2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Tawaran


__ADS_3

Niken terus memandangi wajah Tania yang begitu familiar. Wajahnya mirip seseorang, rasanya begitu dekat, tetapi siapa? Niken belum bisa menemukanya.


"Ehemm," terdengar suara dehaman yang mengagetkan Niken. "Kok malah pada diam sih," ucap Rifki mengusir keheningan. "Kamu kenapa sih Niken?" tanyanya kemudian.


"Aku merasa, Tania ini mirip seseorang dech. Tapi siapa? aku lupa." jawab Niken sambil tertawa masih mencoba mengingat-ingat.


"Dia memang mirip artis kan, Niken," seloroh Erika yang sedang menuang es sirup. "Ayo diminum, jangan dianggurin. Harga anggur lagi mahal," candanya.


"Eh, tadi kita disuruh kemari buat apa, Niken? Kamu bilang butuh bantuan?" tanya Rifki pada Niken.


"Tadinya sih, aku mau minta bantuan kalian buat bersih-bersih lantai dan taman, tapi tadi sudah ada Karim dan Siti, asisten rumah tangga di rumah mama mertuaku, jadi terserah kalian mau apa," tutur Niken agak sungkan pada kedua temannya.


"Kalau Siti cuma sendirian membersihkan rumah sebesar ini, ya kasihan lah, Niken," cetus Rifki.


"Alat bersih-bersihnya mana, Niken? Kita bantu Siti aja yuk!" tanya Erika.


"Ada di gudang," jawab Niken. Ayo kita ambil bareng!" ajaknya.


Niken dan Erika bergegas menuju ke gudang yang ada di samping dapur.


"Erika, kamu masuk duluan dech, aku takut banyak kecoa," ucap Niken mendorong tubuh Erika.


"Aku juga jijik kali, Niken," sahut Erika tak mau mengalah.


"Terus gimana dong?" tanya Niken bingung.


"Kembali ke depan lagi aja yuk!" ajak Erika. "Eh, kemarin Mas Rifki bilang kamu mau minjamin kebaya, mana?" tanya Erika.


"Ada kok di mobil, mau dicoba sekarang?" tanya Niken.


"Boleh, ambil gih," pinta Erika.


"Aku ambilin kebayanya, kamu panggil Rifki ke depan gih," perintah Niken.


"Siap, Tuan putri!" ucap Erika seraya mengangkat tangan kanannya dan menempelkannya di dahi tanda hormat.


Mereka melakukan apa yang ditugaskan oleh Niken.


"Mas," panggil Erika manja menghampiri dan menggelayut di pundak Rifki yang masih duduk di sofa.


"Iya, Ay?" sahut Rifki menautkan alisnya, ia tersenyum geli melihat tingkah calon istrinya yang manja.


"Ambilin, alat kebersihan di gudang. Aku takut banyak kecoanya," jawab Erika.


"Oh, jadi ini lagi merayu ceritanya?" tanya Rifki dengan senyumnya yang belum pudar.


"Ih, Mas Rifki," cebik Erika memukul punggung Rifki lalu melangkah menyusul Niken.


Erika menerima paper bag yang di sodorkan oleh Niken setelah menutup pintu mobilnya. Mereka melangkah beriringan masuk ke dalam rumah.


"Dicoba dulu aja di kamar tamu, Erika!" suruh Niken.


Tanpa menyahut Erika menyeret kakinya masuk ke dalam kamar tamu dan menutup pintunya.


Rifki dari dalam gudang mengambil alat penyedot debu atau vacum cleaner. Ia membersihkan kamar yang ada di lantai atas terlebih dahulu baru kemudian seluruh ruangan. Sementara Tania membantu membersihkan perabot dengan lap kain.


🌸🌸🌸🌸🌸


Usai acara bersih-bersih, Rifki mengantar Erika terlebih dahulu pulang ke rumahnya. Sementara Tania diantar oleh Niken pulang ke rumah Bu Retno.


Saat dalam perjalanan, Niken mencoba mengorek keterangan tentang keluarga Tania.


"Tania, apa kamu punya kerabat atau saudara di Kota ini?" tanya Niken membuka percakapan dalam keadaan fokus memegang setir.


"Keluarga Ayahku semuanya di kampung, Mbak. Kalau keluarga ibuku tidak tahu, karena aku tidak begitu mengenal dengan keluarga Bunda. Karena Bunda telah meninggal sejak aku masih bayi," jawab Tania menoleh kearah Niken.


"Tapi benar lho, kamu mirip seseorang," ucap Niken lagi.


"Mungkin kebetulan, Mbak. Artis Raffi Ahmad dan Sule saja ada yang mirip kok, dan mereka bukan siapa-siapa," timpal Tania yang tetap menampilkan senyum di wajahnya.


"Iya juga ya," sahut Niken mengiyakan, tetapi dia belum ikhlas dengan perkataan Tania, tapi ya sudahlah. Niken mencoba menepis keyakinannya.

__ADS_1


Niken menyuruh Tania untuk membawa semua makanan yang ada di rumahnya, sayang kalau ditinggal tidak ada yang memakannya.


"Enggak mampir dulu, Mbak?" tanya Tania saat turun dari mobil Niken di depan gang.


"Lain kali saja, Tan. Lagian sudah hampir Maghrib," sahut Niken menolak ajakan Tania.


"Terimakasih banyak ya, Mbak. Hati-hati nyetirnya, jangan ngebut!" ujar Tania.


"Sama-sama, Tania. Mbak juga terimakasih banyak sama kamu udah dibantuin. Mbak langsung pulang ya," pamit Niken.


Niken segera melajukan mobilnya membelah jalanan yang mulai meremang karena senja yang temaram.


Sesampai di rumah, Tania langsung menerobos masuk ke dalam kamar mencari keberadaan suaminya. Senyumnya mengembang tatkala netranya melihat keberadaan Edos yang tengah duduk di kursi rodanya menghadap ke jendela.


Tania memeluk Edos dari belakang, mengalungkan lengannya ke dada suami tercinta. Ia mencium rambut sang suami dengan lembut.


"Ehmm, wangi," ucap Tania mengomentari aroma yang tertangkap oleh hidungnya.


Edos mendongakkan wajahnya demi melihat raut wajah sang istri, membuat Tania mau tak mau harus terdorong untuk menciumnya.


Tanpa sengaja mata Tania menatap layar telepon seluler yang dipegang Edos. Timbul pertanyaan dalam benaknya.


"Kamu buka aplikasi itu juga ternyata, Yank?" tanya Tania melihat di layar ponsel suaminya terpampang aplikasi novel online.


"Iya, iseng daripada suntuk," jawab Edos dengan senyum mengembang.


"Coba lihat!" pinta Tania meraih ponsel suaminya, dan membuka akun di aplikasi novel online tersebut. "Wow, udah nulis juga. Ternyata udah banyak, kok nggak bilang sama aku sih?" Tania protes karena Edos tidak memberitahunya bahwa dia menulis novel di aplikasi novel online tersebut.


"Aku malu sama kamu, Say," jawab Edos tersenyum pada Tania.


Tania menyerahkan kembali ponsel yang dipegangnya kepada pemiliknya. Tiba-tiba ia mempunyai inisiatif untuk menanyakan sesuatu hal.


"Yank, kalau aku ambil sift malam boleh enggak?" tanya Tania menyandarkan janggutnya pada pundak untuk meminta izin pada Edos.


"Apa kamu enggak capek, terus pulangnya bagaimana? katanya Mas Rifki udah enggak kerja bareng kamu." Edos menjawab pertanyaan Tania dengan pertanyaan pula.


"Kan siang hari istirahat, Yank. Pulang pergi bisa pakai ojek online," jawab Tania.


"Terimakasih, Yank. Aku janji akan baik-baik saja."


"Udah sore, bentar lagi Maghrib. Kamu enggak mandi, Yank?" tanya Edos yang memperhatikan istrinya sejak pulang seperti tidak ada niat untuk mandi.


"Apa badanku bau ya?" tanya Tania, ya mencoba menciumi ketiaknya sendiri sebelah kiri dan kanan. "Enggak bau," Tania menjawab sendiri pertanyaannya. Edos hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya itu.


"Memang kamu sudah mandi?" tanya Edos lagi.


"Tadi aku sudah mandi di rumahnya Mbak Niken, temannya Mas Rifki yang tadi aku ceritakan di WA itu loh, Yank. Ini juga baju yang kupakai pemberian dia. Ternyata dia itu designer, Yank. Barusan aku pulang diantar dia," tutur Tania dengan antusiasnya.


Edos hanya manggut-manggut tanda percaya pada sang istri. "Kok pulang sama dia, terus Mas Rifki nggak pulang?" tanyanya.


"Mas Rifki nganter Mbak Erika dulu. Daripada bolak-balik lagi, Mbak Niken yang antar aku sekalian mau ke butiknya," jawab Tania.


Rifki baru sampai di rumah ketika Maghrib tiba. Sehabis sholat maghrib ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Tania. Mereka berlima tengah berkumpul di meja makan, Bu Retno, Pak Rasyid suaminya Bu Retno, Rifki, Tania dan Edos.


"Tan, akhir Minggu besok ARD's Corp akan merayakan ulangtahun perusahaan di hotelnya, dan butuh tenaga tambahan freelance, apa kamu berminat?" tanya Rifki pada Tania.


"Serius, Mas?" tanya Tania antusias dengan wajah yang berbinar. "Tapi aku sih terserah suamiku, boleh enggak, Yank?" Tania beralih bertanya pada sang suami.


"Apa kamu bisa menjamin keamanan Tania, Rif?" tanya Pak Rasyid pada Rifki.


"Kamu juga di sana kan, Rif? Kamu bisa jaga Tania? jangan sampai sesuatu terjadi lagi pada anak perempuan ibu!" tukas Bu Retno.


"In sya Allah aman kok, Bu. Penjagaan di sana ketat, banyak satpam dan bodyguard juga," jawab Rifki.


"Kalau Mas Rifki bisa menjamin keamanan mu, boleh, Say," jawab Edos.


Tania yang merasa sangat senang langsung menghambur memeluk Edos yang ada di sampingnya, "terimakasih, Yank," ucapnya.


"Ya ampun, ini pasangan imut nggak tahu tempat. He, di sini masih banyak orang main peluk-peluk aja!" seru Rifki yang kikuk melihat Tania memeluk suaminya.


"Mas Rifki sirik aja dech, makanya cepat menikah biar bisa kayak kita ya, Yank," ucap Tania yang tidak menggeser jarak dari suaminya. Ucapan Tania membuat Rifki terpojok.

__ADS_1


Bu Retno dan Pak Rasyid hanya tertawa.


"Dengerin tuh, Rifki!" Bu Retno malah semakin memojokkan Rifki.


"Iya, ini juga masih proses menuju ke sana kok, Bu, Pak. Bulan depan kita akan melamar Erika," jelas Rifki.


"Bapak dan Ibu sudah siap kapanpun kamu mengajak kami untuk melamar Erika, Rifki," seloroh Pak Rasyid. Pria yang berkerja sebagai tukang sayur keliling itu sangat senang mendengar putra semata wayangnya akan segera menikah.


Setelah Makan malam selesai, Tania bersiap-siap untuk berangkat ke minimarket untuk mengambil sift malam, waktu kerja sift malam berlangsung antara pukul 20.00 wib hingga pukul 02.00 dini hari.


Tania sudah meminta kepada pengemudi ojek online kenalannya agar tetap terjaga pada jam-jam tersebut, sehingga ketika Tania melakukan orderan dapat pengemudi dapat langsung meluncur ke TKP.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sejak acara bersih-bersih rumah tadi siang, Niken kembali teringat Tania yang mirip dengan seseorang, dan seseorang itu adalah adik iparnya sendiri, Aghni. Mereka benar-benar seperti pinang dibelah dua. Bedanya di sudut bibir Aghni ada tahi lalat kecil, jika dilihat dari kejauhan pun tidak kelihatan. Entah jika mereka disandingkan, mirip atau tidak.


Terbersit fikiran dalam benak Niken untuk menanyakan kepada Mama mertuanya, Dewi. Namun karena kesibukan yang padat, banyak pesanan di butiknya, hingga ia lupa dengan maksudnya tersebut.


Niken berkerja di sebuah ruangan di lantai atas butiknya, ruangan yang didesain sangat apik yang membuatnya betah berada di butiknya, Kumala Butik. Ada kamar tidur di lantai dua tersebut. Sedangkan dapur berada di lantai satu.


Niken setiap malam tidur di butik sendirian, terkadang ia ditemani asistennya, Zila. Ia bekerja hingga larut malam. Terkadang ia tertidur di lantai yang hanya dialasi dengan karpet bulu tebal.


Malam ini ia sedang asik menggambar long dress, sesekali ia melirik ponsel yang ia letakkan di sampingnya, tertera nama My Hubby dalam pesan WhatsApp nya.


My Hubby


[Akhir Minggu ini dandan yang cantik, aku akan menjemputmu untuk datang ke perayaan ulang tahun perusahaan Papa.]


Niken tersenyum senyum sendiri mendapat pesan orang yang dirindukannya. Hingga larut malam ia terus memikirkan sang suami. Ia kini bagaikan anak ABG yang sedang pertama kali jatuh cinta. Perempuan yang kini berusia 25 tahun tersebut kini bangkit dan menghempaskan tubuhnya pada kasur springbednya.


Ternyata kamu masih ingat punya istri juga, Mas. Apa selama ini aku kurang cantik? hingga tak sekalipun kamu memandangku, gumam Niken.


Lelah berandai-andai, mata Niken pun akhirnya terpejam.


🌸🌸🌸🌸🌸


Sementara di depan Ardimart, Tania yang sudah mengganti pakaian seragam kerjanya dengan pakaian biasa, tengah menunggu kedatangan pengemudi ojek online karena jadwal siftnya telah habis, dan telah diganti sift berikutnya.


Rasa lelah dan mengantuk nampak terpancar dari wajah Tania yang sedang duduk di kursi yang disediakan di teras mini market.


Gadis yang sekarang memakai baggypant warna krem dengan atasan kaos street yang ditutup dengan sweeter Hoodie warna abu-abu tersebut sedang bermain ponsel untuk mengusir kebosanan karena menunggu pengemudi ojek online yang tak kunjung datang.


Orang-orang masih lalu lalang keluar masuk minimarket, meskipun waktu sudah menunjukkan dinihari. Namun Tania tidak memperdulikan mereka, dalam benaknya saat ini hanya satu, ia ingin pulang karena sudah rindu dengan kasur yang empuk dan pelukan hangat suami tercinta.


Tiba-tiba seorang pria duduk di kursi di sebelah Tania.


"Hai, Cantik. Lagi nunggu pelanggan ya? Udah jam segini paling nggak datang, pulang sama aku aja yuk!" rayu pria tersebut.


Namun Tania tidak memperdulikan keberadaan pria disampingnya, ia masih menunduk dengan tubuh gemetar, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Rasanya dingin sekali ditambah udara malam yang dingin.


Tania begitu ketakutan, ini adalah pengalamannya yang pertama kali pulang hingga larut malam, bahkan dinihari. Wajahnya kini pucat pasi. Novel dalam aplikasi kesukaannya yang ia buka, tidak satupun yang terbaca. Ia hanya membuka, menscroll, menutup dan membuka kembali novel yang lain tanpa membacanya.


"Cantik, nggak usah takut. Aku bukan orang yang jahat kok. Aku berani membayar lebih tinggi dari pelanggan mu. Berapa tarif kamu biasanya?" tanya pria itu lagi.


Tet tet...


Bunyi klakson sepeda motor dengan seorang pria berpakaian jaket hijau, mengagetkan sekaligus membuat hati Tania Lega. Tania kini sudah berani menoleh ke arah pria disampingnya.


"Maaf, Om. Anda salah, pelanggan ku sudah datang," ucap Tania kepada pria di sebelahnya, sejenak kemudian ia beranjak setengah berlari menghampiri tukang ojek yang dipesannya.


"Om, beraninya kamu panggil aku 'Om'!" gumam pria tersebut menatap kepergian Tania dengan ojeknya.


.


.


.


Happy reading semoga suka


Jangan lupa like dan komen ya

__ADS_1


tararengkiuuh 😘 😘😘


__ADS_2