2X MENIKAH DENGAN SEPUPU

2X MENIKAH DENGAN SEPUPU
Berterus Terang


__ADS_3

Subuh masih terasa dingin, membuat sebagian orang enggan untuk mengakrabinya. Namun bagi hamba yang beriman, dingin bukanlah penghalang bagi kita dan mereka yang menyadari akan kewajiban. Ayo pejuang subuh bangunlah!


Tania melu*at bibir seksi tersebut. Edos yang kaget dengan tindakan yang dilakukan Tania seketika tersedak dan terduduk. Edos nampak berusaha mengumpulkan nyawanya, memandang Tania dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Udah waktunya sholat subuh, Yank," ucap Tania merasa bersalah.


Tania hendak beranjak menuju ke kamar mandi, namun seketika tangannya ditarik oleh Edos sehingga mau tidak mau ia harus jatuh ke pangkuan suaminya. Edos merengkuh tubuh istrinya erat, membalas apa yang telah dilakukan oleh istrinya tersebut yang telah membangunkan tubuhnya juga senjatanya.


"Emmh, lepasin, Yank," pinta Tania meronta.


"Nggak akan aku lepasin, kamu sendiri yang mulai," tolak Edos.


"Nanti ketinggalan subuhnya, Yank," Tania masih terus meronta.


"Sebentar saja, kalau kamu nurut pasti enggak akan ketinggalan subuh." Edos masih berusaha membujuk.


Tania terdiam, ia menurut saja apa kemauan suaminya. Sedangkan Edos yang kini merasa tidak mendapatkan perlawanan dari istrinya semakin melancarkan aksinya. Ia merebahkan tubuh Tania kembali, kini tubuh istrinya tersebut berada di bawah kungkungannya.


Edos mulai membalas perlakuan Tania terhadap dirinya tadi saat istrinya tersebut mencoba membangunkannya. Ia melu*at bibir Tania, tidak peduli mereka sama-sama belum menyikat gigi apalagi berkumur-kumur. Yang ada hanyalah hasrat menggelora yang telah lama terpendam akan tersalurkan.


Mata Edos terpejam menikmati bibir ranum istrinya yang selama ini menjadi candu. Tangannya terus bergerak liar menyusup ke dalam gamis Tania yang kini mulai tersingkap.


Namun tiba-tiba terdengar rintihan pilu dari Tania. "Lepaskan, sakit.. Lepaskan aku, tolooong.., hiks hiks hiks..."


Edos membuka matanya. Ia terkejut mendapatkan wajah istrinya yang pucat pasi, keringat dingin keluar di keningnya, tubuhnya juga dingin, matanya terpejam namun air matanya mengalir deras, mulutnya terus saja meracau.


"Jangan..., jangan lakukan ini, lepaskan aku! sakit," rintih Tania lagi.


"Sayang, bangun Sayang!" ucap Edos menepuk pipi Tania dengan lembut hingga istrinya tersebut membuka mata.


Tania membuka matanya, namun tangisnya belum berhenti. Edos membaringkan tubuhnya. Ia mencoba menyenangkan Tania dengan memberi pelukan hangat.


"Maafkan aku, Sayang, aku tidak akan memaksamu," ucap Edos sambil terus mendekap istrinya.


Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu, Sayang? Mengapa kamu berubah menjadi seperti ini? Edos bertanya dalam hati.


Setelah Tania agak lebih tenang, Edos pamit untuk ke kamar mandi terlebih dahulu. "Sayang, aku ke kamar mandi dulu ya? Kamu enggak apa-apa kan aku tinggal ke kamar mandi."


Tania mengangguk seraya berkata, "Maafkan aku," ucapnya pelan.


"Tidak apa-apa, enggak usah difikirkan, kita bisa coba lain kali," sahut Edos sambil mengusap pelan rambut istrinya tersebut.


Edos beringsut ke tepi ranjang, menurunkan kakinya kemudian melangkah menuju ke kamar mandi. Selepas kepergian Edos, Tania termenung sendirian.


Maafkan aku, Yank. Andai kau tahu apa yang terjadi denganku, aku enggak tahu apa akan berubah sikapmu terhadapku. Aku tak sanggup jika itu sampai terjadi. Aku pun tak sanggup jika harus menyampaikannya sendiri kepada mu. Tania terus saja termenung, air matanya terus mengalir.


"Ayo bangun, Say! tadi bilangnya takut ketinggalan subuh."


Ucapan Edos seketika menyadarkan Tania dari lamunan. Tania segera menyeka air matanya. Ia mendapati suaminya telah rapi dengan pakaian baju Koko dan sarung membalut tubuhnya, serta kopiah haji yang bertengger di kepalanya. Edos sedang membentangkan sajadah untuk sholat dirinya dan juga Tania.


Tania bangkit dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ia tidak mau ketinggalan sholat berjamaah dengan suaminya sebagai imam. Edos menunggu Tania hingga siap untuk sholat berjamaah dengan malaksanakan sholat sunah qobliyah subuh.


Saat Tania keluar dari kamar mandi bertepatan Edos telah selesai melaksanakan sholat sunah qobliyah subuh. Edos menunggu istrinya memakai mukena, baru ia membacakan bacaan iqomah. Mereka nampak khusyuk menunaikan sholat subuh hingga selesai.


Usai sholat dan berdzikir, Edos mengambil Al-Quran yang ia letakkan di atas nakas, duduk kembali di atas sajadah dan membaca kitab tersebut sambil menunggu pagi. Tania kembali berbaring di atas kasur springbed sambil memandangi wajah suaminya.


Suamiku sekarang tambah alim, batinnya.


************


"Jalan pagi yuk! Mau ikut enggak?" tawar Edos sambil mengganti pakaian sholatnya dengan baju santai.


Tania merasa malu melihat suaminya membuka baju di depan dia, ia menutup mukanya dengan selimut. Edos tersenyum jahil.


"Kenapa, Sayang? Bukannya dulu ketika aku lumpuh, kamu yang suka menggantikan bajuku?" godanya lagi. "Lagian kamu sudah hamil masih saja malu melihat punyaku," Tania tidak menjawab.


"Sudah selesai, bukalah," ujar Edos.


Namun Tania tidak mempercayainya. "Nggak mau ah, ntar bohong," cebiknya dari balik selimut.


Edos tertawa, "Ya udah kalau enggak mau ikut aku tinggal ya," pamitnya.


Sudah pamit bukannya pergi, Edos malah naik ke atas ranjang mendekati Tania. Tania membuka selimutnya. Ia mengerutkan keningnya.


"Kenapa belum pergi?" tanyanya heran.

__ADS_1


"Males jalan sendirian tanpa kamu," jawab Edos lebai.


"Aku lagi malas ke luar, Yank,"


"Ya udah, aku berubah pikiran, kita di sini saja," ucapnya mendekat.


"Kamu mau apa?" tanya Tania menatap Edos was-was.


"Mau nemenin kamu," jawab Edos merengkuh tubuh Tania.


"Aku masih takut, Yank." Tania mencoba mengalihkan pandangan.


"Tatap aku! Aku suami kamu, Tania. Aku tidak akan menyakiti kamu," ucap Edos meyakinkan istrinya.


Tania hanya menggeleng pelan dengan berurai air mata.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu selama aku pergi?" Edos masih menatap Tania dengan intens, berharap istrinya tersebut mau berterus terang mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ma-afkan aku, a-ku ti-dak bisa cerita," ucap Tania terbata-bata di antara tangisnya.


"Pelan-pelan saja, Sayang, aku akan sabar mendengarkannya," tutur Edos membelai rambut istrinya.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga diri," ucap Tania lagi terus memohon maaf.


"Aku akan selalu memaafkan mu. Harusnya aku yang meminta maaf. Aku tidak bisa menjaga dan melindungi mu." Edos berkata sambil mendekap Tania.


"Apa kalau aku cerita semuanya, kau mau berjanji tidak akan meninggalkanku lagi?" tanya Tania penuh harap.


"Demi Allah, aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu apapun yang terjadi. Kita akan bersama selamanya. Hanya maut yang akan memisahkan kita," ungkap Edos tulus. "Hanya kamu wanita satu-satunya di hatiku dan di hidupku, sekarang dan selamanya," imbuh Edos.


Tania menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan yang sebenarnya. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, kalau pun Edos harus meninggalkannya dia pun akan merelakannya.


Bismillahirrahmanirrahim,


"Malam itu, saat aku mengambil sift malam di hotel Merysta, saat sudah waktunya pulang, ada yang memberiku jus buah, aku tidak menaruh curiga apapun karena dia teman kerjaku di Ardimart, aku mau menikmatinya sambil menonton pertunjukan band yang masih berlangsung di ballroom hotel."


"Jus itu sudah diberi obat perangsang?" tanya Edos menyela cerita Tania. Tania mengangguk.


"Lalu kamu meminumnya, dan mencari mangsa untuk pelam--."


"Lalu?"


"Aku ke ballroom, Aku bertemu Mas Bram yang sedang mencari Mbak Niken yang pergi ke toilet enggak balik-balik. Dia menyerobot jus itu dari tanganku dan langsung meminumnya hingga tandas." Tania menangis tersedu-sedu tidak bisa meneruskan ceritanya.


"Sudahlah tidak usah diteruskan. Aku sudah mendengar semuanya. Maafkan aku, sudah membuka kembali lukamu," ucapnya menenangkan istrinya.


Tania merenggangkan pelukannya, menatap kembali suaminya dengan tidak percaya. "Kamu tahu dari siapa, Yank?" tanyanya.


"Tidak penting, dari siapa aku mendapat informasi tersebut, yang pasti dia orang yang dapat dipercaya. Kedua orang teman kamu di Ardimart itu sudah mendapatkan hukumannya. Mereka juga yang telah menyelundupkan makanan ringan yang hampir kadaluarsa, yang kamu disuruh menebusnya waktu itu. Mereka sudah dipindah ke Papua," ungkap Edos.


"Apa? Mereka dipindah ke Papua?" tanya Tania terkejut.


"Loh, kamu malah tidak tahu?"


"Aku sama sekali tidak tahu, aku belum ke Ardimart lagi setelah kejadian itu," jawab Tania. "Kasihan mereka, Yank. Harus jauh dari keluarga."


"Kamu enggak usah pikirkan mereka, Say. Itu hukuman buat mereka yang telah berbuat jahat sama orang lain," tutur Edos.


Tania masih gelisah, ia menggigit bibir bawahnya. Hal itu justru membuat Edos merasa terpancing untuk menciumnya.


"Kamu kenapa lagi, Yank. Apa lagi yang kamu risaukan?" tanya Edos memandang heran Tania.


"Aku takut, bayi ini adalah hasil malam jahanam itu, Yank," ucap Tania risau.


Edos mencium pucuk kepala Tania. Kemudian menarik janggut istrinya tersebut untuk menatapnya kembali.


"Dengar, Tania! Kamu istriku, dari benih siapapun yang ada dalam rahim kamu saat ini, kamu tetap istriku. Kita adalah orang tua calon jabang bayi ini, aku ayahnya dan kamu bundanya," ucap Edos pelan, ia menghela napas berat baru kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Aku tahu kamu di sini korban, ini bukan kemauan kamu. Mungkin ini sudah kehendak Tuhan, mungkin dengan cara ini Allah kasih kita keturunan. Karena aku sudah divonis oleh dokter tidak bisa memiliki keturunan." Ucapan Edos membuat Tania terperanjat kaget.


Edos membuang napas berat lagi, "Kecelakaan itu, telah merusak saraf tulang belakang juga kesuburanku. Aku akan menerimanya seperti anak ku sendiri."


"Terimakasih, Yank. Apa tidak bisa disembuhkan?" tanya Tania.


"Bisa, dengan rutin terapi. Tapi kemungkinannya hanya 15 persen."

__ADS_1


"Sabar, Yank. Itu kan cuma vonis dokter, bukan vonis dari Allah. Kita harus yakin pasti sembuh," ucap Tania memberi semangat kepada suaminya. "Terus caranya bagaimana, apa aku bisa membantu terapimu?" tanyanya.


"Justru yang bisa membantu aku melakukan terapi tersebut ya cuma kamu, Say. Kalau sama orang lain, bisa-bisa aku bikin anak dengan orang lain," jawab Edos tertawa.


"Kok bisa, gimana caranya?" tanya Tania tersipu.


Sebenarnya Tania sudah paham apa yang dimaksud oleh Edos, namun ia hanya kura-kura dibalik perahu.


"Sini aku ajarin, sekalian juga aku mau ngasih terapi buat menghilangkan trahuma kamu," Ucapan Edos mengandung maksud tertentu itu membuat tubuh Tania bergidik ngeri.


"Tapi, jangan yang sakit ya, Yank," pintanya Tania mengharap.


"Enggak, Say. Memangnya aku pernah menyakitimu apa?" bantah Edos.


Pelan sekali Edos melakukan terapi terhadap istrinya. Mulai dari mencium puncak kepala Tania, selanjutnya terserah anda. Pagi ini mereka bisa membantu pasangannya masing-masing melakukan terapi. Terbayar sudah kerinduannya selama ini.


Sekitar pukul tujuh, terdengar suara pintu kamar Tania diketuk dari luar.


Tok tok tok


"Ada orang, Yank," ucap Tania lirih.


"Kamu lihat siapa yang datang sana," suruh Edos.


Edos bangkit. Ia membantu istrinya memakai gamis nya, menarik zipper belakang hingga tertutup.


Tania melangkah menghampiri pintu, membukanya sedikit.


"Mbak Tania!" seru Siti dari balik pintu.


"Iya, Mbak Siti! Nggak usah keras-keras," Tania menyahut.


"Sarapan pagi sudah siap, Mbak. Mbak Tania sudah ditunggu Bapak sama Ibu," ucap Siti menurunkan nada suaranya.


"Terimakasih, Mbak Siti. Tapi kami belum lapar. Tolong bilang sama mama dan papa untuk sarapan lebih dulu saja," pintaTania.


"Baik, Mbak," jawab Siti.


Siti pun pergi meninggalkan kamar Tania. Saat Tania berbalik, Edos sudah tidak terlihat di ranjang mereka. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Tania mendekati pintu kamar mandi.


"Yank, udah bawa handuk?" seru Tania.


"Udah, Say. Tolong siapin baju ganti aku saja," sahut Edos dengan suara keras pula.


Tania membuka koper milik Edos, mengambil kaos, celana serta baju **********, ia letakkan di atas ranjang tidur. Ia mengamati baju-baju Edos, baju-baju itu baju lama Edos sewaktu masih sekolah, Tania masih menghafalnya.


Tania memasukkan sisa baju-baju Edos yang masih ada di koper ke dalam lemari.


"Enggak usah dimasukkan ke dalam lemari, Say. Besok pagi kita akan pulang ke kampung," ucap Edos yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Tania dengan rambut basah dan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang serta handuk kecil di pundaknya..


Namun Tania masih meneruskan aksinya. "Buat ganti kalau kita di sini, Yank." sahutnya. "Ini kok baju lama semua, memangnya kamu habis pulang dari kampung ya, Yank?" tanyanya.


Edos duduk di tepi ranjang. "Tolong bantu aku keringkan rambut dulu!" pintanya dengan nada perintah.


Tania berdiri di hadapan Edos, ia mengambil alih handuk kecil yang dipegang oleh suaminya. Tania yang hanya memakai gamis tanpa dilapisi bra, otomatis pu*ing buah dadanya menyembul di balik kain tipis. Hal ini membuat sisi usil Edos muncul.


Saat tangan Tania mengusapkan handuk ke rambut Edos. Eh, Edos malah menoel-noel kedua benda kenyal yang terpampang di depan matanya tersebut, yang semenjak hamil kedua benda itu makin mancung.


"Iya, Papa sama Mama kan pulang dari Singapura langsung ke kampung," jawab Edos.


Tania masih bingung untuk menjawab tentang ajakan Edos untuk pulang kampung, "Kalau kita pulang kampung, kuliah aku gimana, Yank?" tanyanya lagi.


"Cuma dua Minggu, kamu libur kan?" jawab Edos kemudian bertanya.


"..."


.


.


.


TBC


Terimakasih semuanya masih setia untuk kepoin kisah Tania dan Edos.

__ADS_1


Love you 😍😍😍


__ADS_2