
Rifki bangkit dari duduknya, berjalan menuju ke kamar Edos dan Tania. Ia mengetuk pintu beberapa kali memanggil nama Edos, namun tidak ada jawaban. Ia pun membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
Betapa terkejutnya Rifki ketika tidak menemukan Edos di kamarnya. Hanya ada kursi rodanya saja di sana.
Dari depan rumah, Bu Retno nampak membawa minuman dan cemilan untuk mereka.
"Silahkan dicicipi, Tuan, Nyonya dan Nak Niken!" ucap Bu Retno.
"Terimakasih, Mbak. Jangan panggil Tuan dan Nyonya, kami juga orang biasa, kami mengucapkan terimakasih karena Mbak telah menerima anak dan menantu saya untuk tinggal di sini. Saya Nurlita, dan ini suami saya Burhan," tutur Nurlita.
"Saya, Retno. Saya yang seharusnya mengucapkan terimakasih. Saya minta maaf karena saya lah, anak Dek Nurlita dan Dek Burhan jadi celaka dan cacat. Saya tidak bisa membantu apa-apa selain menampung mereka untuk tinggal di sini," tutur Bu Retno.
"Bu, Edos tidak ada di kamarnya," ucap Rifki.
"Serius kamu, Rifki," tanya Bu Retno terkejut.
"Mas, kalau anak kita kabur lagi bagaimana?" Nurlita merasa takut.
"Kamu tenang dulu, Ma! Sabar sebentar," bujuk Burhan pada istrinya.
"Nggak mungkin Edos Kabur, sedangkan Tania lagi kerja. Mungkin dia masih jalan-jalan ke luar," ucap Rifki menerka-nerka.
Rifki membuka ponselnya hendak menelpon Edos. Namun belum sempat panggilan itu dilakukan, dari belakang nampak muncul seseorang yang berjalan dengan bantuan Walker.
"Edos!" seru Nurlita. Iapun menghambur memeluk putra bungsunya. "Mama kangen," imbuhnya.
Nurlita membimbing Edos untuk duduk di sampingnya.
"Mama kira kamu kabur lagi," ucap Nurlita yang tak henti-hentinya menciumi seluruh wajah Edos sambil menangis haru.
"Apaan sih, Ma? Edos cuma habis mandi," ucap Edos.
"Niken, sekarang ceritakan sama aku siapa Tania itu sebenarnya!" pinta Rifki pada Niken.
"Dia itu ternyata adik tirinya Mas Bram, Rifki. Kecurigaan ku saat kalian di rumahku waktu itu ternyata benar," ungkap Niken.
"Astaghfirullah al'adzim, jadi dia cuma jadi pelayan di perusahaan milik orangtuanya sendiri. Maafkan aku Tania," Rifki mengusap wajahnya kasar.
"Aku akan menelpon Tania dan menyuruhnya pulang sekarang," usul Rifki.
"Tidak usah, Rif. Nanti malam kita juga akan ketemu Tania di sana. Aku akan menjelaskannya saat ketemu di sana, dan membawakan baju ganti untuknya, berikan saja nomor ponselnya," pinta Niken.
Rifki mengirimkan kontak Tania pada Niken.
"Ikut Mama ke rumah Bulek Dewi ya, Nak!" pinta Nurlita pada Edos.
"Nanti kalau Tania mencariku bagaimana, Ma?" tanya Edos khawatir.
"Tania juga akan pulang ke sana, Sayang. Dia itu anaknya Bu Lek Dewi, kalian saudara sepupu," ungkap Nurlita.
"Beneran, Ma?" tanya Edos memastikan.
"Beneran, Sayang. Mau ya!" bujuk Nurlita.
Edospun mengangguk.
"Mbak Retno, kami mohon maaf, kami akan membawa anak kami untuk tinggal di rumah orang tua Tania. Terimakasih sebanyak-banyaknya, Mbak telah menolong dan merawat anak kami. Ini hanya ada sedikit dari kami, mungkin hanya bisa untuk membantu mengurangi beli garam," ucap Nurlita merendah menyelipkan amplop ke telapak tangan Bu Retno.
"Tidak usah repot-repot, Dek. Saya Ikhlas kok, saya sudah menganggap mereka seperti anak saya sendiri," tutur Bu Retno menolak.
"Jangan ditolak, Mbak. Saya juga ikhlas memberikannya," pinta Nurlita.
"Edos!" ucap Bu Retno berurai air mata memeluk Edos, membayangkan akan berpisah dengan pemuda yang telah dianggapnya seperti anak sendiri.
"Ibu, jangan kayak gini. Edos janji akan sering-sering ke sini kok," bujuk Edos.
Tiba-tiba datang seseorang,
"Assalamu'alaikum," ucap Pak Rasyid.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka kompak.
"Wah, lagi ada tamu rupanya," ucap Pak Rasyid. "Niken, Rifki, ada apa ini? Siapa Mereka?" tanya Pak Rasyid bingung dengan kehadiran banyak orang di rumahnya.
"Ini Pakde Burhan dan Bude Nurlita, Pak. Mereka orangtuanya Edos." jelas Niken.
Burhan dan Nurlita mengangguk.
"Pak, Tania dan Edos akan pergi meninggalkan rumah ini," tutur Bu Retno pada suaminya.
"Bu, di sini kita tidak bisa memberikan apa-apa buat mereka. Biarkan mereka pergi, mereka juga berhak bahagia. Ibu jangan seperti anak kecil," bujuk Pak Rasyid pada Istrinya.
Karena waktu sudah sore dan hampir petang, merekapun berpamitan. Rifki membantu mengambilkan kursi roda Edos dari dalam kamar. Pak Rasyid, Bu Retno dan Rifki mengantar mereka sampai di depan gang.
Burhan duduk di samping kursi kemudi, sementara Edos dan Nurlita duduk di kursi penumpang. Mobil meluncur meninggalkan Rifki dan orangtuanya.
Niken menghentikan mobilnya tepat di depan teras rumah keluarga Ardiansyah. Abizar, Aris dan Sisi nampak muncul dari balik pintu.
"Kak Edos!" panggil Sisi saat melihat Edos hendak keluar dari dalam mobil.
"Sisi, kamu di sini juga," sahut Edos.
"Bizar, tolong ambilkan kursi roda adikmu di bagasi belakang," perintah Nurlita.
Tanpa menyahut, Abizar pun melaksanakan perintah sang Mama. Setelah membuka lipatan kursi roda, ia mendorongnya ke dekat Edos.
Azan Maghrib mulai terdengar bersahutan, Mereka melakukan sholat berjamaah di rumah. Setelah melaksanakan sholat, sebagian orang berkumpul di ruang tengah.
"Kak Edos, Kak Tania mana? Kenapa nomor HP kalian enggak ada yang aktif? Dan kenapa sekarang kakak enggak bisa jalan?" tanya Sisi pada Edos beruntun.
__ADS_1
"Hahaha, Sisi. Pertanyaan kamu beruntun kayak durian runtuh, gimana Kak Edos jawabnya?" protes Edos.
"Ya udah, aku tanya satu-satu sekarang. Kak Tania di mana?" kata Sisi mengulang pertanyaannya yang pertama.
"Kak Tania lagi kerja, di hotel tempat pesta nanti. Apa lagi?" jawab Edos.
"Kenapa nomor HP kalian enggak ada yang aktif?"
Sebelum menjawab pertanyaan yang kedua dari Sisi, Edos menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Waktu itu mobil yang kakak kendarai mengalami kecelakaan, dan kakak sempat koma selama 10 hari, mungkin Kak Tania takut akan dipisahkan dari kakak jika sampai mama dan papa tahu, jadi dia memutuskan untuk mengganti nomor ponselnya, tapi punya kak Edos sudah aktif kembali kok," tutur Edos.
"Ya Allah, Kak Tania," ucap Sisi berkaca-kaca. "Mas Aris, Aku pengen cepat-cepat ketemu Kak Tania," rengek Sisi pada kekasihnya.
"Ya udah, siap-siap gih sana. Dandan yang cantik ya, Sayang," suruh Aris.
"Jadi kemarin-kemarin Sisi enggak cantik ya, Mas?" gerutu Sisi memanyunkan bibirnya.
"Ck, gitu saja ngambek, kalau bibir kamu manyun gitu, Mas jadi gemes deh," Aris berdecak. "Kamu cantik kok sayang, bahkan paling cantik di hati Mas Aris. Cuman, kita kan mau datang ke pesta jadi harus lebih cantik, gitu maksud Mas Aris," tutur Aris.
Sisi pun jadi tersenyum.
"Udah sana siap-siap, katanya pengen cepat-cepat ketemu Kak Tania," titah Aris.
Sisi pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk bersiap-siap. Edos terkejut melihat adegan antara Sisi dan Adik sepupunya Aris.
"Wah, adik sepupuku sama adik sepupu iparku udah sayang-sayangan aja, ternyata banyak peristiwa yang terjadi setelah aku meninggalkan kampung halaman," cetus Edos.
"Begitulah, harus gerak cepat donk, Edos. Biar Enggak ketikung sama yang lain," balas Aris.
"Memangnya siapa yang mau nikung?" tanya Edos.
"Yang masih jomblo lah," jawab Aris memandang ke arah Abizar.
Puk
Bantal kursi mendarat di muka Aris.
"Mas Bizar kenapa sih?" cebik Aris.
"Kamu ngomong jomblo kenapa pandanganmu ke arahku? Kamu pikir aku pedofil apa, menyukai anak kecil," protes Abizar.
Seorang pelayan datang membuat mereka menghentikan adu mulut mereka.
"Maaf, Tuan-tuan. Makan malam sudah siap, kalau anda mau makan malam di rumah dipersilahkan," tutur pelayan.
"Ayo makan dulu, nanti kita lanjutin ngobrolnya setelah makan," ajak Abizar. Iapun mendorong kursi roda yang diduduki adiknya menuju ke ruang makan.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Gedung ARD's Corp lantai 7
Bram membuka ponselnya, membaca pesan WhatsApp dari My Wife. Eh, My Wife? Sejak kapan kamu sadar punya istri, Bram?
My Wife
[Mas, Aku di rumah Papa Ardi. Mas jemput aku di sini ya.]
Baiklah bidadari ku, ucap Bram dalam hati.
Bram pun membalas ketus pesan tersebut.
Anda
[Oke, jangan lupa dandan yang cantik, tunggu aku dalam 30 menit.]
Bram beranjak dari singgasananya, melenggang menuju kamar mandi, ia memutuskan untuk bersiap-siap dari kantor saja sehingga nanti saat ketemu Niken sudah terlihat tampan dan rapi.
"Aduh, Thor. Aku sudah tampan maksimal dari dulu kali," protes Bram.
"Ups, Sori Bram, aku ralat," Author menyahut.
"Satu lagi Thor, di bab pertama pas pengenalan tokoh kan ada namaku tuh, berarti aku ini kan pemeran pendamping, kenapa jarang dimunculkan sih?" protes Bram lagi.
"Sori sekali lagi, Bram," ucap Author sambil menangkupkan kedua tangannya. "Author janji dech, mulai sekarang bakal sering munculin kamu," janjinya.
"Awas ya, kalau jarang dimunculin lagi, aku bakal resign dari ceritamu, Thor!" ancam Bram.
"Wadoh." Author auto tepok jidat. "Protes terus kamu, Bram. Kalau sudah rapi jemput istrimu sana!" perintah Author.
"Gimana enggak protes coba, nikah duluan aku, tapi malam pertama duluan dia,"
"Hahaha, okeh. Aku bakal revisi dari awal bab, tapi jangan salahkan aku ya, kalau kaki kamu bakal kubuat pencor lebih parah dari Edos, dan kamu jadi orang miskin. Padahal aku bakal jadikan kamu CEO menggantikan Tuan Ardi. Ya sudahlah kalau kamu memang lebih suka jadi orang miskin, kukabu...." belum sempat Author menyelesaikan kalimatnya.
"Haist.. tidak tidak, aku kayak gini aja, Thor. Daripada gagal jadi CEO," sela Bram.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Rumah keluarga Ardiansyah
Bram memarkirkan mobilnya dengan sempurna tepat di belakang mobil istrinya. Dia keluar dari mobil dengan wajah ceria, guratan senyum nampak terukir di wajahnya. Suara siulan terdengar keluar dari mulutnya. Haiss, malam-malam jangan bersiul, Bram. Pamali alias ora ilok.
Bram mengucap salam sambil membuka pintu, langsung ngeloyor masuk ke ruang tengah, seperti itulah kebiasaan di rumah. Ia baru menyadari ternyata banyak orang di rumahnya.
"Hai, Bizar! Kapan datang?" Menghempaskan tubuhnya di samping Abizar dan menepuk pundaknya.
"Hai juga, Bram! Udah dari kemarin lusa. Kamu sendiri dari mana kok baru datang?"
"Biasalah, orang sok sibuk," jawab Bram bercanda.
__ADS_1
"Pak Direktur ini suka merendah," membalas tepukan pundak.
Bram mengirim pesan kepada Niken.
Anda
[Aku sudah di bawah.]
Hanya dibaca oleh Niken tanpa dibalasnya.
"Aku temui istriku dulu ya, Bizar," pamit Bram pada Abizar.
"Iya, Bram. Silahkan." Aris mempersilahkan.
Dari lantai dua Sisi turun dengan melenggang. Duduk di samping Abizar. Sesaat mulai gelisah.
"Mas Aris di mana sih, Kak Bizar?" tanya Sisi pada Abizar.
"Masih ganti baju di kamar," jawab Abizar.
"Kok lama?" tanya Sisi sambil memainkan jemarinya, kepalanya terus mendongak ke arah pintu kamar tamu yang ditempati Aris.
"Samperin aja ke kamarnya, Aris itu kalau dandan emang kayak cewek, lama," ketus Abizar.
Sisi beranjak dari duduknya, berjalan menuju ke kamar yang ditempati Aris. Mengetuk pintu sambil memanggil-manggil Aris.
"Mas Aris," panggilnya lagi.
"Iya sebentar," sahut Aris dari balik pintu.
Pintu kamar dibuka dari dalam, Aris keluar dengan balutan kemeja batik berwarna merah, sedangkan Sisi memakai dress brukat warna hitam dan kerudung pashmina berwarna hitam pula.
Sisi memandangi tubuh Aris, sejenak kemudian memandangi dirinya sendiri. Aris mengernyitkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Aris.
"Aku kok ngerasanya kayak kita mau tunangan, Mas," ucap Sisi sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Arispun juga melakukan hal yang sama.
"Memangnya kamu sudah siap kalau kita tunangan?" tanya Aris balik.
"Kalau tunangan saja sih enggak apa-apa, tapi kalau nikah ya nunggu lulus sekolah," jawab Sisi.
"Sepulang dari sini kita tunangan," cetus Aris. "Yuk kita berangkat dulu!" ajaknya.
Mereka berdua melangkah ke luar dari rumah.
"Pakde sama Bude gimana nanti berangkatnya?" tanya Sisi saat sudah berada di dalam mobil.
"Ibu nggak ikut karena mau nemenin Edos, sedangkan Bapak nanti berangkat bareng Mas Bizar pakai mobilnya Tuan Ardi," ungkap Aris.
Kini mobil yang mereka naiki telah pergi meninggalkan kediaman keluarga Ardiansyah.
Sementara itu di kamar Bram.
Bram membuka pintu kamarnya, melangkah masuk ke dalam. Sejenak terpaku memandangi tubuh istrinya yang tengah berdiri membelakanginya dengan balutan gamis berbahan tile perpaduan warna krem dengan aksen bunga-bunga kecil warna emas.
Merasakan kehadiran seseorang Niken membalikan badannya 180Β°.
Cantik dan anggun, gumamnya dalam hati.
"Kita berangkat sekarang, Mas?" tanya Niken yang seketika menyadarkan Bram dari lamunannya.
"Ayo," Bram mengulurkan tangannya, Niken menyambutnya. Mereka berjalan bergandengan tangan keluar dari kamar menuruni anak tangga seakan tidak mau berpisah dengan pasangan masing masing.
Bram terus memandangi wajah Niken, membuat ia tersipu malu dengan tatapan suaminya. Niken hanya menunduk.
"Pakai mobilku saja, Ya." Bram membukakan pintu untuk Niken. Niken masuk dan duduk di samping kursi kemudi.
Bram mulai menjalankan mobilnya keluar dari halaman rumah orang tuanya membelah jalanan ibukota di malam hari. Tiga puluh menit kemudian mereka telah sampai di lokasi pelaksanaan Pesta.
Sejak keluar dari dalam mobil hingga sampai di lobi hotel, Bram tidak melepaskan tangan Niken, dia menggenggam erat tangan istrinya tersebut.
Ketika memasuki ballroom hotel, mata Niken mengamati wajah seorang pelayan wanita berseragam hitam putih yang sedang menata makanan di meja prasmanan. Tetapi karena gadis itu memakai masker jadi wajahnya tidak begitu jelas.
"Apa dia?" tanya Niken berfikir.
.
.
.
Apakah Niken akan bertemu dengan Tania malam ini?
Apakah Tania akan berkumpul dengan keluarganya.
Ikuti terus kisahnya
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
Terimakasih πππ
__ADS_1