
Hari-hari Tania menghadapi ujian akhir semester beriringan dengan ujian hidupnya terutama kehidupan berumah tangganya. Hari perkiraan lahir bayi yang saat ini dikandung Tania di akhir bulan. Namun, kondisi Tania sudah sangat buruk. Ia begitu terlihat kesusahan berjalan maupun melakukan kegiatan sehari-hari.
"Beneran enggak apa-apa kamu kakak tinggal pulang kampung?" tanya Abizar memastikan. Abizar harus memenuhi panggilan dari Pengadilan Agama kabupaten tempat mereka melangsungkan pernikahan. Sebenarnya Tania juga diundang, tetapi lebih baik tidak hadir saja biar masalahnya cepat selesai.
"Beneran enggak apa-apa kok, Kak. Kan banyak orang di rumah. Lagian biar cepat selesai kan, kak. Lebih cepat lebih baik," sahut Tania. "Kakak benar-benar udah daftarin perceraian kita kan?" tanyanya kemudian.
"Ya terpaksa. Sebenarnya kakak masih ingin menjadi suami kamu, seenggaknya sampai kamu selesai nifas. Sampai kamu halal untuk kakak. Kakak tidak ingin menyia-nyiakan pernikahan ini," sesal Abizar.
"Ih Tania enggak mau ya. Punya kakak udah bekas wanita lain," tolak Tania.
"Punya kamu juga udah bekas orang lain kan? Ini buktinya hamil sebelum nikah sama kakak," timpal Abizar.
"Aku enggak mau berbagi milikku dengan wanita lain dalam satu pernikahan," tukas Tania lugas.
"Kakak berangkat ya," pamit Abizar berat.
Tania menoleh ke arah Abizar lalu meraih punggung tangannya untuk dicium. Lalu kembali lagi melanjutkan kegiatannya berhias diri.
"Tan," panggil Abizar.
"Iya, Kak," sahutnya tanpa mengalihkan perhatian dari kaca meja rias.
"Kakak boleh peluk dan cium? Mungkin ini pertemuan terakhir kita sebagai sepasang suami istri," ucap Abizar memohon.
Seketika Tania menghentikan aktivitasnya. "Kok tiba-tiba nyesek gini ya Allah?" jeritnya dalam hati. Ia tatap mata sang suami yang berada di belakangnya dari bayangan kaca di depannya. Tania membalikkan badannya langsung memeluk Abizar. Ia tumpahkan tangisnya di dada bidang Abizar.
"Maafin Tania, Kak. Selama ini belum bisa menjadi istri yang sempurna hiks hiks," ucap Tania dalam tangisnya.
"Kakak juga minta maaf, Tan. Kakak tidak bisa menahannya sampai kamu melahirkan," timpal Abizar membalas pelukan Tania.
"Kakak enggak salah, Tan ... mmmmph,"
Belum selesai Tania mengucapkan kalimatnya mulutnya sudah dibungkam oleh c*uman Abizar. Tania membiarkan calon mantan suaminya itu melakukannya. Biarlah, ini adalah ciuman perpisahan. Akhirnya Tania pun ikut membalas ciuman itu.
Setelah ciuman perpisahan itu, Tania mengantar Abizar sampai di halaman. Ia sekalian membawa keperluan kuliahnya. Ponsel sudah ia masukan ke dalam tas punggung. Ia harus memantapkan diri untuk mengakhiri pernikahan yang dirasa sangat hambar ini. Setelahnya ia akan bebas memilih dengan siapapun seseorang yang dicintainya.
Sakit rasanya berpisah, apalagi dikhianati oleh seorang suami, tetapi Tania sadar Abizar adalah seorang laki-laki yang harus terpenuhi hasratnya. Sedangkan dirinya tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri karena sudah ada benih milik laki-laki lain di dalam rahimnya.
Meskipun di mulut Tania selalu merapalkan kata-kata tidak cinta, tetapi tidak bisa dipungkiri rasa kecewa itu ada. Tania harus mengubur dalam-dalam rasa kecewa itu dan menampakkan wajah ceria palsu. Jika ada pemeran terbaik melo drama mungkin Tania akan terpilih menjadi pemeran terbaik.
Tidak lama setelah kepergian Abizar, Nadia datang dengan mengemudikan mobil milik Tania seperti biasa.
"Sudah sarapan pagi, Tan? Kok udah berdiri di teras saja," tanya Nadia setelah membuka kaca mobil.
"Sudah tadi. Tani nganter Kak Bizar pulang kampung," sahut Tania. Lalu ibu hamil tersebut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.
"Pulang kampung atau pulang ke tempat istri muda?" tanya Prima yang duduk di samping Nadia menggoda.
"Enggak tahu lah, dia bilangnya mau pulang kampung ya iyain aja. Kalaupun dia mau pulang ke rumah istri muda ya terserah dia. I don't care," sahut Tania cuek.
"Duh yang udah enggak peduli," goda Nadia sambil fokus menyetir.
__ADS_1
"Eh, Nad. Nanti pulang kuliah anterin Tatan ke dokter Obgyn ya. Punggungku udah sakit banget," pinta Tania kepada Nadia.
"Siap, Bos!" sahut Nadia.
Nadia langsung memutar mobilnya bergerak meninggalkan kediaman Ardiansyah. Sampai di kampus mereka langsung menuju ke ruang ujian. Duduk di tempat duduk sesuai nomor ujian masing-masing. Masih ada waktu tujuh menit sebelum ujian dimulai.
"Nanti bagi-bagi jawaban ya, Nad," pinta Prima dari tempat duduknya.
"Iya, pakai teleportasi kalau punyamu on," sahut Nadia asal. Prima mendengus kesal mendapat jawaban dari Nadia. Tania yang mendengar hanya tertawa cekikikan.
Setelah mengerjakan ujian selesai, Tania, Nadia dan Prima pergi menuju ke rumah sakit. Nadia dan Tania masuk ke dalam ruang poli Obgyn, sementara Prima menunggu di luar. Tadi sebelum mengerjakan Tes Tania sudah mendaftarkan diri via online. Setelah sampai di sana tinggal mencetak pin yang sudah diperoleh.
"Mbak Tania, suaminya tidak ikut?" sapa dokter Sifa yang menangani kehamilan Tania.
"Kebetulan suami saya lagi pulang kampung, dok," sahut Tania jujur.
"Ada keluhan?" tanya dokter Sifa lagi.
"Punggung saya terasa sakit, dok," sahut Tania.
"Bisa lihat buku pink-nya?" pinta dokter Sifa.
Tania pun merogoh buku pink dari dalam tas yang sengaja ia bawa karena dari rumah ia memang berencana untuk kontrol. Buku itu ia sodorkan di depan dokter Sifa. Dokter Sifa mulai membuka lembar-lembar buku tersebut mencari halaman konsultasi.
"Usia kandungannya baru 36 minggu. Ini HPHT-nya akurat tidak? Jangan-jangan Mbak Tania asal ngasih tanggalnya haid terakhir," ucap dokter Sifa menerka.
"Udah benar kok, dok. Saya ingat benar tanggal haid saya setelah melahirkan," ucap Tania menyangkal ucapan dokter Sifa.
"Silakan langsung berbaring saja. Biar tahu kondisi janin," ucap dokter Sifa.
Nadia dan Tania masuk ke dalam ruang poli Obgyn. Tadi sebelum mengerjakan Tes Tania sudah mendaftarkan diri via online. Setelah sampai di sana tinggal mencetak pin yang sudah diperoleh.
"Mbak Tania, suaminya tidak ikut?" sapa dokter Sifa yang menangani kehamilan Tania.
"Kebetulan suami saya lagi pulang kampung, dok," sahut Tania jujur.
"Ada keluhan?" tanya dokter Sifa lagi.
"Punggung saya terasa sakit, dok," sahut Tania.
"Bisa lihat buku pink-nya?" pinta dokter Sifa.
Tania pun merogoh buku pink dari dalam tas yang sengaja ia bawa karena dari rumah ia memang berencana untuk kontrol. Buku itu ia sodorkan di depan dokter Sifa. Dokter Sifa mulai membuka lembar-lembar buku tersebut mencari halaman konsultasi.
"Usia kandungannya baru 36 minggu. Ini HPHT-nya akurat tidak? Jangan-jangan Mbak Tania asal ngasih tanggalnya haid terakhir," ucap dokter Sifa menerka.
"Udah benar kok, dok. Saya ingat benar tanggal haid saya setelah melahirkan," ucap Tania menyangkal ucapan dokter Sifa.
"Silakan langsung berbaring saja. Biar tahu kondisi janin," ucap dokter Sifa.
Tania langsung berbaring di atas bed. Ia dibantu perawat menyingkap kain yang menutupi perutnya. Perawatan tersebut kemudian mengoleskan gel ke kulit perut Tania. Lalu dokter Sifa menggantikan perawat menggerakkan sebuah alat USG di perut Tania sambil bergantian memandangi layar monitor.
__ADS_1
"Di gambar ini usia janin sudah 39 minggu, Mbak Tania. Kepala janin sudah berada di bawah. Air ketuban masih ada. Berat badan janin sudah 3 kg lebih jadi sudah siap untuk dilahirkan," ucap dokter Sifa. "Apa ada yang ingin Mbak Tania tanyakan mungkin?" ucapnya memberi penawaran.
"Prediksi tentang jenis kelamin bayi masih sama kan, dok?" tanya Tania.
"Sebentar saya kita lihat lagi. Dari gambar ini sih masih sama, perempuan kan waktu periksa bulan lalu?" sahut dokter Sifa.
Setelah selesai USG Tania dipersilakan untuk turun dari bed dan duduk kembali di kursi di samping Nadia.
"Begini Mbak Tania, dari hasil USG ini bisa diketahui bahwa janin dalam kandungan Mbak Tania ini sudah berusia 39 minggu bukan 36 minggu seperti yang Mbak Tania katakan. Kemungkinan hari pertama haid terakhir Mbak Tania ini salah. Janin sudah siap untuk dilahirkan karena kepalanya sudah mau masuk ke panggul, berat badan bayi juga sudah melewati 3 kg. Mau dilahirkan kapan?" tanya dokter Sifa kemudian yang kembali duduk di hadapan Nadia dan Tania.
"Kalau sekarang-sekarang belum bisa, dok. Soalnya saya lagi menghadapi ujian akhir semester, lagi pula suami saya juga sedang ada urusan di luar kota," sahut Tania.
"Kalau tidak sekarang kapan lagi? Besok siang?" tanya dokter Sifa lagi.
"Ya nunggu sampai ujian akhir semester saya selesai lah, dok. Paling tidak tanggal 15 an ke sana," Tania mencoba bernegosiasi.
"Apanya yang tanggal 15 an ke sana? Operasinya?" tanya dokter Sifa memastikan.
"Iya operasinya, dok," sahut Tania.
"Innalilahi," ucap dokter Sifa tidak percaya. "Kalau tidak bisa hari ini saya kira besok siang atau besok lusa, Mbak," ucapnya lagi. "Mbak ...?" ucapnya beralih kepada Nadia yang sejak tadi hanya menyimak.
"Nadia, dok," sahut Nadia.
"Tolong bantu saya bujuk Mbak Tania untuk operasi secepatnya. Janinnya sudah masuk ke panggul, kalau tidak segera dilakukan operasi saya takut bayinya akan masuk ke jalan lahir. Padahal kan Mbak Tania ini baru satu tahun melahirkan secara cecar," pinta dokter Sifa menjelaskan.
"Tapi nanti yang bertanggung jawab siapa dok? Suaminya kan masih di luar kota. Lagi pula dia harus ikut UAS yang tinggal beberapa hari lagi apa tidak bisa ditunggu sampai UAS selesai?" tanya Nadia.
"Ya itu tadi, saya takut bayinya akan masuk jalan lahir. Apa tidak ada anggota keluarganya yang lain yang bisa bertanggung jawab terhadap operasinya?" jelas dokter Sifa.
"Apa orang tuanya bisa? Papa atau mamanya?" tanya Nadia lagi.
"Bisa, lagi pula ujiannya bisa dikerjakan secara online kan?" bujuk dokter Sifa.
"Nanti kami tanyakan ke dosen pengampu," jawab Nadia.
"Ya udah dok, kalau besok lusa operasinya bagaimana?" tanya Tania.
"Besok siang tidak bisa?" dokter Sifa kekeuh.
"Tidak bisa, dok. Saya kan harus mempersiapkan banyak hal. Urusan ke kampus, juga keperluan bayi seperti pakaian dan sebagainya," sahut Tania.
"Ya sudah besok lusa bisa. Silakan ke bagian pendaftaran rawat inap untuk mendapatkan kamar. Nanti biar diantar sama suster," ucap dokter Sifa akhirnya.
"Huh, kesannya ini dokter kayak enggak mau kehilangan pasien deh. Buru-buru banget maksa buat operasi Cesar," batin Tania ngedumel.
"Kalau begitu kami permisi, dok," ucap Tania akhirnya.
Setelah berpamitan dengan dokter Sifa, Tania dan Nadia diantar oleh suster asisten dokter Sifa ke bagian pendaftaran rawat inap untuk memilih kamar. Setelah itu mereka keluar dari gedung rumah sakit.
"Pipim di mana sih? Kok tidak nampak batang hidungnya?" gumam Nadia bertanya.
__ADS_1
"Kamu ambil mobil ke tempat parkir saja ya, Nad. Aku tunggu di sini sambil telepon Pipim," cetus Tania.
"Oke, Bos!" sahut Nadia. Ia pun segera berlalu menuju area parkir rumah sakit.