2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Menjemput Suami


__ADS_3

Matahari semakin tergelincir ke arah barat, sebentar lagi akan segera bersembunyi di balik Lazuardi dan kembali pada esok hari. Setelah mandi sore dan sholat ashar, Tania kembali duduk di teras. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp dari suaminya masuk, Tania segera membukanya. Ternyata isinya cuma foto. Tania malas membalasnya. Ia kembali khusyuk dalam lamunan.



Hari semakin sore, ketika sebuah mobil Honda jazz berhenti di depan rumah Tania, dan seseorang keluar dari mobil tersebut, melangkah mendekati Tania, hingga kemudian mobil tersebut kini telah meninggalkan halaman.


Edos memandangi lekat-lekat wajah istrinya yang terpaku dalam lamunan, Tania tidak menyadari kehadirannya. Ia duduk di kursi berhadapan dengan istrinya tersebut. Mereka hanya terhalang meja kecil.


Begitu beratkah beban yang ditanggung Tania, ini pasti akan berpengaruh pada janin yang saat ini dikandungnya kalau dia terus-terusan seperti ini, batin Edos.


Edos jadi merasa bersalah karena memaksa Tania untuk berhenti kuliah. Ia menggenggam telapak tangan kanan Tania, membuat Tania terlonjak, matanya mengerjap memandang wajah sosok di depannya. Perlahan sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk lengkungan seperti bulan sabit.


"Apa suamimu ini tidak dipersilahkan masuk?" tanya Edos menaik-turunkan kedua alisnya.


"Sebentar, ada yang baru dari kamu yang membuatmu tambah semakin tampan," ucapan Tania jujur namun terlihat seperti menggoda. "Aku suka model rambut kamu, jadi kamu menyusul kemari sesore ini karena pergi ke salon bikin model rambut seperti kuda poni?" imbuhnya bertanya menampilkan wajah oonnya.


Edos hanya tersenyum, menyadari kalau istrinya lagi banyak pikiran pasti penyakit oonnya kambuh, lalu memainkan rambut poninya, "Masa kuda poni sih, memang suami kamu kuda?" kesalnya sambil meniup-niup ke arah poninya.


"Kok malah tanya, suamiku kan kamu, memangnya kamu kuda?" Tania malah balik bertanya.


"Masuk yuk! Di sini banyak setan yang mengganggu pikiran kamu," ucap Edos mengajak istrinya masuk, ia tidak mau membahas persoalan yang tidak penting.


"Pinjam handuknya, Yank. Suamimu ini mau mandi, badanku gatal mungkin karena banyak potongan rambut kecil di punggungku," cerocos Edos mengayun langkahnya ke rumah belakang.


"Yank!" panggil Tania keras yang mengekor di belakang Edos. Edos menoleh. "Kamu mau masak atau mau mandi?" tanya Tania dengan bodohnya.


"Ya mandi lah," jawab Edos singkat.


"Kalau mau mandi ya di kamar saja, kecuali kalau kamu mau masak," tawar Tania.


Edos baru sempat memperhatikan sekelilingnya, bangunan rumah Tania memang baru, terasa berbeda dengan saat ia pertama kali menginjakkan kaki di rumah tersebut, lalu kemudian meninggalkannya untuk merantau ke Jakarta. Ia sedikit mengingat saat ia baru saja mengucapkan ijab qobul, dan gagalnya malam pertama mereka, Edos terkikik sendiri mengingat kejadian waktu itu.


"Jangan-jangan setannya udah merasuk ke tubuh kamu lagi, Yank." Tania menempelkan telapak tangannya di kening Edos, Edos menurut saja. "Dingin," ucapnya lagi.


"Handuknya mana?" Edos masih menunggu.


"Hehe, Handuknya sudah ada di kamar mandi," jawab Tania.


"Kapan rumah ini direnovasi?" Tanya Edos sembari masuk ke dalam kamar mereka.


"Empat bulan yang lalu," jawab Tania yang kemudian menyeret kakinya ke dapur, membuatkan teh hangat untuk suaminya dan dirinya. Lalu membawa nampan dan 2 cangkir teh tersebut ke ruang tengah, meletakkannya di meja. Belum ada televisi di rumah tersebut, TV lamanya sudah lama mati, mungkin sudah dijual rongsokan oleh Paman Hisyam.


Tania kembali bermain dengan ponselnya. Panggilan masuk dari Sisi.


"Busyet nih bocah, rumah sebelahan saja pakai nelpon segala," Tania menggeser icon jawab.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh, dengan Tania Sari Dewi di sini ada yang bisa saya bantu?" sapa Tania menirukan suara operator.


Sisi terhenyak mendengar suara operator, ia langsung menutup panggilannya seketika. "Ini benar nomor HP kak Tania kan? kok suaranya lain ya?" tanyanya. Ia kembali melihat kontak yang tadi dipanggilnya. Ternyata memang nomornya Tania.


Ketika Sisi hendak menekan panggilan kembali, di depan ia duduk sudah berdiri makhluk cantik dengan perut agak buncit membuat Sisi semakin kaget.


"Ada apa pakai telepon segala," tanya Tania.


"Kakak ngagetin Sisi aja, dech. Ucap salam kek kalau mau masuk," gerutu Sisi.


"Kamunya saja yang budek tidak dengar salam kakak," cela Tania.


"Memangnya kakak barusan ngucap salam?"


"Enggak, tadi aja kakak kasih salam komplit welit gendeng seng, kamu malah langsung tutup telepon saja, enggak mau jawab salam kakak," sewot Tania. "Ada apa?" imbuhnya bertanya.


"Kakak mau makan di mana? Di sini, di rumah kakak atau di luar?" tanya Sisi.


Tania sejenak berfikir, kemudian menjawab, "Kayaknya kakak lagi kangen sama nasi megono nya Mak Baenah dech."


"Ya udah kalau gitu, bunda enggak usah masak banyak-banyak," simpul Sisi.


Sejenak Tania berfikir kembali, terus ke warung lesehannya pakai apa, kan Edos tidak membawa kendaraan ke sini, tadi dia diantar oleh Pak Nur. "Motor Paman ada di rumah kan?" tanyanya pada Sisi.


"Memangnya Kak Edos enggak bawa mobil?" Sisi balik bertanya.


"Enggak, kan mobilnya dibawa sama Aris tadi," jawab Tania.


"Tadi Mas Aris sempat bilang nanti mau ke sini," ungkap Sisi.

__ADS_1


"Wah kebetulan, tapi ke sininya jangan malam-malam. Bilangin Aris, habis Maghrib dia sudah bawa mobil ke sini," pinta Tania.


"Ia, nanti aku bilangin," Sisi menyanggupi.


"Kakak balik dulu ya, kasihan Kak Edos sendirian."


Tania langsung memutar tubuhnya 90⁰ meninggalkan Sisi. Keluar dari rumah paman Hisyam kembali masuk ke rumahnya. Saat sampai di ruang tengah, Edos tengah membuka-buka ponselnya. Tania mendaratkan tubuh seksinya di samping suaminya.


"Lagi lihat apa, Yank?"


"Ini, aku lagi lihat foto-foto di HP kamu. Ini foto kapan, Say?" tanya Edos menunjukkan sebuah foto di galeri ponsel Tania.


Tania mencondongkan kepalanya ke dekat suaminya, melirik foto yang ditunjukan oleh Edos, tiba-tiba,


Cup


Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Tania.


"Ih, curi kesempatan," cebik Tania. Tania memegang rahang suaminya untuk membalas perbuatannya dengan perbuatan yang setimpal. "Emmuach," kemudian kembali fokus pada layar ponselnya, "Ini kan foto waktu kita lagi study tour ke Bandung, Yank."



"Waktu itu kamu masih kerempeng ya, sekarang udah seksi, jadi gemes," ucap Edos merengkuh tubuh istrinya lalu sebelah tangannya mencubit hidung Tania.


"Aw," Tania menepis tangan suaminya yang usil. "Tangannya dikondisikan donk, Yank. Ternyata waktu masih sekolah saja kita udah kompak ya," simpulnya.


Edos tersenyum, "Iya, sekarang kita juga kompak, kita memang selalu kompak, Say."


"Jangan-jangan kita memang jodoh, Yank," simpul Tania.


"Semoga jodoh kita sampai ke akhirat ya," harap Edos.


"Aamiin. Mau sholat Maghrib di mana, Yank?"


"Di rumah saja, aku mau jadi imam kamu,"


"Habis sholat kita makan di lesehan depan pasar ya! Aris mau bawa mobil kamu ke sini,"


Edos mengangguk. Ia mengelus-elus perut Tania. "Dedek lagi pengen Sego megono ya? Yang lagi pengen Dedek atau Bunda nich?" tanyanya pada bayi yang ada di perut Tania.


Tania tersenyum geli, lalu menjawab dengan menirukan suara anak kecil, "Dua-duanya, Yah. Dedek sama Bunda."


Malam harinya di sebuah kamar khusus Kumala Butik, Niken sedang bingung dengan permintaan sahabatnya, Rifki. Sejak tadi siang Rifki memintanya untuk menjemput Bram, suaminya yang sedang mabuk di bar. Ia sendiri belum pernah menginjakan kaki sekalipun di bar atau club malam. Ini sungguh memberatkan.


Masa gadis alim seperti Niken keluyuran di bar malam-malam sih, bagaimana pandangan orang-orang? Ia berulangkali menolak permintaan Rifki, tapi Rifki memohon dengan wajah memelas. Jika ia sampai pulang larut malam bahkan dinihari lagi, maka pernikahannya berada di ujung tanduk, Erika bisa-bisa menuntut cerai darinya. Sedangkan istrinya tersebut sedang mengandung anaknya.


Sekarang sudah pukul 11 malam, Niken sedang gelisah menentukan apakah ia harus berangkat ke bar yang telah di share loc oleh Rifki atau tidak. Ia akan menghitung kancing bajunya seperti yang ia lakukan dulu saat menghadapi ujian semester, sambil mulutnya komat-kamit membaca mantra berangkat-tidak berulangkali. Sialnya, sekarang yang ia pakai bukan baju berkancing, melainkan tunik dari bahan babyterry dengan potongan tanpa kancing.


Niken mondar-mandir seperti setrikaan, ponselnya sejak tadi berdering, nama Rifki terpampang di sana.


"Rif, mending kamu suruh orang lain saja dech, aku malu Rif. Aku enggak pernah pergi ke bar, nanti apa kata orang perempuan alim kaya aku keluyuran di bar malam-malam," akhirnya Niken mengangkat telepon Rifki.


"Kamu mau aku dipecat? Lagian kamu ke bar kan mau menjemput suamimu," ancam Rifki.


"Kalau kamu dipecat oleh Mas Bram, kamu kerja di butikku saja," tawar Niken.


"Di butik kamu kan sudah ada satpam, terus aku jadi apa?" tanya Rifki malah melebur dengan usul Niken.


"Kamu bisa jadi model, gimana?" tawar Niken.


"Maksud kamu aku pakai gamis rancangan kamu? enggak-enggak!" belum apa-apa Rifki sudah membayangkan dirinya melenggak-lenggok mengenakan gamis.


"Rif, produk butikku kan enggak cuma gamis doang, baju koko juga ada," tutur Niken.


"Pokoknya enggak mau, sekarang terserah kamu, mau menyusul ke sini atau enggak? aku tetap bakal pulang. Erika sudah uring-uringan," tukas Rifki yang langsung memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Niken lagi.


Dengan berat hati Niken mengambil kunci mobil dan tas selempang nya, melajukan mobil ke tempat yang sudah dikirim oleh Rifki. hanya dalam waktu 30 menit sampailah ia di area parkir sebuah gedung yang di dalamnya adalah bar langganan suaminya.


Dengan langkah ragu-ragu Niken memasuki bar tersebut. Cibiran dan godaan datang dari orang-orang yang dilewatinya, sungguh ia malu semalu-malunya. Kata-kata sok suci, menggunakan hijab hanya sebagai tameng, salah masuk tempat dan lain sebagainya terdengar di telinganya hingga menusuk ke ulu hati.


Niken menghampiri seorang pelayan untuk menanyakan keberadaan Bram. "Mas, saya sedang mencari suami saya, dia berada di mana ya?" tanyanya sembari menunjukan sebuah foto di layar ponselnya.


Pelayan tersebut memperhatikan foto di layar ponsel yang ditunjukan oleh Niken kemudian berkata, "Oh, Pak Bram? Dia ada di lantai dua, Mbak."


"Apa, Mas bisa mengantarkan saya ke sana?"

__ADS_1


"Bisa, Mbak. Mari ikut saya!"


Niken mengikuti langkah seorang pelayan laki-laki tersebut hingga tiba di sebuah ruangan.


"Biasanya dia ditemani asisten pribadinya, Mbak. Karena Pak Bram selalu marah-marah jika dilayani oleh wanita. Wanita-wanita yang disediakan oleh bos kami selalu diusirnya." tutur pelayan tersebut.


Mendengar penuturan pelayang tersebut, Niken tersenyum senang. Ternyata meskipun suaminya itu pemabuk namun ia tidak suka bermain wanita.


"Asisten pribadinya sudah menelpon saya untuk menjemput," sahut Niken.


Sampai di lantai dua, suasana semakin hingar-bingar.


"Itu Pak Bram, Mbak."


Pelayan itu menunjuk seseorang pria yang tubuhnya tertelungkup bersandar pada sebuah meja bartender.


"Mas bisa tolong saya, enggak?" tanya Niken kepada pelayan.


"Tolong apa, Mbak?"


"Tolong bantu bawa Pak Bram ke mobil saya! Nanti saya kasih tips," jawab Niken.


"Baik, saya akan bantu Mbak,"


Pelayan itu menghampiri Bram, dengan diskusi yang sangat alot mencoba untuk mengajak Bram untuk pulang. Akhirnya setelah pelayan tersebut mengatakan bahwa istrinya yang menjemput untuk pulang, Bram mau mengangkat wajahnya.


"Tania menjemput saya?" tanya Bram pada pelayan tersebut.


"Iya, Pak," sahut sang pelayan.


"Ayo antar saya ketemu Tania," pinta Bram.


Pelayan tersebut merangkul tubuh Bram, membantunya berjalan hingga sampai di area parkir dengan susah payah, lalu membimbing


masuk ke dalam mobil Niken. Niken merogoh dompetnya, mengambil tiga lembar kertas merah dan menyerahkan pada pelayan tersebut.


"Terimakasih, Mas. Sudah membantu saya," ucap Niken.


"Sama-sama, Mbak. Ini banyak sekali. Terimakasih kembali, Mbak."


Niken tersenyum, ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.


"Akhirnya kamu menjemputku, Sayang," ucap Bram dalam mabuknya.


Niken kembali tersenyum mendengar kata Sayang dari Bram, terasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dadanya. "Mas kita pulang ke rumah kita saja ya! Aku tidak tahu di mana apartemen kamu," ucapnya pada Bram.


Sampai di depan gerbang rumahnya, Niken turun untuk membuka pintu gerbang. Kemudian masuk kembali ke dalam mobil membawanya sampai di garasi. Sambil berfikir bagaimana cara membawa Bram ke kamar mereka, Niken menutup kembali pintu gerbang.


"Mas Bram bangun, aku tidak kuat menyeret kamu sampai ke dalam," ucap Niken membangunkan Bram.


"Mas, bangun. Kita sudah sampai di rumah kita," Ucap Niken sekali lagi sambil menggoyangkan tubuh Bram dan sesekali menepuk pipinya pelan.


Bram bangun walaupun dengan mata masih terpejam. Niken menggandengnya masuk ke dalam rumah hingga sampai ke dalam kamar mereka, kamar pengantin yang belum pernah mereka tempati untuk tidur bersama.


Niken membaringkan tubuh Bram di ranjang king size spring bednya. Membuka sepatu dan kaos kaki dari kaki Bram. Ketika ia hendak menutup pintu kamar, tangannya ditarik oleh Bram hingga ia jatuh di atas pelukan suaminya tersebut.


"Mau kemana kamu? Di sini saja temani aku, Sayang," pinta Bram menatap sayu Niken.


Niken membalas tatapan Bram, dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia seperti habis lari mengelilingi lapangan tujuh kali, lapangan apa dulu?


.


.


.


TBC


Mak Kusay : "Gimana, Bram?"


Bram : "Apanya?"


Mak Kusay : "Chapter buat kamu."


Bram :"Lumayan"(sambil tersenyum), "Habis ini adegan mantap-mantap kan, Mak?"

__ADS_1


Mak Kusay :"Rahasia donk, kecuali kalau kamu bisa ngajak reader buat like dan komen lebih banyak, pasti aku bakal kasih kamu yang mantap-mantap,"(mode cengengesan).


Bram :"Mantap! ayo donk reader like dan komen yang banyak biar mantap!"


__ADS_2