
Tania kini telah dipindahkan ke ruang rawat. Di sana bayinya sudah menunggu di dalam sebuah box.
"Kalau reaksi biusnya sudah habis bisa latihan duduk, miring ke kiri dan ke kanan ya, Mbak. Nanti dedek bayinya bisa langsung disusui," ucap suster yang mengantar kepada Tania yang dijawab dengan anggukan.
"Eh lupa, Dede bayinya kan udah dikasih nama," ungkap suster yang otomatis membuat Tania membelalakkan mata.
"Nama? Siapa? Siapa yang kasih nama bayiku?" cecar Tania.
"Iya tadi yang mengadzani bayi Mbak Tania katanya ayahnya. Dia langsung kasih nama buat si Dede. Tuh, di papan box sudah ada namanya," sahut Suster menjelaskan.
"Oo, Kak Bizar sudah datang. Memangnya nama bayi saya siapa, Sus?" tanya Tania lagi hanya bisa melihat box bayi dari tempatnya berbaring.
"Ainayya Nayra Tsabitah," sahut suster sambil mengeja tulisan di papan kecil.
"Nama yang cantik. Kenapa kak Bizar tidak merundingkannya denganku?" gumam Tania.
"Emm, Bu, ini Mbak Tania sudah boleh langsung dikasih minum teh hangat biar perut tidak kembung, sedikit-sedikit saja jangan diteguk banyak langsung," imbuhnya lagi beralih kepada Dewi yang mengikuti mereka sejak keluar dari ruang operasi.
"Oo sudah boleh ya, sus?" sahut Dewi bertanya.
"Iya, Bu, boleh kalau cuma teh hangat, itu di atas meja sudah ada termos berisi air panas, ada gula dan teh sachet juga jika hendak membuat teh manis hangat. Saya pamit mau melanjutkan tugas lainnya," pamit suster sambil menunjukkan sesuatu.
"Iya, suster. Silakan," sahut Dewi yang kini tengah duduk di sebuah kursi.
"Oh, iya, itu di atas head board ada tombol darurat, bisa ditekan jika memerlukan sesuatu atau memanggil perawat yang berjaga," tunjuk suster lagi.
"Iya, Sus. Terimakasih," sahut Dewi.
Perawat itupun keluar meninggalkan ruang rawat Tania. Dewi bangkit dari tempat duduknya, menghampiri meja yang di atasnya ada termos, gelas, gula dan teh sachet untuk menyeduh segelas teh.
Setelah selesai dan teh turun temperatur menjadi hangat-hangat kuku, Dewi mendekatkan kepada Tania dan membantu meminumkannya dengan menggunakan sedotan, karena reaksi bius belum hilang dan Tania belum bisa duduk.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum."
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu diiringi dengan salam. Dewi meletakkan gelas yang dipegangnya ke atas meja, lalu melangkah menghampiri pintu untuk membukanya. Saat pintu dibuka ada dua orang pria dan seorang wanita dewasa berdiri di depan pintu.
"Abizar, Mbak Lita, Kang Burhan, mari masuk, tapi hanya boleh dua orang saja yang di dalam ruangan menemani pasien," ucap Dewi.
"Bizar sama mama saja yang masuk," sahut Abizar menoleh kepada ibunya.
"Kamu ikut Kang Burhan saja, Wi. Kita ngomong di taman," ajak juragan Burhan terhadap adiknya.
"Ya udah ayo, Kang," sahut Dewi.
Dewi mengikuti ajakan sang kakak, mereka berjalan melewati koridor meninggalkan ruang tempat Tania dirawat. Suasana di luar nampak gelap karena hari memang sudah malam. Sementara Abizar mengajak sang mama masuk ke dalam.
"Kak Bizar, Mama," panggil Tania kepada dua orang yang baru masuk.
Kedua orang yang dipanggil tersebut menghampiri Tania dan mencium keningnya bergantian.
"Kak Bizar dari mana?" tanya Tania.
__ADS_1
Abizar mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari Tania. "Bukannya waktu itu Kakak udah pamit mau pulang kampung sama kamu?" sahutnya dengan pertanyaan pula.
"Jadi kakak baru sampai di sini? Lalu tadi yang ngadzanin bayi Tania siapa? Terus langsung kasih nama lagi," timpal Tania bertanya lagi. Abizar hanya mengedikkan bahunya.
"Kak Bizar memang baru sampai sini bareng Mama sama Papa Burhan, Tan," sela Nurlita yang kini tengah duduk di kursi samping box bayi, memandangi cucu keduanya dengan wajah berbinar. "Siapa pun yang mengadzani cucu Mbah Putri, Mbah Putri mengucapkan terima kasih padanya. Ya kan, Sayang. Mbah Ti panggil Bita ya," lanjutnya lagi sembari mengelus lembut pipi sang cucu yang masih tertidur lelap tanpa terganggu dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Tan, kakak mau menyampaikan sesuatu," ungkap Abizar kepada Tania.
"Bi, jangan sekarang. Nanti saja kalau Tania sudah sembuh," cegah Nurlita.
"Lebih cepat lebih baik, Ma. Tania harus segera tahu," tolak Abizar.
"Tapi Tania belum bisa bangun, Bizar. Buat berdeham atau bersin saja dia belum bisa," sekali lagi Nurlita menahan sang putra untuk menyampaikan maksudnya.
"Tidak apa-apa, Ma, Tania siap kok mendengarkan apa yang akan Kak Bizar sampaikan," sahut Tania mencoba menyiapkan diri akan apa yang akan terjadi.
"Enggak! Enggak boleh! Biusnya sudah hilang, Sayang? Ayo Mama bantu untuk latihan duduk dulu," tolak Nurlita, lalu ia menghampiri sang menantu mengajaknya untuk latihan duduk.
Tania yang merasa sudah bisa menggerakkan kakinya itu pun mengulurkan tangannya kepada Nurlita. "Memangnya Kak Bizar mau menyampaikan apa, Ma? Apa akta cerai kami sudah terbit?" tebaknya.
Nurlita pun kaget mendengar pertanyaan Tania. Alih-alih menahan keinginan Abizar untuk menyampaikan kabar berita kepada Tania, ternyata Tanianya sendiri sudah tahu apa yang akan disampaikan tersebut.
"Tidak usah memikirkan itu dulu, Tan. Yang penting kamu sembuh dulu," ucap Nurlita setelah membantu Tania duduk.
"Iya, Ma. Mama Lita baru sampai langsung ke sini apa enggak capek? Mama istirahat dulu gih di rumah," cetus Tania.
"Capeknya langsung langsung hilang setelah melihat kamu dan bayimu, Nak," sahut Nurlita.
Tania menerima bayinya dan menyusui di pangkuannya. Nurlita mengambilkan sebuah bantal untuk alas tidur Bita ketika menyusu.
"Alasi pakai bantal, Tan," ucap Nurlita sembari menyodorkan sebuah bantal.
"Kayaknya asisten Papa Ardi membelikan bantal khusus untuk menyusui deh, Ma. Tolong ambilkan, mungkin di dalam lemari itu, Ma," ucap Tania menunjuk ke sebuah lemari.
"Bantal menyusui? Ada-ada saja," sergah Nurlita. Namun ia melakukan juga permintaan menantunya. Perempuan paruh baya itu menghampiri sebuah lemari yang tadi ditunjuk oleh Tania lalu membukanya, mencari sebuah bantal yang dimaksud menantunya tersebut.
"Ketemu, Ma?" Tania memastikan.
"Iya ketemu ini masih terbungkus plastik," sahut Nurlita. Ia lalu mendekat kembali ke brangkar dengan sebuah bantal di tangannya.
"Kok kecil gitu ternyata bantalnya? Ini sih bantal lengan," ucap Tania.
"Adanya cuma ini, mau dipakai tidak?" timpal Nurlita bertanya.
"Pakai bantal biasa saja lah, Ma. Pakai bantal kecil gitu sih sama juga bohong. Maaf ya sudah merepotkan Mama," ucap Tania merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, ya udah angkat dulu Bita-nya," pinta Nurlita.
Tania mengangkat Bita tanpa mencabut ****** dari mulutnya, lalu Nurlita meletakkan bantal biasa yang tadi diambilnya melintang. Tania menurunkan kembali Bita di atas bantal.
"Langsung keluar ASI-nya, Tan?" tanya Nurlita memerhatikan cucunya menyedot dengan kuat.
"Iya nih, alhamdulilah, Ma," sahut Tania.
__ADS_1
"Bayi sekarang langsung minta susu ya. Beda sama waktu Atar lahir sehari semalam hanya tidur," timpal Nurlita.
Tania menyusui Bita hingga terlepas putingnya. Lalu ia menyerahkan kepada Mama mertua untuk meletakkan kembali ke dalam box bayi. Malam kian bertambah larut. Tania melihat ke arah sofa tempat Abizar duduk. Pemuda itu nampak terlelap tidur. Mungkin ia kelelahan karena habis melakukan perjalanan jauh.
"Tan, mama pamit pulang ya. Capeknya udah terasa sekarang," pamit Nurlita.
"Iya, Ma. Sekalian ajak Kak Bizar pulang gih, Ma, Biar istirahat di rumah," ucap Tania.
"Biarin saja tuh anak tidur di situ, nanti juga bangun sendiri," sahut Nurlita.
Nurlita keluar dari ruangan dan menutup pintu kembali. Setelah sang mama mertua pulang, Tania kembali merebahkan tubuhnya.
"Kak, bangun gih! Jangan tidur di sini. Tidur di rumah aja," lirih Tania membangunkan Abizar. Abizar menggeliat tetapi tidak membuka mata. Ia hanya membalikkan posisi tubuhnya yang semula miring ke kanan berbalik miring ke kiri menghadap sandaran sofa.
"Kak!" panggil Tania lagi yang kali ini dengan menambah volume suaranya.
Abizar mengerjapkan matanya. Ia nampak memandang ke sekeliling. Memindai tiap sudut ruangan yang bernuansa putih tersebut. Baru ia ingat bahwa kini ia tengah berada di rumah sakit.
"Tan, Mama mana?" tanyanya setelah mendapati Tania yang terbaring di atas brangkar.
"Pulang barusan, kata Mama kakak disuruh tidur di sini," sahut Tania.
"Pulang ke Batang?" tanya Abizar lagi yang belum terkumpul benar nyawanya.
"Enggak lah, ngaco kakak ini. Pulang ke rumah Papa Ardi lah," sahut Tania.
"Oo, kakak mau pulang juga ya. Kakak kan nggak paham urus mengurus bayi dan ibu yang baru melahirkan. Kamu ada yang nemenin 'kan?" ungkap Abizar.
"Iya, Mama Dewi nanti ke sini lagi kok," sahut Tania. "Padahal kakak bisa mulai belajar cara mengurus bayi kalau mau. Suatu saat kan kakak bakal jadi seorang ayah juga," pungkasnya.
"Enggak ah, kakak masih capek. Kalau nanti kakak beneran jadi seorang ayah beneran kakak pasti bisa meskipun tidak belajar," tolak Abizar.
"Kakak beneran enggak mau lihat bayi Tania? dia kan anak keponakan kakak juga," tawar Tania.
Mendengar hal itu, dengan berat hati Abizar melangkah menghampiri box bayi lalu membuka kain penutup box. Pria itu memandangi wajah bayi mungil tersebut tanpa berkata apapun lalu menutupkan kembali kain penutup box.
"Udah ya, Tan, kakak pamit," ucap Abizar. "Oh iya, kakak mau menyampaikan ini," imbuhnya lagi sembari merogoh sesuatu dari dalam saku dalam jaketnya.
Abizar lalu mengulurkan amplop berwarna coklat berukuran 15 x 20 cm kepada Tania. Tania nampak menerima amplop tersebut dengan tangan gemetar. Ia memandangi amplop yang berkop logo kementerian agama tersebut dengan perasaan gamang antara percaya dan tidak.
"Ini?" beo Tania.
"Iya, Tan. Itu akta cerai dari Pengadilan Agama. Jadi mulai sekarang secara negara kita sudah bukan suami istri lagi. Kamu senang kan? Itu yang kamu mau?" jelas Abizar tanpa mempedulikan perasaan wanita di hadapannya.
"Kenapa harus sesakit ini ya Allah? Padahal memang ini yang aku mau," batin Tania meraung. "Iya, Kak. Terima kasih sudah mengabulkan permintaan Tania," ucapnya.
"Ya sudah, kakak mau selesaikan sekarang juga biar enggak jadi beban. Kakak mau talak kamu secara Agama juga," cetus Abizar yang dijawab Tania dengan anggukan kecil hampir-hampir tak terlihat.
"Tania Sari Dewi binti Syarifuddin, saat ini juga aku jatuhkan talak kepadamu dengan talak tiga. Mulai sekarang kita bukan lagi suami istri," pungkas Abizar, lalu pria itu langsung keluar dari ruang rawat Tania.
Terima kasih sudah menghiasi laporan mingguan ku 😘
__ADS_1