2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Tiba-tiba Omes


__ADS_3

Rifki dan Doni membimbing Edos untuk duduk di kursi roda, kemudian mendorong masuk ke dalam lift, mereka turun ke lantai dasar menggunakan lift. Doni langsung membawa Edos ke rumah sakit. Dan langsung ditangani oleh perawat dengan sigap, karena Rifki sudah menelpon sebelumnya.


"Kenapa kalian bawa aku ke sini lagi? aku mau pulang!" teriak Edos saat sampai di rumah sakit. "Gara-gara kalian aku tidak bisa bertemu dengan Tania dua bulan lalu. Baru kemarin aku berkumpul bersama dia, sekarang sudah kalian pisahkan lagi," umpatnya.


"Salah kamu sendiri kenapa bandel, sudah dibilangin jangan mukul dan jangan emosi," hardik Rifki.


"Gimana aku enggak emosi? Dia minta aku supaya menceraikan Tania, coba Mas Rifki ada di posisi aku," jelas Edos masih dengan nada tenor. Namun Rifki tidak kaget sedikitpun, karena dia sudah mengetahui seperti apa Bram itu.


Rifki malah menempelkan jari telunjuk tangan kanannya melintang di bibir, tanda ia meminta Edos untuk diam.


"Ssttt, aku mau telpon Niken, kamu diam dulu biar Tania tidak curiga," pinta Rifki lirih.


"Assalamu'alaikum, Iya, Rifki?" sapa Niken.


"Wa'alaikumussalam, Niken. Tolong nanti antarkan Erika pulang ya, aku masih menunggui Edos di rumah sakit, biar nanti malam bisa pulang," tutur Rifki.


"Oke, Rifki. Nanti aku antarkan Niken dulu ke rumahnya, baru menjemput Tania lagi ke sini," jawab Niken.


"Terimakasih, Niken. Kalau Tania nanya, bilang padanya bahwa urusan Edos belum selesai," pinta Rifki lagi.


"Siip," sahut Niken.


Rifki memutus panggilannya. Dia kembali duduk memandang ke arah Edos. "Apa kamu mau Tania tahu kondisi kamu yang sebenarnya? Biar dia menyiapkan batin, kalau suatu saat sakit kamu..., ah sudahlah," Rifki menepis ucapannya sendiri. Namun Edos mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Rifki.


"Sudah beberapa kali aku mencoba untuk menyampaikannya. Tapi tanggapannya, dia selalu marah. Dia tidak ingin mendengar aku ngomong hal begituan lagi," jawab Edos menunduk.


Doni yang sejak tadi hanya diam duduk di kursi pun angkat bicara. "Mas Rifki pulang saja! Biar aku yang menunggui Edos," suruh Doni pada Rifki.


"Tadi aku sudah pamit sama Tania, kalau aku mau menyusul Edos, juga sudah bilang sama Niken kalau urusan Edos belum selesai. Kalau sampai Tania memergoki aku pulang, nanti dia malah curiga," sahut Rifki panjang lebar.


Terlalu besar cinta Edos terhadap Tania, hingga ia berfikir bahwa sesuatu yang terjadi atas diri Tania sejak menjadi istrinya adalah tanggung jawabnya. Edos tidak ingin menambah kesedihan di hati Tania setelah apa yang dialami oleh istrinya tersebut sejak kecil. Tekadnya dalam hati hanyalah ingin membuatnya bahagia.


๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ


Malam hari di kediaman keluarga Ardiansyah


Tania dan mama papanya sedang bercengkrama di ruang tengah setelah menyelesaikan makan malam mereka. Sambil menonton plasma TV yang menempel di dinding, mereka sedang membicarakan tentang keberangkatan pulang ke kampung halaman besok pagi.


"Papa tidak bisa ikut kalian kalau pulang ke kampungnya besok pagi, masih banyak pekerjaan yang harus selesai minggu ini," sesal Ardi.


"Kalau minggu depan Papa bisa ikut, Mama akan undur sampai minggu depan," putus Dewi.


"Kalau besok Mama tidak ikut, siapa yang akan mengenalkan Tania kepada kakek-neneknya?" Ardi malah balik bertanya. "Besok Mama ikut mereka saja, minggu depan Papa nyusul," saran Ardi.


"Mama yang enggak tega ninggalin Papa sendirian di rumah," sergah Dewi.


"Hehe.., benar juga," Ardi mengiyakan ucapan Dewi. Apa jadinya dia kalau tidak ada istrinya yang menyiapkan segala kebutuhannya di pagi hari sebelum berangkat kerja? Bisa seperti kapal pecah seisi rumah.


Jangan sampai Papa jatuh cinta sama Siti karena dia yang menyiapkan semua kebutuhan Papa. Ups, Siti kan sudah punya si Karim, reflek Dewi menutup mulutnya dengan telapak tangannya membayangkan sesuatu hal yang tidak-tidak.


"Jadi gimana, Ma?" tanya Tania memastikan.

__ADS_1


"Keputusan final, Mama sama Papa menyusul minggu depan, mama mau ajak adik kamu sekalian," ucap Dewi.


"Memangnya Aghni mau pulang?" tanya Tania.


"Mama akan paksa dia pulang besok pagi, wong sekolahnya bisa dari rumah kok masih betah di Bandung," ucap Dewi mencebik.


Tania tertawa melihat raut muka sang Mama. "Mama nggak tahu aja, dia itu sekolah jauh-jauh cuma menghindari Mas Rayan," ucapnya.


"Kamu telpon adik kamu gih, bilang sama dia kalau Si Rayan itu sudah punya cewek," suruh Dewi.


"Iya nanti, Ma. Kalau enggak lupa," jawab Tania nyengir.


Tania melirik jam yang bertengger di dinding, jarum pendek sudah menunjuk ke angka 8. Tetapi Edos belum menampakkan batang hidungnya.


"Suamimu belum kasih kabar juga, Sayang?" tanya Dewi pada Tania.


"Belum, Ma," jawab Tania singkat. "Oh iya, Ma. Kami mau pindah ke kamar yang ada di bawah sepulang dari kampung nanti, boleh ya, Ma." pinta Tania.


"Boleh kok, Sayang. Kamar yang ada di lantai bawah tidak ada yang nempatin kalau tidak ada tamu yang menginap," jawab Dewi memberi ijin.


"Tania ke kamar dulu ya, Ma. Mau sholat isya'," pamit Tania.


"Hati-hati ya, manjat tangganya!" ucap Dewi khawatir.


Saat Tania telah berada di lantai atas, terdengar ketukan pintu dari luar rumah, namun Tania tetap meneruskan langkahnya untuk sholat, ia takut kalau kemalaman matanya sudah mengantuk jadi malas melakukannya.


Tania masuk ke dalam kamar langsung menerobos ke dalam kamar mandi, membuang air kecil dan berwudhu. Begitu keluar dari kamar mandi, Edos sudah berada di dalam kamar dan berjalan ke arahnya.


"Sholat bareng aku," pinta Edos.


"Wudhu dulu sana, jangan mendekat ih!" Tania berusaha menghindari Edos.


Edos semakin dekat dengan Tania mengikis jarak di antara mereka, namun Tania terus mencoba untuk menghindar, dia malas bolak-balik ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lagi.


"Aku kangen kamu, Yank. Dari tadi aku telponin kamu enggak diangkat-angkat sampai jempolku keriting. Aku chat WA juga enggak dibuka," ucap Edos merajuk manja.


"Ups, ponselku aku Chad dari tadi," ucap Tania menutup mulutnya. "Aku juga kangen, tapi pelukannya nanti. Jangan dekat-dekat, Yank! Aku udah wudhu," tolak lagi Tania sambil tertawa bergidik menghindari tangan Edos.


"Tapi aku pengen meluk kamu sekarang," ucap Edos tersenyum jahil semakin dekat.


Tubuh Tania sudah mentok di tembok. "Astaghfirullah al'adzim, Yank. Ngeselin ih," ucap Tania mencebik.


Edos hanya tertawa puas sudah ngerjain istrinya. Dia memeluk Tania dan menghujaminya dengan ciuman, Tania sekarang pasrah, Edos membawanya menuju ranjang, tiduran di sana.


"Nanti bisa wudhu lagi," ucap Edos santai.


Tania melengos, "Males bolak-balik wudhu," cebiknya.


"Kalau males, nanti aku yang wudhani (telanjangin), hehe..," ucapnya tanpa merasa berdosa.


"Wudhu, Yank! Mau sholat ngapain wudhani? Dasar omes!" umpat Tania.

__ADS_1


"Hati-hati! ibu hamil itu tidak boleh ngomong kasar. Lagian cuma sama kamu tok aku bisa omes, Yank," sahut Edos menasehati istrinya.


Tania mengelus perutnya yang sedikit kram, "Tenang ya, Dek. Ayah kamu ini yang nakal, Dedek jadi olahraga dikit ya, Sayang," ucapnya.


Edos pun ikut mengelus perut istrinya sambil berkata, "Maafin ayah ya, Dek! Ayah cuma kangen sama bunda, ayah pinjam Bunda sebentar, jangan rewel ya!"


Capek, itulah yang kini dirasakan Tania. Menghindari Edos, tertawa juga mengeluarkan tenaga. Apalagi setelah hamil badannya sering lemas dan cepat capek-capek, ia mulai mengatur napasnya. Sedangkan Edos masih betah memeluknya.


"Udah donk, Yank. Nanti kalau sudah selesai sholat kita bisa lanjut lagi," ucap Tania memohon.


"Sebentar, sepuluh menit lagi," pinta Edos. "Jangan tinggalkan aku, Yank. Aku tidak mau berpisah dengan kamu lagi," ucapnya tiba-tiba saja menjadi melow. Tania hanya membalasnya dengan senyuman, hatinya seketika menghangat.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Sayang. Kenapa sekarang kamu jadi posesif gini sih?" sahut Tania penuh tanda tanya.


"Sebenarnya aku tidak suka kita tinggal di rumah ini, karena rumah ini Peninggalan mamanya Bram," ungkap Edos.


"Kalau kita pindah dari rumah ini, Mama pasti sedih. Dia baru saja bertemu dengan putrinya yang selama hampir sembilan belas tahun tidak bertemu. Sekarang mau dipisahkan lagi."


Sebenarnya Tania juga tidak suka tinggal di rumah mewah tetapi bukan miliknya ini. Ia sudah terbiasa tinggal di rumah sederhana, jiwa miskinnya sudah melekat. Coba kalau seluruh ruangan dikelilingi, pasti capek banget. Sedangkan di rumah peninggalan orang tuanya mau jalan dari depan ke belakang sehari puluhan kali pun sudah terbiasa.


Edos melepas pelukannya, ia bangkit dan melangkah menuju ke kamar mandi untuk mandi, tetapi ia lupa membawa handuk. Tania bangkit untuk menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Pilihannya jatuh pada baju koko warna putih dan sarung palekat lengkap dengan dalaman atas bawah. Tania meletakkan pakaian-pakaian tersebut di atas kasur. Handuk Edos yang masih tergantung di hanger dia letakkan di gagang pintu.


Tania masih setia menunggui suaminya sampai keluar dari kamar mandi sambil membentangkan sajadah di atas karpet. Lalu duduk kembali di sisi ranjang.


"Sayang!" panggil Edos dari dalam kamar mandi dengan suara keras.


"Pasti lupa handuk kan? Sudah ada di handle pintu," seru Tania.


Derit


Pintu kamar mandi dibuka sedikit, Edos menyembulkan kepalanya dengan senyuman menghiasi wajahnya. Ia segera menutupnya kembali, lalu keluar lagi dengan handuk yang melilit di pinggang, melangkah menghampiri Tania, karena baju-bajunya ada di sampingnya.


Tania mengira kalau Edos sudah berwudhu. Muncul sisi usilnya untuk membalas apa yang dilakukan oleh Edos tadi terhadapnya. Ia mencolek perut Edos yang datar dengan ujung jari telunjuknya.


"Cie.. yang pengen nyentuh, udah ketularan omes nih," goda Edos dengan senyum menyeringai. "Nih sentuh sampai puas sebelum aku tutup pakai baju," ucapnya yang malah menyodorkan tubuhnya ke muka Tania.


"Kamu udah wudhu kan?" tanya Tania tersipu.


"Belum, sengaja biar kamu bisa menikmati aroma tubuh suamimu yang masih fresh ini. Ternyata istriku omes juga," jawabnya menggoda.


Jangan ditanya sekarang muka Tania seperti apa. Alih-alih ngerjain suaminya malah dirinya sendiri yang malu. Langsung saja ia mengambil langkah seribu menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


.


.


.


TBC


Terimakasih teman-teman atas partisipasi kalian, tetap kepoin kisah Tania dan Edos ya.

__ADS_1


Tararengkiyu๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2