
[Assalamu'alaikum, Akhii. Ente udah ketemu sama Tania belum? Ane dengan dia ngampus di tempat ente ngajar] Ozan Kubu.
[Belum, Bro] Amarente.
[Katanya dia kuliah di tempat ente ngajar?] Ozan Kubu.
Yang paling nyeleneh itu Fauzan dan Amar. Masa satu grup WhatsApp cuma dua anggota. Ozan Kubu alias Fauzan si kutu buku dan Amarente alias Amar yang suka manggil ente ane. Emangnya enggak ada teman mereka yang lain apa? Ada sih mereka berdelapan berteman dari SMA. Lima cowok dan dua cewek.
[Ya kali dia kelas manajemen, sementara Ane ngajar Bahasa Arab bisa sekelas? Sejak kapan, Bro?] Amarente.
[Wa'alaikumussalam, ampe lupa (emoticon tertawa)] Amarente.
[Ya ntar klo ketemu chat Ane donk] Ozan Kubu.
[Oke, tapi ada syaratnya] Amarente.
[Apa syaratnya?] Ozan Kubu.
[Biasa aja, makan gratis di Kafe ente.] Amarente
[Cuih, nggak modal banget hidup ente, Akhii.(emoticon kesal)] Ozan Kubu.
[Ozan, ente ke sini aja. Cosplay jadi kurir nganterin buku pesanan Ane yang kemarin kalau udah ready.] Amarente.
[Wah, good ideas! Kebetulan buku pesanan Ente udah datang barusan aja.] Ozan Kubu.
[Seriusan ternyata si Kubu (emoticon tertawa)]
Amar keluar dari ruang dosen. Kebetulan saat itu belum ada jadwal dia ngasih materi di kelas. Dia duduk di bangku balkon menghadap ke bawah. Dari sana pintu gerbang terlihat. Sambil ia menunggu kedatangan Fauzan sekalian bisa cuci mata 'kan.
Ekor matanya menangkap bayangan seseorang yang ia kenal. Tania? Yah, janda muda itu tengah bersama teman-temannya sepertinya berjalan ke arahnya. Mungkin mereka mau ke ruang dosen atau ke perpustakaan.
"Hai, Tania," sapa Amar.
"Eh ada Pak Ustadz Amar. Anda jadi dosen di kampus ini juga, Pak? Kok saya baru tahu ya?" tanya Tania.
"Saya baru masuk awal semester ini kok, Tan. Kalian mau kemana?" sahut Amar diakhiri pertanyaan. Jika nanti Fauzan menanyakan keberadaan Tania, laki-laki itu bisa menjawab. Lumayan kan nanti bisa dapat makan gratis.
"Kami mau ke perpustakaan. Mari, Pak," pamit Tania kemudian berlalu melewati Amar tanpa mempedulikan jawabannya.
"Tania, tunggu!" seru Amar.
Tania menghentikan langkahnya lalu menoleh. "Iya, Pak?"
"Dapat salam dari Mas Fauzan," sahut Amar tersenyum geli.
"Wa'alaikumussalam," jawab Tania tersipu.
Tania masih menundukkan kepalanya. Langkahnya menjadi tidak fokus gara-gara ucapan Amar. Ia melangkah mendahului temannya yang lain dengan tergesa.
"Fokus, Tan! Awas di depan kamu ada tem -." seru Nadia.
Belum selesai kalimat peringatan yang Nadia ucapkan, kening Tania sudah mencium tembok dengan cukup keras. Tania tidak menyadari ada tikungan di depannya.
"Aw!" Tania meringis menahan kesakitan. "Ada orang tersesat kok enggak ada yang ngingetin sih," gerutunya.
"Baru mau ngingetin udah nabras duluan kamunya," cicit Nadia.
Sampai di dalam perpustakaan Tania langsung menuju ke deretan rak buku. Namun, tidak satu pun buku yang diambilnya sesuai tujuan ia datang ke mari. Akhirnya ia mengambil buku asal dan membawanya ke meja baca. Ia duduk di kursi dan membuka buku yang ia ambil. Mati-matian Tania membuang perasaan galau yang menghantuinya, tetapi ia tidak dapat menghilangkannya.
"Permisi, boleh duduk di sini?" sebuah suara seorang pria seperti yang Tania kenal terdengar dari arah di depannya.
"Silakan, ini tempat umum kok," sahut Tania mencoba bersikap cuek.
"Terima kasih," ucap pria tersebut. "Kamu lagi belajar?" tanyanya.
"Iya, nanti ada kuis," sahut Tania.
__ADS_1
"Mata kuliah apa?" tanya pria itu lagi.
"Komunikasi Bisnis. Tolong jangan ganggu aku, Mas. Kalau mau baca buku silakan," sahut Tania memohon.
Pria itu masih tetap memandang ke arah Tania sambil tersenyum menahan tawa.
"Hebat ya kamu," puji Fauzan.
"Bisa diam enggak sih?" sergah Tania.
Pria itu semakin terkekeh. "Di balik sifat kamu yang judes, kamu ternyata lucu juga ya, Tan," ucapnya.
Tania tidak menggubris ucapan Fauzan. "Sejak kapan belajar Komunikasi Bisnis dari buku resep masakan? Kebalik lagi bacanya," sergahnya.
Mata Tania membola seketika memperhatikan buku yang ia pegang. Demi apa? Rasanya Tania ingin membenamkan diri ke dasar bumi saat itu juga. Malu? tentu saja. Rasanya ia juga ingin mutasi ke planet Mars seketika itu.
"Sini Mas tukar bukunya. Mas enggak akan ganggu kamu lagi," ucap Fauzan.
Fauzan menarik buku yang dipegang Tania lalu menggantinya dengan buku yang tadi dipegangnya. Pria itu lalu pergi meninggalkan perpustakaan.
Tania hanya melongo memandangi punggung pria itu hingga hilang di telan rak-rak buku.
"Terima kasih, Mas Fauzan," lirih Tania.
***
Usai kuliah Tania mengajak Nadia menemui papanya. Saat di lobi Tania bertanya letak ruangan Ardi kepada customer servis. Tania memang baru kali ini menginjakkan kaki di kantor ARD's Corp.
"Sudah ada janji dengan Pak Ardi, Mbak?" tanya customer servis tersebut.
"Sudah, Mbak," sahut Tania.
"Silakan, ruangan Pak Ardi ada di lantai 12. Nanti tanya saja sama sekretarisnya, namanya Frida. Lewat lift ini ya, Mbak," customer servis tersebut mempersilakan sembari menunjuk pintu lift yang berada tidak jauh dari tempatnya.
"Terima kasih, Mbak," ucap Tania.
Bram bersikap cuek dan dingin seakan tidak mengenal dua gadis yang ada di belakang mereka. Sementara Rifki menoleh ke belakang.
"Mau kemana kalian?" tanya Rifki penasaran mensejajari Tania. Seumur-umur selama pria itu bekerja di ARD's Corp baru kali ini ia bertemu adik angkatnya di kantor tersebut.
"Ke ruang Papa," sahut Tania singkat.
"Ada urusan apa kamu ke ruangan Pak Ardi?" tanya Rifki lagi.
"Kepo! Ada urusan penting lah, ngapain tanya-tanya," sahut Tania cuek.
Nadia menahan tawa melihat sahabatnya bersikap judes dengan kakak angkatnya.
"Ya, kali aja Mas Rifki yang penyayang sama adik angkatnya ini bisa bantu," timpal Rifki.
"Rahasia! Ini urusan cewek ya," tukas Tania.
"Ya udah kalau enggak mau dibantu," ucap Rifki dengan tersenyum tengil. Rifki lalu maju ke depan dan menekan-nekan tombol di samping pintu lift.
Tania mulai panik saat melihat angka 12 tetapi lift tidak berhenti.
"Mas Bram, kok liftnya enggak berhenti?" seru Tania bertanya pada Bram ada di depan. Tania mengira Bram lah yang mengubah setelan pada pintu lift.
Tatapan Bram kini bak elang yang siap menerkam terhadap Rifki. "Iseng banget sih kamu, Rif. Mau turun jabatan kamu?" sergahnya.
Pintu lift berhenti di lantai 15. Bram dan Rifki keluar.
"Ayo ikut keluar, Tan!" ajak Bram pada adik tirinya.
"Kamu antar mereka dulu ke ruangan Papa, Rif," titah Bram pada Rifki.
"Siap, Bos!" sahut Rifki.
__ADS_1
Rifki mengajak Tania dan Nadia masuk kembali ke dalam lift yang bergerak ke bawah.
Tania menonjok perut Rifki, tentu saja tidak pakai tenaga dalam. "Buang-buang waktu saja sih! Enggak tahu apa aku tuh udah capek habis kuliah mau pulang," gerutunya
"Aw aw aw! Sakit, Tan!" pekik Rifki mencoba menangkis serangan Tania.
"Makanya jangan usil!" gertak Tania.
"Makanya cerita ada urusan apa? Eh itu jidad kamu kenapa?" sergah Rifki.
"Udah dibilang rahasia, huh! Ini urusan cewek tahu!" sergah Tania lagi.
"Heh, adik angkat, kamu lupa kalau Pak Ardi itu seorang pria?" sergah Rifki. "Atau jangan-jangan tadi kamu berantem di kampus ya? Lalu kamu mau lapor ke papa kamu biar ngasih pelajaran pada musuh kamu itu?" terkanya.
"Wah, Mas Rifki berbakat juga jadi cenayan ya," ucap Nadia yang sejak tadi terdiam.
Nadia terkekeh geli melihat perdebatan sepasang adik dan kakak angkat tersebut. Lift berhenti dan terbuka di lantai 12.
"Jadi mau ke ruangan Pak Ardi enggak?" tanya Rifki memastikan. Laki-laki itu pergi begitu saja tanpa menunggu Tania dan Nadia keluar dari ruangan. Kedua gadis itupun tergesa-gesa keluar mengikuti langkah Rifki yang lebar-lebar seperti di sengaja.
"Mas Rifki tunggu!" panggil Tania yang kewalahan mengejar Rifki. "Niat nganter enggak sih?" sergahnya.
"Frida, bos besar ada?" tanya Rifki pada Frida, sekretaris Pak Ardi.
"Ada di dalam," sahut Frida.
"Tuh anaknya mau ketemu," imbuh Rifki.
"Oh Mbak Tania sama Mbak Nadia? Udah ditunggu Pak Ardi tuh dari tadi," ungkap Frida.
"Terima kasih, Mbak Frida. Ayo, Nad!" sahut Tania kemudian mengajak Nadia masuk ke dalam ruangan, tetapi kepada Rifki ia memasang muka jutek. Frida jadi tertawa melihat kejadian itu.
"Assalamu'alaikum, Papa."
"Assalamu'alaikum, Om."
Tania dan Nadia mengucap salam secara serentak. Tania lalu mencium punggung tangan sang papa diikuti oleh Nadia.
"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh. Silakan duduk," jawab Ardi.
Tania dan Nadia duduk di sofa, sedangkan Ardi duduk di sofa depan mereka.
"Kalian sudah makan siang?" tanya Ardi mengawali perbincangan mereka.
"Sudah dong, Pa. Ini kan sudah mau masuk asar," sahut Tania.
"Kalau boleh Nanad tahu, ada keperluan apa om memanggil kami berdua kemari, Om?" tanya Nadia to the poin.
"Begini, Nad. Kamu kan selama ini udah membantu Tania mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Juga sekarang sering menemaninya mengejar ketertinggalannya. Om mengucapkan terima kasih atas semua itu," ungkap Ardi
"Nanad ikhlas kok melakukannya, Om," ucap Tania.
"Om mengerti, tetapi sebagai tanda terima kasih Om, kamu boleh minta hadiah apa saja yang kamu mau. Kamu ingin hadiah apa? Ponsel mahal? Perhiasan? Atau bulan madu keliling Eropa? Om akan turuti semua permintaan kamu," tawar Ardi.
Nadia masih berfikir apa kira-kira hadiah yang dia tidak bisa membelinya. "Apapun, Om?" tanyanya memastikan.
"Apapun," sahut Ardiansyah mantap.
"Tapi ini menyangkut keluarga, Om," ucap Nadia ragu.
"Enggak bisa ditukar ya? Kamu enggak pingin punya barang-barang mahal begitu?" rayu Ardi.
"Enggak, Om. Kalau Nanad mau, Nanad bisa minta sama suami atau mertua Nanad. Mereka kan tajir," ungkap Tania.
"Iya deh apapun permintaan akan om kabulkan. Om janji sebisa om loh ya, kalau menyangkut perasaan orang lain itu urusan orang tersebut," tutur Ardi.
"Baiklah, Nanad akan sampaikan permintaan Nanad."
__ADS_1
"Ya, silakan."