel, kamu mau apa? Nanti ibu buatkan," jawab dan tanya Bu Retno.


"Tidak, Bu. Tania masih kenyang tadi sarapan di rumah sakit, nanti saja kalau sudah lapar," jawab Tania.


Bu Retno melangkah menuju ke luar rumah. Tania memandangi punggung wanita paruh baya tersebut. Bu Retno memang agak menyentak kalau berbicara, tetapi Tania tahu sebenarnya dia orang baik, buktinya dia mau mencarinya ke rumah sakit, walaupun kenyataannya dia bukanlah orang yang berpunya.


Tania bangkit dari duduknya dan melangkah menuju ke kamar yang ditunjukkan oleh Bu Retno tadi. Di dalam kamar ia kembali memandangi sekeliling, memperhatikan setiap sudut kamar. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Tania meraih weist bag milik Edos, menarik kepala resleting hingga terbuka. ia mengambil ponsel milik suaminya. Ponsel itu mati, Tania menghidupkan layar ponsel tersebut. Terlihat dari notifikasi banyak sekali panggilan dan pesan WhatsApp. Tetapi Tania tidak mengetahui kode sandi untuk membuka ponsel tersebut.


Tania sejenak menimang-nimang ponsel tersebut. Ia bisa saja meminta bantuan pada teman-teman Edos untuk membantunya meringankan biaya rumah sakit, atau meminta bantuan pamannya untuk menjual tanah warisannya, DP masuk rumah sakit yang dipinjamkan Pak RT juga harus dia kembalikan, tetapi ia malu. Tania tidak mau merepotkan orang lain.


Kalau sampai mama dan papanya Edos telepon terus tahu bahwa mobil Edos mengalami kecelakaan dan sekarang ia lagi koma, aku takut mereka pasti akan marah besar sama aku, kemudian menjauhkan Edos dariku. Lebih baik aku non aktifkan lagi saja HPku dan HP-nya Edos. Lelah berfikir, akhirnya Tania terlelap.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸


Sementara itu di kediaman orangtua Edos, perasaan Nurlita yang tidak tenang memikirkan nasib putra bungsunya, meminta supir untuk mengantarnya ke rumah saat Edos melamar Tania, yaitu rumah paman Hisyam, pamannya Tania.


"Kita mau kemana, Bu?" tanya Aris pada Nurlita yang sudah duduk di kursi penumpang.


"Jalan saja, Aris. Nanti saya kasih tahu mau belok kiri atau ke kanan," jawab Nurlita.


"Baik, Bu. Tapi jangan mendadak pas di belokannya ya Bu bilangnya," pinta Aris.


"Iya, Aris. Kamu pikir saya anak kecil apa?" hardik Nurlita.


"Bukan, Bu. Maaf," ucap Aris.


Ia segera melajukan mobilnya, takut mendapat omelan dari majikannya tersebut.


Nurlita menjadi penunjuk arah ke mana mobil yang mereka tumpangi harus melaju, hingga tibalah mereka di sebuah kampung yang dekat dengan perkebunan teh milik suaminya.


Mobil berhenti di sebuah rumah yang sederhana, namun tampak asri dengan berbagai tanaman hias serta sayuran di pekarangannya. Aris mematikan mesin mobil.


"Ayo turun, Ris!" perintah Nurlita.


"Tidak, Bu. Saya menunggu di sini saja," Tolak Aris.


"Beneran? Jangan menyesal lho kalau tidak mau turun Adiknya Tania cakep lho," kata Nurlita sebelum beranjak.


"Saya di sini saja, Bu. Ibu saja yang ke dalam," tukas Aris sekali lagi.


"Ya Udah, Ibu tinggal jangan nangis lho!" ancam Nurlita.


"Ish.." desis Aris. Pemuda itu masih khusyuk di tempatnya.


"Eh, Bude." Sisi meraih tangan Nurlita dan menciumnya. "Silahkan masuk Bude!" ucap Sisi mempersilahkan.


Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi ruang tamu.


"Ada apa Bude, kok tiba-tiba datang ke mari? pasti ada tujuan lain selain silaturrohim kan," tanya sisi to the poin.


"Iya, Sisi. Apa kamu mengetahui kabar kakak kamu Edos dan Tania?" tanya Nurlita.


"Mbak Tania dan Mas Edos satu minggu yang lalu pergi ke Jakarta, Bude. Dan saya belum menghubunginya lagi," papar Sisi.


"Ayah kamu ada?" Tanya Nurlita lagi.


"Ayah sama bunda masih kerja, Bude," jawab Sisi.


"Oh, berarti kalau mau ketemu dengan ayah kamu, musti malam hari ya?" tanya Nurlita mengambil kesimpulan sendiri.


"Iya, Sisi ambilkan minum sebentar ya, Bude," jawab Sisi merasa sungkan.


"Tidak usah repot-repot, Sisi. Bude mau ketemu sama ayahmu saja kok. Tetapi dianya lagi kerja ya mendingan Bude pulang saja ya. Besok-besok ke sini lagi," tutur Nurlita.


Tiba-tiba Aris nyelonong masuk,


"Assalamu'alaikum, Bu. Bapak telpon, hape ibu ketinggalan di dashboard mobil tadi," ucap Aris tangannya menyerahkan HP kepada Nurlita.

__ADS_1


Nurlita menerima hapenya dan menjawab panggilan, karena jaringan di rumah Sisi jelek dia keluar rumah.


Sementara sisi memandangi lekat-lekat pemuda tampan yang baru nyelonong masuk di hadapannya. Tanpa sadar pandangan mereka bertemu, keduanya jadi tersipu malu.


"Maaf, Mas enggak dipersilahkan duduk nih?" tanya Aris membuka percakapan.


"Eh, iya. Silahkan duduk, Mas!" ucap Sisi mempersilahkan dengan malu-malu. "Mas mau minum apa? saya ambilkan, tapi adanya cuma air putih," tawarnya.


Arispun duduk di kursi tempat yang tadi diduduki oleh Nurlita.


"Tidak usah, Dek. Memandang wajah Adek saja sudah cukup melepaskan dahaga di hati Mas," ucap Aris mulai melancarkan gombalannya.


"Ih, Mas. Belum kenalan saja sudah ngegombal," cebik Sisi.


"Eh, iya ya. Aku Aris, nama lengkap Fahristiawan, Asisten pribadi sekaligus keponakannya Bu Nurlita," ucap Aris mengulurkan tangannya.


"Heleh, asisten pribadi? ketinggian jabatanmu, Ris," cebik Nurlita yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. "Kamu jangan percaya sama gombalan recehnya, Sisi," bujuknya pada sisi yang masih bisa didengar oleh Aris.


Sisi yang hampir menyambut uluran tangan Aris jadi ragu dan menarik kembali tangannya.


"Ish, Ibu nggak peka banget sih jadi majikan," cebik Aris menarik kembali uluran tangannya.


"Ayo pulang!" paksa Nurlita.


"Bentar lah, Bu. Tadi nawarin sekarang ngelarang, enggak konsisten dech," gerutu Aris.


"Ya udah, cepetan. Ibu tunggu di depan ya," pamit Nurlita.


Nurlita keluar rumah dan hilang di balik pintu.


"Adek siapa tadi namanya? Mas minta nomor hapemu donk!" pinta Aris.


"Namaku Praharsi, Mas. Biasa dipanggil Sisi," ucapnya kembali mengulurkan tangan dan disambut oleh Aris. "Sebentar ya, Mas, HP ku ada di kamar," ucapnya melepas tangannya dari genggaman Aris.


Sisi beranjak pergi untuk mengambil hapenya menuju ke kamar. Ia kembali lagi dengan membawa HP di tangannya dan kembali duduk di hadapan Aris


"Ini, Mas. Silahkan dicatat!" ucap Sisi menunjukkan layar ponselnya.


Aris mengeluarkan HP dari dalam saku celananya, kemudian tampak mengetik nomor ponsel Sisi. HP Sisi bergetar.


"Sudah masuk nomorku, disimpan ya. Mas pamit, assalamu'alaikum, Cantik," ucapnya langsung melenggang pergi.


"Wa'alaikumussalam, Mas Ganteng," jawab Sisi lirih.


Sisipun menamai kontak Aris dengan nama 'Mas Aris Ganteng'. Sisi jadi senyum-senyum sendirian. Awas Sisi, nanti kesambet loh.


.


.


.


Terimakasih yang udah mau membaca,


jangan lupa like dan komennya ya.

__ADS_1


Terimakasih juga yang sudah mau vote


Love you all 😘😘😘


__ADS_2