
Mendung menggelayut manja di cakrawala, siap menumpahkan air matanya di siang yang sejak pagi tiada ceria. Seperti para remaja yang sedang putus cinta.
💦💦💦💦💦
Hari ini Tania pulang kuliah bersama kedua temannya, Prima dan Nadia. Kembali seperti semula, Mereka disopiri oleh Rayan, meskipun Rayan telah lulus kuliah. Karena urusan mendadak, Rayan terpaksa harus mengedrop mereka di rumahnya.
"Aku ada meeting dengan klien sebentar lagi, tapi berkas yang harus kubawa tertinggal di rumah, jadi nanti kalian aku tinggal di rumahku selama aku meeting ya, aku sekalian ambil berkas," tutur Rayan sambil mengemudikan mobil.
Prima terbelalak kaget, pasalnya dia belum siap kalau harus bertemu dengan orang tua Rayan dan diperkenalkan sebagai kekasihnya.
Rayan memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. "Ayo turun! Aku buru-buru soalnya."
Rayan meninggalkan mereka yang masih canggung dengan rumah orang tua sopir pribadi Tania yang begitu megah tersebut. Ia langsung masuk ke dalam rumah untuk mengambil berkas. Sekitar dua menit kemudian, Rayan keluar dengan memegang berkas di tangannya.
Rayan melempar berkasnya ke dashboard mobil. Membukakan pintu samping untuk Prima. "Ayo keluar, Ayang Pipim! Mas Rayan buru-buru banget soalnya." Rayan menatap Prima, menarik turunkan kedua alisnya. Prima dengan ragu-ragu untuk turun dari mobil, begitupun dengan Tania dan Nadia.
"Aku pinjam mobil kamu ya, Tan. Kalian sudah ditunggu Tiara di dalam," ucap Rayan.
"Tapi isi bensin lho, Mas!" pinta Tania.
"Kamu ini pelit, kayak bukan anaknya Om Ardi saja. Potong gaji saja!" seru Rayan langsung pergi bersama mobil Tania.
Memang aku bukan anaknya, jawab Tania dalam hati.
Langkah mereka menuju ke pintu rumah Rayan terasa berat sekali, seakan di alas kaki mereka ada satu kilo getah nangka di bawahnya, yang merekatkan sandal atau sepatu dengan paving di halaman. Atau mungkin halamannya mengandung magnet kali ya. Tapi mana mungkin magnet bisa menarik sandal atau sepatu?
"Mama!" teriak seorang anak kecil dari dalam rumah.
Gadis itu berlari menghampiri Tania dan memeluk kakinya. "Mama Aya ini, Mama Aya ini," teriaknya berulangkali.
Tania melepas pelukan gadis kecil tersebut dan berjongkok. Menatap mata bulat gadis kecil di depannya. "Tiara sama siapa di rumah?"
"Yanti," gadis itu menjawab singkat.
"Tiara bisa tolong Mama? Panggilkan Eyang Putri Tiara,"
"Bica, Mama."
Tiara kembali masuk ke dalam rumah untuk memanggil eyang putrinya.
Masih ingat anak kecil yang memanggil Tania "Mama" waktu di Mall kan? Iya betul itu keponakannya Rayan. Anak dari Rasya Bagaskara, Dekan dan dosen di kampus Tania.
Dari arah ruang tengah muncul seorang wanita cantik sederhana tanpa polesan dengan pakaian yang sederhana, apakah itu mamanya Rayan? kenapa masih sangat muda sekali? mungkin usianya sekitar 35 tahunan.
"Mari silakan masuk, Nona-nona. Nyonya sedang sholat ashar. Saya Nina, pembantu di rumah ini," ucap wanita tersebut dengan tersenyum mempersilahkan Tania dan kedua temannya masuk.
"Terimakasih, Mbak," sahut Tania.
Tania pun mengajak kedua temannya untuk masuk ke dalam rumah. Mereka dipersilakan duduk di sofa ruang tamu, Nina masih berdiri menunggu.
"Mau minum apa, Nona?" tanya Nina lagi.
"Emm ... air putih saja, Mbak. Tapi jangan panggil kami dengan sebutan Nona. Aku Tania, ini Prima dan sebelahnya Nadia."
"Eh baik, Mbak Tania."
Tak berapa lama, Tiara keluar lagi dan muncul di ruang tamu dengan tangan kanannya menarik tangan kiri seorang wanita paruh baya.
"Itu Mama Aya, Yanti. Cantik kan?" ucap Tiara kepada sang nenek dengan jari telunjuk menunjuk ke arah Tania. Tiara melepaskan tangan neneknya, menghampiri Tania dan duduk di pangkuannya dengan berhadapan.
Tania pun dengan gemas menciumi puncak kepala Tiara
"Saya Nastiti, ibunya Rayan juga neneknya Tiara. Tadi Rayan sudah cerita sama ibu kalau kekasihnya ada di depan. Yang mana kekasih anak saya?" tanya neneknya Tiara dengan santun.
Jantung prima berdebar kencang mendengar pertanyaan yang to the poin langsung tertuju terhadapnya. Bibirnya kelu, tenggorokannya seperti tercekat. Dalam hati ia sangat mengutuk Rayan, kenapa ia harus diperkenalkan dengan cara seperti ini, jahat sekali dia.
Kalau ketemu orangnya bakalan aku cubit habis dia, gerutu Prima dalam hati.
"Kok pada diam? Mana yang namanya Prima?" Tanya Bu Nastiti.
Tania menggenggam tangan gadis di sebelahnya yang dingin seraya berkata, "Prima?"
"Saya Prima, Tante," ungkap Prima gugup.
Bu Nastiti tersenyum, "Jangan panggil Tante, panggil ibu saja. Lalu Mamanya Tiara siapa namanya?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Saya Tania, Tante. Anaknya Mama Dewi." jawab Tania.
"O ... Anaknya Dewi yang baru datang dari Pekalongan? Kok Tiara bisa kenal sama kamu?"
"Kita pernah bertemu waktu di Mall. Benar kan Tiara?" jawab Tania yang kemudian bertanya kepada Tiara. Tiara mengangguk.
"Saya Nadia, Tante," ucap Nadia padahal belum ditanya. Bu Nastiti tersenyum.
"Mama, di cini ada Dedek?" tanya Tiara pada Tania, Tiara mengelus perut Tania.
Tania menatap lembut Tiara, tersenyum seraya berkata, "Iya, Sayang."
"Aya mau Dedek," ucap Tiara lagi.
Nina datang membawakan minum dan cemilan, meletakkannya di meja.
"Tiara, sini sama Eyang Putri, biar Mama Tiara minum dulu," ujar Bu Nastiti.
"Aya mau cama Mama," ucap Tiara tidak mau dibantah lagi.
"Tidak apa-apa kok, Tante," sela Tania.
"Silahkan diminum, Tania, Prima dan ...."
"Nadia, Tante," timpal Nadia.
"Oh iya, Nadia. Silahkan."
"Terimakasih, Tante," sahut Nadia.
Ketika mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba seorang wanita nyelonong masuk. Wanita tersebut mengenakan gaun yang ketat di atas lutut tanpa lengan dengan belahan di dada menampakkan sesuatu yang menyembul di sana. Rambutnya lurus tergerai, dengan warna kecoklatan. Dia memakai sepatu dengan warna senada dengan baju yang ia pakai.
"Celine?" ucap Bu Nastiti kaget. "Ingat pulang juga kamu."
Tiara yang melihat kedatangan wanita tersebut nampak memeluk Tania erat. "Mama, Aya Atut," ucapnya.
"O em ji, Momy? Ini kan rumah Celine juga," sahut perempuan tersebut yang ternyata bernama Celine. "Ada banyak tamu rupanya, mau ada pengajian ya, Mom. Kok pada kerudungan semua?" tanya Celine tanpa merasa berdosa.
"Kenalkan, ibu-ibu pengajian. Saya Celine, istrinya Rasya, Mommy Tiara," ucapnya lagi memperkenalkan diri dengan sombongnya.
"Maaf aku permisi ke kamar dulu, capek juga habis belanja dari luar negri," ucap pamit Celine.
"Udah pergi, Tiara Sayang. Mengapa Tiara malah takut?" Tanya Tania selepas Celine berlalu dari tempat tersebut.
"Mommy nakal cama Aya, cuka mayah," jawab Tiara polos.
"Ibu juga enggak habis pikir sama Rasya, kenapa wanita yang sudah menerlantarkan anaknya sejak bayi seperti itu masih dipertahankan," decak Bu Nastiti.
"Tiara tenang saja ya, ada Mama Tatan, ini Mama Pipim dan itu sebelahnya Mama Pipim namanya Mama Nanad yang sayang sama Tiara," tutur Tania menghibur Tiara. Aduh, kaki Mama Tatan pegal, Sayang. Tiara sama Mama Pipim dulu ya," bujuknya yang diangguki oleh Tiara.
Prima mengambil Tiara dari pangkuan Tania.
"Ibu permisi mau membantu Nina masak," ucap Bu Nastiti pamit.
"Oh silakan, Bu." Nadia menyahut.
Bu Nastiti meninggalkan mereka di ruang tamu. Kini ketiga nya tengah asik bermain-main dengan Tiara yang lucu dan menggemaskan tersebut.
*************
Di Bandung,
Ririn naik menuju ke lantai 2 menuju ke kamar Niken. Sudah hampir maghrib namun lampu lantai dua belum ada ya5ng dinyalakan. Ia mengetuk pintu kamar Niken, tidak ada sahutan. Ririn mencoba membuka pintu, ternyata pintu tidak dikunci.
Ririn menggapai saklar lampu dalam keremangan, ruangan kamar Niken menjadi terang. Kini nampak dalam pelupuk mata Ririn, bos butiknya tersebut sedang meringkuk di atas springbed dengan mata terpejam.
"Mbak sudah mau Maghrib lho," ucap Ririn pelan.
Tidak ada sahutan. Ririn mendekat, duduk di tepi kasur. Menempelkan punggung tangannya ke kening Niken.
"Astaghfirullah, panas banget badannya, Mbak. Aku enggak bisa nyetir lagi," ucap Ririn kaget.
Ririn panik mendapati suhu tubuh Niken yang tinggi sekali, tidak ada kotak P3K di butik tersebut. Ia pergi ke dapur hendak memasak air untuk mengompres Niken agar suhu badannya turun. Karena menurut yang ia baca di info dokter, mengompres anak atau orang yang sedang demam dengan air es itu salah besar.
Ririn menuruni anak tangga, sampai di dapur ia mengambil panci dan mengisinya dengan air bersih, lalu merebusnya hingga mendidih. Tangannya gemetar karena baru kali ini menghadapi masalah seperti ini.
__ADS_1
Sambil memasak air, Ririn menelpon Feri.
"Halo, Rin," sapa Feri saat ponselnya tersambung.
"Feri, Mbak Niken panas banget badannya. Aku enggak bisa mengendarai mobil."
"Aku baru saja sampai di Jakarta, Rin. Kamu pesan taxi saja gih. Dah ya aku tutup."
Tut tut Tut ...
Feri langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa persetujuan dari Ririn.
"Huh," Ririn mencebik kesal.
Air yang sudah mendidih, Ririn menuangnya kembali ke dalam baskom ditambah dengan air dingin hingga suhunya hangat-hangat kuku. Ia kembali ke kamar Niken dengan baskom berisi air dan handuk kecil 3 helai.
Ririn mengompres di tiga tempat bagian tubuh Niken biar lekas turun panasnya. Satu handuk ia tempelkan di kening. Dua handuk lagi hendak ia tempelkan di ketiak kiri dan kanan.
"Maaf ya, Mbak Niken. Ririn lancang," ucap Ririn saat membuka kancing baju Niken untuk meletakan handuk di ketiaknya.
Ririn kembali fokus ke layar ponselnya untuk memesan ojek online. Tiba-tiba di teringat Agni.
"Aghni kan tinggal di Bandung juga, dia bisa menyetir mobil. Mungkin dia bisa membantu." Ririn bermonolog.
Ririn mengambil ponsel Niken yang tergeletak di meja pendek yang biasa ia pakai untuk bekerja. "Ririn pinjam ponselnya ya, Mbak," ucapnya.
Ririn mencari nomor HP Agni di ponsel milik Niken. Kemudian menekan gambar telepon berwarna hijau.
"Assalamu'alaikum, Kak Niken. Ada apa?" tanya Aghni langsung saat menerima panggilan dari Ririn.
"Wa'alaikumussalam, Aghni. Ini Kak Ririn. Badan Mbak Niken panas banget, tidak ada orang laki-laki di sini. Aku juga tidak bisa menyetir, rencananya Mbak Niken mau kakak bawa ke rumah sakit," ungkap Ririn.
"Kak Niken sakit? Oo iya, Kak. Aghni ke situ, tunggu ya, belum sholat Maghrib siapnya," sahut Aghni.
Sambil menunggu Aghni datang, Ririn melaksanakan sholat Maghrib kemudian mempersiapkan pakaian Niken yang disimpan di dalam tas besar.
Tiga puluh menit kemudian, Niken memarkir kendaraannya di halaman Butik. Kemudian dengan langkah tergesa ia menghampiri pintu masuk, menelpon ke nomor Mbak Niken.
"Aku sudah di depan pintu butik, Kak."
"Tunggu ya!" pinta Ririn.
Ririn membangunkan Niken, ia tidak mungkin bisa untuk menggendong Niken, tidak kuat. "Mbak, bangun ya. Aghni sudah datang, kita ke rumah sakit," ucapnya.
Mata Niken sangat susah untuk dibuka, ia hanya ingin tidur, tidur dan tidur lagi. Niken membuka sedikit matanya, lalu berusaha untuk duduk.
"Ayo, Mbak. Aku bantu untuk turun," ajak Ririn. "Eh sebentar, aku bukakan pintu buat Aghni dulu ya, Mbak. Biar bisa membantu memapah Mbak Niken sampai di bawah," pamitnya.
Niken hanya diam saja tidak bersuara. Aghni keluar dari kamar Niken dan turun ke lantai dasar. Niken masih mencoba mengumpulkan kekuatan untuk terjaga. Napasnya terasa panas, tenggorokannya kering, badannya sakit semua terutama di bagian pinggang.
Ririn pun tiba bersama Aghni. "Ayo, Mbak!"
Ririn menggandeng tangan Niken dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menjinjing tas berisi pakaian ganti milik Niken. Aghni menggandeng Tangan Niken di sebelahnya lagi.
Setelah semua masuk ke dalam mobil, Aghni membawa mobilnya ke sebuah rumah sakit di Bandung. Di sana Niken langsung ditangani di ruang IGD. Aghni dan Ririn menunggu di luar ruangan tersebut.
Pintu ruangan dibuka dari dalam, dokter yang menangani Niken berjalan keluar. Agni menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan kakak saya, dokter?" tanya Aghni.
"Keadaan ibu Niken tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kami telah memberinya obat penurun panas dan mengambil sampel darah untuk memastikan apa yang terjadi pada ibu Niken sebenarnya. Sekarang dia sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Dan besok pagi hasil laboratorium sudah bisa diambil," jawab dokter panjang lebar.
"Terimakasih, dokter," ucap Aghni.
Suara roda besi yang didorong terdengar dari dalam ruangan. Dua orang perawat mendorong brangkar tempat Niken berbaring dan membawanya ke sebuah ruangan rawat inap. Aghni dan Ririn mengikuti kemana kedua perawat tersebut membawa Niken.
.
.
.
TBC
Terimakasih telah setia membaca,
__ADS_1
terimakasih dukungannya, vote, like dan komen. 🥰🥰🥰