2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
2xMDS. Mantan Kekasih Suami


__ADS_3

Tania terjaga saat matahari sudah bersinar cerah menerangi bumi. Dini hari tadi Atar terbangun hingga menjelang subuh. Setelah Atar kembali terlelap Tania melaksanakan sholat subuh, setelah itu tidur lagi karena masih merasa mengantuk.


Saat menolehkan kepalanya ke samping, Tania tidak mendapatkan Abizar masih terbaring di sana. Dari kamar mandi juga tidak terdengar suara gemericik air menandakan tidak ada kehidupan di dalam sana.


"Kak Bizar ke mana ya?" gumam Tania bertanya pada diri sendiri. "Mungkin dia lagi joging atau ngegym di ruang fitnesnya Papa," Tania menjawab pertanyaannya sendiri.


Setelah membersihkan muka ala kadarnya, Tania keluar dari kamar.


"Atar belum bangun, Mbak?" tanya Nina saat berpapasan dengan Tania.


"Belum, tadi bangun belum subuh. Kamu bangunin deh, Nin," sahut Tania.


Saat Tania melangkah ke dapur, samar-samar ia mendengar dua orang sedang bercakap-cakap, laki-laki dan perempuan. Tania sangat mengenal laki-laki tersebut, tetapi yang perempuan ia tidak tahu siapa. Ternyata suara tersebut berasal dari teras yang dekat dari ruang makan.


Tania mendekati pintu yang menghubungkan ke teras tersebut untuk lebih jelas menguping percakapan mereka. Siapa perempuan itu? Dalam benak Tania bertanya-tanya.


"Kenapa kamu bisa tinggal di rumah ini, De?" tanya Abizar kepada perempuan itu.


"Jadi almarhum ibu kandung Kak Bram itu Tante aku," jelas perempuan itu. "Eh, Bi. Kamu masih ingat enggak? Dulu waktu kita pulang sekolah kehujanan, kamu pinjamin jaket kamu ke aku. Aku masih menyimpan dan merawat jaket itu. Kemanapun aku pergi, jaket itu selalu menghuni setiap sudut koperku loh," ungkap perempuan itu.


"Emangnya masih muat?" kekeh Abizar bertanya balik melihat postur tubuh gadis di sampingnya ini sekarang tidak seramping dulu, bahkan terbilang seksi.


Perempuan itu mendekat, memepetkan tubuhnya ke tubuh Abizar. "Bi, kita masih bisa menyambung hubungan yang dulu sempat terjeda 'kan? Kita enggak ini pernah putus loh. Kamu belum menikah 'kan, Bi?" cecarnya.


Tania terbelalak kaget. "Apa? Jadi dia mantan pacarnya Kak Abizar. Kenapa pagi-pagi begini sudah ada di rumah ini? Ih, mepet-mepet kak Bizar lagi," gumamnya dalam hati.


Abizar menjauhkan tubuhnya untuk menjaga jarak. "Tapi, aku sudah nikah, De," elaknya.


"Apa? Kak Bizar manggil dia Dede? Manis sekali? Itu kan panggilan Kak Bizar untuk ku sejak dulu," gumam Tania dalam hati lagi. Mungkin namanya Dede, Tan. (author)


Tania keluar tanpa lebih dulu memandang mereka. Ia pura-pura mencari seseorang. "Kakak, kakak di sini ternyata? Aku kira ngegym di ruang fitnesnya Papa," ucapnya pura-pura mencari Abizar dan baru saja menemukan laki-laki yang menjadi suaminya tersebut.


Abizar lalu berdiri dan mendekat ke arah Tania. Pemuda itu merangkul istrinya itu. "Bel, kenalin ini Tania istriku. Dia juga sedang mengandung anakku," ucapnya memperkenalkan Tania. Anakku? Benarkan? Ia tidak mencoba berbohong. Anak dalam kandungan Tania ini adalah anak dari adiknya alias keponakannya, jadi sama saja anaknya juga kan?


"Dia siapa, Kak?" tanya Tania kepada suaminya sambil melirik ke arah perempuan yang belum diketahui namanya tersebut.


"Dia Bela, teman Kakak yang pernah Kakak ceritakan sama kamu," sahut Abizar.


Tania menganggukkan kepalanya sambil berkata, "oh, namanya Bela Sungkawa?" ucapnya usil yang langsung mendapat cubitan dari Abizar. "Tapi kenapa tadi kakak panggil dia 'Dede'?" tanyanya kemudian menajamkan matanya kepada sang suami.


"Itu panggilan sayang Abizar sama aku," bukan Abizar, tapi perempuan itu yang menyahut.

__ADS_1


"Ah bub- bukan, it-itu memang panggilan dia waktu kecil," kilah Abizar mengoreksi, ia tidak ingin membuat Tania salah paham.


Seketika Tania menatap horor ke arah Abizar. "Kenapa Kakak gugup seperti itu? Berarti benar 'kan apa yang dia katakan? Tania enggak suka ya. Kakak manggil Tania dulu juga Dede, tapi sekarang Tan, Tan," ucapnya sambil memencas-mencoskan bibir. "Kalaupun kakak masih ada hubungan dengan dia juga tidak apa-apa ding. Pernikahan kita ini kan hanya status hitam di atas putih," pungkasnya sebelum pergi. Kemudian perempuan hamil itu pergi meninggalkan suami beserta mantan pacarnya dengan perasaan kesal.


"Tan, Tan tunggu!" pinta Abizar berusaha mengejar istrinya yang ngambek akibat ulahnya.


"Kalau Kakak masih cinta sama dia, ceraikan Tania! Mendingan kita jadi kakak adik tapi saling menyayangi dari pada jadi suami istri tapi kakak masih belum bisa lepas dengan masa lalu kakak," cetus Tania yang kini sudah berurai air mata.


Namun, dalam hati Tania merutuki dirinya sendiri. "Apa-apaan sih aku ini? Aku kan enggak cinta sama Kak Abizar, Kenapa aku nangis saat ada perempuan yang dulu jadi pacarnya?"


Abizar kini dapat menggapai tubuh Tania dan merengkuh ke dalam pelukannya. "Kamu ngomong apa sih, Tan? Kamu lupa kalau kita sudah berjanji untuk sama-sama serius menjalani pernikahan ini?" sergahnya.


"Tapi kalau di tengah perjalanan kita enggak cocok, atau kakak ada perempuan yang kakak cintai 'kan kita bisa cerai," cicit Tania.


"Kakak enggak cinta sama dia, Sayang. Cinta kakak itu sejak dulu hingga sekarang nggak pernah berubah untuk gadis kecil teman bermain kakak dulu kalau ikut Papa ke kebun teh," kilah Abizar sambil mengeratkan pelukannya.


Tania mendongak dan mengernyitkan alisnya. "Siapa lagi dia? Kenapa banyak sekali sih mantan pacar kakak?" Cecarnya menatap ke dalam mata sang suami.


Abizar menahan senyum sambil membalas tatapan istrinya. "Inisialnya TSD, dia adalah anaknya Tante Dewi adiknya Papa, adik sepupuku yang jadi adik ipar ku dan sekarang menjadi istriku," ucapnya.


Tania seketika menunduk menahan haru. Jadi selama ini kakak sepupunya ini menyukainya? pertanyaan yang hanya ia simpan di dalam benaknya. Tania kemudian menyembunyikan wajahnya di dada sang suami, merasa malu karena telah menunjukkan rasa cemburunya. Apalagi sapaan Sayang yang disematkan oleh sang suami tadi yang sempat diabaikannya membuat ia menjadi semakin malu.


"Kuliah nanti jam 9, nunggu dijemput sama Nadia," sahut Tania menahan senyum.


"Kenapa minta dijemput Nadia? Kakak 'kan bisa antar kamu ke kampus," tawar Abizar.


"Enggak ah, enggak enak sama Nanad dan Pipim kalau diantar sama Kakak," tolak Tania.


Perempuan hamil itupun mendorong Abizar untuk melepaskan pelukannya. Namun, aksinya tersebut tidak sama sekali membuat jarak sesenti pun. "Kak, engap! Ini dedek bayi nya nanti kegencet," cicitnya masih mencoba mendorong tubuh abizar. "Kakak betah banget peluk Tania yang belum mandi," cibirnya lagi.


"Badan kamu tetap wangi kok meskipun belum mandi. Kakak suka selama apapun memeluk kamu," pujinya membuat Tania merasa tiba-tiba melayang menembus lapisan awan.


"Aku mau mandi dulu, Kak. Lepasin ih!" pinta Tania lagi.


Abizar pun melerai pelukannya. "Enggak sarapan dulu, Sayang?" cegah Abizar memastikan. Ini ketiga kalinya Abizar memanggil Tania dengan sapaan Sayang.


"Nanti saja kalau udah rapi dan siap berangkat baru sarapan," sahut Tania sambil melangkah meninggalkan Abizar sendirian tanpa memedulikan jawaban dari suaminya tersebut. Melangkah menuju ke dalam kamarnya. Abizar memandangi Tania hingga hilang di balik pintu.


"Bi," tiba-tiba ada yang memanggil Abizar dibarengi dengan pelukan dari belakang.


Abizar bisa menebak siapa yang melakukan perbuatan tersebut. "De, lepasin nanti ada yang lihat," pintanya mencoba melepas pelukan Bela.

__ADS_1


"Tapi aku kangen kamu, Bi," cicit Bela tidak mau melepas pelukannya.


"De, jaga sikap kamu! Aku ini pria beristri," Abizar memperingatkan.


"Bi, kamu ini seorang laki-laki. Bukankan seorang laki-laki boleh memiliki istri lebih dari satu? Apalagi sepertinya hubungan suami-istri kalian terlihat hambar," cicit Bela.


"Kalau begitu lepasin dulu pelukan kamu. Kita bicara di tempat lain jangan di sini," pinta Abizar mencoba melepaskan tangan Bela. "Ikut aku sekarang!" titahnya setelah tangan Bela terlepas. Lalu Bela mengikuti langkah kaki Abizar ke taman belakang rumah.


Tania yang tadi tidak menutup pintu dengan sempurna ternyata mendengarkan kegiatan mereka dari celah pintu. Hatinya terasa sakit telah dibohongi.


"Kenapa kamu bohongi aku, Kak? Kakak tinggal bilang kalau kakak tidak mencintaiku," lirih Tania menahan mata berkaca-kaca yang berkedip sekali saja kaca itu bisa pecah. "Ingat, Tan! Bukankah kamu tidak mencintainya? Kakak mu berhak hidup bahagia bersama wanita pilihannya, yang tulus mencintai dan dicintainya." Tania menghibur dirinya sendiri.


"Sabar, Mbak," ucap Nina yang ternyata berada di belakang Tania sambil menepuk sebelah bahu Tania.


"Iya, Nin. Aku sabar kok. Aku kan bukan wanita yang cengeng," sahut wanita itu. Dengan langkah gontai Tania melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan.


Setelah tubuhnya segar dan rapi Tania langsung ke ruang makan. Atar sudah tidak menyusu dirinya sehingga ia menyerahkan semua keperluan anak laki-laki itu kepada Nina.


Di ruang makan sudah berkumpul kedua orang tuanya, Abizar dan Bela yang telah duduk melingkari meja.


"Apa kabar, Sayang? Kamu sehat-sehat saja 'kan? Gimana kabar cucu ketiga Mama?" cecar Dewi saat melihat putrinya muncul di ruang makan.


Tania meraih kursi di samping Abizar untuk ia duduki. "Tania baik-baik saja kok, Ma. Makanya Tania mau langsung berangkat kuliah hari ini juga. Cucu mama juga sehat. Dia semakin aktif di dalam sini," sahutnya sambil mengelus perutnya yang membuncit.


Setelah mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Abizar, Tania mengambil untuk dirinya sendiri. Perempuan itu menikmati sarapan paginya tanpa bersuara. Namun, matanya menatap jengah ke arah perempuan yang ada di hadapannya.


"Abizar, Tania, apa kalian sudah kenal dengan gadis yang ada di hadapan kalian?" Tanya Ardi.


"Em ... iya, Om. Dia Bela, dulu dia sama Bizar satu kelas waktu di SMA," sahut Abizar. Tania hanya menjadi pendengar saja sambil terus menikmati makanannya.


"Oh iya, dulu Bela pernah tinggal dan sekolah di Batang karena papanya pindah tugas di sana," timpal Ardi.


Saat terdengar deru mobil di halaman rumah, Tania pun menyudahi kegiatan menyantap sarapannya. "Tania udah kenyang, Tania berangkat dulu ya, Pa, Ma," pamitnya kepada kedua orang tuanya lalu mencium punggung tangan Ardi, Dewi dan Abizar secara bergantian.


Namun, setelah berpamitan Tania malahan pergi ke dapur.


"Lho kok malah pergi ke dapur, Sayang?" seru Dewi bertanya.


"Tania ada urusan sama Mbak Siti sebentar, Ma," sahut Tania berseru juga.


Em, kira-kira ada urusan apa ya Tania sama Siti? Urusan makanan atau Mata-mata?

__ADS_1


__ADS_2