2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Merysta


__ADS_3

Malam masih menyisakan embunnya, burung-burung masih terlelap dalam mimpinya. Di ujung sepertiga malam terakhir yang dingin, membuat manusia menarik kembali ujung selimutnya.


Tania membuka mata, mendapati tubuhnya yang masih polos. Tangan kekar suaminya masih melingkar di perutnya, posisinya sekarang membelakangi suaminya. Tania mengambil ponsel milik Edos yang tadi malam diletakkan di lantai untuk melihat jam.


Dilihatnya masih pukul 04.06 pagi. Ia membalikkan badannya. Memandangi wajah suaminya yang terlihat tampan saat masih tidur. Bibirnya yang tebal begitu menggoda untuk dicium.


Namun Tania masih merasa malu untuk memulai duluan. Ia hanya memandangi wajah suami tercintanya, begitu berat ia menelan salivanya. Dengan sangat hati-hati ia melepas pelukan Edos.


Tania bangkit dam menyambar handuk kimono miliknya, memakainya kemudian bergegas menuju ke kamar mandi di belakang.


Hari ini Tania hanya mengambil sift pagi saja, pukul dua siang dia kembali ke rumah, karena pukul 5 sore nanti dia harus sudah berada di hotel untuk kerja part time pada event di hotel tersebut.


"Kamu yakin, Sayang?" tanya Edos saat melihat istrinya sedang siap-siap membelakanginya.


Tania menoleh kemuduan duduk pada tepi springbed kamarnya, memutar kursi roda yang diduduki Edos untuk menghadapnya. Tania menatap wajah khawatir suaminya, Menggenggam erat kedua telapak tangannya.


Membimbing suaminya untuk turun dari kursi roda dan duduk di sampingnya, kini mereka saling berhadapan.


"Ada apa?" Tania menjawab pertanyaan Edos dengan pertanyaan pula.


"Sampai jam berapa nanti?" tanya Edos lagi.


"Jam 12 malam nanti sudah sampai di rumah kok," jawab Tania.


Perasaan Edos tidak enak, tetapi ia berusaha untuk menepisnya.


"Tidak ada apa-apa, aku cuma pengen mengulang yang semalam," tutur Edos.


Blush


Seketika kedua pipi Tania memerah, mengingat apa yang dilakukannya tadi malam. Tania menundukkan kepalanya karena malu. Ia juga sebelumnya tidak menyangka bisa seliar itu.


Edos meraih dagu Tania agar istrinya tersebut menatapnya, menelisik dengan seksama wajah orang yang dicintainya tersebut seakan ingin menyelami perasaannya.


"Kita bisa melakukannya lagi lain waktu," ucap Tania tersenyum.


Sejenak mereka terdiam hanyut dalam perasaan masing-masing.


"Berangkatlah, jangan lupa pakai masker dan bawa mukena," titah Edos.


"Iya," jawab Tania singkat.


Edos merengkuh tubuh Tania dan memeluknya erat, Taniapun membalas pelukan suaminya.


"Aku mau pergi untuk bekerja, bukan mau perang, Yank," ucap Tania menepis perasaan gundah suaminya yang seperti tidak rela kalau dia pergi.


Derrrt derrrt


Ponsel Tania bergetar, Tania menoleh dan meraihnya.


"Mas Rifki telpon, Yank," ucapnya.


"Ya, Mas Rifki?" ucapnya menerima panggilan Rifki masih dalam posisi berpelukan.


"Kamu sudah berangkat, Tan?" tanya Mas Rifki di telepon.


"Belum, belum tahu nama hotelnya, Mas," jawab Tania.


"Nama hotelnya Merysta, tapi tunggu aku pulang saja, nanti kuantar,"


"Merysta? Baiklah,"


Rifki menutup panggilannya.


"Merysta?" Tania mengulang lagi kata yang diucapkan dengan tersenyum geli.


"Ada apa, siapa Merysta? bukannya tunangannya Mas Rifki itu Erika?" tanya Edos.


"Nama hotelnya Merysta, Yank. Nama mendiang ibuku juga sama, Merysta Dewi," jawab Tania.


"Merysta Dewi? Perasaan itu nama adiknya papa," tutur Edos.


Tania jadi teringat, bukankah kakak dari ibunya sering ia sebut Pakde Burhan. Dan yang Tania tahu bahwa Edos adalah anak dari pemilik perkebunan teh di dekat kampungnya, para pekerja sering menyebutnya Juragan Burhan, tetapi Tania belum pernah tahu orangnya seperti apa.


"Kakak ibuku juga namanya Pakde Burhan, apa kakakmu yang bekerja di Jepang itu namanya Abizar?" tanya Tania.


"Iya, kok kamu tahu?" Edos heran.


"Astaghfirullah al'adzim, kakak sepupu ku juga Abizar. Berarti kita sepupu, Yank." ungkap Tania.


"Kalau kamu anak dari adiknya papa, berarti ibumu belum meninggal, Yank. Dia ada di kota ini," simpul Edos.


"Benarkah? tapi kenapa dulu Ayah bilang ibuku sudah meninggal?" tanya Tania.


"Entahlah," ucap Edos mengedikkan bahunya.


Tania kembali teringat mimpi sesaat sebelum Edos tersadar dari koma pasca kecelakaan itu. Ayahnya sempat bilang bahwa suatu saat ia akan bertemu dengan bunda, apa ini maksudnya.


Tania melepas pelukan suaminya.


"Yank," panggil Tania.


"Hemmm, apa?" tanya Edos mempertajam tatapannya.


Tania memainkan kedua jari tangannya.


"Kalau ternyata kita benar-benar sepupuan, apa kita boleh nikah?" tanya Tania tiba-tiba.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, Yank. Nanti kita tanya pak ustadz," jawab Edos. "Atau kita cari di google aja dulu," usulnya.


Betul juga, Tania langsung membuka ponsel yang tadi dipegangnya. ia membuka di kolom pencarian. Tania menekan tampilan yang paling atas.


Melansir dari Wikipedia, sepupu berasal dari kata “pupu” yang artinya nenek moyang. Maka dari itu, saudara sepupu merupakan saudara senenek, di mana dua orang saudara yang masing-masing memiliki anak, maka anak-anak mereka saling memanggil satu sama lain dengan sebutan kakak atau adik sepupu. Singkatnya, sepupu merupakan anak dari om atau tante kita sendiri.


Dalam Islam, kita sudah diberikan petunjuk siapa saja orang-orang yang boleh kita nikahi dan haram dinikahi. Dalam surat An-Nisa ayat 23, Allah menyebutkan beberapa perempuan yang tak boleh dinikahi oleh laki-laki karena status mereka sebagai mahram.


Melansir dari laman Konsultasi Syariah, saudara sepupu bukanlah mahram karena Allah menghalalkan kita untuk menikahi saudara sepupu, baik sepupu dekat maupun jauh. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 50.


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالاتِكَ


Artinya: “Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu.”


Meski dihalalkan, menikah dengan sepupu alias consanguneous marriages ternyata memiliki sejumlah risiko dari segi kesehatan, terutama pada keturunan yang lahir dari hubungan tersebut. Pasalnya, pernikahan sedarah ini akan membuat persamaan genetik atau DNA antara kita dan si dia semakin besar, apalagi jika orang yang kita nikahi itu adalah sepupu pertama.


Hanan Hamamy, seorang profesor yang mendalami ilmu genetik manusia, mengungkapkan ada beberapa risiko dari pernikahan sedarah. Lewat artikelnya yang berjudul Consanguineous Marriages: Preconception Consultation in Primary Health Care Settings, Hanan menjelaskan beberapa risiko itu ialah cacat lahir, gangguan pendengaran dini, gangguan penglihatan dini, keterbelakangan mental, perkembangan terhambat, kelainan darah bawaan, hingga kematian bayi.


Dengan kata lain, hukum menikah dengan sepupu itu dibolehkan. Namun, kamu perlu mempertimbangkan faktor kesehatan dari keturunanmu kelak.


Sementara di rumah keluarga Ardiansyah. Niken juga telah datang karena diberitahu oleh ibu mertuanya, bahwa keluarga kakaknya datang. Mereka tengah berkumpul di ruang tengah.


"Ma, Niken ingin tanya sesuatu sama mama," ungkap Niken pada Dewi.


"Ya, tanya apa, Sayang?" tanya Dewi.


"Kita ke taman belakang saja yuk, Ma," ajak Niken.


"Memangnya kenapa kalau di sini, apa ini masalah pribadi?" tanya Dewi lagi.


"Kita ke taman belakang saja, Ma. Biar lebih rileks," ajak Niken.


Niken meraih kedua tangan mama mertuanya, menyeretnya ke taman belakang rumah. Dewi menurut saja apa yang dilakukan anak menantunya, bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Kini mereka tengah duduk di gazebo.


"Sekarang katakan, kamu mau ngomong apa?" tanya Dewi.


"Ma, apa ada dua orang yang bukan siapa-siapa tapi mirip?" tanya Niken ragu.


"Ada, banyak malahan," jawab Dewi yang belum tahu apa dimaksud menantunya.


"Tapi dia berasal dari daerah yang sama dengan Mama," ujar Niken lagi.


"Maksud kamu siapa sama siapa, Sayang?" tanya Dewi penasaran.


"Aghni dan Tania, Ma," ucap Niken.


"Tania? Kamu ketemu di mana, Niken?" tanya Dewi antusias.


"Dia ikut bantuin Niken bersih-bersih waktu itu, Ma. Memangnya dia siapa?" jawab Niken kemudian bertanya.


"Dia anak Mama dengan suami pertama Mama," tutur Dewi.


Dewi memandang kosong hamparan bunga di hadapannya, tenggorokannya seperti tercekat.


"Ayahnya memang sudah menganggap Mama telah meninggal, sejak mama pergi meninggalkannya." tutur Dewi menahan pilu.


"Apa suaminya bernama Azhar?" tanyanya.


"Niken tidak tahu siapa nama suaminya, tapi temanku bilang suaminya kakinya lumpuh akibat kecelakaan saat mereka baru sampai di kota ini," tutur Niken.


"Astaghfirullah, Kamu tahu di mana mereka tinggal?" tanya Dewi lagi.


"Mereka tinggal di rumah Rifki temanku, Ma," jawab Niken.


Dewi membuka ponsel yang dipegangnya.


"Apa Tania yang kamu maksud seperti ini," ucap Dewi sambil menunjukkan layar ponselnya.


Niken mencoba mengamati dengan seksama wajah dalam foto di ponsel Mama mertuanya.


"Ya Allah iya, Ma. Ini Tania yang ku maksud, ternyata dia anak kandung Mama," jawab Niken berbinar.


"Antarkan Mama ke rumah teman kamu, Mama ingin bertemu!" pinta Nurlita.


"Niken telpon Rifki dulu ya, Ma," ucap Niken mencoba membujuk sang Mama Mertua untuk bersabar.


"Halo Niken, ada apa?" tanya Niken pada Rifki lewat sambungan telepon.


"Kamu bareng Tania tidak, Rif?" Niken balik tanya.


"Tania baru saja kuantar ke hotel mertuamu, dia kerja part time di sana. Ada apa?" jawab Rifki.


"Mama mertuaku ingin ketemu, kirimi aku nomor ponselnya ya, Rif!" pinta Niken.


"Oke, nanti kukirim via chat," jawab Rifki.


"Makasih ya, Rif, " ucap Tania.


Niken menutup telepon.


"Dia udah berangkat ke hotel Papa, Ma. Kerja part time, sudah dua bulan dia berkerja di Ardimart."


Seketika bulir-bulir air mata mengalir dari pelupuk mata Dewi.


"Astaghfirullah al'adzim, kenapa anakku harus jadi pelayan di perusahaan milik orang tuanya sendiri," sesal Dewi menangis tersedu-sedu.


Dewi beranjak berdiri. Ia menyeka air matanya dengan jari-jari tangannya.

__ADS_1


"Ayo kita ke dalam, kita harus kasih tahu hal ini pada Pakde Burhan," pinta Dewi.


Dewi melangkah tergesa-gesa, Niken pun mengikuti di belakangnya. Belum sampai di ruang tengah Dewi memanggil-manggil nama Mas Burhan, dia sudah tidak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia tersebut.


"Mas Burhan!" panggil nya masih tak kuasa menahan tangis.


"Ada apa, Dewi? Mas nggak pergi ke mana-mana, kenapa kamu nangis?" tanya Burhan pada Dewi yang sekarang duduk berselonjor kaki di depannya sambil menangis.


Dewi belum bisa menjawab pertanyaan kakaknya.


Burhan semakin bingung dengan kelakuan adiknya. Ia beralih menatap Niken.


"Niken, ada apa ini? Kamu apakan Mama mertua kamu?" tanya Burhan heran.


"Mas Burhan, Mbak Lita, Niken bilang dia tahu di mana Azhar tinggal, katanya kaki Azhar cacat karena kecelakaan saat baru sampai di kota ini," tutur Dewi terbata-bata.


"Apa? Edos cacat?" ucap Nurlita shock.


"Tenang, Ma," ucap Burhan menepuk dan mengelus punggung istrinya.


"Kita harus menjemputnya, Mas," pinta Nurlita.


"Apa benar itu, Niken?" tanya Burhan pada Niken.


"Niken masih bingung, siapa yang kalian maksud?" tanya Niken bingung.


"Suaminya Tania yang kamu ceritakan tadi itu Azhar, Niken. Dia anak bungsunya Pakde Burhan," jelas Dewi.


"Oo.., iya saya tahu tempat tinggalnya, Pakde," ucap Niken.


"Kamu mau antar Pakde ke sana?" tanya Burhan lebih ke meminta.


"Ayo, Pakde! mumpung masih siang," ajak Niken antusias. "Tapi jangan banyak-banyak yang ikut ya, soalnya rumah temanku kecil," pinta Niken.


"Cuma Pakde sama Bude saja kok, yang lain masih tetap di sini." jawab Burhan.


"Oh, gitu. Ayo Pakde, Bude!" ajak Niken.


Niken, Burhan dan Nurlita pergi meninggalkan rumah keluarga Ardiansyah. Niken menyetir mobilnya, sementara Burhan dan Nurlita duduk di kursi penumpang.


"Jauh tidak, Niken?" tanya Burhan.


"Tidak jauh kok, Pakde. Kalau tidak macet 15 menit juga sampai," jawab Niken.


Tentu saja kali ini macet parah, karena mereka melintasi jalan raya pada sore hari saat para pekerja pulang. Tiga puluh menit mereka baru sampai di depan gang. Niken memarkir mobilnya di tepi jalan.


"Mobilnya tidak bisa masuk sampai di depan rumah, Pak De. Jadi kita harus jalan kaki," tutur Niken.


"Tidak apa-apa, Niken. Ayo Ma, kita turun!" ajak Burhan.


Mereka bertiga keluar dari mobil dan berjalan kaki menuju ke rumah Bu Retno. 10 menit berjalan sampailah mereka di depan rumah Bu Retno.


"Niken!" ada yang memanggil Niken dari dalam warung, keluarlah seorang wanita paruh baya menghampiri mereka, siapa lagi kalau bukan Bu Retno.


"Ibu," Niken menyalami tangan Bu Retno. "Oh ya, kenalkan Bu, mereka keluarganya Tania." ucapnya lagi memperkenalkan Burhan dan Nurlita.


"Oh, Saya Bu Retno. Mari silahkan masuk ke dalam!" Bu Retno mempersilahkan.


Merekapun mengikuti Bu Retno masuk ke dalam rumah.


"Silahkan masuk dulu, sebentar saya panggilkan anak saya," ucap Bu Retno pamit.


Bu Retno masuk ke ruang tengah. Menghampiri Rifki yang sedang nonton televisi.


"Rifki, Heh bangun, sudah mau Maghrib jangan tidur, nanti kamu bisa stres," ucap Bu Retno menggoyangkan tubuh Rifki yang terlelap.


Rifki membuka mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengumpulkan nyawanya yang tercecer satu persatu.


"Ada apa, Bu?" tanya Rifki yang masih tampak bingung.


"Itu di depan ada nak Niken," jawab Bu Retno.


"Niken? Kenapa datang ke sini. Tadi dia menanyakan Tania, tapi aku udah bilang kalau Tania sudah berangkat ke hotel," tutur Rifki.


"Dia ke sini bersama keluarganya Tania, ayo temui mereka!" suruh Bu Retno.


Rifkipun bangkit dan melangkah menuju ruang tamu untuk menemui mereka. ia menyalami tamunya.


"Rifki, ini Pakde Burhan dan Bude Nurlita, mereka mertuanya Tania, apa suaminya Tania ada di rumah?" tanya Niken.


"Edos? Tadi sepertinya dia di kamarnya," jawab Rifki. "Sebentar aku panggilkan."


Rifki bangkit dari duduknya, menuju ke kamar Edos dan Tania. Ia mengetuk pintu beberapa kali memanggil nama Edos, namun tidak ada jawaban. Ia pun membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.


Namun Edos tidak ada juga di dalam kamar, hanya ada kursi rodanya saja di sana.


.


.


.


Kira-kira Edos kemana?


Apa ia sudah melihat kedatangan kedua orang tuanya, sehingga ia melarikan diri?


Heppy reading

__ADS_1


Terimakasih untuk yang sudah like, komen, vote and rate bintang 5 ya Beb, 😘😘😘


__ADS_2