
Suasana Ballroom Hotel semakin meriah, manakala orang nomor satu di ARD's Corp menampakkan diri di hadapan para hadirin, tamu undangan dan para awak media.
"Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah menyumbangkan kerja keras dan dedikasi kalian sehingga ARD's Corp menjadi perusahaan hingga sebesar ini. Dari pemegang saham, Dewan direksi, jajaran manajemen, seluruh relasi bisnis serta seluruh pegawai dan pelayan sebagai ujung tombak perusahaan ini yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu persatu. Tanpa kalian kami bukanlah apa-apa."
"Pada kesempatan kali ini, Saya juga akan menyampaikan pengumuman, di umur saya yang sekarang sudah beranjak dari setengah abad, saya merasa sudah saatnya mengistirahatkan sedikit pikiran saya dan lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta, jadi mulai saat ini, di hadapan kalian semua saya mengangkat putra saya, Bramantyo Ardiansyah sebagai Presiden Direktur Ardiansyah Corporation menggantikan saya."
Tepuk tangan seluruh hadirin kembali terdengar.
"Akhir kata dari saya, semoga kedepannya ARD's Corp tetap dapat memberikan manfaat serta tetap berada di hati masyarakat aamiin yaa rabbal 'alamin.., Sekian dari saya, Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokaatuh," Ardi melangkah meninggalkan panggung.
"Beri aplous yang meriah buat Pak Presdir!" seru MC sambil berjalan ke tengah panggung.
"Eh, bukan Pak Presdir lagi ya, Jo?" Merlyn bertanya kepada Jo, rekan Mcnya.
"Betul banget, Say. Barusan beliau kan sudah mengangkat putra pertamanya, siapa tadi namanya?" Jo berseru pada rekannya.
"Lihat, Jo! itu di layar ada namanya dan orangnya," seru Merlyn.
"Oh iya, ganteng banget ya Pak Bramantyo Ardiansyah," seru Jo mengeja nama Bram di layar LCD.
"Bagaimana kalau kita minta Pak Bram untuk menyampaikan sepatah dua patah kata, setuju tidak para hadirin?" tanya Merlyn mengacungkan mic-nya ke hadapan para hadirin.
"Setuju," jawab para hadirin kompak.
"Mas Bram, disuruh ke panggung tuh, Mas," ujar Niken pada suaminya yang berada di deretan kursi bagian belakang.
Bram pun mengangguk mengiyakan. "Ayo, Kita ke depan, kamu bergabung sama Mama dan Aghni saja," ajaknya pada Niken.
Bram dan Niken berdiri dari kursinya, melangkah beriringan, Bram menggandeng tangan istrinya hingga sampai di deretan meja paling depan mereka berpisah, Bram naik ke atas panggung sedangkan Niken bergabung bersama rombongan mertuanya.
"Kita sambut kedatangan Bapak Bramantyo Ardiansyah dengan tepuk tangan yang meriah,"
Tepuk tangan para hadirin pun kembali memenuhi ruangan di Ballroom Hotel tersebut.
"Pak Bram, ada lowongan jadi istri CEO di perusahaan Bapak, tidak?" tanya Merlyn berseloroh.
Huuu...
Terdengar teriakan riuh dari para hadirin.
"Merlyn, adanya lowongan jadi istri presenter, Sayang. Kamu Mau?" tanya Jo menjawab selorohan Merlyn.
Merlyn pura-pura cemberut dan memanyunkan bibirnya di hadapan penonton. Sejenak kemudian ia kembali menguasai panggung.
"Baiklah, sekarang kita persilahkan kepada Pak Bram untuk menyampaikan pidatonya ya para hadirin dan tamu undangan?" seru Merlyn.
"Sekarang kita simak pidato oleh CEO baru dari Ardiansyah Corporation, Bapak Bramantyo Ardiansyah," seru Jo. "Silahkan, Pak Bram!" lanjutnya.
"Terimakasih, Jo dan Merlyn," jawab Bram.
Bram mulai membacakan pidato dadakan tanpa teksnya sama seperti Ardi, sang Papa. Disambut tepuk tangan riuh oleh para hadirin, tamu undangan dan para wartawan dengan antusias.
CEO muda tersebut mengungkapkan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas apa yang ia dapatkan sampai hari ini, ucapan terimakasih kepada ayahanda tercinta serta para pegawai dan relasi ARD's Corp, dan harapannya di hari-hari yang akan datang.
Setelah ungkapan syukur dari Bram selesai, ia kembali bergabung duduk bersama keluarganya. Panggung kembali di isi oleh grup band dan penyanyi terkenal.
Sementara di meja bagian kiri tengah, Tania nampak melayani para tamu. Juragan Burhan yang tidak sengaja melihat Tania, dia sangat mengenali wajahnya meskipun menggunakan masker, apalagi name tag yang tergantung di leher Tania tidak berbohong.
"Tania," panggil Juragan Burhan.
Tania menoleh kearah suara yang memanggilnya. Betapa terkejutnya Tania saat melihat siapa yang memanggilnya tersebut, Juragan Burhan dan Abizar tengah duduk di sebelah Tania berdiri.
"Pakde, Kakak?" panggilnya belum hilang rasa terkejutnya. Ia meraih punggung tangan kedua kerabatnya tersebut dan menciumnya secara bergantian.
"Kalau kamu cuma jadi pelayan, kenapa harus jauh-jauh ke Jakarta, Tania? Di Jawa Pakde mu ini juga bisa memberikan kamu pekerjaan yang lebih baik," sesal Juragan Burhan.
"Maaf, Pakde. Tania cuma pengen belajar mandiri," kilah Tania.
"Nanti pulang bareng Pakde, suamimu juga sudah Pakde jemput, sekarang dia ada di rumah adik Pakde," tukas Juragan Burhan. Ia masih sungkan menyebut tentang ibunya Tania, Karena ia sendiri juga ikut membohongi Tania tentang ibunya yang sudah meninggal.
"Baik, Pakde. Sekarang Tania mau meneruskan pekerjaan dulu ya," pamit Tania.
"Iya, kamu teruskan dulu pekerjaan kamu, nanti kalau sudah selesai, kamu ke sini saja. Pakde tunggu di sini." tukas Juragan Burhan lagi.
Abizar yang melihatnya hanya diam memandangnya saja, lidahnya seakan Kelu tidak tega melihat adik sepupu sekaligus adik iparnya tersebut harus bekerja keras demi sesuap nasi.
"Eh, Tania. Kakak boleh minta nomor ponsel kamu?" tanya Abizar.
"Boleh, Kak. Tapi HP Tania ada di loker, HP Kakak saja mana?" pinta Tania menengadahkan sebelah tangannya.
__ADS_1
Abizarpun merogoh ponsel di saku Jaz yang ia pakai, kemudian menyerahkan kepada Tania. Tania menerimanya, dan langsung membuatkan kontak nomornya di sana.
"Sudah Tania simpan nomor Tania, Kak. Tania permisi dulu," ucap Tania mengangguk pada Juragan Burhan dan Abizar.
Tania pergi meninggalkan mereka yang ada di ballroom, melangkah menuju ke arah dapur restoran.
Para hadirin masih antusias mengikuti jalannya acara karena di akhir acara nanti akan diundi doorprize. Door prize sengaja diundi di akhir acara supaya para tamu tidak bubar sebelum acara selesai.
"Mas, aku ke toilet sebentar ya," pamit Niken pada Bram.
"Perlu aku antar?" tawar Bram
"Tidak usah, Mas. Masa ke toilet saja diantar. Mas tunggu di sini saja ya, jangan ke mana-mana," Tolak Niken.
Bram mengangguk, Niken menyeret kakinya ke belakang, karena di toilet yang berada di dalam Ballroom sangat sesak, ia memilih pergi ke luar dari Ballroom, toilet umum berada di luar Ballroom.
Saat Niken berjalan di koridor menuju ke toilet wanita, ia berpapasan dengan Tania yang saat itu memakai masker, tapi Niken mengenalinya.
"Tania?"
Tania membuka maskernya, mengulurkan tangan dan memeluk Niken "Mbak Niken, Selamat ya, Mbak. Suami Mbak Niken jadi CEO, sekarang Mbak Niken udah jadi istri CEO," ucapnya.
"Kok kamu tahu?" tanya Niken heran. Padahal Niken belum pernah memperkenalkan suaminya pada Tania.
"Kan aku lihat di layar LCD tadi ada gambar Pak Bram dan Mbak Niken disorot kamera," jawab Tania.
"Ah, Iya. Oh iya, Tan. Dari tadi aku cari-cari kamu lho, baru sekarang ketemu," ucap Niken.
"Memangnya ada apa, Mbak?" tanya Tania.
"Nanti saja aku ceritakan, sekarang aku mau ke toilet dulu ya. Udah nggak tahan nih," ucap Niken langsung menghambur ke Toilet yang kosong.
Tania hanya geleng-geleng kepala, "Mbak Niken, ada-ada saja," ucapnya.
Tania pergi meninggalkan Niken di toilet, ia melangkah menuju ke dapur restoran. Sesampai di dapur rekannya menyuruh untuk membawakan minuman ke Ballroom.
"Tania, tolong antarkan minuman ini ke Ballroom mejanya Pak Presdir bagian paling depan, kalau sudah nanti kamu langsung ke sini lagi, ya," suruh rekan Tania.
"Baik, Mbak," sahut Tania.
Tania melangkahkan kakinya menuju ballroom dengan pasti hingga sampai di deretan meja yang paling depan. Ia menghampiri meja yang di tempati oleh Ardi dan keluarganya.
"Minumannya, Tuan, Nyonya," ucap Tania.
"Silahkan diminum, saya permisi," ucap Tania pamit.
Sekilas Dewi membaca name tag yang menggantung di leher Tania.
"Tania!" panggil Dewi.
"Iya, Nyonya. Apa masih ada lagi yang diperlukan?" tanya Tania.
"Kamu Tania anak saya," ucap Dewi dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, Nyonya. Saya masih sibuk, saya mau ke belakang dulu," pamit Tania setengah berlari menjauh dari ruangan tersebut.
Sepanjang perjalanan Tania terus berfikir.
Ya Allah, mengapa ada orang kaya yang mengaku-ngaku sebagai ibuku, padahal ibuku sudah meninggal. Apa maksud mereka? Kalau memang ibuku masih hidup, mengapa dulu ia meninggalkanku, membiarkan diriku diasuh oleh bibi yang bukan apa-apa ku. Atau perempuan itu meninggalkanku demi mendapatkan orang kaya itu, Presdir ARD's Corp. Entahlah, aku tidak mau memikirkannya.
Tania kembali ke dapur menemui rekan kerjanya.
"Mbak, apa masih ada lagi tugas buat saya?" tanya Tania.
"Oh, sudah tidak ada, Tania. Tadi yang terakhir sudah ada yang bawa. Kamu istirahat saja, menonton pertunjukan grup band di ballroom atau mau pulang juga boleh, ini sudah malam," tutur rekan kerja Tania.
Tiba-tiba teman Tania yang satu minimarket menghampiri. "Hai, Tania. Kamu pasti capek, ini aku bawakan jus buah buat kamu," tuturnya.
"Eh, Sita. Kamu baik banget, makasih ya," sahut Tania menerima pemberian temannya. "Ehm, aku mau nonton pertunjukan band aja dulu, lumayan dapat tontonan gratis.
Banyak dari para tamu undangan yang sudah pulang, karena waktu memang sudah larut malam. Ardi juga mengajak keluarganya untuk pulang.
"Ma, sudah malam kita pulang saja. Soal Tania kita bisa datang ke rumahnya besok pagi," ajak Ardi.
"Baiklah, Pa. Mungkin ini terlalu cepat dan mendadak, Tania pasti belum bisa menerimanya," sahut Dewi.
"Bram mau menunggu Niken dulu, Ma. Dia dari tadi ke Toilet belum balik-balik," ucap Bram.
"Ya sudah, Mama pulang dulu ya, Bram," pamit Dewi.
__ADS_1
"Iya, Ma. Ini memang sudah malam," Bram menambahi.
"Kenapa kita tidak menginap di sini saja, Pa? Aku sudah mengantuk," tanya Aghni merajuk.
"Iya sudah, kita menginap di sini saja," jawab Ardi menyetujui usulan anak bungsunya.
Ardi, Dewi dan Aghni meninggalkan ballroom, sementara Bram masih menelisik orang-orang yang ada di sana, siapa tahu istrinya keselip di antara mereka. Tiba-tiba matanya menangkap sesosok mahluk imut yang wajahnya tak asing baginya tengah menikmati pertunjukan band dengan membawa segelas jus buah di tangannya.
"Tania, kamu Tania, kan?" tanya Bram.
Mata Tania membulat, "Pak Presdir kenal saya?" ucapnya.
"Kamu adalah adik tiri saya, oh kamu sudah buatkan jus untuk saya, ya?" Dengan pedenya Bram mengambil jus buah dari tangan Tania dan langsung meneguknya.
"Haist, itu punya saya, Pak. Kok Bapak main minum aja," ucap Tania tidak terima minumannya di rampas.
"Kita duduk ngobrol-ngobrol di sana yuk!" Bram mengajak Tania untuk duduk di kursi yang kosong, Tania pun menurut.
"Bapak, lagi nunggu Mbak Niken ya? Tadi saya ketemu di depan toilet," tutur Tania.
"Lho, kamu sudah kenal sama istri saya, kenapa dia lama sekali belum balik-balik ya?" ucap Bram.
Brampun mengetik pesan WhatsApp kepada istrinya.
Anda
[Sayang, Kalau kamu tidak menemukanku di Ballroom, langsung ke kamar nomor 236 saja ya!]
Pesan tersebut hanya centang satu. Bram menundukkan kepala memijat pelipisnya.
"Bapak kenapa?" tanya Tania heran melihat raut wajah Bram berubah seketika.
"Jangan panggil aku Bapak, Tania. Aku ini belum tua-tua banget. Lagian aku ini kakak tiri kamu," cerocos Bram.
Huh, kenapa mereka, orang kaya ini ngebet banget sich ngaku-ngaku kalau aku ini keluarga mereka, apa hebatnya aku coba? gerutu Tania dalam hati.
"Kepalaku pusing, antar aku ke kamar hotel," pinta Bram pada Tania.
"Memangnya Mbak Niken kemana, Pak?" tanya Tania masih sungkan untuk memegang laki-laki yang bukan suaminya.
"Bukankah tadi kamu bilang kalau Niken lagi ke toilet? Dari tadi ke toilet belum balik-balik, aku sudah tidak tahan, ayo antar aku!" bentak Bram.
"Ups..Oh, iya. Saya lupa, Pak. Mari saya antar,"
Tania terpaksa merangkul pinggang Bram dan membimbingnya melangkah keluar dari ruangan.
"Udah dibilang jangan panggil pak, aku ini kakak kamu, Tania. Mama tidak mungkin salah mengenali anak yang dilahirkannya," tukas Bram.
"Bapak berani bayar berapa kalau aku mau mengakui Bapak sebagai kakakku?" tantang Tania.
"Aku akan angkat kamu sebagai direktur Ardimart, menggantikan posisiku yang lama. Bukankah kamu yang waktu itu di depan Ardimart dinihari? Aku kira kamu cewek cabe-cabean yang sedang mencari mangsa," tutur Bram yang kembali membuat Tania kaget.
Ck, enak aja anggap aku cabe-cabean, dasar matamu siwer, sudah tahu minimarketmu sendiri beroperasi 24 jam, masih nyangka cewek pulang dinihari cabe-cabean, otakmu ditaruh di mana sih? Tania mengumpat dalam hati.
"Kenapa berhenti? panas, panas, aku sudah tidak tahan," Rintih Bram.
Bram mulai merasa tubuhnya kepanasan, ia membuka Jaz yang dipakainya.
"Apa Pak Bram sudah pegang kuncinya? Berapa nomor kamarnya?" tanya Tania lagi.
Bram mengeluarkan kartu dari dalam dari dalam dompetnya yang diambil dari saku celananya dengan susah payah. Keadaan Bram sudah sangat semprawut, rambutnya acak-acakan, kerah bajunya dibuka sendiri dengan paksa.
"Kamar nomor 213, bukan Wiro sableng, hehehe. Ini ada di lantai berapa, Pak?" Tanya Tania.
"Di situ sudah ada, Bego," umpat Bram.
Astaga, udah ditolong pakai ngumpat lagi, gerutu Tania. Tania pun meneliti kembali kartu yang dipegangnya.
"Oh iya, Pak, lantai 10. Aku memang bego, maklum lah pak, namanya juga dari kampung," ucap Tania membenarkan ucapan Bram.
Tania membimbing Bram memasuki lift yang diarahkan ke lantai 10. Keluar dari lift Tania mencari kamar nomor 213, akhirnya ketemu juga jadi agak sedikit lega. Tania memasukkan kartu di slot pintu yang ada tulisan nomor tersebut.
Pintu terbuka, Tania masih membimbing tubuh Bram hingga mencapai ranjang. Namun apa yang terjadi? Bram malah mendorong tubuh Tania dengan kasar hingga terjerembab di atas kasur.
.
.
.
__ADS_1
TBC
Terimakasih udah baca, like n komen jangan lupa ya. Tararengkiyu 😍😍😍