
Niken terjaga saat suasana masih hening. Tubuhnya terasa berat, ternyata lengan kekar Bram menindih perutnya. Ia sempatkan memperhatikan ruangan kini ia berada. Ruangan asing yang sebelumnya belum pernah ia tempati. Pasti ini apartemen Mas Bram, pikirnya. Karena sebelum ia tertidur memang Bram sempat bilang mau membawanya ke apartemen miliknya. Niken juga baru menyadari jika pakaian yang membalut tubuhnya bukan pakaian yang ia pakai saat pulang dari Bandung. Ia membalikkan badannya, suaminya masih terlelap dengan nyaman.
"Mas, bangun sudah subuh!" ucapnya sambil menepuk lembut pipi suaminya.
"Hemmm," gumam Bram masih dengan mata terpejam semakin mempererat pelukannya.
"Bangun Mas ih!" ucapnya sekali lagi.
"Lima menit lagi sayang, Mas masih ngantuk banget," janji Bram masih dengan mata terpejam.
"Ya sudah, aku shalat dulu ya," ucapnya berusaha melepaskan pelukan Bram. "Lepasin, Mas ih," cicit Niken.
"Mas bilang lima menit lagi, nanti kita sholat bareng," timpal Bram.
"Nanti malah ketiduran lagi, Mas. Bisa-bisa kebablasan," sergah Niken. "Ayo bangun, nanti bisa tidur lagi setelah subuhan," imbuhnya.
Bram pun membuka mata. "Mas mau menyiram tanaman," ucapnya.
"Iya, terserah Mas Bram saja, tapi lepasin dulu," sergah Niken. Bram pun melonggarkan pelukannya.
'Mas Bram memangnya punya tanaman di mana? Di balkon? Apa enggak mati ditinggal selama berbulan-bulan?' pikir Niken sambil melangkah ke kamar mandi.
Setelah mengambil air wudhu, mereka sholat berjamaah. Usai berdzikir Niken mencium punggung tangan suaminya, kemudian Bram mencium kening Niken. Tiba-tiba Bram mengangkat tubuh Niken dan membaringkannya di ranjang.
"Mas, tadi bilang mau menyiram tanaman?" tanya Niken mengingatkan.
"Mas mau menyiram tanaman yang di sini," jawab Bram tersenyum jahil sembari mengelus perut Niken. "Biar makin subur," imbuhnya.
Niken menepuk keningnya sendiri, "Capek dech," ucapnya.
Bram hanya tertawa tidak mempedulikan tanggapan Niken. Ia melepas mukena yang masih membalut tubuh istrinya tersebut. kemudian melepas pakaiannya sendiri menyisakan sarung.
"Mas, nanti kalau habis olah raga kita kelaparan kan belum ada persediaan makanan?" cegah Niken.
"Kita makan peuyeum, minumnya air mineral. Di bawah ada food court, ada penjual bubur ayam juga kok, jam segini pasti sudah buka," timpal Bram."
Tanpa aba-aba, Bram menempelkan bibirnya di atas bibir Niken. Menciumnya dengan perlahan, hingga Niken ikut terbuai dalam ciuman lembut Bram yang perlahan-lahan mulai memanas. Niken refleks mengalungkan tangannya di leher suaminya. Begitu juga Bram, tangannya mulai membuka satu-persatu kancing baju yang dipakai Niken. Deru napas mereka saling bersahutan ketika pagutan itu terlepas untuk mengambil oksigen yang kian menipis, belum sempat Niken berbicara, Bram kembali membungkamnya dengan ciuman yang begitu memabukkan. Hingga mereka terbuai dalam lautan api cinta yang kian membara, kemudian yang terdengar hanya suara erangan dan desahan yang saling bersahutan memenuhi ruangan itu. Hingga mereka sama-sama terlelap karena kelelahan.
"Mas, bangun sudah jam tujuh," kembali Niken yang pertama kali terjaga untuk membangunkan Bram.
"Hemmm," kembali dehaman yang keluar dari mulut Bram.
"Mas meeting jam berapa?" tanya Niken.
"Jam sembilan," jawab Bram dengan suara serak masih dengan mata tertutup.
"Memangnya Mas sudah pelajari berkasnya?" tanya Niken lagi.
Bram membuka matanya. "Rifki sudah mengirimkan filenya dalam bentuk PDF, kenapa?" jawab Bram kemudian bertanya.
"Mandi gih, perutku sudah lapar. Anakmu kepengen makan bubur ayam yang Mas tadi bilang," cicit Niken yang duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk.
Bram pun bangkit menghampiri Niken. "Sabar ya, Sayang. Tunggu Papa mandi sebentar," ucapnya sembari mengelus dan menciumi perut Niken, mencuri ciuman di bibir istrinya tersebut. Bram kemudian segera berlari menuju ke kamar mandi dan menutup pintunya. Niken hanya geleng-geleng kepala.
Sembari menunggu suaminya selesai mandi, Niken memakai kerudung dan berdandan tipis-tipis. Ia meraih tas selempang, kemudian melangkahkan kakinya ke luar kamar dan duduk di sofa ruang tamu. Sepuluh menit kemudian Bram keluar kamar juga dengan memakai kaos berkerah lengan pendek, juga celana kimpul selutut. Niken nampak mengernyit melihat penampilan suaminya.
"Mas, mulai sekarang kalau keluar rumah pakai celana panjang. Celana segitu kan tidak menutup aurat," protes Niken.
Bram menghentikan langkahnya, kepalanya menunduk ke bawah memandang lututnya. Kemudian kembali memandang ke arah Niken. "Ini masih nutup aurat, Sayang. Aurat laki-laki itu dari pusar sampai lutut," elak Bram.
"Aku enggak suka ya," kekeuh Niken.
Ya udah dech, batin Bram. Bram pun akhirnya kembali ke dalam kamar, lalu mengganti celana kimpul selututnya dengan celana joger training. Belum sempat ia keluar kamar, pikirannya kembali berubah. Pukul 09.00 ia sudah harus berada di kantor. Dari pada nanti ganti celana lagi, mendingan ia pakai celana kerja sekalian saja. Bram pun keluar kamar.
"Mas enggak punya celana santai apa?" cela Niken lagi.
"Punya," jawab Bram singkat sambil melangkah mendekati istrinya.
"Kenapa pakai celana kerja?"
"Satu jam lagi Mas juga berangkat ke kantor, dari pada sekarang ganti celana santai terus nanti ganti lagi celana kerja. Ini jadi mau makan bubur ayam enggak sih? Atau mau nungguin Mas bolak-balik ganti celana saja?" ucap Bram tersenyum jahil.
"Jadi lah, ayo!" ajak Niken. Ia segera bangkit dan melangkah ke luar terlebih dahulu meninggalkan suaminya.
"Niken, tunggu Mas Bram kenapa?" Bram dengan cepat menutup dan mengunci pintu. Lalu mengejar istrinya. Ternyata Niken berhenti. "Enggak tahu jalannya ya?" goda Bram.
__ADS_1
"Iya," jawab Niken tersenyum malu. Bram pun menggandeng tangan Niken.
"Nanti siang kamu mau tinggal di apartemen saja, atau mau ikut Mas ke kantor?" tanya Bram saat mereka di dalam lift.
"Nggak ke dua-duanya lah, Mas?" jawab Niken ambigu.
"Terus?"
"Aku mau mengecek butik sebentar, lalu nanti mau ke rumah mama. Nanti sore Mas jemput aku di rumah Mama ya, mas sudah lama kan tidak ke rumah Mama Zaida," tutur Niken.
Bram terdiam membenarkan ucapan Niken. Ia memang tidak pernah mengunjungi rumah mertuanya. Saat ijab qobul pernikahannya dengan Niken, itulah yang terakhir kali.
"Mungkin Mas akan pulang sampai larut malam, karena Mas kan sudah lama enggak ke kantor, Sayang," sahut Bram.
"Ya udah, nanti malam kita menginap di rumah mama saja. Nanti aku bawakan baju ganti untuk Mas Bram, gimana?" tanya Niken.
"Iya, Mas setuju. Mas juga belum pernah merasakan menginap di rumah mertua indah," jawab Bram terkekeh. Niken pun ikut tertawa.
Pintu lift terbuka, Bram menggandeng tangan istrinya keluar dari lift. Mereka melangkah ke luar gerbang apartemen.
"Kok keluar Mas, katanya food court nya ada di lantai bawah?" tanya Niken yang heran.
"Iya food court di lantai bawah, tapi warung bubur ayam ada di depan sono noh," jawab Bram sambil menunjuk ke taman yang ada di depan komplek apartemen.
🎉🎉🎉🎉🎉
Beberapa hari ini cuaca begitu memeras keringat, hawa panas menyelimuti bumi. Langit sempat mendung namun tidak sampai turun hujan.
Edos nampak mondar-mandir bagai setrikaan di depan ruang operasi. Sudah 45 menit lampu di atas pintu ruangan tersebut menyala berwarna merah.
"Edos, duduk sini! Kamu bikin orang-orang tambah panik saja," ucap Juragan Burhan setengah berbisik namun masih terdengar oleh orang-orang yang sedang duduk di sana.
Edos pun duduk di samping papanya, namun tangannya terus bergerak tidak dapat menyembunyikan kepanikannya. Sepuluh menit kemudian, lampu di atas pintu ruang operasi berubah menjadi hijau, menandakan bahwa proses operasi telah selesai. Tidak lama kemudian, dokter yang mengoperasi Tania dan seorang perawat keluar dari ruangan. Edos menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana kondisi istri saya, dok?" tanya Edos.
"Ibu dan bayinya semua sehat, mereka sedang dibersihkan. Mohon bersabar ya, saya permisi," jawab dokter tersebut terburu-buru.
Edos kembali duduk di kursi tunggu di samping Juragan Burhan. "Masih dibersihkan, Pa," ucap Edos pada papanya.
"Baik, Pa," sahut Edos, ia langsung berdiri mencari keran air terdekat untuk mengambil air wudhu.
Tidak berapa lama kemudian, pintu ruangan operasi dibuka dari dalam, seorang perawat keluar dengan menggendong bayi di tangannya, di belakangnya terlihat seorang perawat laki-laki mendorong brangkar yang di atasnya berbaring Tania.
"Keluarga Ibu Tania!" seru perawat yang menggendong bayi.
"Ya suster," sahut lima orang yang berdiri dari duduknya serempak seperti dikomando.
Perawat tadi tersenyum, "Mari ikut kami, Pak, Bu," ajak suster tersebut ramah.
Mereka berlima mengikuti perawat tersebut membawa Tania dan bayinya. Edos, juragan Burhan, Nurlita, Dewi dan Tuan Ardiansyah. Tania dibawa masuk ke ruang rehabilitasi, sementara bayinya dibawa ke ruang bayi dan diletakkan di dalam box bayi. Edos meminta ijin kepada perawat untuk mengazani bayinya, setelah selesai, ia mengembalikan bayi tersebut ke dalam box.
Edos menyusul Tania masuk ke dalam ruang rehabilitasi, dan duduk di samping brangkar tempat Tania terbaring.
"Yank, gerah. Kipasin!" pinta Tania.
Ruangan tersebut memang dibuat hangat untuk mengantisipasi pasien yang mengalami hipotermia. Tania di tempatkan di ruangan tersebut hingga pengaruh biusnya hilang. Setelah pengaruh biusnya hilang maka ia akan mendapatkan suntikan anti biotik pertama, dan selanjutnya suntikan tersebut akan diulangi setelah enam jam sekali hingga hari ke tiga.
"Kipasin pakai apa? Nggak ada apapun di sini," sahut Edos.
"Kipas seperti itu, mereka beli di kantin," jawab Tania sambil menunjuk kipas yang dipakai oleh pasien lain di sebelahnya.
"Kalau gitu aku beli dulu sebentar," ucap Edos yang langsung beranjak pergi.
"Edos, kamu mau ke mana?" tanya Dewi yang melihat menantunya hendak meninggalkan ruangan.
Edos menghentikan langkahnya. "Mau ke kantin, Ma. Mau beli kipas, Tania minta dikipasi," jawab Edos.
"Biar Mama yang belikan, sekalian Mama mau beli air mineral. Kamu kembali lagi saja ke dalam," cegah Dewi.
"Baik, terima kasih, Ma," ucap Edos lalu kembali ke dalam ruangan.
"Kok, cepet banget? Mana kipasnya?" tanya Tania.
"Mama Dewi yang mau beli, katanya sekalian mau beli minuman," sahut Edos.
__ADS_1
"Oo gitu. Eh Yank, udah lihat anak kita belum?" tanya Tania.
"Udah, tadi udah aku azani juga," jawab Edos.
"Udah siapin nama?" tanya Tania lagi.
"Udah, tapi buat perempuan, hehe," jawab Edos terkekeh.
"Kok perempuan?" cebik Tania.
"Habis kamu enggak mau tanya ke dokter jenis kelaminnya apa, kamu bilang biar jadi kejutan. Aku cuma punya nama untuk bayi perempuan, untuk bayi laki-laki belum sempat nyari, hehehe" tutur Edos.
"Ya udah, pakai nama yang sudah aku siapkan saja kalau gitu," cetus Tania.
"Siapa?"
"Muhammad Akhtar Firdaus, panggilannya Atar. Akhtar itu artinya cemerlang," tutur Tania dengan mata berbinar.
"Papa sama Mama memanggilku Azhar, tapi teman-temanku manggil Edos, mereka jadi ikut-ikutan, hehehe. Kalau nanti teman-temannya manggil Edos juga gimana? Nyamain ayahnya donk," sergah Edos terkekeh.
"Enggak apa-apa kan, Edos junior," sahut Tania.
"Iya terserah bunda. Bunda yang susah payah, Bunda yang ngerasain sakit, Ayah setuju saja," ucap Edos tersenyum. Ia lalu mencium kening istrinya.
"Banyak orang, Yah," cebik Tania.
"Enggak apa-apalah, cium kening doank. Kan tadi pagi udah nabung buat stok puasa dua bulan. In sya Allah ayah kuat," bisik Edos tersenyum manis. Tania tersenyum.
"Eh, kan yang dibelah perutnya. Emang yang bagian itu bisa keluar darahnya?" tanya Edos absurt.
"Eh, memang kamu pas nanam lewatnya mana? Nadia saja yang enggak diambil bayinya juga keluar darah di bagian itunya kok," cebik Tania.
Tania mulai gelisah, lukanya mulai terasa nyeri. "Mama kenapa lama banget sih beli kipas?" gumamnya.
Baru diomongin sudah nongol orangnya. "Maafin Mama ya, Sayang. Tadi ngantri beli capuccino buat papa kamu," ucap Dewi yang belum sempat ditanya. "Ini kipasnya, Kamu pucat banget, Sayang?" tanyanya.
"Perutku sudah mulai terasa sakit, Ma," jawab Tania.
"Sabar ya, Sayang. Bentar lagi pasti ada perawat ngasih suntikan anti biotik," bujuk Dewi sambil mengelus puncak kepala Tania.
Edos mulai mengipasi Tania yang berkeringat. Dan benar saja, tidak lama kemudian datang seorang perawat yang menyuntikan anti biotik ke pangkal selang infus yang menempel di lengan Tania. Diikuti oleh dua orang perawat laki-laki yang bertugas memindahkan Tania ke ruang rawat yang sudah dipilih.
"Mama sama Papa nanti malam menginap di hotel yang dekat rumah sakit saja ya, soalnya kalau pulang ke rumah Tania kan kejauhan. Besok pagi baru jaga Tania di sini gantian sama Mama Nurlita dan Papa Burhan," usul Tania saat sudah di ruang VVIP.
"Iya nanti malam, sekarang kan masih siang, Papa masih mau menemani cucunya," sahut Dewi.
"Sekarang juga enggak apa-apa, Ma. Kasihan Papa enggak bisa rebahan," timpal Tania.
"Ya udah, Mama pamit sekarang. Titip Tania ya Edos," ucap Dewi, setelah itu mencium kening putrinya. lalu keluar dari ruangan tersebut.
"Masih mau dikipasin?" tanya Edos.
"Enggak lah, AC udah dingin gini."
"Terus kenapa?"
"Udah boleh minum belum sih, Yank? Haus nih," tanya Tania.
"Nanti tanya suster yang datang saja. Tidur dulu saja, Ayah juga mau tidur di sofa."
Tania mengangguk, Edos pun meninggalkan Tania dan meringkuk di sofa. Tidak berselang lama, sudah terdengar dengkuran halus di ruangan tersebut. "Mana bisa tidur kalau ada dengkuran," cebik Tania.
.
.
.
The End
Sampai jumpa di sesion 2 "2x Menikah dengan Sepupu". Jangan lupa baca juga yang akan segera launching "Titian Cinta Nadia" ya🙏
Terima kasih atas segala partisipasi kalian semua baik like, komen, vote dan tips maupun rate 5
__ADS_1
Tararengkiuuh 😘😘😘😘😘