
Malam kian larut. Tania gelisah di dalam kamarnya. Setelah menyusui Atar ia meraih ponselnya yang sejak tadi sengaja ia taruh di atas nakas supaya ia bisa dengan mudah meraihnya jika membutuhkan. Ia menghubungi Edos sambil berbaring.
"Assalamu'alaikum, Yank. Kamu di mana sekarang? Sudah larut malam kok belum pulang? Jangan bilang kamu mau pulang ke rumah Mas Rifki," cecar Tania langsung setelah durasi panggilan berjalan.
"Bentar lagi, Say. Kamu tidur duluan kalau udah ngantuk gih," sahut Edos dengan suara yang dibuat biasa supaya istrinya tidak khawatir.
"Udah di jalan pulang?"
"Eh, iya-iya ini udah jalan."
Edos terpaksa berbohong supaya istrinya tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
"Hati-hati di jalan ya."
"Iya, bay, Sayang. Assalamu'alaikum. Emmuach ..."
"Wa'alaikumussalam."
Tania langsung terlelap karena ia sudah sangat mengantuk. Entah pukul berapa tadi suaminya masuk kamar dan tidur di sampingnya. Yang ia tahu saat ini pria yang kurang lebih satu tahun telah menjadi suaminya tersebut tengah tidur sambil memeluknya.
Saat melirik jam digital yang ada di nakas baru menunjukkan pukul 3 lebih. Tania menggerakkan tangannya mengusap bibir Edos dengan jemarinya. Merasa tidak ada respon dari suaminya sisi usilnya muncul, ia memajukan bibirnya. Ia melu*at bibir yang dua bulan lebih ini absen dari sentuhannya. Bukan apa-apa, Tania hanya tidak ingin membangkitkan ular kobranya Edos, sementara ia masih dalam penyembuhan dari operasi dan masa nifas.
Edos membalas perbuatan Tania. Tania yang kaget suaminya sudah terjaga reflek memundurkan kepalanya.
"Kamu membangunkan ular kobraku, Sayang. Sudah siap kamu dipatok olehnya?" tantang Edos.
"Ini udah mau subuh, Yank," Tania mengingatkan.
"Nanti kita langsung mandi sekalian sholat jama'ah. Mumpung Atar tidur, Say," ujar Edos memelas membuat Tania menjadi tidak tega.
Sebenarnya kata dokter Edos tidak boleh kelelahan, tetapi demi menyalurkan hasrat yang selama lebih dari dua bulan tidak tersalurkan, apa boleh buat? Sementara Tania yang sudah berkali-kali menolak keinginan suaminya karena takut akan terasa sakit itu pun kini pasrah. Ia juga tidak ingin memperbanyak dosa dan semakin dilaknat oleh malaikat. Seperti sebuah dendam, Mereka bahkan melakukannya hingga tiga kali. Mereka sama-sama terkulai lemas di atas ranjang dengan tubuh hanya berbalut selimut.
"Yank, aku bahkan belum sempat pasang alat kontrasepsi," sesal Tania.
"Tidak apa-apa, tolong jaga dia. Mungkin ini akan menjadi kenang-kenangan terakhir dariku," ucap Edos memohon seraya mengelus perut Tania.
"Kamu ngomong apa sih, Yank? Jangan mendahului takdir ah," sergah Tania tak terima. Ia pun bangkit dari tempat tidur lalu melangkah menuju ke kamar mandi karena mendengar suara azan subuh.
Saat Tania keluar dari kamar mandi, Edos masih telentang di tempat tidur memandang kosong ke arah langit-langit. Tania membuka lemari pakaian lalu menyiapkan pakaian untuknya sendiri dan untuk suaminya.
"Ayo, Yank. Mandi! Katanya mau sholat jama'ah. Nanti setelah sholat kan bisa tidur lagi," ujar Tania.
"Eh, iya, Sayang," Edos langsung bangkit dari tempat tidur lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Mungkin karena mendengar suara Tania yang meninggi, atau mungkin karena lapar, baby Atar terbangun. Tania menyusuinya sambil menunggu suaminya selesai mandi dan berwudlu. Namun, saat Edos keluar dari kamar mandi ternyata Atar belum melepas ****** yang diisapnya.
__ADS_1
Edos duduk di belakang Tania yang duduk bersila sambil menyusui Atar di atas ranjang. Kedua tangannya memegang pinggang Tania dan dagunya ia letakkan di pundak wanitanya itu.
"Kamu masih mau nambah, Yank?" bisik Edos tepat di telinga Tania dan menggigit cupingnya.
"Apaan sih," sergah Tania.
"Ini kok belum ganti baju dan duduknya ngangkang gitu?"
"Emang aku kalau nyusuin Atar begini 'kan? Lagian tadi gugup belum sempat ganti baju anak kita udah keburu bangun," elak Tania. Memang benar, kebiasaan Tania saat menyusui Atar dengan duduk bersila dan dialasi dengan bantal, bukan bantal khusus menyusui tetapi bantal tidur biasa supaya Atar nyaman.
"Nambah juga enggak apa-apa," ucap Edos santai sambil kembali membuat tanda-tanda di tengkuk istrinya.
Tania pun menggeliat, "Ih ngarep, sana ganti baju dulu ah. Aku enggak mau mandi lagi. Aku tuh tadi udah ambil wudhu langsung, eh kok malah diendus-endus aja," seru Tania sebal. Edos malah terkekeh sambil beranjak menghampiri lemari pakaian.
Edos mengambil baju ganti untuknya dan untuk Tania yang tadi sempat diambil oleh wanita itu tetapi urung karena keburu Atar bangun. Setelah memakai sarung dan celana yang didominasi warna putih, Edos kembali masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kembali. Padahal dia tadi sudah mengambil air wudhu, tetapi karena tingkah jailnya jadi terpaksa harus mengambil air wudhu kembali.
Keluar dari kamar mandi sambil menunggu Tania menidurkan kembali baby Atar, Edos menggelar dua helai sajadah dan meletakkan mukena milik Tania di sajadah belakangnya. Sementara ia menunggu sambil melaksanakan shalat sunnah qobliyah subuh.
Usai qobliyah, saat Edos menoleh ke belakang Tania sudah siap menjadi makmum. Edos pun bangkit untuk memimpin sholat berjamaah bersama dengan perempuan yang sangat dicintainya. Mereka sholat dengan khusyuk. Edos melantunkan ayat dengan pelan dan tartil. Sementara ini dirasakan oleh Tania sebagai sholat subuh terlama sepanjang ia menghirup udara di dunia.
Usai sholat Tania meraih punggung tangan Edos lalu mendekatkan ke hidungnya. Sementara Edos bukannya mencium kening istrinya, tetapi ia malah memeluk tubuh perempuan itu. Tania pun kembali keheranan. Ia mencoba melepas pelukan Edos, tetapi pria itu malah semakin erat dekapannya.
"Biar seperti ini," pinta Edos.
Ia pun tanpa bosan mengecup seluruh wajah Tania berulangkali. Setelah dirasa puas Edos melepaskan pelukannya. Tania melepas mukenanya.
"Iya, Yank. Nanti mau dibangunin jam berapa?"
"Jam 9 an ya."
"Oke," sahut Tania.
Tania memutuskan meninggalkan kamar menuju ke dapur untuk membuat sarapan untuknya dan suami, sementara Edos memilih untuk tidur kembali karena masih merasa mengantuk. Baby Atar juga tertidur di box bayi.
Kira-kira pukul enam pagi baby Atar terdengar menangis hingga ke lantai bawah. Tania tergopoh-gopoh naik ke lantai dua sambil menggerutu.
"Ayah kamu itu tidur atau mati sih, Nak? Kok ada anaknya nangis segitu kencangnya nggak keganggu?" gerutunya saat menaiki satu persatu anak tangga.
Sampai di dalam kamar, benar saja ternyata Edos masih tidur dengan tenangnya seperti saat tadi Tania meninggalkannya tanpa terusik sedikitpun. Tania memutuskan untuk memandikan bayinya lalu mengajaknya berjemur di balkon. Saat ia kembali masuk ke dalam kamar, Edos juga masih lelap tidur.
Tania duduk di kasur lantai, sesekali ia melirik ke arah Edos sambil mengoleskan minyak telon ke kulit tubuh Atar. Setelah Atar berpakaian rapi ia membawanya turun ke bawah untuk bercengkrama dengan anggota keluarga yang lain yang sudah menunggu di meja makan untuk sarapan.
"Atar biar sama Mbak Siti saja, Mbak Tania sarapan," Siti menawarkan diri.
Tania menyerahkan Atar kepada Siti, lalu duduk di kursi meja makan bergabung dengan Ardi dan Dewi.
__ADS_1
"Kamu hari ini di rumah saja kan, Sayang?" tanya Dewi mengernyit heran melihat putri sulungnya memakai gamis berwarna putih. Tania tersenyum dan mengangguk. "Kok pakai gamis warna putih gitu kayak mau ikut jam'iyah thoriqot? Emang enggak ribet?" lanjutnya lagi.
"Tania cuma pakai yang Edos ambilin saja kok, Ma. Daripada ganti lagi tadi keburu ketinggalan sholat jama'ah sama Edos."
"Terus Edosnya dimana? Kenapa tidak diajak makan bareng kita sekalian?" cecar Dewi yang kini sedang mengambilkan nasi untuk suaminya.
"Tadi habis sholat subuh tidur lagi, Ma. Masih ngantuk katanya. Sekarang pun masih tidur, biarlah. Tania tidak mau mengganggu waktu istirahatnya. Nanti kalau sudah puas tidur pasti juga bangun. Nanti Tania bawakan sarapannya ke kamar saja," sahut Tania.
"Ya udah kalau begitu. Mama cuma khawatir," timpal Dewi. "Oh ya, Sayang, Mama sudah menghubungi yayasan pramusiwi, kamu jadi kan mau memperkerjakan baby sitter? lusa yang ditempatkan di sini datang," ungkapnya.
“Iya, Ma. Makasih banyak, tapi ...” ucapan Tania terjeda.
"Kenapa? Kamu nggak usah khawatirkan gajinya, Tan. Itu urusan mamamu," potong Ardi. Tania masih diam merasa tidak enak hati. “Memangnya kamu mau kuliah bawa Atar? Mama kamu juga tidak bisa setiap hari membantumu menjaga Atar," imbuhnya.
"Iya, Pa. Makasih banyak ya, Pa, Ma," ucap Tania. Ardi hanya tersenyum dan mengangguk.
Tania memang merasa tidak enak selalu merepotkan papa sambungnya. Padahal ia sudah bersuami, terapi kebutuhannya masih dicukupi oleh Ardi.
"Ngomong-ngomong Aghni kapan pulang, Ma?" Tania mengalihkan bahasan.
"Nanti sore katanya, pagi ini katanya harus mengerjakan tugas sekolah," sahut sang Mama.
Setelah sarapan, Tania memilih untuk mengajak Atar jalan-jalan di halaman belakang rumah sambil menunggu pukul 9. Ia membawa perlengkapan Atar seperti kasur kecil, perlak, diapers, minyak telon dan tisu basah supaya tidak naik turun bolak-balik ke kamar. Tidak lupa ia membawa ponsel juga.
Tania menaruh Atar yang tertidur di gazebo. Sementara ia menghampiri kolam terapi ikan yang seperti sudah lama sekali ia tinggalkan. Ikan-ikannya kini terlihat besar dan liar. Tania kembali mencelupkan kakinya ke dalam kolam seperti dulu. Dulu ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kolam terapi ikan ini saat berpisah dari Edos selama tiga bulan karena ditinggal Edos berobat ke luar negeri.
Saat lagi asik merendam kaki, Tania didatangi oleh mamanya. "Sayang," panggilnya.
Tania menoleh dan tersenyum, "iya, Ma," sahutnya.
"Sudah hampir pukul sembilan, kamu bangunkan suamiku, gih. Bawakan sarapan sekalian. Biar Atar Mama yang jagain," suruh Dewi yang berjongkok sembari mengusap punggung tangan Tania.
"Baiklah, tolong kalau nanti Atar bangun ya, Ma. Itu dia Tania tidurin di gazebo. Tania ke dalam dulu," pamit Tania.
Tania beranjak dari duduknya, Dewi pun membantu putrinya untuk bangun. Mereka berjalan beriringan dan berpisah di dekat gazebo. Dewi menuju ke gazebo, sementara Tania menuju ke dalam rumah.
Dewi memandangi punggung putrinya hingga yang menjauh hingga hilang di balik pintu. Perhatiannya teralihkan ketika cucunya terbangun. Mungkin dia pup. Dewi pun membersihkan dan mengganti diaper Atar. Bayi mungil itu kembali tertidur.
Suasana sejenak hening, terdengar burung-burung yang sengaja dipelihara oleh Karim atas perintah dari Ardi yang sangkarnya berada tidak jauh dari gazebo. Hingga tiba-tiba terdengar suara teriakan melengking dari lantai atas.
"Edooos!"
.
.
__ADS_1
.
TBC